Showing posts with label Fictions. Show all posts
Showing posts with label Fictions. Show all posts

Tuesday, April 3, 2018

Tentang Orient #1

Cafe itu lengang siang itu, mejanya terbuat dari kayu dan segelas cappucino panas terletak di atas meja. Kau duduk di hadapanku, sambil menyenderkan kedua tangan menghadapku. 

“Aku membelikanmu jaket kulit, pasti kamu suka” ujarnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyum sedikit dan melihatnya. Kemudian memutar-mutar cangkir. Dia berbicara lagi, tanpa kehilangan antusias.

“Nanti kamu mau naik gunung lagi kan, pasti dingin. Kalau pakai jaket ini akan ingat aku”

“you wish” aku menjawab sekenanya, sedikit senyum dan canggung.

dia tertawa.

Entah kenapa, dengan dia, aku tahu, dia sangat menyukaiku, terlepas aku tidak pernah menanggapinya dengan serius. Tapi dia selalu ada, menemaniku mengobrol berhari hari, pergi ke laut, gunung, camping berhari-hari.

Dia adalah orang yang bersih, rapi. Kalau camping adalah yang membawa barang yang paling banyak, memikirkan orang lain. Lalu dia juga orang yang peduli dengan timnya, memperhatikan satu-satu kebutuhan orang lain, kemudian juga begitu royal dengan uang dan tidak akan keberatan membelikan teman temannya barang-barang yang dibutuhkan. Dia juga orang pertama yang akan bergerak jika melihat ada kebutuhan kelompok yang kurang.

Kadang aku mencarinya juga dan menjemputnya kalau aku punya masalah dengan orang lain, kemudian tahan mendengarnya menggodaku (sepik sepik bercanda :p) seharian. Kadang juga jika aku mempunyai masalah, aku akan bilang kepadanya, kemudian kami hanya diam, ngopi dan aku akan tenggelam dalam pikiranku, dia tidak akan menggangguku dan akan memakluminya.

Aku senang bersamanya, aku tau, dia adalah orang yang menyukaiku, mendengarkan semua ceritaku dengan sabar dan melihatnya sebagai hal yang menarik, entah kenapa aku melihat dia adalah orang yang mengagumiku, senang rasanya dilihat sebagai orang yang dikagumi orang lain, dimengerti, dilihat sebagai orang yang ‘cool’ dan ‘tidak seperti orang kebanyakan’, juga ‘seperti itu juga yang ada di pikiranku, kenapa banyak orang yang tidak mengerti-’ di saat tidak semua orang mampu mengerti dan melihat pandangan dan cara cara kita melihat dunia. Dia adalah orang yang beberapa kali memujiku dan terdengar di telingaku begitu tulus.  Dia adalah orang yang ahli memberikanku kata-kata penyemangat dan selalu yakin akan apa yang aku lakukan.  Dia selalu percaya aku akan berhasil dalam hal hal yang aku lakukan.  Dan hal itu benar-benar membuatku bersemangat pada saat sedang down atau tidak percaya diri.

Dia bukan tipe orang yang membuatmu jatuh cinta yang dalam. Tapi dia orang yang membuatmu merasa begitu dicintai kau hampir merasa bersalah akan itu dan membuatmu terbersit pikiran bahwa dirimu sebenarnya tidak seberharga itu, terlebih, tidak dapat membalas perasaannya sebanyak yang bisa dia berikan.

Jika ingin dirunut pada pertama kali aku bertemu dengannya, adalah pada saat aku sedang berada di masa-masa akhir pendidikan. Tidak ada manisnya sama sekali-menurutku. hahaha. Rambut pendek, seperti laki-laki, kumal dan baru putus cinta. Aku saja heran bisa-bisanya dia menyukaiku saat itu, saat aku sedang merasa sangat tidak menarik.

