Monday, June 16, 2014

Suatu Hari Di Hari Pertama Kita Bertemu



Suatu Hari Di Hari Pertama Kita Bertemu

Hari ini adalah hari pertama kita bertemu.  Aku masih ingat seluruh detailnya secara terperinci.  Di sebuah surau dekat kampus kita, setelah kegiatan di kampus sambil menunggu adzan isya kau duduk bersandar di tembok dekat pintu masuk, menyilangkan tanganmu, mengangkat kakimu yang panjang sebelah dengan baju kemeja putih yang sedikit kebesaran dan celana hitam yang sedikit terlalu panjang.  Aku baru saja mau masuk ketika tidak sengaja melihatmu, entah kenapa kau tersenyum, yang tentu saja kubalas dengan sebuah senyum yang agak sangsi.  Tunggu, darimana kau tahu itu aku?
***
Hari ini adalah hari pertama kita bertemu.  Aku masih ingat seluruh detailnya secara terperinci.  Di salah satu tempat clubbing hits,  Fortknox.  Sepertinya kau menunggu kedatangan temanmu di pintu masuk, menggunakan kemeja abu abu dengan sepatu boots hitam kau berdiri bersandar di tembok dan menggunakan headset, sebentar, tidakkah aneh mengenakan headset sementara kau akan masuk ke sebuah tempat clubbing, mataku mengamati sekali lagi, kemudian tertangkap matamu yang tiba-tiba saja melihat ke arahku dan tersenyum hangat. Tunggu, darimana kau tahu itu aku?
***
Hari ini adalah hari pertama kita bertemu.  Aku masih ingat seluruh detailnya secara terperinci.  Aku baru saja dikeluarkan dari sekolah lamaku karena berkelahi dan pindah ke sekolah di dekat rumahku.  SMA baruku kali ini, terkenal dengan muridnya yang cerdas dan tidak terlalu nakal.  Aku dipindahkan ke kelas 2 Ipa 1 dan wali kelas mengantarku masuk kelas pagi itu.  Wali kelas mengenalkanku ke seluruh kelas, aku hanya tertunduk malu.  Kemudian saat aku telah mengumpulkan keberanian untuk menatap wajah teman-teman baruku mataku langsung tepat menatap ke arahmu.  Saat itu kamu duduk di bangku paling kanan, kedua dari belakang.  Kaki kananmu keluar dari kolong meja sementara tanganmu memainkan sebuah bolpoint merah, dan ketika melihatku, kau tersenyum.  Tunggu, darimana kau tahu itu aku?
Hari itu adalah hari pertama kita bertemu.  Tapi seperti aku telah mengenalmu, jauh sebelum aku tahu hari itu akan menjadi hari pertama kita bertemu.   Seperti tau tapi tidak tau.  Mungkin saja kita pernah bertemu dan jatuh cinta seperti hari itu di waktu waktu yang lalu.  Mungkin saja kita terlahir kembali dan takdir membuat lelucon untuk membuat kita lagi lagi jatuh cinta di hari pertama kita bertemu, hanya saja kita tidak tau itu.  Karena di hari pertama kita bertemu, kau tersenyum dan aku balas tersenyum.  Karena kita tau.  Kita telah bertemu jauh sebelum itu, di kehidupan yang lalu, dan diberi kesempatan untuk jatuh cinta sekali lagi, seperti dahulu.  Tapi kau juga tidak tahu, bahwa skenario seperti apapun yang kita buat di hari pertama kita bertemu dan jatuh cinta. Tidak akan pernah berlanjut lagi.

