Showing posts with label moviereview. Show all posts
Showing posts with label moviereview. Show all posts

Sunday, June 7, 2026

SeriesTime : Teach You A Lesson (2026) #netflix

 





Series ini menawarkan sesuatu yang klasik nan esensial: Harapan. Bahwa di tengah keputusasaan para 'murid' korban bullying, sistem yang korup dan guru yang tidak berdaya (bahwa pergeseran nilai penghilangan 'kekerasan/hukuman fisik' membawa masalah sosial baru: ketidakberdayaan guru). Hal ini mungkin menjadi nilai yang juga 'relate' di Indonesia. Carut marut masalah pendidikan, menteri pendidikan yang terseret KPK, entah karena kasusnya maupun politiknya, tetap saja menambah carut marut pendidikan yang rasanya tidak ada lagi harapan ke depan. 

Di series ini, harapan itu dimunculkan. Eskalasi kasus bullying yang ditarik hingga batas : kasus pembunuhan/penusukan Guru oleh Muridnya. Yang ternyata, guru ini adalah anak dari seorang ayah yang akhirnya menjadi Menteri Pendidikan, dan memiliki tunangan yang adalah seorang Tentara Kopasus. Latar belakang yang tragis sekaligus miris, haruskah seorang pejabat memiliki 'latar belakang' yang dramatis ini untuk bisa mengubah dan memperbaiki sistem dengan semangat se'total' ini? 

Karena ternyata, dalam politik (di drama ini), tidak cukup hanya bekerja dengan baik, dengan moral dan alasan yang baik. Seorang Menteri juga harus punya strategi yang cukup kuat untuk memiliki dukungan politik dan back up tim dengan moral yang sama. Bahwa, masih ada harapan untuk melawan 'corrupted system' dan orang-orang yang berjejaring dengannya. Harus dituntaskan hingga akarnya. 

Pahlawan di lapangannya, tentu adalah orang yang turun langsung di lapangan sebagai Biro Perlindungan Hak Pendidikan alias tunangannya guru yang ditusuk oleh muridnya itu. Tetapi, tidak bisa dipungkiri peran Menteri Pendidikan dalam memberikan kewenangan dan alasan untuk memperbaiki sistem pendidikan inilah yang menjadi highlightnya. 

Selain disuguhkan aksi berantem ala murid-murid preman ataupun anak 'STM' Mobil di sekolah yang paling buruk, kita juga disuguhkan oleh 'pschological terror' oleh murid wanita yang menjebak dan manipulatif. Kita dibawa menyelesaikan layer masalah satu persatu, dengan 'menghabisi' macam macam 'monster' di dunia pendidikan. 

Mungkin, benar kata pak Hwajin, untuk menghadapi 'Monster' kita harus menurunkan 'Monster' untuk bisa melawan dengan sepadan. 

4,8/5 *veryrecommended

Tuesday, December 24, 2024

love in the big city (2024) #moviereview

 


Kadang kupikir, jika kita telah berada di umur 30an dan belum menemukan pasangan. Mungkin kita telah menemukan cinta di hal hal lain. Pada teman yang mengenali duka yang tidak kita katakan, pada sahabat yang mendengar semua keluh kesah dan hal hal kecil konyol yang harus kita ceritakan. 

Menonton film ini aku jadi merefleksikan hidupku pula, tumbuh dengan beberapa teman akrab, bersama berbagi kedukaan, kebodohan, ketotolan. Kemudian waktu berlalu tak terasa begitu cepat. Dan mereka masih jadi bagian dari hidup kita. Ia yang paling mengenali kita, walaupun tidak terlibat dalam romantisme percintaan lawan jenis. Mereka ada menemani duka lara, turut bahagia kalau kita bahagia. Marah kalau kita melakukan hal hal bodoh. Tempat berbagi semua cerita dan menghabiskan waktu.

