Friday, April 20, 2018

Tantangan Postmodernisme dan Pengaruhnya Terhadap Isu-Isu Yang Muncul di Indonesia

Pendahuluan
          Postmodernisme adalah sebuah perubahan budaya mulai dari gaya hidup hingga paradigma berpikir yang terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.  Salah satu pemicunya adalah konsekuensi dari paradigma modern sudah tidak lagi relevan atau memadai untuk menjelaskan kebudayaan yang tengah tumbuh sehingga kritik terhadap aspek kebudayaan dan paradigma modern bermunculan dan menggunakan pemikiran baru yang disebut postmodernisme. 
     Adapun salah satu ciri terpenting dari postmodernisme adalah penolakan terhadap fundasionalisme.  Juga menolak ilmu pengetahuan yang dianggap bebas nilai, tidak mengakui keterlibatan subjek dalam penemuan dan pengembangannya, dan anggapan bahwa bahasa adalah cermin realitas.  Postmodernisme sebaliknya mengakui keterlibatan objek dan subjek dalam penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan (partisipasi/dialektis), mengakui pengaruh faktor sosial-historis pada subjek, mengakui kekayaan kosa kata seseorang dalam memahami dan menafsirkan berbagai fenomena kehidupan manusia dan sosial budaya (teks) dan menerima keanekaragaman (pluraliras) paradigma ilmiah.  Juga berarti dalam postmodernisme, berbagai paradigma dan perspektif dapat tampil dengan ciri-ciri atau ‘aturan permainan’ mereka masing-masing. 
Adapun ciri dari kondisi mayarakat post modern (Lubis, 2016) adalah:
1.  Globalisasi : Keterhubungan antara bangsa-bangsa dan wilayah sehingga mengaburkan perbedaan antar wilayah maju dan terbelakang terutama dalam akses informasi.
2. Lokalitas : Kecenderungan glonal berdampak langsung pada lingkungan lokal sehingga memungkinkan untuk memahami dinamisme global dengan mempelajari manifestasi lokal.
3. ‘Akhir dari sejarah’ :  Yaitu keterputusan (dikontinuitas) sejarah yang halus yang diartikan berakhirnya pertentangan ideologi kapitalis dengan sosialis, dan semakin merajalelanya kapitalisme global (neo-kapitalisme).
4. ‘Kematian Individu’ : Kini, ‘diri’ atau self (individualitas) menjadi arena pertarungan tanpa batas antara ‘diri’ dan ‘di luar diri’ atau pertarungan antara ‘diri’ dan ‘lingkungan sosial-budaya’.
5.‘Mode Informasi’ : Yaitu era sekarang adalah era informasi, yaitu di mana masyarakat postmodern mengorganisasi dan menyebarkan informasi dan hiburan.
6. Era ‘simulasi’ dan ‘hyperreality’ : Yaitu realitas sekarang yang tidak stabil dan tidak dapat dilacak, yaitu masyarakat semakin ‘terstimulasi’, tertipu dalam ‘dunia citraan’ dan ‘wacana’ yang secara cepat menggantikan pengalaman manusia atas realitas.
7. Perbedaan dan penundaan dalam bahasa : yaitu bahasa tidak lagi dapat menggambarkan realitas dunia secara jernih dan transparan.  Postmodern juga mengkritisi pandangan objektivisme-universalisme dalam wacana ilmiah.
8. Polivokalitas : Yaitu segala hal atau objek dapat dikemukakan dengan perspektif atau paradigma yang berbeda, yang kedudukannya satu sama lain memiliki kesejajaran.
9. Kematian analisis oposisi biner : model berpikir yang didasarkan atas analisis polaritas (oposisi biner).
10.  Lahirnya gerakan sosial baru : Yaitu bermunculan berbagai gerakan akar rumput yang mendorong berbagai perubahan sosial progresif seperti gerakan perempuan, gerakan perempuan kulit hitam, gerakan etnis dan budaya lokal.
11.  Kritik terhadap narasi besar : Bahwa postmodernitas lebih memercayai polivokalitas dan keanekaragaman daripada keseragaman dan menghargai perbedaan dan interpersonal ketimbang bentuk pemikiran yang mono-dimensional yang otoritarian.
12.  Otherness (ke-liya-an) : pemikir postmodernisme memberikan ruang dan penghargaan pada kelompok yang selama ini terpinggirkan (termarjinalkan). 