Hari itu adalah hari pertama kita bertemu.  Di masjid, di tempat clubbing dan di ruang kelas.  Hari itu kita bertemu.  Nasib dan takdir memang tidak ada yang tau.  Bahwa hari itu akan jadi hari pertama, kurang dari 24 jam dan sekaligus akan menjadi hari terakhir kita bertemu.  Sebuah kecelakaan tumbangnya pohon yang mengenaimu sepulangnya kau dari masjid, tabrakan beruntun sepulangnya kau dari Fortknox dan tawuran sepulang sekolah yang tidak sengaja membuat kepalamu terbentur lemparan batu hingga merenggut nyawamu.  Semuanya akan sama saja, berulang seperti itu saja jika kita bertemu pada hari itu.
***
Hari ini adalah hari pertama kita bertemu.  Di sebuah café 24 jam, aku baru saja datang satu menit sebelum tengah malam.  Aku melihatmu lebih dulu kali ini dan bergidik, cepat kutundukkan wajahku agar aku tidak melihatmu.  Sambil melihat jam tangan kuhitung sampai enam puluh kemudian mendongak, melihatmu sudah jauh di depan dan duduk berbincang dengan seorang gadis yang cantik sekali.  Taukah kau? Aku sebenarnya ingin menarik tanganmu dan mengajakmu mengobrol sambil menatap matamu, aku ingin membawamu ke taman bermain dan berlarian sepuasnya dengan kaki menginjak rumput basah. Aku ingin mengajakmu ke pantai kemudian menikmati matahari terbenam sambil berpegangan tangan. Aku ingin mengajakmu keliling dunia kemudian tertidur kelelahan di pundakmu ketika menunggu di bandara.  Aku ingin menghampirimu dan memelukmu erat-erat.  Aku ingin, aku mau semua yang ada dalam pikiranku. Tapi hari ini terlanjur berakhir, tiada kelanjutannya.  
Karina Oktriastra, 15 Juni 2014
p.s:
*agak terinspirasi dari film edge of tomorrow- yang terinspirasi pula dari manga -all you need is kill.
*tapi, tentu, inspirasi utamanya tetap kamu, yang bertemu denganku di hari itu 

*this is one of www.pontianakfiksi.wordpress.com project.
Check the web soon for complete story with other storytelling.

Saturday, June 14, 2014

Pontianak Fiksi



*putaran kedua

Aku mau menulis sebuah fiksi. 
Tentu lebih baik dari kenyataan ini. 
Seindah mimpi di siang hari.  
 Juga malam ini, juga malam malam yang lalu. 
Sampai saat nanti, mungkinkah?
Aku rasa mungkin, karena dia selalu mengatakannya.  
 “aku suka…” aku tak bisa mencerna.  
 Terlalu klise, terlalu bias, terlalu menyakitkan.  
 Namun terlalu lekat pula untuk begitu saja dilepaskan.  
Suatu saat nanti, yang terlepas itu akan kupenjarakan dalam sebuah fiksi.

*putaran ketiga
Hari ini adalah hari pertama kita bertemu.   
Tapi, bukan kali pertama hati bersatu. 
Oh, aku bingung sekali menjabarkan apa arti semua ini.  
 Seperti sebuah reinkarnasi.  
 Beginikah rasanya terlahir kembali bersama seseorang yang dikasihi?
Terlalu munafik untuk takut jatuh cinta.  
 Walaupun hal tersebut menyakitkan bila gagal lagi dan lagi.  
Aku ingin jatuh cinta, sebanyak-banyaknya seperti cewek di sinetron yang mengenakan kaos.  
Aku ingin merasakan cinta pada semua orang, ingin kuberi kehangatan pada semua orang.  
 Aku ingin happy ending seperti cerita disney. 
 Ingin bahagia seperti cinderella.   
Tapi hari ini terlanjur berakhir, mungkin tiada kelanjutannya.

Jum'at, 13 Juni 2014

*another project with www.pontianakfiksi.wordpress.com i only write first and last sentence. 
check the web for complete post!

Friday, June 13, 2014

I want to be

I want to write thousand words. 
But it will never be enough.

I want to draw our future.
But it is not there anymore.

I want to hold your hand.
But someone is already there.

I want to ask forgiveness.
But there is no place for me anymore.

I want to remember our happiness.
But its not ours.

I want to be you.
Seems so easy to go.
Like nothing was happened.

13 June 2014

Tuesday, May 20, 2014

Haunted

I hear your presence calling.
The memories that linger in the shadow after midnight.
Its empty, and full at the same time.
You comes, completed the loneliness.
Accompany on sadness.
Haunted the reverberate of silence
Absence on a marathon dream that never ended.

I hear you calling.
To be present.  To be bold.  To be exist.
In the deepest dark side of me.
You are in every inch of me.

I will never get rid of you.

In my head,
in my heart,
in my mind.

you'r made to be eternal.
to be forever.

Wednesday, April 30, 2014

Transcendence, Film Romeo Juliet Era Digital


Film yang saya tonton tanggal 30 April 2014 di XXI Ayani Pontianak ini merupakan salah satu film science-fiction yang menurut saya romantis ala digital, menghadirkan cerita dengan penjelasan rumit ala nerd, sekaligus romantis dan puitis.

