Tuesday, April 16, 2019

Dijual : Sebotol Kenangan #funfiction

Aku ingin menceritakan semuanya tentangmu. Supaya aku bisa mengingat semuanya tanpa terkecuali, dengan detail yang suka berseliweran di kepalaku ketika aku sedang sepi dan sendirian.  Terkadang bercampur pula dengan mimpi yang menyisakan keringat dingin yang membuat aku bangun dan mencari lagu-lagu yang pernah kita putar berdua : Turis-Lyla, ah lagu yang fun menurutku, menceritakan tentang seseorang yang cuma singgah sebentar dan membuat hati patah, saat pertama kali bertemu denganmu, entah kenapa aku sudah punya firasat kau akan pergi, dulu firasatku bilang kau akan pergi ke kota lain dan melupakanku. Tanpa diduga, akhirnya aku-lah yang pergi ke kota lain-berharap akan lebih mudah melupakanmu disana. Lagu kedua itu lagu Surat Cinta Untuk Starla- Virgoun. Lagu yang pertamanya kuanggap norak dan terlalu klise, tapi karena setiap hari kau putar di mobilmu, aku tiba-tiba saja menyukainya.  Dan lagu yang ketiga : Akad-Payung Teduh, lagu yang berkesan untukku sendiri karena di akhir-akhir masa perpisahan itu, aku senang mendengarnya dan saat itu sendang musim hujan, aku senang mengenangnya di parkiran dimana aku sering bertemu denganmu, kemudian melihat kota dari lantai atas, dan mengingat-ingat masa-masa yang pernah begitu membuatku hampir saja yakin akan sesuatu yang mustahil. 

Aku ingin mengigat semuanya-semua detailnya.  
Biar aku bisa mengumpulkan kemudian melupakan semuanya.

Celakanya sudah seharian ini aku mengingat-ingat bagaimana caranya kita pertama kali bertemu.  Bagaimana aku bisa mengingat semuanya jika aku melupakan yang paling penting, yang pertama?

Aku mencoba beberapa cara yang aku temukan di sebuah artikel dengan sumber yang tidak terlalu terpercaya, tapi yang paling populer, mungkin bisa berhasil.

Aku duduk di sofa, menghidupkan lilin aroma therapy berbau ocean dengan gambar pantai di kemasannya dan mulai membayangkan wajahmu, rasa hangat tanganmu, rambutmu yang selalu berdiri tidak perduli sudah banyak pomade yang selalu kau pakai sebelum kita pergi. Kemudian potongan rambutmu yang selalu sama karena kau kesulitan merubah gaya rambut, aneh katamu. 

Bau aroma therapy-nya mulai tercium hmm, bagaimana aku bisa mengingatmu dengan bau pantai? sedangkan kau tidak pernah suka pantai, tidak suka kopi, tidak suka jalan-jalan, tidak suka nonton film barat-hanya film komedi-komedi indonesia yang membuatku cringey, kalau tidak salah judul filmya Warkop Reborn. Ah iya, aku ingat film pertama yang kita tonton, aku kira saat itu, sepulangnya aku memperpanjang perjalan kita sampai akhirnya kita jadian. Film The Mechanic- Jason Statham.  Kukira kala itu kau tidak terlalu menyimak filmnya.  Kupikir kau lebih suka film Indonesia. 

Aku masih ingat bagaimana kita menghabiskan malam-malam dengan berjalan-jalan keliling kota, mendengarkan lagu kesukaanku, mampir di coffeeshop kesukaanku, menulis jurnal harian dari buku yang kau belikan karena aku bisa meyakinkanmu untuk menulis di jurnal yang berisi perasaan-perasaan yang kita rasakan.  Aku berhasil pula meyakinkanmu mengikuti sebuah pernikahan pura-pura dengan cincin emas plastik pura-pura yang membuatku senang setengah mati waktu itu.  Sampai aku ingat, mantanku menghubungiku kembali tapi aku benar-benar sudah tidak ada rasa lagi untuknya, aku masih ingat hatiku penuh dengan pikiran tentang bagaimana hari itu berjalan dengan sangat... menyenangkan?

Aku masih ingat pula bagaimana kau mengajakku mengajar di sekolah terpencil, bermain dengan anak-anak, menghabiskan waktu untuk mengobrol di sepanjang perjalanan, atau hanya membiarkan aku pura-pura tertidur di sampingmu, hanya karena aku sedang terlalu senang dan ingin menikmati waktu-waktu bersamamu. Aku masih ingat semua omelanmu, semua hal yang tidak kau suka tentang aku.

Terkadang, jika aku melihat jeans robek di etalase toko, aku pasti selalu mengingatmu, yang sangat tidak senang ketika aku memakainya, seperti pula sendal coklat atau sepatu hak tinggi coklat, atau bahkan jaket jeans levi's yang kau belikan waktu itu.  Kukira, aku masih ingat semua yang pernah kau berikan padaku. Tentang hal hal yang aku berikan? aku hampir tidak ingat, tapi mungkin sebuah gitar, sebuket bunga, yang sebenarnya aku senang melihatnya dan kubeli untuk diriku sendiri, tapi kemudian aku belikan pula untukmu, sebuah jurnal, beberapa kolase foto, sebuah hammock orange yang ketinggalan? ah, lantas apa lagi. Entah aku sudah tidak ingat atau mungkin memang tidak ada lagi. 