Go Young dengan karakternya yang pendiam dan terbebani akan status dan preferensinya, dan Choi Mi-ae, yang selalu mengutarakan apa yang dia pikirkan, periang dan jujur. Seperti tali benang merah, mereka menemukan satu sama lain di kejadian-kejadian, dan menemukan kecocokan untuk menghabiskan waktu, bersenang-senang di masa kuliah. Kupikir, jika waktu dan fase telah berlalu, segala hal akan ada hal hal baru yang akan menguji hubungan apapun itu. Seiring waktu, keinginan dan karakter manusia akan menunjukkan sisi terburuknya, di luar hal hal yang sekian lama berada di bawah dan terpendam. Kemudian kita akan melewati tes yang akan membuat orang lain akhirnya membuat keputusan, mampukah mereka menghabiskan waktu tanpa kita, memilih tinggal atau pergi setelah semua keburukan datang. 

Mungkin, yang pergi juga tak berarti buruk. Setiap yang sudah tak cocok dan memutuskan untuk menemukan orang lain juga tidak salah. Tapi untuk mereka yang tetap mampu memaafkan, tetap tinggal pada asam garam pahit, tentu adalah seseorang yang begitu istimewa, seperti yang diceritakan di film ini. 

24/31

Tuesday, September 24, 2024

Omni Loop (2024)


Entah mengapa, film-film time travel selalu membuatku termenung dan berandai-andai, apa yang harus aku lakukan berbeda dalam hidup, apakah yang menjadi kesenanganku, apa yang akan kita pilih seandainya waktu diulang, kita bisa mengulang-ulang waktu. menonton film omni loop mengingatkanku rasanya menonton about time (2013) saat pertama kali. 

memvisualisasikan tokoh utama yang tak puas, dan mengulangi waktu dan berusaha memecahkan masalah 'sepanjang hidupnya' dengan mengulangi waktu, sampai ia puas. tapi nyatanya, semua tetap akan berakhir sama. seperti kesimpulan dan resolusi yang berusaha dikemas dalam film ini pula. pada akhirnya, kita harus belajar melepaskan. apa yang kita punya sekarang, adalah apa yang terbaik versi diri kita sekarang, sebanyak apapun kita mengulangnya. mungkin itu juga 'keinginan' penulis untuk menutup cerita bertema sama. tak mungkin pula mengambil hikmah dan moral story bahwa; ternyata kita punya versi hidup yang lebih baik dan menyenangkan di luar sana kalau saja kita tidak mengambil keputusan yang buruk saat itu. haha. tentu filmnya akan jadi menyedihkan.

****
138/366

Monday, April 8, 2024

Road House (2024)

Uploading: 178114 of 178114 bytes uploaded.


sudah memasuki minggu libur lebaran, saatnya menghabiskan waktu bersantai di rumah, gak mikirin kerjaan, berusaha rileks dan bersantai sambil menghibur diri dengan film-film seru.  akhir akhir ini lagi keranjingan nonton trailer trailer di youtube terus mencari filmnya. sebenarnya premis film ini typical, tapi emang film yang 'menyenangkan' itu ya kayak gini, gak aneh-aneh, straight to the action. mungkin kalau dianalisis lebih dalam lagi pake teori 8 sequences, ya masuk, kayak gini. 

sebenarnya yang bikin impressed itu behind the scene nya Jake Gyllenhaal yang berusaha ngebentuk badannya jadi mantan pemain UFC. filmnya remake dari film dengan judul yang sama dari taun 1989 yang pas liat trailernya kayaknya secara sinematik memang mirip. 

premis film juga cukup menarik, dari atlet gagal yang merasa bersalah, jadi petarung jalanan yang depressed dan suicidial kemudian menemukan 'arti' dan 'makna' hidupnya lagi dari hal hal yang ia temui. pada akhirnya, pemeran utama akan menemukan sesuatu yang pantas diperjuangkan dalam hidup. 'the heroic story'- pada akhirnya, film ini sekiranya berisikan perjalanan menemukan sesuatu yang bisa membuat hidup jadi lebih 'hidup'. hubungan dengan orang-orang, respect dan pemaknaan tentang apa yang akan kita lakukan untuk bekerja dan menyambung hidup, hari demi hari. 

