Showing posts with label #bandungjournal. Show all posts
Showing posts with label #bandungjournal. Show all posts

Tuesday, September 29, 2020

september yang ingin kukenang #tuesdaypoetry

Cikole, 27 September 2020

pernahkah kau mengingat ingat yang telah lalu
kemudian merasa kesulitan 
karena waktu telah lama berlalu 
dan memori yang tersisa hanya ingatan ingatan samar
di antara banyak hal yang ingin kukenang kenang
di antara banyak hal yang ingin kuingat indahnya saja
september ini datang dengan tenang
tanpa aba-aba, tanpa banyak perkara
datang diam diam
mengisi waktu, hari hari
peluk demi peluk
temu demi perpisahan
waktu yang dihabiskan sendirian
waktu yang dihabiskan dalam genggaman
akan kuingat gelap dan terang
berjalan sedikit jauh untuk pergi 
kemudian melupakan

*
aku pernah bertanya padamu
bagaimana caranya nanti aku melupakan
kau selalu menjawab, sama seperti pertama
waktu yang terlalu berarti untuk dinikmati saja
karna semua kan berpisah pada waktunya juga
biarkanlah aku menatapmu sejenak
karena kau tak pernah nyaman kutatap
akan kubangun ingatan kuat
biar nanti kukunjungi kau di kepala
jika kita tidak lagi bisa bersua
kurekatkan perekat dengan kuat
kutulis dan kuabadikan dalam tiap kata kata
kurekam dalam foto dan memori
kubangun bahagia yang kita saja yang tau
aku mengingatmu dengan penuh tawa
selalu membuatku bertingkah tak tentu rupa
caramu memandang dunia dengan hampa dan putus asa
tapi juga ingin bergerak, maju terus berusaha
kadang kurasa ingin kumarahi dunia 
ketika kudengar ia tak berlaku adil kepadamu
kuharap semua cukup membahagiakanmu
membuatmu mampu kembali
menikmati hidup
apa adanya, dengan berbahagia
hanya doa yang baik yang ingin kupanjatkan
niatan baik untuk selalu mendukung apa apa 
yang kita usahakan
berbeda dalam semua
tapi akan kita upayakan
selangkah demi selangkah
satu hari demi satu hari lagi.

*

Saturday, September 5, 2020

Tuesday, September 1, 2020

September dan matahari yang terbenam

Selasa, 1 September 2020

Kejutan datang bukanlah tanpa tanda-tanda.  Ia telah mengintai sejak lama, hanya kita yang tidak awas.  Pelan pelan dibisikkannya harapan kecil yang bahkan tak berani didengar orang lain.  Mimpi mimpi yang disimpan sendiri rapat-rapat.  Takut terdengar orang lain dan ditertawakan.  

Setiap orang memiliki jalan yang berbeda, tapi standar bawah, standar sosial, kadang jadi bahan gunjing dan gosip sana-sini.  Siapa yang tak ingin hidup tenang dan mengikuti arus? Tapi kemudian jalan lurus jadi membosankan, atau malah sudah ditutup, terlambat semua.  Siapa lagi yang ingin disalahkan selain diri sendiri.  Lantas, mengapa menjadi berbahagia kemudian dipertanyakan.  

Siapa yang mengetahui apa apa di dalam hati manusia. Dalam dan panjang.  Seperti lorong gelap yang jauh, panjang dan menggemakan apa apa yang datang dari masa lalu.  Hati yang lemah kadang mencoba gentar dan tetap melangkah bergegar.  Siapa lagi yang bisa meyakinkan diri sendiri kalau semuanya cuma gema?

Matahari hari ini terbenam lagi, ditunggu, untuk kemudian hilang.  

Siapa yang tahu ia takkan datang lagi besok pagi?

...
matahari pun terbenam, mengganti yang lain lain
semoga hilang duka, hilang pula khawatir
untuk hari esok dan cemas 
pada hal hal yang belum datang dan telah lalu
semoga ditenangkan hatimu
beristirahat sebentar
dukamu kan diganti, sepimu kan terisi
khawatir dan lukamu, akan diobati
tak ada yang abadi
tak ada pula yang benar-benar kau miliki
...
Bandung, GC2

Monday, August 10, 2020

Feeling

how to freeze the moments
to embrace every little things we have
even there is no light in the tunnel
holding hands like there's no future

can we be really happy
when we only have the present
with the absence of forever?

can we love a little too much
can we risk a little more
to be alive
to be loved and fall

after the storm
after all the pain we feel 
and how can your touch
set me free and makes me forget
how world can be this miserable

August 2020

Wednesday, May 27, 2020

Satu Kali Lagi?

bagaimana bisa kutemukan tawa
dalam remeh temeh cerita konyol
sengaja sedikit menghibur luka di dadaku

bagaimana bisa aku membenci
jika bara api di hatiku tak pernah padam
ketika kau hadir di pelupuk mataku

untuk semua semua yang senang datang terlambat
kau datang terlalu cepat membakar bara
padahal belum dingin cuaca lara

aku ingin datang menghibur ketika kau tak lagi luka
ingin datang sekedar pembalasan untuk permainan yang akan datang
tau bahwa kau takkan pernah terkalahkan

aku selalu ingin jadi yang paling pemberani
berani mati mempertahankan luka-luka
tapi apa daya belum sempat kukatakan kata kata
genderang telah selesai dinyalakan
masing-masing pertikaian telah pulang

aku tak pernah ingin menyerah tapi telah kalah
aku tak pernah ingin benar benar menang
hanya ingin melihat api bahagia
menyala kembali di binar biru matamu

