Showing posts with label #journal #sajak. Show all posts
Showing posts with label #journal #sajak. Show all posts

Wednesday, January 15, 2020

pesan

hiruplah yang dalam
seperti besok tidak ada

hari ini kita mulai yang baru
tapi sebentar,
kenapa rasanya masih sama

oh
aku lupa

masih sama sama
tidak ada kau

kuhirup lagi
racun

biar mengalir
di denyut denyut nadi
bukan ingin mati,
bukan

hanya biar cari perkara saja
sudah penat
siapa tahu bisa lupa sebentar

eh.
paginya
masih saja kuteringat

besok kita main lagi
ku pikir ku tidak takut apa apa

karna beberapa
sudah lewat

tapi masih takut sih
mungkin

besok

lupa lagi.
tapi siapa
yang benar benar tahu?

mungkin besok
aku bernyali lagi

mengirimimu pesan
setelah hampir tak sadar
sebuah pesan

yang kuyakin
tak akan pernah lagi
kau baca

apa yang lebih menyedihkan
daripada kata kata
yang tak pernah dibaca

atau lebih buruk
takkan pernah
berdampak apa apa

tidak seincipun
mampu menggerakkan
perasaan yang sudah lama mati

bdg 15/01/2020

Friday, January 10, 2020

adiksi

apa yang harus dilakukan
tak boleh lewat barang sehari

tak tenang,
selalu mencari

apa yang tak nikmat dari
hal hal rutin
tak lagi memberi arti

yang tergantung,
yang tak lagi bisa sendiri

tenggelam dalam riuh tanpa arti
bergetar mencari, semua yang harus dipenuhi

apa lagi yang diingat dalam konsekuensi
dalam hal hal yang tak memberi percaya diri

kita ulang setiap hari
hingga otak meminta
semua kan dituruti

mungkin waktunya rehat sejenak
keluar dari yang selalu kita ulang
kejutan kejutan untuk lupa
kembali jadi diri sendiri

menyepi dan menghilangkan adiksi
kapan kapan, kita kembali lagi

10/01/2020

Wednesday, January 8, 2020

tentang kabarmu

kopi panas di gelas
jendela yang terbuka
mendengar suara suara

ingin kutanyakan kabarmu hari ini
sepanas cangkir kopi
atau sedingin cuaca tadi pagi

ada kata kata yang tak akan sampai
pada mulut yang jera bersuara
hati juga belajar dari yang lama

masa depan ku tak tau
di masa lalu ku belajar sesuatu

kadang kuharap aku jadi seperti dulu
menghampirimu tanpa ragu
yakin bahwa kau masih akan menungguku

tapi waktu telah terlalu lama berlalu
aku pulang dalam waktu yang jauh
entah menunggu entah selalu meragu

kutemukan kau dalam tiap perjalananku
suatu waktu, jika ku beruntung
mungkin kan kutemukan lagi dirimu yang baru

8 Jan 20

Tuesday, January 7, 2020

rumah

apalagi yang lebih hangat
selain kasih sayang tak terbatas
mengalir tanpa henti
berapapun salah

atap yang meneduhkan
memberi ruang untuk sendiri
mengalah demi tenang
memberi tanpa henti

kadang diri keras kepala
berusaha mandiri,
ingin pergi sendiri

tapi rumah selalu mencari
sekedar menanya kabar
diam diam bikin tenang hati

terimakasih
sudah menampung
menjaga dan melindungi
aku sampai hari ini.

7/1/20

Monday, January 6, 2020

tutorial

jam sembilan lalu tenaga telah habis
ingin apa apa tak ada tenaga
tapi tidur pun tak bisa

playlist sudah sampai titik jenuh
tak mau dengar apa apa

jam sebelas beranjak dan mengetik
mengutuk semua di depan mata

katakan ku kurang bersyukur
padahal baru tadi tertawa tawa

pekak lantak mati rasa
apa yang masih disisakan cinta dan cerita

amarah masih terasa
tapi sudah sedikit waras
kemudian membaca tutorial youtube
cara jadi waras dan tidak marah marah

oh begitu
tenang, kemudian hitung sampai sepuluh
jangan jangan sedang dibohongi otak
padahal ke depan kosong berbohong
tak ada apa apa

otak bagian emosi sedang senang bekerja, katanya
tenang, jangan reaktif, fokus berpikir yang logis
otak hanya sedang senang melepas adrenalin dan kortisol
senang main main dengan yang marah marah

belajar satu ilmu hari ini
nanti jangan tertipu lagi

dengarkan dengan seksama
pelan pelan dengan baik

tidak semua harus sempurna,
tidak semua harus pura pura

hari ini hariku kacau
sedang banyak pikiran dan sibuk ini itu
menghitung masa ke depan
ternyata bikin kepikiran macam macam

bagaimana kalau buat kopi,
menenangkan diri
kita belajar lagi
cara cara mengatasi hari hari.