85/366

Monday, December 4, 2023

review - jatuh cinta seperti di film film (2023)

Pada umur yang sudah tidak muda lagi (dan masih single), jatuh cinta kadang telah berubah format, mungkin tidak terlalu banyak, tapi ada hal hal yang terasa lebih esensial, lebih sederhana namun hangat. Pengalaman kadang membuat seseorang lebih bijak dan dewasa, kadang juga membuatnya menjadi lebih getir dan pahit dalam menghadapi hal remeh temeh manis tentang cinta. Tapi, bukan berarti seseorang menjadi tau semua- pada jatuh cinta, semuanya akan bertekuk lutut pada perasaan manis yang membuncah di dada- yang bisa saja berujung melakukan tindakan dramatis, romantis, atau juga memendamnya rapat dan lama karena perasaan yang begitu hangat dan mengalir dari perjumpaan perjumpaan yang begitu takut dikacaukan.

Mungkin pula jatuh cinta kini adalah bentuk percakapan-percakapan, karena apa tindakan yang lebih esensial untuk mengenal seseorang selain percakapan percakapan sederhana. 

Sebagian besar (80%) film ini adalah hitam putih, warna yang menegaskan dan menjadi pertanyaan demi pertanyaan yang akan dijawab satu persatu dalam adegan demi adegan. Penjelasan layaknya youtube film favoritku, studio binder yang diurai dengan cermat, penuh kritik dan menggelitik. Adegan demi adegan juga dirangkai dengan alsan yang logis dan memiliki twist twist yang dengan cermat ditanam dan direveal satu persatu ala Christopher Nolan dan film film plot twist. Seru, hangat, dekat. 

Menurutku, jaman sekarang, orang tidak lagi melulu tertarik menonton film karena trailer. Awalnya aku menonton trailer tapi belum ada dorongan dan urgency buat nonton (yang mostly sendirian sepulang kerja), tetapi karena aku menonton 2 podcast, in frame-ernest prakasa dan cinecrib. Maka sudah bulatlah niat untuk menonton di hari pertama. 

Menonton film ini saya menjadi berpikir setelahnya, sebenarnya apakah yang membuat saya menyukai sebuah film, terutama film ini. Bisa jadi adalah perasaan yang terhubung- alias perasaan perasaan familiar, dan apa yang saya lakukan dengan perasaan itu. Hubungan hubungan yang pernah dilewati dan 'umum' karena ah, kita pernah merasakan hal yang sama- hingga terasa menarik melihat perasaan perasaan yang familiar itu disajikan di layar kaca. 

Penggambaran perasaan- adalah elemen yang paling kuat dari penceritaan ini. Apa yang dilakukan seseorang saat jatuh cinta? apa yang dilakukan seseorang saat berduka? Saat menyukai seseorang, tapi juga ingin menjadi dirinya sendiri, ingin menyuarakan isi pikirannya (yang mungkin saja jadi terlihat 'kurang peka' atau sedikit egois) dari perspektifnya sendiri. Saat dewasa, mungkin saat jatuh cinta orang lebih akan menjadi dirinya sendiri, tak terlalu berusaha menjadi orang lain dan membuat orang yang disukainya terkesan secara berlebihan karena mereka ingin dicintai sebagai dirinya yang utuh, dirinya yang telah penuh, dalam versi yang terbaik- namun juga tak melukai prinsip prinsip yang telah teguh dilakukan selama ini. 

Esensinya, film ini adalah refleksi personal penulis mengenai kepenulisan serta menceritakan persepsinya terhadap industri film yang disuguhkan dalam bentuk 'meta'. Dihadirkan dalam dialog-dialog sehari hari perbicangan dua orang teman lama yang bertemu kembali. Aku selalu mengapresiasi film yang 'effort' untuk menanamkan petunjuk demi petunjuk untuk menyelesaikan teka-teki, dibalut dengan akting natural dan penggambaran jatuh cinta yang sederhana, namun memikat. 