Transendental, secara filsafat memiliki makna mendaki atau melampaui daya pikir manusia yang terbatas.  Dimana dalam fenomenologi, transenden merupakan fenomena  yang melampaui kesadaran diri kita sendiri, melampaui bentuk kita sebelumnya.

Di dalam film ini, Will Caster (Johny Deep) digambarkan sebagai seorang ilmuwan yang mengembangkan suatu teknologi yang meniru alam semesta, namun memiliki kecerdasan yang mampu mengembangkan dan transenden (melampaui) sumber mulanya, sebuah singularitas teknologi dimana merupakan momen hipotesis ketika kecerdasan buatan, melampaui kecerdasan manusia, sehingga radikal mengubah alam maupun peradaban.  Padahal, awalnya Will Caster hanyalah seorang ilmuwan yang penuh rasa ingin tahu, dimana memiliki istri yang sangat dicintainya, Evelyn Caster (Rebecca Hall) yang memiliki ambisi untuk mengubah dunia. 

Dan kadang, beberapa hal besar terjadi dalam sebuah momen, kejadian yang mengubah sebuah alur yang tadinya terlihat baik baik saja.  Sebuah organisasi anti-teknologi, unplug yang kemudian menembak Will Caster dalam seminar teknologinya.  Peluru yang dilapisi radiasi yang tinggi itu memang tidak seketika membunuh Will, tapi diprediksikan akan membuat umur hidupnya hanya tersisa beberapa bulan. 

Rasa takut kehilangan, yang perlahan mulai dirasakan Evelyn mulai membuatnya berusaha menyelesaikan teknologi PINN, yang menggunakan singularitas teknologi, proyek Will yang belum selesai, yang sebelumnya dikembangkan dengan menggunakan protype otak monyet.  Dibantu sahabat ilmuwannya, Max (Pau Bettany) mereka pun berusaha memindahkan kecerdasan Will ke drive tersebut.  

Upaya mereka tersebut akhirnya berhenti ketika Will meninggal.  Dimana dalam rasa kehilangan dan kesedihan Evely memudar ketika teknologi yang dikembangkannya tersebut membuahkan hasil.  Will-dalam kecerdasan buatan dalam sebuah teknologi, akhirnya mampu berkembang sendiri, dengan dibantu Evelyn ketika sudah mulai terkoneksi internet.  Selanjutnya, mimpi buruk era digital terjadi, ketika pengetahuan menembus batas pengembangan molekul untuk menciptakan partikel dasar dari semua makhluk hidup, sehingga Will-dalam hal ini komputer, mampu meregenerasi sel sehingga dapat menyembuhkan, dan pada akhirnya, menciptakan ulang dirinya sendiri dalam bentuk Will.

Bencana mulai terendus FBI ketika teknologi tersebut meregenerasi manusia-manusia di kota kecil dimana Will memilih tinggal diregenerasi secara komputer, namun kemudian dapat dikendalikan oleh Will-dalam kecerdasan buatannya.  

Selanjutnya terjadilah perang antar gerakan bahwa tanah anti teknologi, yang tadinya menyandera Max yang mulai menyadari dampak mengerikan dari prototype buatannya.  Teknologi yang tidak bisa dilawan oleh militer ketika merekrut orang-orang untuk menjadikannya hybrid yang bisa dikendalikan.

Max kemudian mengembangkan virus yang akhirnya dapat diinjeksikan ke tubuh Evelyn yang rencananya akan di'download' oleh Will.  Rencana tersebut hampir gagal, ketika Will mampu menganalisis respon otak dan tubuh Evelyn.  Namun akhirnya, ketika Evelyn hampir mati karena bom militer untuk menghancurkan base-miliknya dan Will.  Will, yang telah berhasil menciptakan tubuhnya sendiri akhirnya mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah untuk Evelyn, karena dari awal, Evelyn selalu berkata dia ingin mengubah dunia melalui teknologi, untuk menciptakan kebaikan dan memulihkan alam, dan dari awal, Will memang tidak pernah memiliki ambisi apa-apa.  Pada akhirnya, Evelyn tersadar dan Will pun mengetahui adanya virus tersebut dengan sukarela menginjeksikannya kepada sistemnya sendiri hingga Evelyn pun tidak tertolong lagi dan Will pun menghilang dihapus oleh virus tersebut.  Digambarkan keduanya menghilang sambil memeluk erat tubuh masing-masing.  -

Interprestasi film ini, menceritakan cinta sebagai sesuatu yang kuat. Sehingga mampu membuat seorang ilmuwan, Evelyn Caster yang patah hati dan mampu melakukan apa saja untuk membuat Will Caster kembali meskipun harus mengorbankan orang lain.  Kisah cinta yang egois, yang membuat Evelyn mengesampingkan segalanya dan mengasingkan dirinya dari dunia.  Pula ketidakrelaan untuk melepaskan orang yang dicintai, menjadi bumbu yang epic membungkus film ini.  