 Beberapa Tokoh dan Pemikiran Postmodernisme
 Jacques Derrida (1930-2004)
       Derrida memaparkan teori mengenai dekonstruksi, yang menjadi konsep penting dalam pemikiran postmodern.  Adapun menurut Derrida dalam Lubis, 2016, Dekonstruksi dapat dikatakan sebagai strategi yang digunakan untuk mengguncang kategori-kategori dan asumsi-asumsi dasar di mana pemikiran kita ditegakkan, yaitu upaya untuk mengkritisi secara radikal dan membongkar berbagai asumsi-asumsi dasar yang menopang pemikiran dan keyakinan kita sendiri.
            Dekonstruksi Derrida tersebut, dalam kata lain adalah upaya untuk memperjelas makna teks, menghilangkan argumen yang tidak jelas secara bertahap, makna yang ambigu dalam teks.  Sehingga dapat disimpulkan dua hal yang penting dalam postmodernisme menurut Derrida yaitu:
1)      Memahami diri sendiri sebagai seseorang yang berada pada posisi tertentu dan hidup pada lingkungan sosial dan waktu tertentu,
2)      Mengajak kita untuk tidak berpikir bahwa kita mampu untuk membuat teks/teori yang dapat menjelaskan semua hal, untuk semua orang dan untuk semua waktu.
 Michel Foucault (1926-1984)
             Menurut Foucault, dalam kritiknya terhadap strukturalisme yaitu: 1) Penolakan terhadap adanya aturan yang berlaku universal yang mendasari semua bahasa, juga mengemukakan mengenai adanya pluralitas bahasa dan aturan/sistem yang mendasarinya. 2) Memfokuskan perhatian pada problem ‘kekuasaan’ dalam pemakaian/penggunaan Bahasa (wacana). 
            Foucault juga mengemukakan teori wacana, (dalam Jones, PIP, 2009:202) yaitu bahasa sebagai ‘sistem-sistem pemikiran’ atau ‘sistem gagasan’ yang berkaitan satu sama lain serta memberi kita pengetahuan mengenai dunia serta merupakan alat untuk mengetahui dan menjelaskan realitas yang dapat analisis dalam lima tahapan yaitu: 1) Memahami pernyataan menurut kejadian yang benar-benar khas; 2) Menentukan kondisi keberadaannya; 3) Menentukan batas-batasnya; 4) Mengkorelasikannya dengan pernyataan lain yang terkait; 5) Menunjukkan bentuk lain dari pernyataan yang dikemukakan. 
 Pierre Felix Bourdieu (1930-2002)
             Pemikiran Bourdie memasuki analisis atau refleksi sistematis tentang bahasa serta peran bahasa dalam perkembangan kehidupan sosial secara ‘formalisme’ dan ‘interaksionisme’ sosiologis.  Formalisme (strukturalisme) bahasa menurutnya mengabaikan kondisi sosial dan praktik politik dari pembentukan dan penggunaan bahasa sedangkan ‘interaksionisme’ sosiologis gagal melihat peran bahasa dalam membentuk dan melahirkan struktur sosial yang dapat membentuk perkembangan masyarakat. 
            Bourdieu juga mengembangkan konsep habitus sebagai sistem pendisposisian dan aktivitas budaya yang dipelajari dalam masyarakat yang membedakan orang-orang menurut gaya hidupnya.  Habitus mencakup segala jenis aktivitas budaya; produksi, persepsi, dan evaluasi terhadap praktik hidup sehari-hari.  Habitus adalah nilai yang meresap ke dalam pikiran, perasaan dan estetika seesorang, juga nilai-nilai yang dibatinkan melalui ‘ruang sosial’ dan dapat mencerminkan posisi seseorang dalam tataran sosial-ekonomi, walaupun tidak secara mutlak.
 Anthony Giddens (1938)
                  Giddens melihat isu agensi-struktur dengan cara yang historis, prosedural dan dinamis. Menurutnya, dasar dari ilmu sosial bukan pengalaman aktor individual (agensi), juga bukan keberadaan struktur (semua bentuk totalitas sosial), akan tetapi praktik-praktik sosial yang tersusun dalam lintas ruang-waktu.  Giddens mengemukakan dimensi reflektif dalam penelitian terdapat pada aktor sosial (fenomena sosial) dan juga peneliti. Para aktor sosial dan peneliti sama sama menggunakan bahasa, dimana aktor menggunakan bahasa untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan sedangkan sosiolog (peneliti) menggunakan bahasa untuk menjelaskan tindakan aktor. Maksudnya, ketimpangan bahasa antara bahasa awam dan ilmuwan bisa saja menghasilkan temuan yang menyimpang.
            Selanjutnya Giddens mengemukakan tentang kesadaran yang dibedakan menjadi: 1) Kesadaran diskursif, yaitu kemampuan untuk menjelaskan tindakan-tindakan melalui bahasa dan 2) Kesadaran praktis, yaitu tindakan (kesadaran) yang diterima begitu saja oleh aktor tanpa kemampuan untuk menjelaskan tindakan mereka.  Teori Giddens lebih berfokus pada kesadaran praktis yang lebih memerhatikan apa yang dilakukan ketimbang yang dikatakan oleh agen.  Penekanan pada agensi menunjukkan pengakuan pada kemampuan (kekuasaan) agen untuk membuat sesuatu yang berbeda dalam dunia sosial.  Meskipun ada pembatasan terhadap aktor, akan tetapi tidak menutup kemungkinan para aktor untuk membuat pilihan-pilihan dan sesuatu yang berbeda.  Dimensi kekuasaan inilah yang menjadi ciri khas pada strukturasi Giddens. 
 Jean Baudrillard (1929-2007)