Sunday, January 5, 2020

yang sekejap

5/20

kutemukan matamu
di antara riuh ramai
dan sesak orang orang
kukira tepat ku pergi

tinggal pada yang menawan hati
ucapmu semua sempurna
diammu menawarkan segala
ku buta, jadi tiba tiba ingin kau saja

jabat tangan yang pertama
masih kuingat warna menyala
temaram yang menenggelamkan
andai saja sedikit cepat kuucapkan

takkan terlambat kita menabur janji
sedikit menabung pada masa depan abadi
andai saja tak khilaf kulepaskan kesempatan
pada kata yang mengikat, pada abai yang mendekap

kuharap waktu memberikan kesempatan
bertemu lagi di suatu tempat
kau bersedia mendengar apa apa yang akan kuucap
hatiku telah lama tertawan,
tapi slalu kututupkan dengan tertawaan

ku harap kau peka
ku harap pula kau diam dan iya saja

pada akhirnya
ternyata cinta memang tak sebesar yang kukira.
karena jika iya, pasti kan kita temukan alasan-alasannya
.

Tuesday, July 30, 2019

yang tiada abadi

ada ranting yang berderik patah
setiap daun menguning gugur

menghilang terbuai angin
tenggelam dalam senja yang merekah

ada yang berduka setiap kali
jiwa dalam ingatan mati

apa lagi, kata kata yang mampu
menggambarkan kehilangan

mati
dan
tidak akan 
pernah 
terlihat 
lagi

senyumanmu terpatri abadi
menjadi duka yang lebam dan membiru

aku tidak akan melihatmu lagi
aku tidak akan mendengar tawamu lagi
aku tidak akan mengusap air matamu lagi

seperti apa wajah tuamu, b?

di kota ini,
aku terkadang mengingatmu
apa jadinya jika kau masih ada disini?

kadang aku membayangkan
kau telah hidup dalam tubuh orang lain
menjadi tua dan menyebalkan
di kota-kota yang tak kukenal

kadang dalam keramaian
aku tertegun
betapa beberapa orang
mengingatkanku tentangmu

tapi mereka tidak pernah sama
tidak akan sama lagi

kadang pula aku berandai andai
semuanya hanya kebohongan terbesar abad ini
kau hanya melarikan diri,
pergi ke tempat lain

memulai hidup yang baru
dengan orang lain

tapi hidupmu telah berhenti
di ingatanku

abadilah dalam kenangan
biarkanku membeku 
dalam kehilangan 
dan istirahat yang panjang

-b

Bandung, 30 Juli 2019

Monday, July 29, 2019

kopi dan lain lain

mungkin awalnya
karena adrenalin,
atau kafein

yang merasuk
dan merusak saraf-saraf
alam bawah sadar
atau entah apa namanya itu

tepat pukul sembilan malam
janjian dari siang

kita nikmati perjalanan singkat
yang khusuk dan khidmat

kopi pahit, susu kental manis
dan rokok marlboro favoritmu
menemani percakapan hangat
di malam dingin yang menusuk

percakapan yang tidak habis habis
bertahun tahun
di sudut warung kopi yang sama

apakah kau ingat bagaimana cara
pertama kali kita jatuh cinta?

pada kata-kata
pada ide-ide brilian
dan gagasan cemerlang
yang tidak ada yang paham

kopi dan percakapan-percakapan,
sumpah mati, ini bukan perselingkuhan.

Bandung, 29 Juli 2019

Thursday, November 15, 2018

Kelas Selasar Imaji Hari Ini





Apa yang lebih menyenangkan selain menemukan inspirasi? Menemukan diri kita di masa kecil yang masih ingin belajar, tapi terbentur akan banyak hal, siapa yang masih ingat akan masa lalu, kebaikan-kebaikan orang tua, guru, orang-orang yang kita temui yang masih kita kenang dan membuat kita ingin melakukan sesuatu yang lebih baik, bekerja lebih keras, tidak mudah patah semangat ketika bertemu hal-hal kecil?