Kala itu, aku dikenalkan teman lamaku dengannya, kalau tidak salah karena aku beberapa kali memasang quotes galau ala ala baru putus cinta di status blackberry messenger. Dan temanku, yang sudah lama tidak bertemu kemudian mengomentari dan menyuruhku untuk berkenalan dengan temannya.

Entahlah, kala itu aku sedang merasa ‘kosong’ karena baru beberapa minggu putus cinta dan sedang tidak menghubungi siapa-siapa. Dan kami pun bercakap-cakap, lewat sms.

Aku kadang membalasnya dengan sekenanya saja. Percakapan basa basi sekedar ingin tahu tentang apa yang sedang dilakukan, kapan keluar asrama, dst.

Kemudian di suatu minggu akhirnya kami memutuskan bertemu dan makan siang, bersama teman lamaku. Aku masih ingat detailnya, karena aku begitu kaku dan tidak tahu mau ngomong apa. Dia membawa beberapa temannya, teman lamaku juga hadir, yang merupakan sahabatnya. Aku datang sendiri dan mereka bercakap-cakap tentang hal-hal yang tidak begitu aku ketahui, dan hanya mencoba masuk dalam percakapan dengan canggung.

Entah kenapa, aku sedikit senang saat itu, senang karena akhirnya aku merasa dikelilingi orang-orang lagi setelah fase-fase putus cinta yang cukup berat untukku. hahaha. Teman-temannya juga orang yang seru dan asik diajak ngobrol, mereka juga sangat welcome dan mengajak aku untuk ikut lagi kapan-kapan.

Kemudian selanjutnya kami hanya pergi berdua, dengan motor besarnya. Entah kenapa aku suka dengan laki-laki yang mengendarai motor besar, apalagi warna merah saat itu. Cukup seru dan terlihat oke’ saja kalau dia harus ribut-ribut dengan suara motornya menjemputku di asrama, yang sudah pasti akan dilihat orang dan membuat teman-temanku bertanya tanya. Padahal motor besarnya itu sering juga masuk bengkel dan susah distarter. hahaha.

Akhirnya tak berapa lama sesudahnya tentu kami jadian. Aku lupa bagaimana detailnya cara dia menyatakan cinta, tapi. itu lewat sms…

Sempat terbersit di pikiranku untuk menolak orang yang menyatakan cinta lewat sms, mungkin dia tidak berani untuk berbicara langsung denganku. Beberapa momen bersamanya juga masih canggung dan aneh, menurutku. Tapi karena saat itu aku sedang tidak dekat dengan siapa-siapa lagi aku menerimanya. Saat itu aku sedang merasa sangat kesepian karena kehilangan orang yang sering bersamaku, mantanku yang sebelumnya.

Di benakku langsung terlintas kata ‘pelarian’. Menerimanya padahal saat itu hatiku tidak merasakan apa-apa sama sekali, hanya lawan bicara, teman makan dan menjemputku sepulang asrama. Saat itu dia cuma sebagai ‘orang yang baik’ dan ‘teman’.

Aku sadar aku tidak pernah benar-benar menjadi pacarnya, tidak pernah benar-benar menjadi orang yang menginginkannya seperti aku menginginkan pacar-pacarku yang lain. Tidak pernah memikirkan benar-benar bagaimana cara membuatnya senang dan apa yang diinginkannya.

Pada saat dia berulang tahun, aku memberi hadiah hanya karena dia memintanya.

Aku benar-benar dingin saat itu, karena memang tidak merasa terlalu cocok dengannya, aku juga tidak terlalu menyukainya dan meladeninya sekenanya. Aku tidak pernah benar-benar menyimak apa yang dikatakan, saat itu, pikiranku masih terisi dengan sosok mantanku sebelumnya.

Hingga suatu saat dia menjemputku di asrama dan mengajakku makan, aku hanya mengiyakan, dan tiba-tiba dia mengajakku ke restoran dimana aku dulu sangat sering kesana dengan mantanku. 
“Makan di tempat lain aja”
“Loh, kenapa emangnya?”
“Gapapa, di tempat lain ajaaa”
“Disini ajalah, apa dulu alasannya gak mau kesini?” tanyanya penasaran.