Bdg, 27 may 2020

Saturday, May 23, 2020

Tidak Ada Pontianak Hari Ini

Sudah seminggu terakhir ini, semenjak pandemi. Kayaknya udah ngerasa kebanyakan berpikir, kepala penuh, tapi kegiatan jarang, mungkin jadinya sesekali pusing (apa karna jadwal tidur yang memang tak pernah teratur).  Beberapa hari yang lalu kemudian berusaha membatasi waktu melihat layar, karena beberapa bulan ke belakang kayaknya nonstop mantengin apapun itu yang ada di layar, padahal, tidak terlalu mengerjakan sesuatu yang produktif juga. Huu~

Pandemi ini mengajarkan banyak hal, salah satunya tentang memaknai sesuatu, hubungan dengan orang, sentuhan, cara-cara mengatasi kesepian dan kesendirian. Plus, lebaran ini gak bisa pulang sama sekali karena penerbangan ditutup, tiba-tiba jadi akrab dengan teman-teman di kosan karena akhirnya punya waktu buat ngobrol banyak, sebelumnya cuma hai hai halo saja karena lumayan jarang ada di kos.  Teman-teman bertemu via chat, dm instagram sampai yang akhir-akhir ini kutemukan paling seru, ngobrol di voice chat game pubg mobile. haha.  

Esensi ngobrol ngalur ngidul sambil menghabiskan waktu, mungkin itu yang paling menarik.  Karena semenjak pandemi ini, hal itu sudah jarang lagi dilakukan. Kenapa ngobrol ngalur ngidul itu menarik ya, bagiku itu seperti terapi.  Kayaknya, awalnya kita tidak tahu ada apa aja sih yang mengganggu di kepala, kemudian waktu senggang, tektokan ngobrol, kita jadi muter otak mau ngomongin apa hingga keluar deh, apa apa yang mengganggu di kepala. Sebagai orang yang ngaku gak introvert tapi kupikir aku orang yang sedikit menutup diri, haha. Menemukan orang yang 'klik' itu untung-untungan, orang yang bisa buat tergantung dan bisa jadi 'safety net' kapanpun kita butuh untuk mengeluarkan uneg-uneg. Kadang juga mesti 'tau diri' dan paham bagaimana cara 'keeping the spark' atau bahkan hubungan yang sama sekali tak membuat berpikir.  Seperti hubunganku dengan blog ini, yang sudah ditulis bertahun-tahun, 'jaring pengaman' yang selalu ada, kapanpun aku ingin monolog, ngomong sendiri di kepala.  

Kadang ada harinya insecure parah sampai khawatir dibaca orang lain, karena pernah, dibaca orang lain, kemudian orang yang baca (yang gak terlalu kenal) lalu ngobrol seolah-olah udah mengenal betul. Padahal kan, apa yang ditulis bisa dibilang 'sisi alter ego' yang lain, bisa saja ketemu langsung dan sama sekali berbeda. Karena menurutku selalu ada separuh kebenaran yang terkandung dari segala sesuatu.

Pengalaman yang unik juga, kali ini bakal menghabiskan waktu di kos, ketika tahun lalu, dan tahun tahun sebelumnya, selalu dihabiskan bersama keluarga.  Ada seorang teman yang mengomentari pasti sedih, dan lain-lain.  Kukira, perasaanku (sampai saat ini) ya, biasa saja.  Karena tau tak lama lagi, setelah menyelesaikan pendidikan ini, aku akan pulang kembali ke Pontianak. 

Kupikir, aku memang tak pernah menganggap sesuatu yang seremonial itu sebagai 'esensi', cuma cangkang, bagiku yang terpenting adalah keluarga yang selalu ada dan menjaga, teman-teman yang bisa diandalkan saat dibutuhkan, hal hal kecil di kehidupan yang bisa menghibur dan pikiran sendiri yang bisa menjaga dirinya sendiri agar tetap 'waras' dan berpikir, kemudian menemukan hal-hal yang bisa disyukuri. Kehidupan memang fana, tiap hari hal hal berubah, waktu juga terlewat dan dilewatkan, kita memang harus siap dengan apa-apa yang berubah, walaupun memang sudah nalurinya untuk membandingkan, comparison is the thief of joy, they said. Semoga saja bisa tetap waras tergempur, bertahan dalam badai, dan selalu menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, kemudian terus berjalan, melanjutkan hari-hari.

Bandung, 23 Mei 2020


kemudian-

'aku akan selalu ada' katanya.  Berapa kali sudah aku pernah diucapkan hal hal semacam itu, tapi tidak bisa juga.  Kita memang tidak dirancang untuk esok.  Cukup hari ini.  Hal hal kecil di hari ini yang akan diingat sesekali untuk masa depan, atau untuk kenangan.  Atau mungkin yang mudah dilupakan. Entahlah, ku tak pernah janjikan hari esok, apalagi tahun tahun nanti.  Kata-katamu untuk selalu lari menghampirimu tiap kali aku butuh adalah jaminan, yang cukup membuatku senang, untuk hari ini.  Aku ingin memilikimu hari ini saja.

Semakin dewasa, kita semakin sulit jatuh cinta. Memikirkan hal hal semacam agama, kota yang berbeda, pekerjaan, tingkah laku, kebiasaan, prinsip-prinsip.  Meski kadang, kupikir itu semua cuma alasan.  Alasan untuk berhenti, di atara alasan-alasan yang lain.  Seperti alasan bahwa kita akan sulit, untuk bertemu, untuk terus saling menemukan, untuk terus saling bertahan.

Apa alasanmu kali ini? untuk berhenti dan menyerah, atau berlanjut satu hari lagi. Membahagiakanmu satu hari lagi.  Sebelum menyudahinya, sebelum ada yang larut dan terluka.  Siapakah yang paling rugi dalam mencinta? -adalah yang berhitung, adalah yang takut kehilangan, adalah yang menyerah.