Minggu, 11 November 2018 kemarin aku mengajar kelas literasi mengenai public speaking tentang pantun, puisi dan pidato.  Dalam kelompokku ada seorang murid bernama Najib, yang katanya masih TK, di pembagian kertas kami mendapatkan naskah pidato untuk dia bacakan, tetapi dia masih belum lancar membaca, jadi aku menuliskan pantun untuknya, 

ada sisir monyet berkaca,
ada kuda mirip keledai
rajin menulis rajin membaca
biar jadi anak yang pandai

pantun yang pelan-pelan ia eja dan baca ke depan kelas ini ternyata berkesan kepadanya, ia ingin membaca lebih banyak lagi, kata kata yang lebih sulit, kemudian pada saat kelas membaca, aku menemukan ia kesulitan membaca teks yang panjang, belum begitu mengingat beberapa huruf.  Terkadang masih lupa dan tidak lancar.

"aku mau membaca" katanya.

kemudian pada saat kelas bubar ia masih menghampiriku dan membawakan buku cerita lain tentang gajah yang melihat bintang-bintang melalui teropong.  Ia ingin tahu ceritanya katanya.  

lantas ia bercerita ia bercita-cita jadi polisi, awalnya kukira karena dia mengenal anggota keluarganya yang bekerja sebagai polisi.  Ia lalu bercerita dulu kalau jalan dengan ayahnya ia suka melihat polisi di jalan yang menggunakan seragam, ia suka melihatnya katanya.  Ia tidak tahu ayahnya bekerja apa, berangkat di siang hari, sesekali ia pula membantu ibunya di rumah.  Makanan favoritnya cumi, katanya, dulu ia pernah makan cumi dan merasa makanan itu enak sekali.

Kadang-kadang dalam kelas seperti ini, rasanya apa yang diajarkan, lebih banyak kembali pada hal hal yang mengajari kita lebih keras.

Untuk tidak mengalah pada kesempatan, memanfaatkan nasib yang sudah terhampar di hadapan dengan sebaik-baiknya, berjuang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, seperti kata Pram di salah satu bukunya.

Thursday, November 8, 2018

Untuk Cinta Yang Paling Pertama


Jika bisa kulukiskan
Cinta pertama
Adalah pagi yang merekah
Dan hati yang hangat
Perasaan yang masih tak karuan
Senja masih belum terbayang

Yang aku pikirkan kala itu
Hanya debar debar
Aku masih mengingatnya
Lagu ‘sempurna’ – andra
Kau nyanyikan di dekatku pada istirahat kelas
Diantara gitar dan suaramu yang malu malu

Sebagai orang yang tak pernah banyak bicara
Kau membuat temanku jatuh cinta
Setiap hari ia bercerita kepadaku
Bagaimana ia jatuh kepadamu
Aku tak pernah melihatmu
Di pojok belakang, tak pernah kelihatan

Celaka, diam diam mataku kini melihatmu
Jatuh pada setiap kata yang tidak kau ucap
Cerita ceritamu pada kala istirahat

Aku, yang kala itu hanya ingin mengenalmu
Karena telah terlalu banyak mendengar cerita
Jatuh hati diam diam

Dan apa yang bisa aku lakukan,
Ketika kau menyatakan
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku, akan selalu memujamu

Seperti lagu itu.
Aku tau
Kau begitu sempurna
Untuk cinta yang pertama

Yang masih suka aku ingat

*Kala itu Pontianak, 2009

Friday, November 2, 2018

keresahan terbesar abad ini

/1/
ruangan ini senyap dan pekat
sebungkus mie yang sudah lama tak kumasak
aku tercenung pada jendela luar kamar kos
gelap, sepi
siapa yang masih terbangun pada jam segini
hampir pukul empat dini hari
suara toa mesjid sayup sayup terdengar
merapal doa doa yang tak kuhapal
barangkali mengingatkanku untuk terus ingat padaNya
tapi belum, masih belum datang waktunya
aku akhirnya menyeduh kopi, memasak mie
belum lagi usai mengakhiri hari

apa yang ada di pikiranmu kali ini?
masih berserakan kata andai di kepala
terlalu banyak
ruang kepala menjadi sibuk hilir mudik
berpura pura menjadi, berpura pura ada
tapi ketika kesempatan terakhir terjadi,
kau tergamam, dan waktu jadi aksesori yang terlewat begitu saja

orang orang yang terjaga dan tidak bisa tidur adalah
orang yang pernah patah hatinya,
dan pada jam jam dini hari
kenangan datang, melarangnya tertidur,
mencegahnya bermimpi hal yang baru lagi