             Konsep dan istilah yang dikemukakan Baudrillard mendukung gagasan utamanya tentang masyarakat postmodern yang diorganisasi melalui simulasi dimana ‘model’, ‘kode’, ‘komunikasi’, ‘informasi’, dan ‘media’ merupakan penyebab terjadinya patahan diskontinuitas paradigm berpikir yang menyebabkan matinya realitas lama dan munculnya realitas baru yang disebut hyperreality, yaitu perubahan ontologi yang menuntut pula pemahaman tentang teori, metode dan konsep baru yang tidak ditemui pada kajian sosial-budaya modern.
            Adapun Sherry Turkey (1997, dalam Lubis, 2016) menjelaskan bahwa realitas virtual ini memberikan gambaran ‘kehidupan yang lebih nyata dari kehidupan itu sendiri’.  Menurut Baudrillard, era simulasi dan hiperrealitas ini sebagai bagian rangkaian fase citraan, yang dijelaskan: 1) Citraan sebagai refleksi dasar dari realitas, 2) Citraan menutupi dan mendistorsi realitas, 3) Citraan menutup ketiadaan atau lenyapnya dasar dari realitas, 4) Citraan melahirkan ketidakterhubungan terhadap realitas apa pun, citraan bukanlah kemurnian simulacrum itu sendiri (Baudrillard, 1983).
 Perbandingan Postmodernisme dan Modernisme
      Sebagai kritik terhadap modernisme, postmodernisme membawa alternatif baru untuk meruntuhkan teori-teori yang menjadi dasar modernisme, seperti kondisi masyarakat, manajemen, industri, pola pikir, kondisi sosial, arsitektur dan hal-hal lainnya.  Perubahan ini meliputi perubahan secara makro, yaitu perubahan dalam sistem sosial, maupun mikro, yaitu menyangkut perubahan dalam dimensi interaksi antar individu. (Martono, 2016).
            Salah satunya tercermin dari perubahan  masyarakat modern ke postmodern adalah sebagai berikut:
1. Dalam bidang ekonomi, terjadi perubahan dari keunggulan barang-barang produksi ke pelayanan (jasa).
2. Hadirnya pekerjaan professional dan teknis yang menguasai lapangan kerja sehingga peran ilmuwan dan teknisi menjadi penting dan dominan (dibanding dengan modal intelektual)
3. Pengetahuan teoritis (ilmu pengetahuan) menjadi esensial bagi masyarakat industri dan ada keterkaitan erat antara teori dan praktis.  Hal tersebut menjadi sebuah kesadaran akan perlunya ilmu pengetahuan sebagai penggerak utama kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
4. Masyarakat post-industri berorientasi pada prediksi dan kontrol atas teknologi serta berbagai dampaknya. 
5.Pengambilan ‘kebijakan’ ikut menciptakan sebuah ‘teknologi intelektual’ baru seperti : teori informasi, sibernetika, teori keputusan, teori permainan, teori daya guna, proses-proses yang melibatkan variable yang bervariasi (Bell, 1973:29).
   Terdapat beberapa perbedaaan dari sudut pandang modernisme dan postmodernisme dilihat dari kondisi masyarakat dan manajemen, yang berubah dikarenakan ilmu yang berkembang serta teknologi yang mampu merubah kebijakan-kebijakan lama untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekarang, pada bidang manajemen, orientasi planning, organizing, influencing, leading dan controlling yang pada jaman modernisme telah berjalan dan diterapkan, kemudian dikritisi sehingga di dalam penerapannya, setiap orang memiliki alternatif untuk memilih mana cara yang lebih baik untuk menjalankan organisasi, yaitu lebih berorientasi pada pemberdayaan individu, yang tidak lagi menyamakan manusia sebagai mesin .  Pada postmodernisme juga menjadi masa yang lebih terbuka terhadap cara-cara baru yang belum ada sebelumnya, sebagai jawaban untuk kebutuhan manusia yang semakin kompleks dan dinamis.  Konsep ini juga sekaligus menjadi jembatan, yang menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, untuk semakin memahami kondisi masa kini agar dapat menciptakan suatu keadaan yang lebih baik.
 Postmodernisme terkait isu-isu yang muncul di Indonesia
             Menurut pandangan beberapa tokoh di atas, postmodernisme menjadi fase baru yang lebih berkembang seiring dengan kebutuhan jaman.  Dimana pemikiran para tokoh tersebut muncul dari fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya perkembangan ilmu dan teknologi.  Adapun pemikiran yang paling menarik menurut saya dibahas oleh Baudrillard, yaitu hiperrealitas yang muncul bersamaan dengan ditemukannya televisi yang menayangkan iklan, dimana iklan tersebut dibuat sedemikian rupa untuk membuat realitas yang lebih bagus, lebih indah dan lebih menarik dari dunia nyata.  Hal tersebut membuat orang rela menghabiskan waktunya berjam-jam di depan televisi karena citra yang diterimanya lebih menarik daripada hal hal yang ditemuinya di dunia nyata.  Pikiran orang yang menonton tayangan yang berulang-ulang tersebutpun akhirnya akan secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi kehidupan nyata.  Dimana ide tentang suatu produk (yang ditampilkan secara menarik di dalam iklan) membuat sebuah standar gaya hidup baru yang membuat orang merasa membutuhkan produk tersebut, yang sebelumnya tidak dimilikinya. 