10/10 *definitely my favorite indonesian movie this year

Thursday, July 20, 2023

Oppenheimer #moviereview





Di luar hujan deras, baru sampai ke rumah sekitar jam 12 malam setelah menonton Oppenheimer perdana di jam 20.00 di XXI. Hari ini hari libur kerja, jadi cukup tidur untuk gak ngantuk, yang sudah dipersiapkan kalau nonton dengan durasi lebih dari satu jam. Apalagi, dari trailernya sudah tau ini film sejarah- berat, dan cukup sangsi bisa bisa aja tetap ngantuk walaupun cinematic bagus dan yang bikin film yang udah legend.

Tapi asumsinya patah begitu dari awal disuguhkan adegan demi adegan, penggambaran 'atomic' yang haunted dari awal, meskipun nggak lagi ngomongin bom, tapi adegan demi adegan, mengungkap satu demi satu rahasia dan jawaban, tentang apa dan kenapa, struktur cerita dengan plot yang dipenggal penggal agar penonton bersabar menunggu beberapa timeline yang diorkestrakan dengan indah untuk membentuk puncak konflik dan menjawab apa sebenarnya yang ingin digambarkan di film ini? keberhasilan membuat bom? moral dan dilema? strategi politik dan rasa bersalah akan perang? siapa yang menjadi kambing hitam dan yang akan dipersalahkan? apakah hal yang buruk ini pada akhirnya memberikan kita kedamaian? apakah perang akan terhenti begitu musuh telah kalah dan negosiasi telah selesai? atau ada hal hal yang akan membuka mata rantai untuk saling berlomba lomba menghancurkan dunia? apakah batas kata cukup dalam sains, teori dan prakteknya? beberapa pertanyaan yang dicoba dijawab dalam film berdurasi 180 menit ini dengan rangkaian yang indah dan beberapa dinamika agar jelas-jelas tak membuat bosan penonton karena semua tentu sudah tau apa yang ingin disampaikan di film ini, karena penggambaran sejarah yang sudah berlalu dan semua orang tau. Tapi bagaimana cara Nolan bercerita, menggambarkan, menyampaikan, mengurai jawaban jawaban, adalah yang selalu saya senangi dalam menonton film. 

Tentu, pemeran yang mumpuni juga menjadi fondasi kuat dalam rangkaian cerita ini, setiap aktor punya karisma dan saling merebut perhatian untuk menekankan betapa urgensi perspektif mereka masing-masing. Pemeran wanita oleh Emily Blunt dan Florence Pugh juga sangat mencuri perhatian, sebagai wanita yang punya karakter dan dilemanya sendiri. Dan tentu saja, Cillian Murphy dan Robert Downey, serta Matt Damon yang begitu menonjol dalam menyampaikan kegelisahan karakter. Cillian, yang tentu saja begitu terkenal dengan peran Thomas Shelby yang menjadi favoritku, memang punya karisma dan misteri tersendiri. Seperti memiliki emosi yang begitu dalam dan kompleks, tapi juga begitu tenang. Belum lagi shoot jarak dekat memperlihatkan emosi dari matanya yang biru dan wajahnya yang telah menua, seakan menggambarkan kegelisahan yang bercampur dengan kepuasannya dalam kesuksesannya dalam meledakkan atomic bomb itu. Semuanya terangkai dengan manis dan pas. Serta hint hint fakta sejarah yang benar benar membungkus film ini. Nolan memang storyteller ulung. Takkan ragu menonton apa saja yang dibuatnya.