* * * * / 4stars from 5 (very recommended).

Monday, April 21, 2014

Dialog

Sudah aku bilang untuk menghitung semuanya, detail dan terperinci.  Agar suatu saat kau tau apa pertimbangannya.  Gila, mengesampingkanmu adalah goals paling wahid.  Sudah kukira, sudah kuperhitungkan.  Strategi yang kugunakan tak hanya satu, untuk mengingatkan diriku sendiri untuk tidak mempersilakanmu masuk bahkan dalam wajah mikroskopik.  Tidak akan kubiarkan.  Kelalaian sekecil apapun akan membangkitkan kesalahan endemik, satu saja celah untukmu masuk, maka habislah pertahananku.

Sudah aku bilang nasehat mereka adalah gila, untuk membuatmu buta.  Tidak mungkin.  Jika kau buta sama saja dengan membuatku mati.  Masih untuk hanya sekali kemudian pergi, tapi nanti akan kembali untuk membunuhku lagi.  Tidak, sudah kubilang tidak.

Aku lebih kuat, daripadamu, lebih cerdas lebih pintar.  Lebih segalagalanya. Mana mungkin aku akan menyerah kepada seseorang sepertimu.  Kau bukan apa apa, kau bukan siapa-siapa.  Air mata adalah tanda kelemahan jiwa, dan kau adalah yang terlemah.  Dan aku tidak suka kelemahan, ketidakberdayaan.  Mustahil.

Tapi jangan salahkan aku suatu saat nanti jika akhirnya aku menyodorkan tangan untuk membantumu, aku membenci kelemahan, dan aku tau aku adalah kekuatan.  Justru dengan tangankulah ingin kubantu, nurani pernah berkata kepadaku untuk membantumu, melindungimu.  Tapi terkadang kau suka tak tau diri, kau manfaatkan baikku untuk menikamku.  Berulang ulang kali.
-Logika


Aku sudah tau suatu saat kau akan melepaskan pertahananmu, sedikit saja.  Meskipun bermula dari pikiranmu, andai-andaimu.  Disitulah jalanku, melewati pintu belakang merasuk alam bawah sadarmu, sedikit demi sedikit, pertahanan demi pertahanan yang akan kutembus.  Berulang ulang kali.  Ha ha ha. Justru ketika kau pikir dirimulah segalanya, maka sebenarnya kau bukanlah segalanya.  Justru ketika kau sudah mengakui dirimu lah yang terhebat, pada saat itu juga kau mengakui dirimu bukan apa apa.

Aku hanya diam, bukan berarti aku buta dan tuli.  Aku hanya melihat, mengawasimu dari jauh untuk menunggu waktu, melibas segala kelemahanmu.  Suatu saat akan datang masa kejayaanku, aku tidak pernah terburu buru.  Karena aku menikmati detik demi detik menyiksa nuranimu untuk tergoda mempersilakanku masuk.  Kini yang kutunggu adalah kesempatan, yang kau pikir tidak kau berikan karena kau pura pura tidak melihatku, tapi aku disini, menjadi besar dan semakin tumbuh subur di bawah matamu.  Musuhmu bukanlah yang kau tantang di depan pintu, tapi yang diam diam menguasai akalmu, tanpa kau sadari, tanpa kau ketahui.

Aku akan menang, kau tau itu, logika.  Di lubuk hatimu yang paling dalam sudah ada aku.  Kau hanya pura pura tidak menyadari bahwa sebenarnya kau telah kalah.  Dan kekalahan terbesarmu, bermula ketika kau pura pura tidak melihatku, menganggap telah mengesampingkanku.

Aku telah lama disitu.  Kau hanya pura pura tidak tahu itu.

-Hati

Tuesday, April 15, 2014

Mendua

Mungkin dia yang mendua

adalah dia yang paling setia.
Yang hatinya telah mati rasa karena yang diinginkannya dari seluruh dunia,

adalah dia yang tidak mencintainya. -

Saturday, April 12, 2014

Rumah

Sejauh apapun kamu berjalan, mengingkari takdir.
Menjauhi perasaan yang telah bertahun tahun pergi.
pada hatimulah, 

rasaku kembali.