            Pada era sekarang, menurut saya juga terjadi hiperrealitas di sosial media, dimana orang sangat terpengaruh pada citra/imej yang muncul yang direpresentasikan pada akun sosial media.  Realitas menjadi tercampur pada hal-hal yang terjadi di dunia maya dan dunia nyata.  Beberapa orientasi restoran maupun tempat wisata pun berubah dari yang berorientasi pelayanan maupun kualitas produk menjadi berorientasi pula pada bagaimana desain tempat tersebut menjadi menarik untuk diposting di sosial media.  Beberapa pekerjaan juga muncul seiring dengan fenomena ini yaitu social media influencer, selebgram, blogger, vlogger, yang mampu mempengaruhi jutaan follower nya untuk mengikuti standar hidup mereka yang ditampilkan pada sarana sosial media tersebut sehingga membuat mereka menghasilkan keuntungan dari iklan produk-produk yang ditampilkan pada platform tersebut untuk menciptakan persepsi bahwa produk tersebut bagus karena mereka telah menggunakannya dalam kehidupan mereka yang tercitra di akun sosial media mereka tersebut sebagai imajinasi gaya hidup yang ideal.
            Hal tersebut menjadi cermin bahwa apa yang terjadi di dunia maya, dapat merefleksikan hal-hal yang ada di dunia nyata.  Bahwa apa yang dicitrakan seseorang melalui akun sosial media, maupun yang dinarasikan di media massa, dapat membentuk realitas yang dipercayai oleh masyarakat.  Seperti contoh maraknya kegiatan ‘blusukan’ yang disiarkan, diliput dan diulas di media massa oleh para aktor politik akan membentuk opini, bahwa aktor politik tersebut dekat dengan masyarakat, mau mendengarkan masukan masyarakat sesuai dengan citra yang ingin dibentuknya, meskipun pada kenyataannya, belum tentu citra yang ditampilkan ke publik tersebut sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, walaupun, hal tersebut bisa saja sesuai.
            Bahaya lain pada postmodernisme adalah fenomena hoax seperti tertangkapnya kelompok ‘saracen’ dan ‘muslim cyber army’ yang menjadi penyebar berita bohong untuk dikonsumsi masyarakat.  Tentu hal tersebut muncul dari perubahan postmodernisme yang sekarang melihat discourse /pembentukan wacana sangatlah penting untuk menggiring opini masyarakat yang diartikan bahwa mereka yang memiliki andil dalam penyebaran informasi di dunia maya, dapat mempengaruhi kondisi sosial dan politik di dunia nyata. 
Begitu pula pada kasus terakhir yang baru terungkap, yaitu terungkapnya perusahaan Cambridge Analytica, yang menjaring data pengguna facebook, untuk mengumpulkan data demografi, kontak pribadi dan kecenderungan politik seseorang sehingga akhirnya mampu menganalisis bagaimana cara seseorang menyikapi masalah di sekitar mereka, yang disebut penargetan psikografis, dimana akhirnya hal tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Hal ini memperlihatkan terdapat pula dampak negatif dari perkembangan teknologi yang dimanfaatkan manusia yaitu kontrol dari pihak yang tidak bertanggung jawab mengenai bagaimana seseorang dapat berpikir dan membentuk pemikiran mereka sesuai yang diinginkan apabila masyarakat itu sendiri belum sadar mengenai perkembangan teknologi ini.
 Permasalahan Postmodernisme
             Di era postmodernisme, informasi yang dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja dan dapat dihadirkan oleh siapa saja melalui koneksi internet.  Opini akan lebih mudah dibentuk, dibuat, bahkan di rekayasa apabila pembaca tidak benar-benar memiliki kualifikasi untuk melakukan penyaringan terhadap apa yang dibaca.  Walaupun hal ini dapat dicegah dengan hanya membaca pada sumber yang terpercaya, derasnya arus informasi juga tidak menjamin bagaimana validnya suatu berita akan berpihak atau tidak berpihak pada kepentingan tertentu.
            Selain majunya postmodernisme yang memunculkan berbagai macam sudut pandang yang berbeda, yang disebut dengan pluralisme, juga memunculkan masalah baru, yaitu dengan adanya pluralisme ini, akan mengakibatkan tidak ada lagi ajaran sesat karena semua gerakan/pandangan dianggap memiliki perspektifnya sendiri. 
            Pembentukan konstruksi opini publik melalui bahasa (discourse) yang cenderung tidak transparan, yaitu banyak wacana tidak langsung mengungkapkan maksud, tapi sarat dengan retorika, manipulasi dan penyesatan.
 Kesimpulan dan Rekomendasi
             Bahwa gencarnya informasi harus dapat ditangani dengan tidak mudah percaya terhadap kevalidan sumber, untuk itu pembaca harus dapat melakukan check, re-check dan cross-check.
            Dengan munculnya berbagai macam sudut pandang yang berbeda, sehingga menimbulkan berbagai macam pemahaman, masyarakat diharapkan dapat tetap berpegang pada nilai-nilai, seperti nilai agama, etik, moral dan kesusilaan agar tidak mudah tergerus pada ajaran yang sesat atau menyimpang.           
            Dalam pembentukan konstruksi opini publik tersebut, dibutuhkan sikap kritis dan pemikiran yang kritis (critical thinking) untuk dapat mempertanyakan dan mencurigai adanya kepentingan, nilai atau tujuan yang disembunyikan di balik bahasa yang berusaha dikonstruksikan di media massa maupun platform lainnya.
            Sehingga, pada akhirnya perubahan-perubahan yang terjadi dalam postmodernisme yang tidak dapat dielakkan tersebut dapat ditanggapi dengan memperkuat konstruksi masyarakat itu sendiri melalui penanaman nilai-nilai kebangsaan serta edukasi individu itu pada dirinya sendiri agar konsekuensi dari munculnya perubahan-perubahan yang terjadi dapat diminimalisir.