4,9/5 *****

Thursday, July 13, 2023

Mission Impossible : Dead Reckoning (Spoiler Alert)

 

 
 


*hard spoiler alert

Sebagai penggemar film action spy, franchise mission impossible tentu jadi film yang gak boleh dilewatkan, terlebih premiere nya yang udah dari beberapa taun yang lalu udah di tease dengan iconic scene motoran sambil loncat dari tebing. Setelah liat trailer, kayaknya memang ini udah franchise ke tujuh, dengan pemandangan gunung alpen, kereta api, padang pasir, sampai venice. Memang setting tempat yang memanjakan mata untuk film action- kebut kebutan dengan mobil polisi dan yang paling iconic- fiat kuning jadul yang jadi cepet, sepertinya cocok buat kebut-kebutan di blok sempit di paris. 

Buat cerita dan suspense sih menurutku, yah typical film action pada umumnya- nyari penjahat- gagal, team up- plot twist dikit, terus menang, alias bisa menyelesaikan misi dan dunia gak jadi hancur. walaupun disini agak bingung dengan plot twist terakhir di kereta maksudnya gimana, siapa yang jahat dan siapa yang baik. Namun analogi pak polisi (pemeran figuran yang tugasnya ngejar ngejar Ethan tapi gak ditangkep-tangkep juga) yang bilang kalau kamu udah punya kekuatan yang superpower kayak Entitas, apakah kamu akan mempercayakannya kepada atasanmu? apakah kamu percaya dan taking sides, atau justru bakal ngehancurinnya. 

Kupikir penjelasan dilema nya secara literal ini jadi yang bikin film ini sedikit kurang menarik, kita gak dijelasin maksud dan tujuan apa mereka rebutan kunci ini, gak dikasi tau pula kunci ini membuka apa, jadi kesannya kan kurang motivasi gitu buat urgensi rebut rebutan ini, dan deadline nya. Jadi kayak, ini pada ngapain sih, pada tau nggak sih apa endgamenya, dan sampe habis pun gak dikasi tau dengan jelas (mana kayaknya mereka ambil reference dari kasus-kasus yang lalu dan masa lalu Ethan) ya kali mana lagi kita inget alur cerita yang lalu lalu yekan. hihi.

Pengenalan karakter baru, Grace, juga lumayan menarik buat mengimbangi Ilsa Faust, Vanessa Kirby dan Paris yang berlatar belakang pencuri biasa yang dipilih secara khusus oleh Kirby buat mengantar kuncinya, walaupun kurang jelas juga motivasinya. Menurutku, karakter Paris yang justru menonjol, cewe sadis dan barbar yang akhirnya ngebantuin Ethan, tapi sayangnya mati pula. Padahal, mungkin bakal lebih seru kalau dia ikutan tim Ethan juga karena karakternya yang sadis, nyebelin dan barbar gitu, tapi tiba tiba tersentuh waktu gak dibunuh Ethan dan berbalik nolongin doi tiba tiba saat keadaan genting, extra effort banget. Lol.

Tapi overall yang menghibur dari film action selalu menerutku tentu bukan alur dan struktur cerita- tapi visual visual berantem atau adegan laga. Kupikir berantemnya sih agak kurang teatrikal, kebut-kebutan mobilnya agak nanggung gitu, kayak antara kejar-kejaran mobil kecil (fiat) dengan mobil polisi anti peluru yang superpower sampe ngancurin motor-motor yang lagi parkir. Jadi apa nih, mau adu kelincahan apa adu daya destruktif mobilnya. Jujur di awal film sempat ketiduran dikit (karena lagi kurang tidur dan adegannya kinda boring di awal), expect nya tuh kalau film model begini meskipun alurnya klise- tetap dimanjakan dengan full visual cinematography, kalau bisa dibandingkan- dengan film transformers, rise of the beat yang terakhir aku tonton. Kinda like it better dari visual. Walaupun begitu, pesona Ethan Hunt tetap nggak bisa dipungkiri sih, bakal tetap nyoba nonton Part II nya, semoga better (dan aku cukup tidur) biar gak ketiduran lagi! 😉

Rate 3/5

Wednesday, August 31, 2022

mencuri raden saleh #moviereview


I always like spy, heist, or manipulative twist movies, playing with perspectives. So, watching this, even there's some part of it that feels like i want to do something else.  But most of all its good.  I like watching good Indonesian movies because the vibes, the background, the room setting was like around the corner.  