"cukup aku saja"
bisiknya

hingga akhirnya aku duduk dan menuliskan sajak ini,
"baiklah, untuk pagi ini, akan kutemani kau sampai pagi"

...
3.37 a.m
2 November 2018

Tuesday, October 30, 2018

29 Oktober 2018

kepedihan menjadi
lara yang diam diam
menyelimuti

sendiri menjadi
pertanyaan
kapankah,
bersama lagi

hari demi hari
cuma penghitung waktu

entah sampai kapan,
entah sampai dimana,

waktu hanya penghitung
pertanyaan demi pertanyaan

kapan lara kan berakhir

Wednesday, October 3, 2018

Early Morning In The City #journal


Bandung, 3 Oktober 2018

There's an emptiness, that hollow in the city full of things.  So many dreams, hope, books, passion, movies.  I can be anything.  Its like a pressure that keep me wonder in the middle of the road when most of people want something else, different people gonna be want different things, but its okay, because, i'm not that person, i have my own thing, my own way.  

Its a different path, its a different road we take.  We never know, where the road take us.  But we try and learn to enjoy the proccess, the beautiful thing in between.  In the middle of hustling and dreaming.  This city makes me dream, so long.  To be longing.  To be with somebody else to enjoy all the piece of the town.  I love the big city things, but something in the small town i miss, something that turns to someone, like you.  But even when i came back, you are not there anymore.  Its feel like i'm in a loop, i am confused, dizzy, and cold.  Nothing left for me.  The feeling of falling.  I dont have anyone else like you, again. Of course.

I love all the piece of you, all the wrong things and the broken hearted.  I like all of it.  I want all of it.
But its always a time for me, to continue the journey, without knowing whats in the end of the road.  Maybe its something, maybe its nothing.  But, i'm already falling in love with the beautiful trips.  Thankyou for be there. Just something in the imagination.

Thursday, August 9, 2018

Aku Ingin #journalofthoughts


Aku ingin
menggenggam angin
terbang bebas di udara
terjun dalam telaga

berlarian bebas
tanpa prahara

aku ingin
hidup sebebasnya
terluka sepuasnya
kemudian pulih
dan berani mencinta

aku ingin
berdua dengan diriku sendiri saja
bercerita dan menumpahkan semua cerita

aku ingin
pergi dan berlari
sendiri saja

aku ingin
mengobati hati yang luka
membahagiakan diri yang satu satunya

aku ingin
hidup dan mengejar
tantangan dunia
sibuk hingga petang
lelah hingga gelap
memenuhkan pikiran dengan
semua hal

hingga akhirnya
beristirahat
dengan lelap

mungkin pada akhirnya
hati sudah kehilangan hasrat

ia berkata padaku,
aku tidak lagi ingin menunggumu

bdg, 9/8/18

Friday, June 22, 2018

tentang hari ini dan hal hal yang tidak bisa dimiliki

Kau masih saja menatapku seperti terjadi sesuatu, seperti, rasa itu masih ada disana.  Dan aku cuma bisa diam dan bingung, tidak lagi mampu berkata kata.  Aku yang selalu banyak bicara dengan orang lain dan ketika di hadapmu, hanya bisa diam, membisu, begitu takut untuk berbicara, karena sudah tidak lagi terpikirkan kata kata yang mampu mewakilkan apa yang rasa rasanya ada di kepala. Bahkan, kepalaku tidak bisa lagi mencerna momen yang mampu tercipta hari ini?

Orang orang bilang untuk menjalani hari ini, sepenuhnya, tanpa penyesalan, dan ketakutan ketakutan akan masa depan.  Tapi di hadapmu, aku tiba tiba merasa takut untuk menjalani masa depan, menjalani kehidupan kehidupan di depan.

Kadang aku berharap aku bisa membekukan waktu, dan tinggal disana selamanya, denganmu, dirimu pada hari ini.  Tidak perlu menghadapi beberapa saat setelahnya ketika kau kembali lagi menjadi dirimu yang dingin dan hanya sebatas chat-chat yang jarang kau buka itu, dan percakapan yang tidak pernah beranjak kemana-mana.

Denganmu, aku berubah gagu dan bisu.  Otak dan logikaku tumpul dan mendadak, semuanya jadi begitu bodoh dan gila, tidak seperti aku biasanya.  Dan semua upayaku yang selalu berhasil untuk orang lain, selalu gagal di hadapmu. Bagimana mungkin kau merubahku menjadi seseorang yang lain?