Daftar Pustaka
Haryatmoko, Dr. 2017.  Critical Discourse Analysis (Analisis Wacana Kritis).  Jakarta: PT. Grafindo Persada
Badeni. 2017. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta.
Martono, Nanang.  2016.  Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Posmodern dan Poskolonial.  Jakarta: PT. Grafindo Persada.
Yusuf Lubis, Akhyar. 2016. Postmodernisme: Teori dan Metode. Jakarta:Rajawali Press.
https://tirto.id/the-family-of-mca-terkait-muslim-cyber-army-cFoJ
https://tirto.id/grup-saracen-sindikat-penyebar-konten-sara-pesanan-cveG
https://tirto.id/heboh-kasus-pencurian-data-cambridge-analytica-cGuw

Karina Oktriastra
Bandung, 20 April 2018

repetisi

picture here

yang terulang
pada setiap matahari terbenam
dan meninggalkan dunia

adalah waktu waktu
pandora terbuka dan
mengeluarkan kesedihan
dan jeda jeda kehilangan

yang terulang
pada setiap matahari terbit
dan mimpi menghilang

tidak akan ada kita lagi
tidak akan ada kau lagi
tidak akan ada aku lagi

20 apr 18
*you can stop now

Thursday, April 19, 2018

mimpi dan sadarku

picture here

kau masih berkelana di alam pikirku
kadang singgah pula di alam mimpi
sesekali duduk dan membicarakan hal hal

kadang aku merindu dan mengurungkan niat
untuk memberanikan diri dan mengungkapkan kata-kata
yang aku tau tidak akan membuat hal hal kembali

aku masih berkelana disini
duduk dan menunggu penghujung hari datang
menikmati hal hal
yang tidak ada

dan menantikan hal hal
yang ada dan akan datang

kau adalah arah padaku yang enggan berdoa
dan terpaksa memimpikan hal yang aku tidak inginkan
mungkin aku tidak terlalu ingin
tapi kupikir, tinggal kau yang satu satunya
berada di alam mimpi