dari kecil, aku senang melihat ayahku yang akan memulai project melukisnya di setiap bulan puasa.  di masa kecil pula, aku pernah melukis 2 lukisan yang akhirnya dibingkai dan sampai sekarang salah satunya masih digantung di kamarku.  aku selalu senang melihat lukisan, apabila pada lukisan lukisan yang aku sukai, meskipun sekarang grafis, 3d semakin canggih, menatap satu objek lukisan dalam jangka waktu yang lama selalu menjadi 'healing' tersendiri. yang bisa bikin jadi melamun, memikirkan hal hal  lain, atau mengingat-ingat perasaan perasaan yang ada di dalam ketika melihat sebuah lukisan.

film ini juga membawa values kayak team work, deception, characters, seru. dalam karakter ucup, piko, sarah, gofar, tuktuk yang masing-masing punya kontribusi buat ngebawa film ini. berulang kali menekankan tentang 'kontingensi' plan, dan juga menunjukkan kegagalan dan logika - buat gak terlalu berhasil melakukan semuanya.

selalu suka after effect habis nonton film bagus, jadi terinspirasi buat olahraga biar jago berantem kayak sarah,  penuh strategi macam fella, jago ngebengkel macam gofar, jago nyetir macam tuktuk, jago melukis kayak ucup, dan punya pacar ganteng kayak piko (eh salah, dia disini ahli IT, means hacker2 typical main crypto tapi kayaknya masih agak kurang gitu vibesnya, lebih jadi kek playboy flirty2 gitu). yang jelas, film ini menghibur banget buat aku yang udah agak lama rasanya gak nonton film sejenis, dimana top  of mind film sejenis ini di kepala aku tu Ocean's Eight yang SUPER BERKESAN dan aku banget karna GIRLS POWERnya!! haha. disini juga chemistry cewek ceweknya, Sarah dan Fella juga udah seru. no catfight. haha.

my rate: 8/10

Saturday, August 21, 2021

"Always A Perfect Time for Woman to Shine"

Netlix Mini Series : The Chair

Menjadi Ketua Jurusan di era sekarang, dengan gerakan mahasiswa, dan perkataan yang harus dipikirkan matang-matang, menjadi tantangan bagi Dr Jii Yoon-Kim untuk memimpin jurusan sastra inggris bersama dengan dosen-dosen senior, politik kampus dan permasalahan pribadinya.


Bersama dengan teman lamanya, Professor Bill Dobson yang tidak sengaja membuat kekacauan, Dr Jii Yoon-Kim harus memecahkan masalah yang semakin rumit sementara mulai mengembangkan love interest dengan sahabatnya itu.

Mini series dengan enam episode ini memiliki premis yang menarik, tentang bagaimana seorang perempuan, memberdayakan dan 'berusaha' memimpin dengan cara yang spesial khas perempuan, tentunya. Serta menggambarkan sosok Dr Jii Yoon-Kim yang juga memutuskan untuk mengadopsi anak meskipun tanpa suami, yang semakin menambah kompleksitas dan sisi sisi lain dari penggambaran cerita di series ini.

Wanita di series ini memang digambarkan sebagai sosok yang memiliki masalah yang kompleks, memperjuangkan 'posisi'nya sebagai pemimpin, karier, menuntut kesetaraan dan mendapatkan kesempatan yang sama, upaya menyeimbangkan antara professional life dan personal life, berusaha menyeimbangkannya dan tetap dapat menjalani hidup dengan dinamika dinamikanya.

#movierecommendation

Friday, May 7, 2021

Movie of The Week : Happy Old Year

 




Aku senang menonton film yang bisa membuatku jadi merenung, hening dan membuat pikiranku jadi kemana-mana setelah menontonnya.  Begitu pula film Happy Old Year ini.  Berawal dari obsesinya untuk hidup minimalis, teman-temannya yang melabelinya dengan si 'hati yang dingin', akhirnya di cerita ini diuraikan satu per satu kenapa dan mengapa ia sampai jadi seperti itu.  