Aku diam. Dan selanjutnya dia duduk dan makan. Pada saat itu rasanya aku ingin pergi, tapi mengingat dia yang menjemputku maka aku urungkan niat.

Kemudian dia memilih tempat, sama seperti tempat yang dulu aku sering makan, dengan orang lain. Entah kenapa sepanjang kami makan yang aku ingat cuma mantanku itu, caranya tertawa dan melemparkan bercandaan tentang hal hal konyol, kepalanya yang plontos dan botak. Memori-memori itu terus berputar di kepalaku.

Saat itu, begitu pulang, sampai ke rumah.

Aku langsung mengiriminya pesan. 

Memutuskannya.
picture from here

Saturday, October 5, 2013

Jika

Jika saja aku tahu, malam itu adalah malam terakhirku melihatmu, maka tidak akan ada lagi cerita yang keluar dari mulutku tentang hari yang berat, cuaca yang buruk dan keluh tentang ketidakberadaanmu.  Jika saja aku tahu lebih cepat, semua ini akan berakhir, secepat aku memejamkan mata dan terbangun dengan cintamu yang telah hilang. Mungkin aku akan belajar memahamimu lebih lama lagi, lebih tabah lagi.  Jika saja aku tahu dari awal, cintamu yang akan hilang begitu saja, maka mungkin aku tidak akan belajar mencintaimu sama sekali.  Aku akan lebih menikmati waktu bersamamu, setiap menit, setiap detik.

Jika saja aku punya kesempatan kedua, untuk mengenalmu lagi.  Memutar waktu untuk kembali saat pertama kita berjumpa, memutar langkah untuk menjaga agar mungkin kau akan bertahan lebih lama.  Mungkin hal yang aku lakukan akan berbeda, dan kau tidak akan pergi begitu saja.

Tapi mungkin jika ada jika, hidup tidak akan pernah beranjak maju,

dan aku tidak akan pernah bertemu denganmu.

Friday, October 4, 2013

cinta yang seperti itu

akan datang ketika pagi akan cerah
dan mendung hanya kiasan yang belum datang
gelap hanya sesuatu yang tidak dikenal
kalanya matahari begitu cerah
udara begitu lembut mengalunkan nada indah

sebelum mendung datang
dan badai menghapuskan kenangan
cinta yang sesederhana itu.
cinta yang sesulit itu.

akan datang ketika hadirmu adalah berkah
dan hilangmu hanya kiasan yang belum datang
pergi hanya sesuatu yang tidak dikenal
kalanya senyum kita begitu merekah
pertemuan pertemuan mengalunkan nada indah

sebelum perpisahan datang
dan tangis menghapuskan kenangan
cinta yang sesederhana itu
cinta yang sesulit itu

cinta yang seindah itu.
cinta yang sekejap itu.
cinta yang sekedar itu.

Pontianak, 4 Oktober 2013

Thursday, October 3, 2013

Things I Still Remember

I remember our first day we met at the mosque, you sit and lean to the wall, asking my number.
I remember our first date, at the cafe near our college, i remember we sit and feel confuse of what will we do.
I remember our first time i introduce you to my family.
I remember our first time you bring me to your house and introduce me to all of your family.
I remember the kindness of your mom, the first impression of your father and play with your sister's rabbit.
I remember your eyes, i remember the love and the warmth. I remember every miss.

Then,

I remember the time we break-up,
I remember i cant see love in your eyes
I remember i can see the unseen,
I remember i can feel your dissapear,
long before we break.

I remember.

Fiksi : Mencari Firman

Katakan aku mengada-ada karena apa yang kucari hampir tak kasat mata, tapi bukankah jika kau harus bisa melihat dan membuktikan semua hal secara nyata itu ada maka sama saja membantah bahwa Tuhan itu ada?