Apalagi yang dapat dikenang dalam cinta selain kata-kata, pertemuan, tindakan manis, dan hasil  hasil pemikiran, perdebatan. Janji janji masa depan, hal hal yang tak lagi dapat dipegang, hal hal kecil nan ajaib tak kasat mata yang menggerakkan keinginan, untuk maju lagi selangkah, untuk memberanikan diri selangkah demi selangkah.  

Apalah kita tanpa keyakinan, tanpa janji di hari esok, untuk kembali bertemu, untuk berjuang dan mempertahankan. Kepada yang manis yang telah terkecup, yang tertinggal tanpa pernah selesai, untuk sekejap hadir, memberikan keyakinan, keteguhan hati untuk terus maju, untuk merasa pernah- berharga dan dicintai.  

Untuk kemudian memberi arti bagi diri sendiri- bahwa pernah layak, bahwa pernah bisa dan kemungkinan-kemungkinan itu pernah ada. Untuk kemudian berani mengakhiri, menyelesaikan perkara dengan sebaik-baiknya, keinginan untuk menuntaskan keluh dan memperjuangkan bahagia- untuk masing-masing, untuk memberikan penutupan, memberikan salam perpisahan. Untuk yang sesaat yang pernah hadir, memberi arti, dan setidaknya telah memiliki keberanian untuk pernah memulai. Segelas air yang tak pernah kosong, tapi tak pernah pula kepenuhan. Terimakasih untuk jadi preferensi, dasar pemikiran dan bahan-bahan pembelajaran, mengisi kenangan-kenangan, tapi kita harus terus melanjutkan perjalanan. Sampai selesai.  

Sunday, May 17, 2020

Selamat Hari Buku Nasional! ~dari yang suka buku dengan tulus dan apa adanya

Seorang teman dekat pernah bercanda beberapa hari yang lalu, "jangan posting-posting stori tentang buku terus lah, nanti dapet cowoknya susah, gak usah keliatan terlalu pinter.  Lagian, orang pinter juga ga pernah pamer-pamer kan dia pinter haha".  Untung yang ngomong temen yang udah tau lah becandanya gimana, kalau orang yang gak dekat ngomong gini sudah pasti tak omelin atau langsung diblock karena aku adalah orang yang sebenarnya malas basa basi berdebat buat orang-orang yang enggak terlalu sefrekuensi. haha.  

Tapi celetukan doi jadi bikin mikir, apa iya image baca buku adalah yang pinter jadi bikin orang takut. Sungguhlah berlebihan. Padahal tidak semua buku juga menandakan orang yang berpikir (dengan benar sesuai dengan kaidah dan teori).  Buku cuma jembatan, cermin dan refleksi dari apa apa yang ingin kita ketahui.  Atau sekedar, bersenang-senang.

Dari dulu, buku selalu aku anggap sebagai teman.  Teman gabut, teman buat 'tenggelam' dalam 'dunia' yang lain, dunia yang berisi pemikiran-pemikiran orang lain, karya fiksi, maupun imajiner.  Sebagai makhluk sosial yang berkomunikasi dengan orang lain. Aku mungkin termasuk orang dengan suasana hati yang cepat berubah jika tidak bertemu dengan orang yang se'frekuensi', juga mungkin karena aku adalah orang yang suka damai dan cenderung menghindari 'konflik perdebatan langsung', kecuali dengan orang-orang dekat saja.  Aku merasa tidak semua orang benar-benar memahami kita, dan tidak seharusnya juga meletakkan seluruh suasana hati kepada respon orang lain. Karena itu, buku selalu menjadi teman yang bisa diandalkan, teman yang bisa mengajakku berpikir dan fokus satu per satu, teman yang tidak langsung 'nyamber' dan mungkin tiba-tiba hilang saat dibutuhkan. Buku menjadi tempatku memperbaiki suasana hati yang sering gak karuan.  Apalagi ketika pandemi seperti sekarang, buku dan film jadi tempat rekreasi buat rileks dan mengajak jalan-jalan pikiran.  Memberikan inspirasi baru, memberikan mimpi-mimpi baru.

Sayangnya, karena sudah mau pulang ke Pontianak, kita batasi dulu ya beli buku fisik- sekarang beralih ke ebook karena capek angkut-angkut barang sendiri ke cargo!! haha.

Selamat hari buku nasional! Terimakasih buat kehadiran buku-buku bagus yang selalu menginspirasi, dan buku buku yang selalu bisa menenangkan sekaligus menyibukkan ketika kepala lagi penuh dengan pikiran-pikiran yang tidak jelas.  Untuk selalu ada di saat sepi dan sulit, dan bingung, dan galau dan senggang.  Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, yang kemudian selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Pahlawan93, 17 Mei 2020.




Sunday, April 26, 2020

tenang

dalam dunia yang hiruk pikuk
kini sedang senyap
membaca berita 
tentang sini sana

kepala penuh
tapi tak bisa apa apa
kepalang tanggung pulang
bertahan walau mungkin sendirian

sepi terasa teman hari hari
mencari isi dari diri
kemudian menangkap
apa saja yang masih bisa terlakoni

hari hari rasa semua tanda tanya
tanpa tahu bagaimana menjawabnya

kadang tiba tiba gelombang kesedihan
datang menerjang tanpa permisi
menyisakan lagu lagu pilu
dan alasan alasan uraian air mata

mengingat ingat bagaimana cara menjawab kesedihan
menenangkan hati lewat ayat ayat
yang teguh menopang 
telah sejak dulu mendamaikan

