Series ini menawarkan sesuatu yang klasik nan esensial: Harapan. Bahwa di tengah keputusasaan para 'murid' korban bullying, sistem yang korup dan guru yang tidak berdaya (bahwa pergeseran nilai penghilangan 'kekerasan/hukuman fisik' membawa masalah sosial baru: ketidakberdayaan guru). Hal ini mungkin menjadi nilai yang juga 'relate' di Indonesia. Carut marut masalah pendidikan, menteri pendidikan yang terseret KPK, entah karena kasusnya maupun politiknya, tetap saja menambah carut marut pendidikan yang rasanya tidak ada lagi harapan ke depan.
Di series ini, harapan itu dimunculkan. Eskalasi kasus bullying yang ditarik hingga batas : kasus pembunuhan/penusukan Guru oleh Muridnya. Yang ternyata, guru ini adalah anak dari seorang ayah yang akhirnya menjadi Menteri Pendidikan, dan memiliki tunangan yang adalah seorang Tentara Kopasus. Latar belakang yang tragis sekaligus miris, haruskah seorang pejabat memiliki 'latar belakang' yang dramatis ini untuk bisa mengubah dan memperbaiki sistem dengan semangat se'total' ini?
Karena ternyata, dalam politik (di drama ini), tidak cukup hanya bekerja dengan baik, dengan moral dan alasan yang baik. Seorang Menteri juga harus punya strategi yang cukup kuat untuk memiliki dukungan politik dan back up tim dengan moral yang sama. Bahwa, masih ada harapan untuk melawan 'corrupted system' dan orang-orang yang berjejaring dengannya. Harus dituntaskan hingga akarnya.
Pahlawan di lapangannya, tentu adalah orang yang turun langsung di lapangan sebagai Biro Perlindungan Hak Pendidikan alias tunangannya guru yang ditusuk oleh muridnya itu. Tetapi, tidak bisa dipungkiri peran Menteri Pendidikan dalam memberikan kewenangan dan alasan untuk memperbaiki sistem pendidikan inilah yang menjadi highlightnya.
Selain disuguhkan aksi berantem ala murid-murid preman ataupun anak 'STM' Mobil di sekolah yang paling buruk, kita juga disuguhkan oleh 'pschological terror' oleh murid wanita yang menjebak dan manipulatif. Kita dibawa menyelesaikan layer masalah satu persatu, dengan 'menghabisi' macam macam 'monster' di dunia pendidikan.
Mungkin, benar kata pak Hwajin, untuk menghadapi 'Monster' kita harus menurunkan 'Monster' untuk bisa melawan dengan sepadan.
4,8/5 *veryrecommended




No comments:
Post a Comment