Maka akan kujelaskan sedikit: tentang Firman.

Suatu pagi yang tidak jelas, karena hidup tidak pula membutuhkan kejelasan.
Ia datang begitu saja.  Tanpa perkenalan, tanpa bicara.  Hanya tatap mata dariku sendiri saja.  Dan semua yang aku rasakan cukup membayarkan bertahun tahun penantian ketika aku sendiri tidak tahu menanti apa dan siapa. 

Semuanya begitu tidak nyata hingga aku membuat sebuah resolusi mutakhir tapi tak mustahil: mengenalnya. 

Yang ingin ku percayai, tidak ada yang terjadi secara kebetulan karena kebetulan saja Tuhan punya rencana yang lebih besar.  Tapi satu hal yang menjadi 'nasihat' sakti bapakku suatu hari tentang cinta, bahwa rumus cinta itu 99% usaha dan 1% takdir.  Maka aku tidak mau menyerah begitu saja pada 1%.  Aku tidak pernah percaya bahwa kita kehilangan kesempatan untuk berusaha.  Aku percaya usaha, walaupun tidak dapat kita selesaikan di garis finish, setidaknya membawa kita ke suatu tempat yang bukan dari kita bermula.  

Mencari Firman mewakili tanyaku tentang pencarian seseorang yang sudah lama hilang.  Sosok yang bisa aku jadikan sesuatu yang bisa mengisi kepala tidak hanya dengan strategi dan cara cara tapi juga dengan hati yang sudah kehabisan kata-kata.  Karena pertemuan yang sekali saja.  Cukup untukku mengenal, kemudian mencarinya hingga ujung dunia. 

Katakanlah ini akan sia-sia jika suatu hari nanti aku akan menemukan dia ternyata sudah memiliki kekasih, atau bahkan istri.  Tapi tidak semua perjuangan diukur dari hasilnya bukan? bukankah jika semua hal berorientasi dan hanya fokus pada hasil maka hasil dari perjalanan hidup kita ini sesungguhnya adalah mati-dan selesailah semua.  Yang bermakna adalah perjalanannya, ketika kita tidak menemukan yang kita inginkan dalam perjalanan itu, tapi mungkin kita akan menemukan apa yang kita butuhkan.

Maka kujelajahi seluruh dunia maya dan seluruh kemungkinan yang ada.  Hanya untuk mencari Firman.  Mencari Firman merefleksikan sesuatu dalam hidupku: sebuah pencarian yang ngotot dan tak kunjung lelah.  Meskipun yang kucari itu belum tentu menginginkan aku, tidak perduli dan bahkan bukan pula menjadi tujuan akhirku.  Tapi mencari Firman adalah salah satu bentuk komitmenku akan sesuatu.  Jika aku berhenti pada hal ini, maka aku akan berhenti pula pada hal hal lain.  Karena jika pada hal yang mampu membuat aku merasakan sesuatu saja aku bisa berhenti, bagaimana aku akan melanjutkan perjalanan pada hal hal yang tidak begitu aku sukai? Maka keputusanku sudah bulat, menemukan dia. 
Tapi, hidup bukanlah tentang keputusanmu sendiri, inginmu sendiri saja.  Tentu saja. Katakan semesta belum menjawab, atau yang punya kuasa menegur untuk terus mencari, dan menjawab :belum.  Ah, yang terjadi aku yakin semua bukan karena tidak terjadi, hanya perkara keinginan kita yang berbeda dari kehendakNya.
Ini bukan akhir cerita, karena hidup baru saja bermula ketika kau tahu apa yang ingin kau cari, 


hidup baru saja dimulai ketika kau tahu kau kehilangan apa untuk menemukan kembali.

hidup baru saja akan dimulai seiring kau mencari.
Kemudian, mungkin setelah pencarian panjang kau akan menemukan kembali suatu pencarian yang diresahkan sebuah pertanyaan:
"Sudahkah penemuanmu membuatmu ingin menemukan yang lebih jauh lagi?
but a lyrics on a song tells me: if you cant get what you want, you may get what you need.