Monday, April 7, 2014

Sepucuk Surat Yang Salah Alamat, Tapi Benar Untukmu.

Sepucuk surat yang kutulis itu salah alamat.  Sepucuk surat yang telah tergeletak di depan pintu resahmu itu, berisikan kata kata yang berbisik, merayu.  Aturan mainnya mudah saja, siapa yang lebih dulu buru buru, akan mati terbakar sepi dan cemburu.  Tahukah kau apa yang begitu kita inginkan sesungguhnya adalah hal yang tidak pernah bisa kita miliki? Tiada yang kekal abadi, apalagi sebuah kata dan janji yang terucap sedemikian getirnya dari hati yang telah tersakiti berkali kali.

Sepucuk surat yang kutulis itu salah alamat.  Tapi kemudian kubaca kembali berulang kali, mungkin saja hanya belum menjadi benar.  Tahukah kau apa yang membuat kedamaian dalam bumi berubah menjadi benci? Ketika manusia mulai memaksakan kehendaknya.  Ia kadang lupa, bahwa mungkin saja dirinya keliru meyakini dirinya sendiri.  Ia kadang lupa pula, mungkin orang lain akan jauh lebih salah, tapi ia tidak mungkin jauh lebih benar.

Sepucuk surat yang kutulis itu salah alamat.  Tapi kemudian kau menikmati salahnya, menghayati kekeliruannya.  Mungkin kau hanya mengabaikan kesalahannya, dan membenarkan kekeliruannya.  Mungkin kau menikmati rasanya, mungkin kau menghidupkan bara nya, tapi ragu untuk membakarnya, keingintahuanmu masih menunggu, karena bukan kau yang tersebut tersirat pada kata kata itu.

Sepucuk surat yang kutulis itu salah alamat.  Mungkin akan menjadi benar, tak sampai waktunya.  Karena masa lalu dan masa depan tak pernah menang pada masa ini, yang kau lakukan saat ini, detik ini, momen ini.  Karena mungkin waktu adalah tipuan yang akan membuatmu ragu dengan apa yang kau miliki, dan apa yang tidak akan pernah kau miliki.

Sepucuk surat yang kutulis itu salah alamat.  Namun jikapun aku salah, maka jadikanlah aku pembenaran.  Pembenaranmu untuk bangun dari mimpimu dan mengantarkannya ke alamat yang tepat, yang kutulis di muka depan surat itu. 

Sepucuk surat yang kutulis itu salah alamat.  Mungkin saja sengaja kukirimkan, karena aku belum mau jadi benar.  Karena dalam surat itu, tiada yang salah, tiada pula yang benar.  Hanya ada kata, yang kekal membeku. 

Sepucuk surat yang kutulis itu salah alamat, tapi benar untukmu.  

Karena aku tau surat itu tidak akan pernah bisa kuberikan, sampai kepada pemiliknya.

Sunday, April 6, 2014

Kepada Jarak

Pernah kau mengatakan kau mencintaiku, suatu waktu.  Tapi jarak, tak lengah memburu, menghantui dan menyesatkan jalanmu untuk kembali.  Kau telah terlalu jauh dalam lara, sepi dalam keterasingan cahaya.  Suatu hari nanti kau akan pulang, katamu berjanji, see you when i see you.  

Di sudut hati yang terasing itu, aku menginginkanmu seutuhnya, seluruhnya, sepenuhnya.  Tiada jarak, tiada dusta, tiada ruang kosong.  Kau kuinginkan untuk genap, bukan ganjil.  Untuk menggenapi, bukan untuk mengisi keganjilan dalam celah celah sepi.  Aku menginginkanmu sekarang, aku menginginkanmu nanti.

Kepada jarak, sabarlah menunggu, suatu saat nanti, ia berjanji akan kembali.  Janjikan padamu hatinya yang utuh, penuh, tiada spasi dan tiada celah untuk kembali lari.

Kepada AR.

maukah k(a)u menunggu?