Kadang dalam hidup, kita tidak bisa langsung saja menghakimi seseorang dari satu kali pertemuan, karena satu tindakan adalah rentetan dari kisah panjang yang belum kita ketahui, atau memang begitulah adanya.  Sebuah kritik tentang 'membuang' sesuatu, hal hal yang tak digunakan, hal hal yang berharga dalam kehidupan, dilema yang dirasakan orang-orang di sekitar kita.
Tentang bagaimana pula kadang suatu barang mengingatkan kita pada kenangan yang indah, meskipun orang yang membuat kita menjalani kenangan itu kini telah berubah dan berbeda.

Film ini sedikit pahit, tapi tetap manis tanpa menggurui macam-macam.  Hubungan antara pemeran utama dan mantannya pun digambarkan anti-klimaks, seperti hubungan hubungan gagal move on pada nyatanya yang menggantung dan entah apa, walaupun masing masing yakin telah melewati hal hal yang manis.

8/10

Thursday, December 31, 2020

Another Round (2020) #moviereview

picture here

Film ini dimulai dengan scene sekumpulan anak muda yang bersenang-senang, kemudian berpesta dengan meminum minuman keras hingga mabuk yang berakhir dengan diamankan polisi karena mereka mengikat petugas kereta dengan borgol kemudian berpesta di dalam kereta.  Dilanjutkan dengan rapat di suatu sekolah karena mereka adalah murid-murid di sekolah tersebut dan mempertimbangkan untuk kebijakan tidak ada alkohol di sekolah tersebut.

Adegan kemudian berlanjut dengan menggambarkan kehidupan empat pria paruh baya yang merupakan guru di sekolah tersebut, yaitu Martin (Mads Mikkelsen), Tommy, Peter dan Nikolaj.  Kehidupan mereka mengajar digambarkan dengan kurangnya motivasi, kepercayaan diri, yang menyebabkan murid murid yang saat itu diajar mereka pun tampak bosan dan tidak bersemangat. Hingga suatu saat mereka makan malam di hari ulang tahun Nikolaj yang ke-40, mereka berdiskusi tentang sebuah teori dan philosopher dan psikiatri Norwegia bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan dengan kandungan alkohol yang kurang 0,05%, yaitu sekitar satu hingga dua gelas wine, dan kau harus mempertahankannya tetap di kadar tersebut, untuk membuatmu rileks, seimbang,  menikmati musik dan berpikiran terbuka. Kemudian mereka melanjutkan mengobrol, dan Martin tiba tiba menangis- bercerita kepada teman-temannya bahwa anak dan orang tua murid di kelasnya komplain kepadanya kalau pelajaran dan cara mengajarnya tidak cukup- untuk mempersiapkan anak mereka masuk ke universitas nantinya.  Temannya yang lain kemudian menghibur bahwa mungkin mereka anak kurang ajar, namun Nikolaj berkata, bahwa hal ini adalah hal yang besar, bahwa Martin kini kurang percaya diri, kurang menikmati dan bersenang-senang.  Makan malam pun dihidangkan dan kemudian dilanjutkan dengan mereka mabuk dan bergurau hingga pulang.

Keesokan paginya Martin kembali ke kelas, dan mencoba meminum segelas alkohol di pagi hari.  Kemudian ia berpapasan dengan Nikolaj, dan mengatakan ia tak bisa mengemudi karena mabuk. NIkolaj kemudian mengantarnya pulang, mereka berempat berkumpul, dan memutuskan untuk membuat sosial eksperimen tentang bagaimana sesungguhnya efek alkohol jika diminum di pagi hari- seperti para tokoh-tokoh besar jaman dulu yang mabuk mabukan tapi tetap mampu menghasilkan karya yang fenomenal.