mencari lagi hapalan bawah sadar yang lama terpatri
menggali gali lagi sisa jati diri
masa lampau yang tlah berubah jadi sejarah
menjadi acuan bagaimana bertahan selangkah selangkah

melahirkan lagi cara cara mendamaikan hati
mengulang dan menghapal lagi yang sudah sudah
mungkin kita telah lari telah jauh
pulang terlihat tenang

walau keadaan berubah
tertinggal sendiri
kita coba lagi cari
cara cara baru

menemukan kedamaian
meresapi ketenangan
melewati kegaduhan
melenyapkan kesunyian

Bandung, 26 April 2020

tunggu

waktu berjalan perlahan
kadang terlalu cepat
kadang terlalu lambat

meninggalkan yang lambat
tertinggalkan yang bergerak cepat

apa yang ditinggalkan lagi
selain kenangan
tentang hari hari yang berbahagia

rindu ingin mengecup
bahagia satu kali lagi

hari yang terbaik
akan jadi kenangan
yang akan menguraikan
lara dan air mata

tentang andai saja
dan kuharap akan kembali lagi
bahagia seperti ini

tidak akan pernah kau rasa lagi

waktu tak pernah berjalan mundur
apa lagi kembali sesuka hati

esok sebentar lagi hadir
meninggalkan kemarin

pada akhirnya
kita tak akan pernah
benar benar memiliki

bandung, 26 april 2020

Friday, August 16, 2019

Keresahan Keresahan Kota #fromcampus

Senin nanti saya akan mempresentasikan seminar rancangan penelitian Strategi Pengembangan dan Implementasi Smart City Pemerintah Kota Pontianak.  Setelah menyiapkan bahan presentasi dan mencoba mengingat-ingat beberapa hal rasanya ingin menyegarkan pikiran dengan menulis sesuatu. 

Tentang bagaimana menariknya sebuah kota, berjuang untuk menjadi relevan dan bersaing secara global (?) dengan beberapa indikator yang ditetapkan dari mana saja.  Tidak ada yang salah dengan standar-standar yang dengan brilian ditetapkan secara internasional maupun nasional. Tetapi tentu, akar-akar sosial budaya begitu hidup dan bergerak dinamis diantara rimba aturan-aturan serta teori teori yang dicoba.  Semuanya tentu punya tujuan yang lebih besar: meningkatkan kualitas kehidupan.  

Karena, siapa lagi yang akan mencintai kotanya selain warganya sendiri? meskipun tentu, akan ada dualitas dan keresahan, masalah-masalah yang akan selalu muncul silih berganti.  Karena yang paling mencintai, pastinya akan lebih rentan dan mudah terlukai.  Begitu pula warga yang hidup di kota ini.  

Di kota itu, aku lahir dan menikmati masa-masa penuh kenangan, karena apalagi yang bisa menyatukan selain 'sejarah' dan 'akar'.  Selalu merasa seperti 'rumah', yang selalu membuat ingin pulang ketika lelah berkelana.  Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada kembali ke akar, ke tempat semuanya bermula, di tempat dimana jalan jalan yang dilalui memiliki kenangan lebih banyak daripada yang bisa kita ingat.

Dalam salah satu teori smart city, adalah penting untuk menciptakan visi, dengan keterlibatan publik.  Kolaborasi, dimana semua aspek, semua elemen harus hadir, dan merasa penting, merasa perduli dan dapat berpartisipasi aktif untuk membangun kota.  Tentu jauh dari kata mudah, menyatukan beragam kepentingan, beragam loophole maupun bias.  Tapi setidaknya dalam visi, kita bisa meraba kemana arah pembangunan suatu kota, yang berjuang di tengah gempuran informasi arus digital, persaingan global dan kompetisi-kompetisi yang mematikan.

Tapi selalu ada yang tumbuh, mulai berjuang di antara bayangan yang gelap, yang dilanda badai hebat akan mampu keluar pula sebagai nelayan yang mampu bertahan di arus yang hebat pula.

Jangankan demi kota yang dipenuhi beragam tujuan dan orang-orang yang memiliki banyak background dan kepentingan-kepentingan.  Bahkan di suatu komunitas pun, yang tidak mengutamakan profit, hanya niat baik untuk membantu saja kadang masih ada perpecahan tentang ideologi maupun keinginan keinginan banyak kepala.  Padahal semua kadang memiliki tujuan yang mulia, yang baik-baik. 

Tentu bukan pekerjaan mudah untuk dapat melakukan kolaborasi lintas generasi, lintas bidang bahkan lintas kepentingan, tetapi tentu, untuk semua niat baik, membangun kota, ada harga yang harus 'dibayar' untuk duduk bersama, meredam ego, dan melihat jauh ke depan.  Apa lagi yang bisa kita lakukan untuk kota kelahiran, kota tempat tinggal, atau kota yang sedang menjadi 'rumah' kita saat ini.  Karena, siapa lagi yang akan lebih peduli?

Monday, August 5, 2019

Yang Ada, Di Depan Mata

Kembalilah ketika kau butuh rumah singgah, kata kata yang lembut dan indah, atau sekedar jokes tidak lucu.  Tapi aku tau kau ada disitu, memberikan usaha yang bisa menenangkan yang sedang tidak tenang, memadamkan yang sedang bergejolak.  Tidak jarang kau gagal, memberikan semangat, tapi setidaknya, kau selalu mampu membuatku tersenyum.  Melupakan hal hal yang membuatku lupa untuk menikmati kehidupan, bertahan sebentar, aku ada untukmu, kau ada untukku.

Teringat petuah yang diberikan dalam masa sulit, kata kata ajaib orang tua pada diriku yang masih kecil yang menggema di kepala, ayat ayat yang diucap berkali kali, tiap hela nafas hanyalah meminta keajaiban, untuk hidup dan menikmatinya sedikit lebih lama lagi, sedikit bertahan lebih kuat lagi.  