Kadang aku berharap kita bisa bercakap cakap dengan secangkir kopi hingga larut.  Tapi bagaimana mungkin ketika kau bahkan tak suka kopi dan tidur larut?  Bagaimana mungkin aku membicarakan hal hal yang aku suka ketika kau tidak menyukai sebagian besar hal hal tentangku?  Bagaimana mungkin aku menyukaimu sebegitu besar dan kau bahkan tidak tampak tertarik hanya untuk sekedar melanjutkan percakapan?

Terkadang aku bingung dengan diriku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa bertahan selama ini, menggantungkan perasaan selama ini hanya untuk orang yang tidak benar benar memperhatikan dan ingin bersamaku? Bagaimana mungkin aku menaruh harapan pada orang yang sudah kehilangan harapan, untukku dan masa depan? Bagaimana logikaku bisa menerima orang yang tidak pernah benar-benar ada di hadapku untuk menjadi orang yang benar benar aku nantikan?

Diantara semuanya, kau adalah hal yang paling aku suka, sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku miliki, sesuatu yang tidak akan pernah aku dapatkan, karena, kau tau, aku adalah seorang pemimpi yang keras kepala.  Tidak pernah mundur, untuk hal hal yang tidak masuk akal, karena aku adalah pemimpi, dan semua hal indah yang terjadi di kepalaku sudah cukup.  Karena aku menyukai hal hal yang mustahil, dan hidupku terlalu biasa-biasa saja untuk menyerah kalah pada hal hal yang menakjubkan, seperti semua hal tentangmu.  

Aku adalah orang yang terjebak pada putaran ilusi ilusi dan ide ide tentang keberadaanmu, yang berada di ambang batas kenangan dan ketidakmampuanku untuk memiliki, di ambang batas imajinasi dan ilusi, di ambang batas realitas dan mimpi-mimpi.  Maka momen momen sebentar yang surreal itu adalah tempatku berkontemplasi.

Denganmu, semua keresahan dan kata kata tumpah.  Denganmu, aku mampu menuliskan hal hal yang aku tidak tahu pernah ada.  Denganmu, aku mampu berjalan lebih jauh, menikmati kesendirian, mencari kesibukan yang mampu membunuh waktu waktu menjemukan, karenamu, aku keluar dari zona nyaman dan mencari hal hal yang tidak nyaman untuk membuat hatiku jadi kebal dan mati rasa.  Denganmu, aku belajar banyak hal dari mencinta tanpa mengharapkan apa apa selain cinta itu sendiri.

Denganmu, aku jadi tahu, bahwa hatiku, bukan lagi milikku sendiri.

21-06-18

Selamat, telah memenuhi ruang di kepalaku

Bagaimana mungkin kau menyukai sekaligus membenci seseorang? Bagaimana mungkin kau merasakan perhatian dari seseorang yang tidak pernah benar benar memperhatikan? Bagaimana kau mendapatkan jawaban dari seseorang yang tidak pernah bertanya?

Entahlah, sesekali perjumpaan hanya basa basi, tanpa hati? meski masih kurasakan juga sedikit-sedikit hatimu yang memperhatikan, tapi, apakah aku hanya bermimpi? aku tidak pernah benar benar tahu.  Aku tidak pernah benar-benar mengerti.

Kau hadir, sebagai film blockbuster yang membuat film-film kelas dua terasa biasa saja.  Kau hadir dengan sangat menakjubkan dan spektakuler, membuat rutinitas kehidupan menjadi begitu menjemukan.  Dimanakah kau letakkan takdirmu dalam jalur hidupku? Apakah sekedar meteor yang datang dan memporak-porandakan kemudian pergi ke tempat selanjutnya? akankah kau bertahan, berhenti dan membangun sebuah fase yang baru, sebuah semesta yang baru?

Selamat, telah memenuhi kepalaku dengan pikiran dan perasaan perasaan yang tidak pernah aku sangka ada disana sebelumnya.  Selamat, telah memunculkan perasaan kehilangan yang begitu pilu, perasaan rindu yang begitu panjang yang bahkan aku tidak tahu untuk apa dan siapa.

Selamat, telah menjadikan hidupku menjadi terasa biasa saja.  Selamat, telah memunculkan luka dan keresahan yang masih saja belum selesai.

Bisakah aku tidak beranjak dari hari ini, dan mengingat ingat, semua hal tentangmu dan semua hal yang pernah kau lakukan di ruang kepalaku?

21-06-18