Seorang perempuan yang menunggu, menanti benang takdir, menitinya satu demi satu. Suatu ketika ditanyakanlah kepadanya seberapa lama ia menunggu, seberapa jauh ia mampu berjalan. Tetapi jalan itu bukanlah jalan yang sama, seperti dahulu, bukan pula jalanan yang telah lama ia kenal.  Jalanan itu telah berubah, mengganti waktu, menggerus keyakinan untuk berganti.  Kemudian bertemulah ia di persimpangan jalan, bertemu kembali untuk ragu dan mencoba percaya. Tapi di suatu tempat, sedekat hatinya untuk meragukan jalan yang sedemikian jauh ia lalui, serentang jauhnya untuk meyakinkan.  Ia pernah bertanya kepada harapan,  untuk menunjukkan perjalanan yang tiada simpang.  Dimanakah letak wajahnya yang dahulu, yang dikenalnya seperti takdir pertama mempertemukan, seperti kenangan dan ingatannya yang masih mengingat semua.  Jalanan itu masih sama, seperti dahulu, dengan cemara dan kursi melingkar, tapi tiada lagi dia.  Keyakinan itu hanya setipis benang, merentang dari jauh tetapi rapuh oleh waktu.  Tapi perempuan itu sudah terlalu habis dalam pilihan.  Terlalu teguh dalam pendirian untuk terus menuju, waktu demi waktu.  Angin menanyakan kepadanya, akankah ia kalah oleh waktu, akankah ia kekal dalam ilusi, pantaskah ia mati demi tak berganti?
Lalu kembali kutanyakan padanya, maukah kau menunggu keyakinanku? yakinkah kau akan kemauanku?
"entahlah," ucapmu berbisik pada hati yang enggan berjanji.

Sunday, March 30, 2014

Yang Kau Katakan, Suatu Waktu

Suatu waktu, ketika kita terlalu lama berbicara, kehabisan cerita. Kau mengatakan hal yang gampang kau rasa, sulit dalam biasa.  Maka buyarlah yang kita pegang erat sebagai titian yang kita pegang terlalu hati hati di tepian jurang.  Kau lupa, suatu hari kita akan terpental, jatuh dan terperosok, kemudian kita bukanlah lagi utuh, bukan lagi sama.  

Tanganku yang kau pegang terlalu erat ternyata membuat nadiku membiru dan mati rasa. Peluk yang kau tenangkan ternyata terlalu kuat hingga yang tersisa hanya sesak.  Maka ketiadaanmu hanya spasi yang membuatku bernafas lega, namun jangan terlalu lama karena jika kau hilang maka semuanya akan kembali seperti biasa, semuanya akan baik-baik saja.

Kau hilang dalam sepiku, ramai dalam riuhku, maka suatu waktu jika kau mengatakannya lagi, katakanlah dengan hati hati.  Katakanlah dengan hatimu, melalui suara, sampaikanlah dengan kecupmu.  Mungkin suatu saat aku akan mengerti.  Bahwa yang kau katakan adalah sebuah puisi, yang mendekapku ketika aku sepi dan sendiri, yang menenangkanku dalam gelisah, yang mendamaikanku meski terlingkup gelap, tak hilang dalam makna.

Suatu waktu, kau akan mengatakannya lagi.  Ketika kita sudah terlalu jauh melalui waktu, ketika kita sudah terbang melayang tinggi, melesat meninggalkan penjara pikiran dan hati, berhasil mengecoh waktu yang terlampau buru buru. 

Suatu waktu, kita akan menikmati waktu, 
tanpa kata, 
tanpa suara, 
hanya kita saja.

Thursday, March 20, 2014

Owl

Based our random talk i decide to paint again. I just want to paint it because... I know that i dont have an incredible or special talent on it i just want to doing it! Now i accomplish it and my friend, who requested it want to accept it. Then one of my experience done for 2 hours. Basic level completed! :))

Monday, March 17, 2014

Keeping Track

Recently just being busy with my things, working at gov's company as a non-permanent employee.  Things just get routine day by day, waiting the weekend.  Time is moving so fast, then i start to lose my track. Day by day i spent all the night with same people, same situation, nothing muse me beside 2 weeks ago i climb a niut mountain and we failed.  I dont know when i walk the track, i just keep thinking all the things that happen in my life.  I just lost it, i still on the stage of searching, try hard to make some meaning, the feeling of losing something, something that still uncompleted.  By that i have a strong needed to not want to lose at the forest, or die because of falling over the edge, besides the destiny i should have.  That is my motivation, i have something that i don't have in this life, and this life i live still pointless.  I cant agree more if you tell me to being gratitude, i am thankful for what i have now but still.  As a human i think its natural to want more than i have, to make yourself keep moving forward.  I dont know, this post is pointless but also have a clear point than ever.  To knowing whats is pointless looks like, so tomorrow, we understand what we will not do.