Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts

Saturday, June 14, 2014

Pontianak Fiksi



*putaran kedua

Aku mau menulis sebuah fiksi. 
Tentu lebih baik dari kenyataan ini. 
Seindah mimpi di siang hari.  
 Juga malam ini, juga malam malam yang lalu. 
Sampai saat nanti, mungkinkah?
Aku rasa mungkin, karena dia selalu mengatakannya.  
 “aku suka…” aku tak bisa mencerna.  
 Terlalu klise, terlalu bias, terlalu menyakitkan.  
 Namun terlalu lekat pula untuk begitu saja dilepaskan.  
Suatu saat nanti, yang terlepas itu akan kupenjarakan dalam sebuah fiksi.

*putaran ketiga
Hari ini adalah hari pertama kita bertemu.   
Tapi, bukan kali pertama hati bersatu. 
Oh, aku bingung sekali menjabarkan apa arti semua ini.  
 Seperti sebuah reinkarnasi.  
 Beginikah rasanya terlahir kembali bersama seseorang yang dikasihi?
Terlalu munafik untuk takut jatuh cinta.  
 Walaupun hal tersebut menyakitkan bila gagal lagi dan lagi.  
Aku ingin jatuh cinta, sebanyak-banyaknya seperti cewek di sinetron yang mengenakan kaos.  
Aku ingin merasakan cinta pada semua orang, ingin kuberi kehangatan pada semua orang.  
 Aku ingin happy ending seperti cerita disney. 
 Ingin bahagia seperti cinderella.   
Tapi hari ini terlanjur berakhir, mungkin tiada kelanjutannya.

Jum'at, 13 Juni 2014

*another project with www.pontianakfiksi.wordpress.com i only write first and last sentence. 
check the web for complete post!

Sunday, April 6, 2014

Kepada Jarak

Pernah kau mengatakan kau mencintaiku, suatu waktu.  Tapi jarak, tak lengah memburu, menghantui dan menyesatkan jalanmu untuk kembali.  Kau telah terlalu jauh dalam lara, sepi dalam keterasingan cahaya.  Suatu hari nanti kau akan pulang, katamu berjanji, see you when i see you.  

Di sudut hati yang terasing itu, aku menginginkanmu seutuhnya, seluruhnya, sepenuhnya.  Tiada jarak, tiada dusta, tiada ruang kosong.  Kau kuinginkan untuk genap, bukan ganjil.  Untuk menggenapi, bukan untuk mengisi keganjilan dalam celah celah sepi.  Aku menginginkanmu sekarang, aku menginginkanmu nanti.

Kepada jarak, sabarlah menunggu, suatu saat nanti, ia berjanji akan kembali.  Janjikan padamu hatinya yang utuh, penuh, tiada spasi dan tiada celah untuk kembali lari.

Kepada AR.

Thursday, December 5, 2013

Jarak

Jarak, kukatakan ia pada hati yang berada jauh, disana, tiada tergapai.  Kenanganmu sejauh pelukan dan hatimu sedekat mimpi yang terlupa.  Maka pada jarak yang memisahkan hati yang tiada lagi menyatu kugenggam rinduku, pada bunga bunga yang tumbuh dalam tidur, berakar hari demi hari dalam imaji, kemudian menjadikannya memori. 
Pada dunia paralel, kau dan aku memadu rindu, atas skenario batas bawah sadarku sendiri, sejauh dekapmu, sedekat rinduku. 
Maka berikanlah aku kekuatan atas nama malam malam ketika aku terbangun dan menyadari dirimu terlalu sering hadir dalam mimpiku, hingga menuntut sebuah cerita yang terbalik.
Jika jarak bisa membuatkanku sebuah mesin waktu, untuk kembali mengulangi setiap detik, jejak nafas yang berpadu dalam waktu yang terlalu alpa menghitung jarak untuk pulang.  Maka kau adalah rumah yang selalu terlalu jauh untuk ku pulang.
Atas nama langit jingga yang mengintip sore dari balik jendela kemudian hilang sekejap mata ketika kau ingin mengabadikannya, seperti itu bayanganmu yang tiada rupa, namun berada dalam sadar, berada dalam tiada.
Suatu hari jika kau temukan awan yang terbentuk seperti cinta, putih meleraikan kapas, hancur dalam lebur tapi satu dalam janji maka itulah aku, yang telah mati dalam pengetahuanku yang terbatas tentang hatimu, berulang kali mencoba kembali namun bukan itu yang kucari tapi kau yang telah terlalu jauh pergi.
Kemudian jika kau temukan salju yang telah luruh, ingatlah aku yang merelakan diri menjadi hancur dan tiada berarti, atas nama mencintaimu. Namun tiada pernah sesal. Karena aku, hidup karenamu dan tanpamu, tiada punya arti. Lenyap dalam ada, Hadir dalam tiada.
5/12/2013