Ternyata mereka berempat menemukan 'perubahan' dalam hidup mereka, terus meminum alkohol di pagi hari, dengan menghitung kadar 0,05%.  Martin tiba-tiba kembali menjadi guru- yang mampu menghidupkan suasana kelas, membuat murid-muridnya bersorak dan bersemangat untuk diajarkan sejarah.  Martin kembali memperoleh kepercayan diri.

Dari film ini dapat terlihat kerangka masalah yang membingkai masing-masing tokoh ditunjukkan di awal, Martin dengan kehidupannya yang menjadi membosankan mengajar sejarah, Tommy yang mengajar sepakbola, Peter yang mengajar musik, dan Nikolaj yang sepertinya merupakan staf sekolah dan susah tidur dengan tiga anak. 

Mereka merasa menemukan solusi dari masalah mereka dengan meminum alkohol secara konstan- yang membuat mereka lebih 'hidup', lebih bersenang-senang dan merasakan rileks dan terinspirasi- tanpa sadar mereka juga menambahkan masalah-masalah lain dalam hidupnya, seperti Martin dan Nikolaj yang akhirnya diusir dari rumah mereka karena terlalu mabuk- dan tidak lagi bisa mengontrol dirinya kemudian. Mereka pun mengakhiri eksperimen sosial mereka.

Tetapi ternyata Tommy masih tidak bisa melepaskan alkohol dan menjadi pemabuk, kemudian teman-teman mereka berusaha menolongnya- namun ia menolak.  Hingga akhirnya suatu sore ia pergi berlayar dengan anjingnya- dan sepertinya bunuh diri.

Hari kelulusan pun tiba, murid-murid Martin dan Peter tampak sangat mengapresiasi guru mereka yang mengajar dengan sangat menarik hingga membuat mereka lulus dengan nilai yang baik dan membuat mereka belajar dengan menyenangkan. Kemudian di tengah pengumuman kelulusan, mereka mendapat kabar bahwa Tommy telah meninggal dan akan dimakamkan.  

Mereka berduka dan mengenang Tommy yang telah menajdi teman yang supportif untuk Martin, selalu memandang Martin adalah orang yang hebat dan menyenangkan, selalu menyuruhnya untuk berdiri tegak di tengah masalahnya, hingga akhirnya pawai kelulusan melewati tempat minum mereka dan mereka bergabung, menemukan bahwa ternyata apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah benar-benar sia-sia.  Bahwa ternyata mereka masih bisa menikmati hidup dengan penuh- meskipun tanpa alkohol dengan menjadi - 'man of charge'. Hingga akhirnya Martin, yang merupakan mantan pemain jazz balet, yang dulunya pada saat ulang tahun Nikolaj, yang disuruh oleh Tommy untuk berdansa namun menolak karena malu, namun kini saat Martin duduk dan mengenangnya, akhirnya ia ikut merayakan kelulusan muridnya dengan berdansa jazz balet dengan riang, bersama teman-temannya, bersenang-senang, hingga akhirnya- film ditutup dengan adegan ia menari hingga akhirnya terjun - ke laut.


Film Thomas Vinterberg - yang merupakan film Denmark dan memenangkan banyak penghargaan ini sungguh menyenangkan untuk ditonton, menguraikan masalah tokoh satu persatu dengan uraian masalah yang menarik dan karakter Martin yang ditonjolkan dan mengalami pergulatan emosi dari yang awalnya tidak percaya diri dan membosankan hingga akhirnya 'alive' dan mampu memperbaiki masalah-masalah hidupnya kembali.  Alasan para tokoh mengalami emosi juga diuraikan dengan runtut dan jelas.  Show dont tell, juga dilakukan dengan baik dengan akting yang sangat menyenangkan oleh Mads Mikkelsen, serta tentu, suguhan jazz balet dan pesta hingga melompat ke laut- adalah penutup film yang sangat menggugah, untuk film ini.


Another Round' Review: Mad Mikkelsen in a Drama of Drinking - Variety
picture here

4,5/5*****