Exactly. 

Monday, September 30, 2013

Rumah

Kupanggil ia rumah.
Karena di hatinya hatiku bernaung, tak mau pergi

kupanggil ia rumah.
karena setiap kali langkah kakiku melangkah pergi
selalu menyeret setiap ingin untuk kembali

kupanggil ia rumah.
karena meski telah seribu caci maki
selalu ada seribu satu maaf seketika dari hati

kupanggil ia rumah.
karena meski pintu pagar telah tertutup
dan pintu depan telah terkunci
selalu ada cemas dan harap untuk diterima kembali

kupanggil ia rumah
karena mudah saja, untuk selalu mencintai kembali.
berulang ulang kali.
berulang ulang kali.
berulang ulang kali.

Pontianak, 30 September 2013

Saturday, September 28, 2013

Episode Singkat

Kuceritakan padamu sebuah cerita tentang kehilangan, katamu sambil memperlihatkan hati dalam genggaman tangan yang asing yang tak mau kau sebut panggilannya.  Seorang anak kecil yang lugu dan polos dalam matamu menari dalam taman kanak kanak imajiner.  Kemudian luruh dan runtuh langit yang tiada itu menjadi deru air mata yang mengalir dari sungai yang tak pernah kau ketahui muaranya.  Atap atap tembikar menyeruak menelusupkan rintik dari celah-celah rajutan ke dalam matanya kemudian ia berlari, mencari keteduhan dari pohon yang begitu rimbun namun rintik masih menitik dalam helai helai dedaunan yang jatuh menua, berjalan pula ia terlalu jauh dan orang yang begitu asing memberikan benda ajaib yang cembung dan menjatuhkan bulir rintik dari terpanya. Tapi anak kecil itu melihat awan yang muram, tidak tega membiarkannya tak berkawan karena alasan.  Jemari yang menapak kemudian terlalu melebur dalam lunak hingga kau tak bisa berpijak. Tiada yang mampu menahan bulir yang menyerahkan dirinya untuk lebur dan hancur. 

Sehingga tinggal genggamanmu dalam hati yang melingkupi resah yang melumat gundah, kuserahkan nadi untuk menjalar ke seluruh semesta. 

Maka kau kecup keningku dan kau bilang itu cinta.

Saturday, September 7, 2013

di celah pikiranmu+

Adakahku berada di celah pikiranmu
permisi masuk menjelajahi pikiran liarmu+
tersisakah sejengkal ruang untukku

tak ada kata tersisa
sudah remuk habis
pergi tersesat,
terhambur memuai udara
puluhan purnama tlah engkau denganku
adakah kusesali waktu
jika ku tamak
ingin memilikimu
mencintaimu lebih lama lagi

sat, sept 7 2013

Thursday, August 29, 2013

in your eyes, i'll stay.

Theres a shadow, in your window when the wind whispering how your smells when he arounds. Morning would come not so far but the awake eyes can't fake anything but missing you like i always had. 
The touch of your images just resound again and again, calling the past, make my self traped forever.
A second chance i'm willing to have just to make my self sure that i never make a mistake, but i was always wrong because you even not care to belief that i'm exist.
Love would always be a second priority between everything else. But it would always stay, in the lonely night you spend around trying to figure our how your life gonna be if we are still in the same line, talking to each other and sharing the night.
They tell that it would be impossible and it's true. But i always love challenge, and theres just no one can fit with mine. 
In your lonely eyes, i shoud stay, forever. Even i know i will never get out. i will never see freedom because once i see you, i will never be the same. 
someday will never come, and the end from here is near but i wont ever afraid. because you will always there, stay and trap in my eyes, as the one who i always loved. 
future is somewhere nowhere. but i will always here, as a girl who will stay with you and sing a lullaby when you comes around. forever, i promise.