Apa yang membuatmu bahagia, apa yang membuatku bahagia, apa lagi yang lebih penting? Pertama tama, selamatkanlah dirimu sendiri dari dirimu sendiri.  

"tenang, semuanya akan lewat, jalani pelan pelan, sedikit demi sedikit untuk hari ini.
sekencangnya badai pasti akan berlalu, atau kau akan hilang untuk tidak merasakan badainya lagi"
katanya tertawa. 

aku tertawa.

denganmu, tenang.  hanya tenang.

Bandung, 5 Agustus 2019

Sunday, July 28, 2019

Kado Ulang Tahun Untuk Tahun Yang Tak Lagi Diulang

deru laju waktu
menghantam kesadaran
yang tak lagi mampu mengingat

menangisi
entah apa yang tak lagi diingat

ingatan samar samar
berkabut dan hilang jadi abu

sendiri dan sepi
dengan kepala yang ramai
riuh gemerlap nada-nada major
menghibur yang hilang

masih kuingat mata dan wajahmu
jauh pada tahun tahun yang telah berlalu

istirahatlah dalam tenang
damailah dalam gelisah
aku selalu berdoa

yang terbaik
yang bisa dunia berikan

yang terbaik
yang bisa kau dapatkan

selamat ulang tahun
untuk tahun yang
tidak akan lagi diulang

Bandung, 27 Juli 2019

Tuesday, July 23, 2019

dengan tetapi

aku mencintaimu dengan segala
segala upaya mencari cara untuk selalu ada
sekedar singgah atau mampir saja
aku hanya ingin berlama lama

kau mencintaku dengan tetapi
harus menang dalam tiap percik api
tak pernah kalah dalam alegori

kau mencintaku dengan tetapi,
kau akan selalu jadi nomor satu
dan yang terakhir mengadu
tersisaku yang tersedu

kau mencintaku dengan tetapi
tetapi jadi punyamu saja
tidak boleh kemana mana
hanya denganmu berlama lama

kau mencintaiku dengan tetapi
prasyarat panjang yang tak mampu kuhapal
tersebut entah sekenamu saja

aku mencintaimu dengan segala, 
dan kau dengan tetapi
terlalu banyak ingin, untuk kusanggupi

aku mencintaimu dengan segala
sedang kau hanya sanggup mencinta, dengan tetapi

Bandung, 23 Juli 2019

Monday, July 8, 2019

once again?

my heart is torn apart
everytime your imagery
touch my fingers

i wish i was there
i wish we could go back
to my happiest moment
when im with you

im still here, watching the sky falls
when you already move on
and be the happiest person on earth

sometimes i wish
i could settle for less
and force the feelings

but i dont want to feel numb
and cant be the lovers
i dont want to stop in pause
when i still not ready
or am i never ready

i just waiting a chance
to feel alive again
once more

or nothing,
nothing at all.

-for my 7 July 2019

Tuesday, April 16, 2019

Dijual : Sebotol Kenangan #funfiction

Aku ingin menceritakan semuanya tentangmu. Supaya aku bisa mengingat semuanya tanpa terkecuali, dengan detail yang suka berseliweran di kepalaku ketika aku sedang sepi dan sendirian.  Terkadang bercampur pula dengan mimpi yang menyisakan keringat dingin yang membuat aku bangun dan mencari lagu-lagu yang pernah kita putar berdua : Turis-Lyla, ah lagu yang fun menurutku, menceritakan tentang seseorang yang cuma singgah sebentar dan membuat hati patah, saat pertama kali bertemu denganmu, entah kenapa aku sudah punya firasat kau akan pergi, dulu firasatku bilang kau akan pergi ke kota lain dan melupakanku. Tanpa diduga, akhirnya aku-lah yang pergi ke kota lain-berharap akan lebih mudah melupakanmu disana. Lagu kedua itu lagu Surat Cinta Untuk Starla- Virgoun. Lagu yang pertamanya kuanggap norak dan terlalu klise, tapi karena setiap hari kau putar di mobilmu, aku tiba-tiba saja menyukainya.  Dan lagu yang ketiga : Akad-Payung Teduh, lagu yang berkesan untukku sendiri karena di akhir-akhir masa perpisahan itu, aku senang mendengarnya dan saat itu sendang musim hujan, aku senang mengenangnya di parkiran dimana aku sering bertemu denganmu, kemudian melihat kota dari lantai atas, dan mengingat-ingat masa-masa yang pernah begitu membuatku hampir saja yakin akan sesuatu yang mustahil. 

Aku ingin mengigat semuanya-semua detailnya.  
Biar aku bisa mengumpulkan kemudian melupakan semuanya.

Celakanya sudah seharian ini aku mengingat-ingat bagaimana caranya kita pertama kali bertemu.  Bagaimana aku bisa mengingat semuanya jika aku melupakan yang paling penting, yang pertama?

Aku mencoba beberapa cara yang aku temukan di sebuah artikel dengan sumber yang tidak terlalu terpercaya, tapi yang paling populer, mungkin bisa berhasil.

Aku duduk di sofa, menghidupkan lilin aroma therapy berbau ocean dengan gambar pantai di kemasannya dan mulai membayangkan wajahmu, rasa hangat tanganmu, rambutmu yang selalu berdiri tidak perduli sudah banyak pomade yang selalu kau pakai sebelum kita pergi. Kemudian potongan rambutmu yang selalu sama karena kau kesulitan merubah gaya rambut, aneh katamu. 