19.04.2018

Saturday, April 14, 2018

pada yang tak lagi bermimpi

aku  duduk dan memimpikan genggam tanganmu
sudah lama, semenjak dahulu

duduk dan membicarakan hal hal
hingga kata kata habis
dan wajahmu lelah tersenyum
tapi kau masih cantik saja, sama seperti dahulu, di alam pikirku

cinta ternyata sesederhana itu
seperti penantianku yang sangat lama
sepahit kecewaku yang telah bersabar lama
kepada mimpi mimpiku yang pernah kau patahkan, 
tapi kini kembali kau hidupkan

cinta ternyata sesederhana itu
sesenang melihatmu tersenyum dan kembali
pada bahagia terakhir yang aku tawarkan
pada gelap gelap dan sunyi hidup
aku hanya mampu memimpikan kehidupan
berada di sampingmu

sudah terlalu lama aku menunggu
duduk dan memimpikan kau datang

sudah lama, terlalu lama
hingga kadang aku berlari tanpa henti
tapi di ujung jalan masih saja aku temukan diriku,
menunggumu

cinta kadang sesederhana itu
sesederhana mimpi yang patah
dan akhirnya disentuh keajaiban
akhirnya, aku melihatmu pulang

for my best friend,
congratulations. <3

Friday, April 6, 2018

#dailyjournal : As A Woman

As a woman

we could deal with patriarchy
standing there, try to be loved
as a woman,
we try our best
to be able to raise our future child
and feed them properly
with a better education
better life
than us

as a woman
we also try our best
to get a recognition
from our boss
to make more money
for build us a beautiful house
so we can called it home
but then they called us too ambitious 

as a woman
we learn enough
so we can educate our children
for them not feeling anymore pain
but they called us just concern about our degree
and letting our child rise with a nanny

as a woman
we can do anything
but sometimes
there is a barrier
and a punch to our face
thats everthing is not enough

there is stigma
that we are do harm to society
by feeding our brain
or by ended up divorce in bad marriage
we also the one to blame
when its come to another husband
try to find peace
in their messing home
and another punch from other woman
to blame us
not the other side

because as a woman
we told to be strong and accept
and just be quiet
cause fuckin society tell us

as a woman,
you should stay quiet 
and do everything
what people telling you
or they will call you a rebel 
and never heard them
Bandung, 5 April 2018


Thursday, April 5, 2018

what i talk about when i talk about april

*pardon my confidence to show my rough sketch 😂

#1

aku suka heran dengan orang orang yang suka bertanya dan menepikan orang yang sendiri, sebagai mana aku, sebagai introvert yang senang berpura pura menjadi ekstrovert, aku senang sendirian, ke tempat menonton film, biar aku bebas sesukaku menonton semua film, ke toko buku, biar aku betah berjam jam, atau ketika ingin, menghabiskan 5 menit melihat display kemudian pulang.  bertahan dengan orang lain mungkin akan membuatku menghabiskan beberapa jam saja, terutama karena aku adalah orang yang 'segan' dan 'mengerti' kalau orang lain juga butuh waktu untuk hal hal lain dan aku tidak mau mengganggu, seperti aku tidak mau orang lain mengganggu waktu waktu ketika aku ingin sendirian dengan pikiranku.

berada di kota asing, dan benar benar sendiri, tanpa ada teman adalah kenikmatan sendiri untuk orang sepertiku, aku bebas, kemana saja dan tersesat, pake google maps, tersesat yang bukan saja sekali tapi berkali kali.  Anehnya, aku bahkan tidak terlalu tertarik untuk keluar kos setiap hari, seperti pikiranku sebelum berada disini, kadang aku hanya menikmati waktu di depan layar komputer, membaca, tidur, makan, sepertinya benar-benar berada dalam cangkangku sendiri.  Kembali ke kampung halaman, rasanya aku selalu sibuk, beberapa jam saja sendiri di kamar atau di rumah, aku akan gelisah, ingin pergi kemana-mana, ingin keluar, ngopi, ketemu teman, merencanakan perjalanan, akan tetapi disini, di tempat yang bisa dikatakan pelarian ini, aku malah senang bersantai-santai, dan selalu betah berjam jam tanpa melakukan apa apa yang berarti.  senang rasanya hidupku akhirnya merasakan juga fase yang seperti ini, fase yang aku idamkan selama ini. selepas sma, aku langsung masuk ke asrama yang ramai, tanpa privasi dan waktu untuk diri sendiri.  selanjutnya langsung bekerja pagi-sore dan nongkrong di malam hari, rasanya begitu padat, bukannya aku tidak senang, aku senang sekali dengan kesibukan, huru hara kesana kemari mencari sesuatu hal yang menarik untuk dilakukan.  Tapi kali ini berbeda, aku bisa menikmati kehidupan perkuliahan di kali kedua dengan lebih pelan-pelan, tidak terikat waktu kuliah di hari kerja maupun jam jam panjang, berganti jam jam singkat, dosen-dosen yang lebih mengarahkan dan memacu untuk mencari pengetahuan yang lebih luas bukan hanya belajar pada materi teks kelas.  