Saturday, June 8, 2013

dini hari itu

ada yang kurang dini hari itu
sejanggal secangkir kopi yang kubuat susah payah
lalu tak kau minum seperti biasanya

ada yang hilang dini hari itu
setaknyaman matamu yang tak lagi menatap mataku
meninggalkan bisu

ada yang mengganjal dini hari itu
serunyam hatiku di kala kau datang senja itu
tapi tak lagi ada rasa

ada yang tak beres dini hari itu
ketika kudekap dan kau meminta maaf
untuk dosa yang tak pernah kau perbuat

ada yang kuketahui sejak lama di dini hari itu
yang kusadari sejak lama
namun tak mampu terkata

ada yang kupahami sejak lama di dini hari itu
cinta itu buta
dan maaf kan datang begitu saja

begitu saja
seperti pagi ini
...

Friday, March 29, 2013

At Your Hometown

At your hometown.  I sit around, wondering how is your life here, how you grow up, with who you spend your afternoon time, wondering what are you thinking when you look at this street.  
I still remember how you smile, how awkward your act when you stand beside me.  How you dizzy and look so anxious when you tell me your feeling. I still remember.
The first time we met at the mosque. Our silly chat and our boring talk, even our silly and rough debate.  The memory cant leave me alone even i try to escape.
So, here i am.  At your hometown, i try to face the truth, face to face.  To gather my fear facing your memory and the thought about you.  
The awkward moment when i smell your perfume, cheap perfume but cling to my nose, even my feeling to getting closer to you.  I judge you as a fool, silly and shallow.  But i respect you as an individual.  I respect your heart to each other, i respect your  anger, i respect the world behind your eyes.  Even for now, i'm not the part of it. It is relief to be detached from you. Your silly rules, silly perspective and silly protectiveness.  But i miss you too. 

For now, i will live my life as i know it.  Like a free bird, have a choice to descend upon any branch.  To be free to choose.  Free from other, even free from my self.  Through all the feeling i will feel.  Through all the up and down.  Without expect too much, but do what i can do.  Do what i love to do.  Without any regret, with my mind open to filter and collect the great things world offer me.  

picture from tumblr.com

Monday, September 24, 2012

Movie's series : Touch


The film start from the idea of indigo child, that usually indicated to autism.  In this movie, the child is also can read the 'red thread' that was the myth.  The myth said that somewhere the red thread is exist, control us, then sometimes it could be loose or tight, but never breaks.  Its amazing how this idea that developed in this story goes, how small things could make other many versions of probability could happen.  How little things in your life could effect so many more after.  I could shed tears while i watching, not because of romantic plot , but really touch.  How things could be beautiful because of little things at fate's play.  It inspire me to make another though of why i exist in this world, what kind of purpose, what i suppose to be or to do? Does what happen to me now, is my choice? or is it the better for me or i can have another chance to get all things right?
For now, i think i still have a big hole in my heart, sometimes i think i losing something, something unfinish, sometimes i just need a closure at what i desire.  But this is life, the process you are going through.  At the end its not the end of our life, we know all of us will facing death, its the process, its the journey you will going through.  New people, new idea, new perception, new situation that may happening to you when you are not ready yet to release your past.  I feel it.  How i still adhere to my past and how it left the hole in my heart.  Is this the best chance to happen to me or is this the purpose why i life for now? To fill the empty hole with so many things, peoples, dreams and many more? I still dont know yet.  But i really want to believe it could turn to great things.  Or may i need some luck to keep my insanity to through this life.  Anyway, i really loveee this series, make me keep open mind and think to believe in fate because it may bring us to the right place even now we feel the different.  Can't wait to see next episodes !!! :)