Bau aroma therapy-nya mulai tercium hmm, bagaimana aku bisa mengingatmu dengan bau pantai? sedangkan kau tidak pernah suka pantai, tidak suka kopi, tidak suka jalan-jalan, tidak suka nonton film barat-hanya film komedi-komedi indonesia yang membuatku cringey, kalau tidak salah judul filmya Warkop Reborn. Ah iya, aku ingat film pertama yang kita tonton, aku kira saat itu, sepulangnya aku memperpanjang perjalan kita sampai akhirnya kita jadian. Film The Mechanic- Jason Statham.  Kukira kala itu kau tidak terlalu menyimak filmnya.  Kupikir kau lebih suka film Indonesia. 

Aku masih ingat bagaimana kita menghabiskan malam-malam dengan berjalan-jalan keliling kota, mendengarkan lagu kesukaanku, mampir di coffeeshop kesukaanku, menulis jurnal harian dari buku yang kau belikan karena aku bisa meyakinkanmu untuk menulis di jurnal yang berisi perasaan-perasaan yang kita rasakan.  Aku berhasil pula meyakinkanmu mengikuti sebuah pernikahan pura-pura dengan cincin emas plastik pura-pura yang membuatku senang setengah mati waktu itu.  Sampai aku ingat, mantanku menghubungiku kembali tapi aku benar-benar sudah tidak ada rasa lagi untuknya, aku masih ingat hatiku penuh dengan pikiran tentang bagaimana hari itu berjalan dengan sangat... menyenangkan?

Aku masih ingat pula bagaimana kau mengajakku mengajar di sekolah terpencil, bermain dengan anak-anak, menghabiskan waktu untuk mengobrol di sepanjang perjalanan, atau hanya membiarkan aku pura-pura tertidur di sampingmu, hanya karena aku sedang terlalu senang dan ingin menikmati waktu-waktu bersamamu. Aku masih ingat semua omelanmu, semua hal yang tidak kau suka tentang aku.

Terkadang, jika aku melihat jeans robek di etalase toko, aku pasti selalu mengingatmu, yang sangat tidak senang ketika aku memakainya, seperti pula sendal coklat atau sepatu hak tinggi coklat, atau bahkan jaket jeans levi's yang kau belikan waktu itu.  Kukira, aku masih ingat semua yang pernah kau berikan padaku. Tentang hal hal yang aku berikan? aku hampir tidak ingat, tapi mungkin sebuah gitar, sebuket bunga, yang sebenarnya aku senang melihatnya dan kubeli untuk diriku sendiri, tapi kemudian aku belikan pula untukmu, sebuah jurnal, beberapa kolase foto, sebuah hammock orange yang ketinggalan? ah, lantas apa lagi. Entah aku sudah tidak ingat atau mungkin memang tidak ada lagi. 

Lantas bagaimana? Bagaimana cara kita bertemu pertama kali? Apakah itu ketika aku melihatmu di kelas, tak sengaja bersinggungan dengan sikumu yang lantas dengan cepat kau tarik? atau ketika aku harus buru-buru keluar untuk menemui mantanku lalu kau membantuku untuk mengeluarkan mobilku di parkiran yang padat? atau ketika kita ingin nonton dengan teman-teman yang lain lantas yang tersisa hanya kita berdua? atau ketika kau memberiku pesan untuk sebuah kegiatan sosial, yang lantas aku sengaja mencari-cari topik percakapan dari hal hal yang konyol? atau ketika kita tidak sengaja berboncengan selama delapan jam menyusuri hutan dan mulai menceritakan tentang mantan-mantan dan kegagalan-kegagalan hubungan kita?

Entahlah, aku sungguh tidak ingat bagaimana caranya kita bertemu.  Mungkin aku sudah lupa.  Mungkin semuanya cuma kenangan kabur yang bahkan mungkin tidak pernah terjadi. Khayalanku saja.  Mungkin memang sebaiknya kita anggap saja semuanya tidak pernah terjadi.

"Sudah semuanya?"
"Sudah Pak"
"Kamu yakin? Sekali kamu menjualnya, kamu tidak akan dapat memintanya kembali"
"Yakin Pak"
"Oke, ini yang kamu dapatkan.  Sebuah botol baru, kosong, kamu bisa mengisinya lagi"

Hari ini, aku pulang membawa sebuah botol yang kosong, 
tapi jika kuperhatikan lekat-lekat, 
cahaya berpendar, seperti pelangi. 

Kemudian tiba-tiba dadaku terasa sesak.
Rasanya ada yang hilang.
Tapi aku tidak bisa lagi mengingatnya.

Bandung.
Selasa, 16 April 2019

Thursday, April 4, 2019

LAST MIDTERM OF THE YEAR

Bandung, 4 April 2019
03.16 pm

Menuju semester terakhir.  Ah, aku akan tidak merindukan-sekaligus merindukan ini, belajar, membaca, bertemu orang-orang dengan tujuan yang sama, berdiskusi, menyimak pemikiran-pemikiran, bertanya, berdebat.  Aku kira hal-hal itulah yang mahal dari sebuah perkuliahan, memaksa dan mendorong diri untuk belajar, mengerjakan tugas-tugas.  Kalau kata papaku dulu ketika memasukkan ke klub bulutangkis, kita membayar mahal-mahal seorang pelatih karena sebenarnya tidak mampu mengerjakan dan menyuruh diri kita sendiri untuk latihan, meskipun rutinitas latihan yang dilakukan sudah dihapal luar kepala, tetapi latihan perlu untuk memaksa orang memaksa diri kita untuk terus melakukannya.  Ironi tapi ya, begitulah manusia (aku juga) dan kemalasan-kemalasannya. haha.