Aku jadi berandai, jika saja dulu salah satu hubunganku berhasil, dimana aku dari dulu entah kenapa selalu bercita cita untuk bisa belajar dan kuliah di kota lain, partnerku justru melarangnya karena ingin perempuan yang 'di rumah', fokus mengurus anak, dan 'gak bisa ditinggal'.  Ucapan yang sempat membuatku mengernyit dan meragukan semua hubungan itu dulu.  Betapa lucunya kehidupan, bertahun tahun kemudian, dia akhirnya menikah dengan orang yang berbeda kota dan hanya mengunjungi pasangannya di waktu weekend, jadi pengen becandain 'makanyaaa' tapi enggak, aku gak sepicik itu kok.  Aku tau orang bisa berubah, dan tidak semua dari kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, kan?  Aku oke oke saja. 

hal lain kadang juga membuatku mengenal ulang diriku sendiri, seperti didekati seseorang, padahal aku lagi sendiri, malah membuatku semakin berhati hati, bukannya takut gagal, kadang aku hanya ingin membiarkan waktu memproses dan menguji perasaan itu sendiri.  Aku tidak akan kemana-mana jika memang belum waktunya. padahal dulu mungkin aku akan oke oke saja memberikan kesempatan dan menghabiskan waktu dengan orang yang tidak benar benar aku inginkan, tapi sekarang rasanya kesepian dan waktu sendiri tidak semenyeramkan itu untuk aku korbankan hanya karena 'harus' terlihat tidak sendiri dan menjawab orang-orang yang bertanya tanya mengapa aku masih sendiri, yang lebih ekstrim malah yang menodong untuk segera menikah.  hal itu masih membuat kesal sih sampai sekarang, tapi ya sudah, kadang-kadang aku paksa saja pintu maaf itu terbuka untuk orang-orang yang akal pikir dan hidupnya sempit itu, dan sebisa mungkin menghindar, like, go away, find someone else to spill your tiny thoughts with.

Beberapa hal juga kadang begitu menguji kesabaran, seperti untuk memaki orang yang seenaknya menuduh dan berbicara macam-macam.  aku akui, salah satu kelemahanku adalah kesabaran kalau sudah dikonfrontasi secara langsung, orang bisa saja melakukan hal buruk kepadaku tapi akan aku diamkan dan biarkan, tapi jika dikonfrontasi secara langsung, aku begitu cepat kehilangan kesabaran, apalagi mengatakan hal hal dimana otakku bilang adalah hal-hal yang menghinakannya, tentu sebelumnya juga akan berpikir keras memikirkan kata kata yang akan membuatnya paling merasakan sakit, seperti yang ia lakukan kepadaku.  Karena kau bisa saja mengatakan A dan orang tidak akan bereaksi apa-apa, tapi kau bisa mengatakan B dan membuat orang lain kehilangan kesabaran.  Terkadang, aku tahu dan merasa kalau aku sudah akan kehilangan kesabaran, malah aku membiarkannya lepas, dan sama sekali tidak malu akan itu.  Aku akan paling lantang bersuara apabila telah diganggu, karena aku tidak mau hal itu terjadi kembali, terutama apabila orang itu masih mencariku dan memang mencari gara-gara.  

Aku pikir, kelemahan ini juga terbawa ketika dulu aku pernah sparing. Pelatihku bahkan melihat gelagat itu dan menyuruhku mengontrol emosi, meskipun hal itu memang sangat bagus untuk pertandingan, tapi kadang-kadang, aku hanya tidak sungkan mengorbankan hal hal lain untuk hal hal yang memuaskan hati itu.

Yah, aku memang harus banyak belajar untuk berlatih kesabaran, dan menyeleksi hal hal apa yang pantas untukku respon dengan keras.  Tapi untuk beberapa hal dan situasi tertentu, rasa rasanya jadi rendah dan sedikit licik dan picik itu juga baik.  So maybe i can make my own peace and deal with it.

voila.
10.28
5/4/18

Tuesday, April 3, 2018

Tentang Orient #1

Cafe itu lengang siang itu, mejanya terbuat dari kayu dan segelas cappucino panas terletak di atas meja. Kau duduk di hadapanku, sambil menyenderkan kedua tangan menghadapku. 

“Aku membelikanmu jaket kulit, pasti kamu suka” ujarnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyum sedikit dan melihatnya. Kemudian memutar-mutar cangkir. Dia berbicara lagi, tanpa kehilangan antusias.

“Nanti kamu mau naik gunung lagi kan, pasti dingin. Kalau pakai jaket ini akan ingat aku”

“you wish” aku menjawab sekenanya, sedikit senyum dan canggung.

dia tertawa.

Entah kenapa, dengan dia, aku tahu, dia sangat menyukaiku, terlepas aku tidak pernah menanggapinya dengan serius. Tapi dia selalu ada, menemaniku mengobrol berhari hari, pergi ke laut, gunung, camping berhari-hari.