Lantas bagaimana? Bagaimana cara kita bertemu pertama kali? Apakah itu ketika aku melihatmu di kelas, tak sengaja bersinggungan dengan sikumu yang lantas dengan cepat kau tarik? atau ketika aku harus buru-buru keluar untuk menemui mantanku lalu kau membantuku untuk mengeluarkan mobilku di parkiran yang padat? atau ketika kita ingin nonton dengan teman-teman yang lain lantas yang tersisa hanya kita berdua? atau ketika kau memberiku pesan untuk sebuah kegiatan sosial, yang lantas aku sengaja mencari-cari topik percakapan dari hal hal yang konyol? atau ketika kita tidak sengaja berboncengan selama delapan jam menyusuri hutan dan mulai menceritakan tentang mantan-mantan dan kegagalan-kegagalan hubungan kita?

Entahlah, aku sungguh tidak ingat bagaimana caranya kita bertemu.  Mungkin aku sudah lupa.  Mungkin semuanya cuma kenangan kabur yang bahkan mungkin tidak pernah terjadi. Khayalanku saja.  Mungkin memang sebaiknya kita anggap saja semuanya tidak pernah terjadi.

"Sudah semuanya?"
"Sudah Pak"
"Kamu yakin? Sekali kamu menjualnya, kamu tidak akan dapat memintanya kembali"
"Yakin Pak"
"Oke, ini yang kamu dapatkan.  Sebuah botol baru, kosong, kamu bisa mengisinya lagi"

Hari ini, aku pulang membawa sebuah botol yang kosong, 
tapi jika kuperhatikan lekat-lekat, 
cahaya berpendar, seperti pelangi. 

Kemudian tiba-tiba dadaku terasa sesak.
Rasanya ada yang hilang.
Tapi aku tidak bisa lagi mengingatnya.

Bandung.
Selasa, 16 April 2019

Thursday, April 4, 2019

LAST MIDTERM OF THE YEAR

Bandung, 4 April 2019
03.16 pm

Menuju semester terakhir.  Ah, aku akan tidak merindukan-sekaligus merindukan ini, belajar, membaca, bertemu orang-orang dengan tujuan yang sama, berdiskusi, menyimak pemikiran-pemikiran, bertanya, berdebat.  Aku kira hal-hal itulah yang mahal dari sebuah perkuliahan, memaksa dan mendorong diri untuk belajar, mengerjakan tugas-tugas.  Kalau kata papaku dulu ketika memasukkan ke klub bulutangkis, kita membayar mahal-mahal seorang pelatih karena sebenarnya tidak mampu mengerjakan dan menyuruh diri kita sendiri untuk latihan, meskipun rutinitas latihan yang dilakukan sudah dihapal luar kepala, tetapi latihan perlu untuk memaksa orang memaksa diri kita untuk terus melakukannya.  Ironi tapi ya, begitulah manusia (aku juga) dan kemalasan-kemalasannya. haha.

Meskipun menyukai pengetahuan, tetapi mengerjakan tugas tugas dan (terpaksa) menulis topik topik yang secara pribadi tidak membuat kita tertarik adalah hal yang cukup berat, terlebih perasaan tidak puas terhadap tugas-tugas yang dikerjakan, kemandekan pikiran, semangat ingin membuat sesuatu yang spektakuler, imajinatif dan terobosan tentu akan selalu terbentur akan realitas, daya dukung, pengetahuan empiris dan riset-riset ilmiah dengan segala keterbatasannya.  Tentu kita juga tidak mau membuat sesuatu yang sangat judgemental dan penuh asumsi-asumsi kosong tak berlandas.

Hal lain yang menarik adalah tentu, bertemu orang-orang, subjek penelitian, mempelajari bagaimana perilaku mereka, cara berpikir, dan tentu garis besarnya: masalah yang mereka hadapi di kehidupan mereka serta dengan analitik (sok tahu) mencoba memberikan solusi, rekomendasi, alternatif skenario yang idealnya, bisa membuka mata dan dilakukan oleh subjek demi kepentingannya sendiri. Mencoba berempati dan memposisikan diri menjadi (orang) yang diteliti.  Meskipun kadang muara akhir dari penelitian penelitian adalah : sosialisasi, edukasi dan hal hal semacam itu.  Kurasa manusia sebagai garis besar penelitian sosial akan terus berkutat pada kompleksitas manusia dengan macam macam kepentingan dan latar belakangnya, karena itulah sumber pengetahuan mengenai manusia tidak akan ada habisnya.  Dinamis, multidisplin, kompleks namun juga saling mempengaruhi satu sama lain.

Hingga pada akhirnya, pada minggu UTS ini, yang berarti sisa kuliah tinggal 9 minggu lagi sebelum UAS dan menyusun tesis. Hatiku hanya harap harap cemas semoga tambah rajin dan beruntung (?) melalui semuanya dengan lancar dan bisa menikmatinya pelan-pelan sebelum kembali rutinitas kantor.  Yeay.