Meskipun menyukai pengetahuan, tetapi mengerjakan tugas tugas dan (terpaksa) menulis topik topik yang secara pribadi tidak membuat kita tertarik adalah hal yang cukup berat, terlebih perasaan tidak puas terhadap tugas-tugas yang dikerjakan, kemandekan pikiran, semangat ingin membuat sesuatu yang spektakuler, imajinatif dan terobosan tentu akan selalu terbentur akan realitas, daya dukung, pengetahuan empiris dan riset-riset ilmiah dengan segala keterbatasannya.  Tentu kita juga tidak mau membuat sesuatu yang sangat judgemental dan penuh asumsi-asumsi kosong tak berlandas.

Hal lain yang menarik adalah tentu, bertemu orang-orang, subjek penelitian, mempelajari bagaimana perilaku mereka, cara berpikir, dan tentu garis besarnya: masalah yang mereka hadapi di kehidupan mereka serta dengan analitik (sok tahu) mencoba memberikan solusi, rekomendasi, alternatif skenario yang idealnya, bisa membuka mata dan dilakukan oleh subjek demi kepentingannya sendiri. Mencoba berempati dan memposisikan diri menjadi (orang) yang diteliti.  Meskipun kadang muara akhir dari penelitian penelitian adalah : sosialisasi, edukasi dan hal hal semacam itu.  Kurasa manusia sebagai garis besar penelitian sosial akan terus berkutat pada kompleksitas manusia dengan macam macam kepentingan dan latar belakangnya, karena itulah sumber pengetahuan mengenai manusia tidak akan ada habisnya.  Dinamis, multidisplin, kompleks namun juga saling mempengaruhi satu sama lain.

Hingga pada akhirnya, pada minggu UTS ini, yang berarti sisa kuliah tinggal 9 minggu lagi sebelum UAS dan menyusun tesis. Hatiku hanya harap harap cemas semoga tambah rajin dan beruntung (?) melalui semuanya dengan lancar dan bisa menikmatinya pelan-pelan sebelum kembali rutinitas kantor.  Yeay.

Wednesday, March 6, 2019

Regulasi, Kapasitas dan Kolaborasi Untuk Perlindungan Pekerja Perempuan dan Anak di Industri Sawit









Regulasi, Kapasitas dan Kolaborasi
Untuk Perlindungan Pekerja Perempuan dan Anak di Industri Sawit

Ringkasan Eksekutif
            Kurangnya regulasi, kapasitas dan kolaborasi untuk perlindungan pekerja perempuan dan anak di Industri Sawit dapat menjadi hambatan dalam memperkuat perekonomian serta menciptakan iklim usaha yang baik menuju industri berkelanjutan.  Permasalahan yang menjadi sorotan laporan lembaga internasional, dikhawatirkan akan mengganggu ekspor dan kemajuan dalam industri sawit ini sendiri. 
            Terdapat 3 masalah yang digarisbawahi sesuai dengan laporan-laporan tersebut, yaitu mengenai perlindungan terhadap pekerja perempuan dan anak, peraturan yang belum mampu mencakup dan menjangkau kepentingan pekerja, serta kerugian dan pelanggaran hak terhadap pekerja perempuan dan anak.
Pendahuluan
Industri Sawit merupakan keterkaitan kepentingan antara pekerja/buruh dengan pengusaha, sehingga berpotensi menimbulkan perbedaan pendapat, bahkan perselisihan antara kedua belah pihak. Sebagian besar kasus terjadi karena keadaan ketenagakerjaan yang belum ditetapkan baik dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama maupun peraturan perundang-undangan maupun pemutusan hubungan kerja. Kemudian terkait status buruh/pekerja di perkebunan kelapa sawit, terdiri dari buruh tetap (Syarat Kerja Utama/SKU), buruh berstatus Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), Buruh Harian Lepas (BHL) dan Kernet (Koalisi Buruh Sawit, 2018). Adapun yang mendapatkan hak jaminan sosial, perlengkapan kerja, tunjangan tetap dan berserikat hanyalah buruh SKU, sedangkan buruh dengan status PKWT, BHL dan kernet tidak mendapatkan hak tersebut. Sedangkan, menurut Sawit Watch, 2016 sebanyak 70% pekerja di sektor perkebunan sawit merupakan buruh harian lepas (BHL).
            Sebagai penyumbang devisa negara tahun 2016 sebesar 239,4 triliun, ekspor sawit pada Januari-Desember 2016 sebesar 17,8 miliar dolar, yang jauh lebih besar dibanding ekspor non sawit yaitu 8,62 miliar dolar serta penyerapan tenaga kerja sebesar 8,4 juta orang di tahun 2015. Serta sebanyak 15-20 juta orang yang terlibat serta peran besarnya untuk perekonomian Indonesia, sudah saatnya Pemerintah lebih memperhatikan dan memberikan perlindungan yang layak terhadap buruh/pekerja khususnya perempuan dan anak yang terlibat dalam industri ini.
Deskripsi Masalah
Perlindungan pekerja anak dan perempuan di Indonesia merupakan salah satu isu yang penting untuk segera ditindaklanjuti, terkait Laporan Amnesty Internasional Tahun 2016 mengenai indikasi eksploitasi perempuan dan anak sebagai pekerja perkebunan yang membahayakan kesehatan dan keselamatannya dikarenakan lingkungan kerja dan tempat tinggal pekerja sawit yang buruk dan upah yang rendah di salah satu perusahaan perkebunan sawit multinasional . Dalam Laporan UNICEF 2016, disebutkan bahwa 4 juta orang perempuan dan 5 juta anak diperkirakan bekerja di perkebunan sawit di Indonesia.
Hal ini, juga terkait dengan peraturan yang belum mampu mewakili seluruh kondisi yang ada, khususnya dalam industri sawit, dimana 70% pekerja di sektor perkebunan sawit merupakan buruh harian lepas (BHL), kemudian dengan adanya Kernet/Tukang Berondol, yaitu istri dan anak atau orang lain yang dibayar oleh permanen/asisten untuk bekerja membantu dan tidak memiliki hubungan kerja dengan perusahaan, sehingga status mereka tidak diakui karena kernet direkrut dan diupah oleh buruh panen (Koalisi Buruh Sawit, 2018). Perlindungan dan kepentingan terhadap BHL dan Kernet tersebut, belum dijelaskan secara spesifik dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 100 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PPKWT) sehingga sulit untuk diorganisir dan diawasi.
             Perempuan dan anak, adalah pihak yang paling dirugikan oleh status hubungan kerja tersebut, pada perempuan terdapat resiko kesehatan karena bersentuhan langsung dengan bahan kimia, karena sebagian besar perempuan terlibat pada proses pemupukan dan pemberantasan hama, serta hak cuti haid, cuti maternitas, cek kesehatan rutin, MCK layak dan laktasi juga tidak disediakan di lingkungan perkebunan, yang juga rentan akan pelecehan dan kekerasan fisik karena lokasi yang terisolir dan kurangnya perhatian perusahaan dan pengawasan pemerintah akan hal tersebut. Sedangkan dengan pekerja anak, sudah termuat jelas dalam Undang Undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa batas minimal anak berumur 13-15 tahun, yang hanya boleh melakukan pekerjaan ringan dengan maksimal waktu 3 jam perhari, ijin orang tua dan tidak mengganggu secara psikologis.
Rekomendasi Kebijakan
Terdapat tiga hal yang perlu direkomendasikan dapat segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah untuk mengatasi permasalahan pekerja perempuan dan anak pada perkebunan sawit di Indonesia, yaitu mengenai regulasi, kapasitas dan kolaborasi, dengan alternatif sebagai berikut:
1.    Terhadap ketiadaan peraturan khusus pekerja/buruh perkebunan kelapa sawit, khususnya terhadap buruh dengan status PKWT, BHL dan Kernet direkomendasikan untuk menyusun dan membentuk regulasi yang melindungi pekerja/buruh khususnya perempuan sehingga dapat tercipta pekerjaan yang layak dalam sektor perkebunan kelapa sawit menuju industri yang berkelanjutan.
2.    Terhadap kurangnya pengetahuan dan kapasitas pekerja/buruh khususnya perempuan dan anak agar Pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja, Pertanian dan Perindustrian dapat melakukan sosialisasi, edukasi maupun pendampingan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kapasitas pekerja/buruh sehingga mengetahui apa saja yang menjadi hak dan kewajibannya serta bagaimana cara mengakses perlindungan melalui advokasi dan serikat pekerja/buruh dan memperjuangkan haknya dalam forum lembaga tripartit, yaitu lembaga bersama serikat pekerja/buruh, perusahaan dan pemerintah yang diwajibkan untuk dibentuk dalam UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang selama ini masih belum berjalan secara optimal.
3.    Terhadap perlindungan pekerja, dapat diantisipasi dengan memperluas kerjasama antara Pemerintah, Perusahaan, Serikat Pekerja/Buruh serta unsur-unsur masyarakat untuk dapat meningkatkan pengawasan terhadap pelanggaran hak-hak pekerja/buruh khususnya terkait perempuan dan anak.

