Saturday, May 12, 2018

Sanitation and Insanity (Sanitasi dan Kesadaran Terhadap Lingkungan) #Opinion

san·i·ta·tion conditions relating to public health, especially the provision of clean drinking water and adequate sewage disposal.
in·san·i·ty The definition of insanity, is, doing the exact same fucking thing over and over again, expecting shit to change. That. Is. Crazy. (urban dictionary)

Menyoroti salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan atau Suistainable Development Goals yang diterbitkan PBB dari 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030 ini merupakan salah satu isu yang sangat krusial di Indonesia, yaitu tujuan air bersih dan sanitasi layak : menjamin akses atas air dan sanitasi untuk semua.  Karena munculnya bermacam-macam kasus yang menjadi perhatian dunia, salah satunya adalah data yang mengatakan bahwa 13% masyarakat Indonesia tidak memiliki akses ke sumber air, dan 51 juta orang Indonesia masih buang air besar sembarangan, dimana jumlah ini adalah nomor dua terbesar setelah India. 

Meskipun tidak dapat dipungkiri kondisi geografis dan keanekaragaman pola hidup masyarakat juga sangat berpengaruh dalam penangangan masalah ini.  Selain buang air besar, juga masalah eksploitasi alam yang mengakibatkan pencemaran lingkungan seperti tambang, pertanian, industri, yang merusak sumber daya air (sungai, waduk, situ, parit, pantai) sehingga menurunkan kualitas air baku yang tersedia, memunculkan 136.000-190.000 kasus kematian balita pertahun dengan 40% kasus kematian disebabkan oleh diare dan pneumonia, serta 88% kasus diare berkaitan dengan air, sanitasi dan fasilitasnya (BPS, 2015).

capture website dari sini

Tidak heran, karena dari pengambilan sampel di Yogyakarta, 89% sampel air dari sumber air minum rumah tangga dan 71,3% air siap minum terkontaminasi e.coli, Juga 6,3% air minum rumah tangga mengandung nitrat, yang artinya air siap minum tersebut mengandung 50 mg/L nitrat lebih diatas standar kontamintasi nitrat yang dapat ditoleransi dari aturan Kementrian Kesehatan.

Adapun hal tersebut terjadi, menurut penelitian yang dilakukan oleh Harmayani dan Konsukartha pada tahun 2017, adalah karena saluran air/drainase yang tidak baik yang menyebabkan tersumbatnya saluran air oleh sampah, serta pembuangan air limbah dapur yang langsung ke tanah sehingga mencemarkan kualitas tanah yang berakibat pada pencemaran bakteri eschericia coli dan bakteri coliform.  Hal ini dikarenakan air mudah meresap dan melewati pori-pori tanah sehingga dapat mencemari sumber air yang masih bersih.  

Terlebih di kota halaman saya, Kota Pontianak dimana kita bisa dengan mudah menemukan parit-parit yang bermuara ke Sungai Kapuas, dimana masih bisa ditemukan orang tidak hanya buang sampah, buang air besar dan limbah rumah tangga hingga industri dengan entengnya langsung ke sumber air (parit/sungai) yang setelahnya mereka gunakan juga untuk mandi, mencuci, dll. Bahkan ada salah satu pengalaman tidak menyenangkan yang saya ingat sewaktu kecil yaitu ketika saya dan teman teman berenang di sungai, dimana kala itu merupakan hal yang sangat lazim untuk anak anak seumuran saya untuk bermain, berenang nganyut (seperti bersantai, mengambangkan badan, mengikuti aliran sungai), di depan gang saya, parit sungai jawi yang cukup besar, ketika saya berenang dan kemudian melihat *maaf *kotoran mengapung itu tiba-tiba sudah muncul di kepala saya. *eww :'((( pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan karena saya langsung pulang dan membilas beberapa kali rasanya masih menempel. 😂


Tepi Sungai Kapuas, Pontianak. (foto dari sini)

Ironis, karena sumber penyakit atau kasus pencemaran ini terjadi kembali lagi kepada sebab-akibat dari perilaku manusia itu sendiri.  Salah lainnya adalah 51 juta orang yang masih 'open defecation' atau buang air besar sembarangan ini. Yang secara tidak sadar telah merusak lingkungan, mencemarkan sumber daya yang akan mereka manfaatkan sendiri.  Merusak kualitas air dengan  buang air besar sembarangan, buang sampah, penggunaan limbah rumah tangga yang mungkin bagi beberapa motif individu mereka tentu tidak bermaksud jahat, hanya tidak sadar dan tidak tahu sejauh mana hal tersebut akan berdampak kepada kualitas kehidupan mereka nantinya.  

Efek yang muncul tidak secara langsung dan tidak secara cepat inilah yang terkadang membuat masyarakat menjadi tidak menyadari bahaya yang mengancam karena perilaku atau kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus ini.  Tentu, masih banyak faktor lain selain ketidaksadaran individu akan perilaku yang merusak hanya karena abai ini seperti pengolahan limbah dari industri, tambang, maupun pihak pihak swasta lainnya.  Namun, penelitian di atas juga menunjukkan bahwa open defecation dan limbah rumah tangga juga memegang peranan yang sangat tinggi karena jumlah penduduk di Indonesia yang cukup besar sehingga perilaku yang diulang-ulang ini tentu akan menimbulkan skala gema yang akan lebih besar. 

Upaya upaya menangani permasalahan ini juga merupakan agenda pemerintah, seperti Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal, juga program-program yang dikembangkan oleh swasta dan komunitas seperti Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) kerjasama pemerintah dengan worldbank, Tinju Tinja (gerakan stop buang air besar sembarangan) dari UNICEF, gerakan cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan gerakan gerakan inspiratif lainnya. 

Tentu permasalahan multidimensi ini juga butuh dari partisipasi semua pihak untuk menyadari, bahwa semua hal yang dilakukan untuk dirinya, pada akhirnya tidaklah berdampak kepada dirinya sendiri saja.  Apa yang dilakukan dari scope yang paling kecil, akhirnya akan berdampak kembali bagi dirinya sendiri, bahwa untuk perduli terhadap lingkungan, akan kembali lagi pada kualitas keberlangsungan hidup mereka sendiri. 

Untuk menyadari dan membuat setiap individu memahami gap/kesenjangan antara apa yang mereka lakukan dengan dampak yang akan mereka rasakan beberapa langkah ke depan adalah tugas berat yang harusnya dapat dimunculkan dari kesadaran individu itu sendiri, yang bisa bersumber dari pendidikan, sosialisasi, pemahaman, fasilitas yang bisa diakses, atau sekedar keingintahuan untuk memahami kehidupan lebih jauh sebatas kepentingan individual. Untuk mampu sadar akan keberadaan lingkungan, dan banyak hal hal lain di luar diri sendiri.

Karena pada akhirnya, manusia memang telah dikutuk untuk memilih, dan setidaknya, apabila belum mampu membuat pilihan yang mampu menyelamatkan seluruh dunia seperti The Avengers atau Justice League dan membuat pengorbanan-pengorbanan yang dibutuhkan, pilihlah dan upayakanlah hal hal yang akan menyelamatkan diri kita sendiri beberapa langkah ke depan.


(infografis dari sini)

No comments:

Post a Comment