-ko

Tuesday, July 19, 2011

Midnight

Tengah Malam.  Tempat favoritnya bercinta dengan kesunyian.  Gelap.  Ketika dengan jujur ia bisa menghabiskan waktu.  Cukup berdua dengan dirinya sendiri.  Ia tidak akan pernah bisa mendapatkan teman sesetia senyap.
Di kegelapan malam lah ia menemukan sahabat sejatinya.  Temannya yang terbaik yang tidak akan pernah mendustainya. Mengecewakannya.  Temannya yang mengenakan pakaian serba gelap yang hampir menutupi seluruh permukaan kulitnya yang seperti hangus terbakar.  Hitam.
Lampu selalu ia matikan.  Ketika cahaya menelusup dari kisi-kisi jendela, dari atap-atap langit-langit yang renggang.  Ia selalu menyukai ketenangan.  Ketika pikirannya bisa meloncat terbang melayang-layang sejauh alam fantasinya.  Ketika alam sadar dan tidak sadarnya bertikai untuk menahannya, atau melepaskannya pergi mengembara sejenak untuk mendapatkan kebebasan.  Kebebasan.  Kebebasan yang selalu ia dambakan.  Kebebasan yang diimpikannya sejak lama. Yang selalu menjadi tujuannya begitu ia mulai memejamkan mata dan kehilangan kesadaran.  Dunia kini tak lagi menarik baginya.  Diikutinya dengan muka bosan dan mata setengah terpejam untuk sekedar melirik dan memberi makan jiwanya.  Kadang manusia dan karakternya begitu memuakkan.  Nilai, moral, kemanusiaan yang mengabur terganti lapar akan pujian, kepuasan pribadi, ego dan gengsi.  Sangat memuakkan.
Kadang ia hanya diam.  Kadang pula sesekali ia mengutuk dan mencari cari cara untuk merutuk.  Kadang ia malas mencari keadilan.  Tapi kadang pula ia jenuh.  Dan menunggu waktu untuk membalas dendam.  Kadang kehidupan pula mengajarkanmu tidak hanya untuk bisa berbelas kasihan tetapi juga membinasakan.
Logikanya jarang berjalan, tapi ia bisa menggunakannya dengan tepat, menusuk tepat saat ketidakmasukakalan mendesaknya dan membuatnya sesak.  Ia akan membuat keadilan.  Keadilan dengan caranya sendiri.
Beberapa minggu yang lalu.
Pagi dan siang beberapa minggu yang lalu itu terekam dalam ingatannya sangat sibuk.  Ketika bosnya datang mengomelinya habis-habisan.  Merendahkannya habis-habisan.  Entah kenapa ia selalu terlihat senang setelah memarahi dan menghina semua orang, termasuk dirinya. Kemudian membanggakan kehebatannya, kejeniusannya dan kesabarannya untuk memperkerjakan orang-orang sepertinya.  Kadang, ia hanya diam menahan amarah yang ditahannya hebat dalam hatinya yang bergemuruh. Kesal yang berkecamuk dan emosi ketika mulutnya mencibir.  Merendahkannya sejadi-jadinya.  Tunggu. 
Tunggu saatnya...
12.00 am
Tepat tengah malam.  Hanya ada obor yang memantulkan cahaya dari lemari dengan kayu-kayu bervernis dan dengan bau lapuk.  Ia memegang mandau.  
Ia tidak akan pernah sekalipun memaafkan kesalahannya.  Saat inilah satu-satunya kesempatan.  Kesempatan untuk membuat keadilan untuk dirinya sendiri. Kebenaran yang ada dalam dirinya.
Tapi ia cukup cerdas.  Ia masih cukup cerdas.  Disimpannya mandau yang telah turun temurun diberikan kepadanya.
Lalu ia berbisik kepada seseorang dalam gelap bertudung hitam dengan muka yang tak terlihat tertutup kegelapan yang hampir tak berjejak…
“Dia, dia pendosa itu…” tangannya menunjuk. 
Sahabatnya yang berwajah gelap itu hanya mengangguk sekilas. Untuk kemudian menghilang seiring cahaya obor yang padam tertiup angin.