Kesimpulan
Momentum yang diharapkan adalah terjadinya perubahan terhadap strategi untuk melakukan kolaborasi lintas sektor yang dapat mewadahi semua stakeholder yang terlibat, baik kepentingan maupun tanggung jawabnya dalam menciptakan iklim yang baik dalam industri sawit. Sehingga kolaborasi tersebut dapat memperkuat keuntungan ekonomi di sektor kelapa sawit secara berkelanjutan, memperbaiki kondisi kerja dan kehidupan pekerja perkebunan yang layak serta memperbaiki citra sektor minyak sawit di Indonesia.
Adapun perubahan yang diharapkan adalah pada status pemenuhan hak pekerja PPWK, buruh harian lepas dan kernet, peningkatan pengetahuan dan kapasitas pekerja, serta perlindungan pekerja, khususnya perempuan dan anak.
Daftar Pustaka
International Labour Organization, 2018. Mempromosikan Kerja Layak di Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia, 16 Maret - Desember 2018.
Koalisi Buruh Sawit, 2018. Lembar Fakta Perlindungan Buruh Sawit Indonesia.
Perselisihan Hubungan Industrial. Konferensi Asosiasi Dosen Hukum Acara Perdata Universitas Tadulako Palu-Sulawesi Tengah, 12-14 September Tahun 2017.
Soleh, Ahmad. 2017. Masalah Ketenagakerjaan dan Pengangguran di Indonesia. Jurnal Ilmiah Cano Ekonomos, Vol 6. No.2 Juli 2017, 83-92.
Sudiarawan, Kadek Agus. 2017. Optimalisasi Fungsi Lembaga Kerjasama Bipartit Sebagai Forum Komunikasi dan Konsultasi Antara Buruh dengan Pengusaha dalam Upaya Pencegahan
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Hubungan Industrial
Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan

Survey Kepuasan Pelayanan Keluarga Berencana







RT 02 Kelurahan Pasteur, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung

Highlight of The Day: 
Listening to woman's suffering from using contraception because of : 
1. Lack of information, passive consultations and lack of awareness about the variety of contraception;
2.  Woman still use contraception based on 'trial and error' and how much they can deal with the pain before changing the tools.  Most woman are afraid because if they taking the pills it must consumed everyday, and if they wanna use an implant it must inject at their body and they dont really feel comfortable.

'No woman can call herself free who doesnt own and control her body- Sanger'