Dia adalah orang yang bersih, rapi. Kalau camping adalah yang membawa barang yang paling banyak, memikirkan orang lain. Lalu dia juga orang yang peduli dengan timnya, memperhatikan satu-satu kebutuhan orang lain, kemudian juga begitu royal dengan uang dan tidak akan keberatan membelikan teman temannya barang-barang yang dibutuhkan. Dia juga orang pertama yang akan bergerak jika melihat ada kebutuhan kelompok yang kurang.

Kadang aku mencarinya juga dan menjemputnya kalau aku punya masalah dengan orang lain, kemudian tahan mendengarnya menggodaku (sepik sepik bercanda :p) seharian. Kadang juga jika aku mempunyai masalah, aku akan bilang kepadanya, kemudian kami hanya diam, ngopi dan aku akan tenggelam dalam pikiranku, dia tidak akan menggangguku dan akan memakluminya.

Aku senang bersamanya, aku tau, dia adalah orang yang menyukaiku, mendengarkan semua ceritaku dengan sabar dan melihatnya sebagai hal yang menarik, entah kenapa aku melihat dia adalah orang yang mengagumiku, senang rasanya dilihat sebagai orang yang dikagumi orang lain, dimengerti, dilihat sebagai orang yang ‘cool’ dan ‘tidak seperti orang kebanyakan’, juga ‘seperti itu juga yang ada di pikiranku, kenapa banyak orang yang tidak mengerti-’ di saat tidak semua orang mampu mengerti dan melihat pandangan dan cara cara kita melihat dunia. Dia adalah orang yang beberapa kali memujiku dan terdengar di telingaku begitu tulus.  Dia adalah orang yang ahli memberikanku kata-kata penyemangat dan selalu yakin akan apa yang aku lakukan.  Dia selalu percaya aku akan berhasil dalam hal hal yang aku lakukan.  Dan hal itu benar-benar membuatku bersemangat pada saat sedang down atau tidak percaya diri.

Dia bukan tipe orang yang membuatmu jatuh cinta yang dalam. Tapi dia orang yang membuatmu merasa begitu dicintai kau hampir merasa bersalah akan itu dan membuatmu terbersit pikiran bahwa dirimu sebenarnya tidak seberharga itu, terlebih, tidak dapat membalas perasaannya sebanyak yang bisa dia berikan.

Jika ingin dirunut pada pertama kali aku bertemu dengannya, adalah pada saat aku sedang berada di masa-masa akhir pendidikan. Tidak ada manisnya sama sekali-menurutku. hahaha. Rambut pendek, seperti laki-laki, kumal dan baru putus cinta. Aku saja heran bisa-bisanya dia menyukaiku saat itu, saat aku sedang merasa sangat tidak menarik.

Kala itu, aku dikenalkan teman lamaku dengannya, kalau tidak salah karena aku beberapa kali memasang quotes galau ala ala baru putus cinta di status blackberry messenger. Dan temanku, yang sudah lama tidak bertemu kemudian mengomentari dan menyuruhku untuk berkenalan dengan temannya.

Entahlah, kala itu aku sedang merasa ‘kosong’ karena baru beberapa minggu putus cinta dan sedang tidak menghubungi siapa-siapa. Dan kami pun bercakap-cakap, lewat sms.

Aku kadang membalasnya dengan sekenanya saja. Percakapan basa basi sekedar ingin tahu tentang apa yang sedang dilakukan, kapan keluar asrama, dst.

Kemudian di suatu minggu akhirnya kami memutuskan bertemu dan makan siang, bersama teman lamaku. Aku masih ingat detailnya, karena aku begitu kaku dan tidak tahu mau ngomong apa. Dia membawa beberapa temannya, teman lamaku juga hadir, yang merupakan sahabatnya. Aku datang sendiri dan mereka bercakap-cakap tentang hal-hal yang tidak begitu aku ketahui, dan hanya mencoba masuk dalam percakapan dengan canggung.

Entah kenapa, aku sedikit senang saat itu, senang karena akhirnya aku merasa dikelilingi orang-orang lagi setelah fase-fase putus cinta yang cukup berat untukku. hahaha. Teman-temannya juga orang yang seru dan asik diajak ngobrol, mereka juga sangat welcome dan mengajak aku untuk ikut lagi kapan-kapan.

Kemudian selanjutnya kami hanya pergi berdua, dengan motor besarnya. Entah kenapa aku suka dengan laki-laki yang mengendarai motor besar, apalagi warna merah saat itu. Cukup seru dan terlihat oke’ saja kalau dia harus ribut-ribut dengan suara motornya menjemputku di asrama, yang sudah pasti akan dilihat orang dan membuat teman-temanku bertanya tanya. Padahal motor besarnya itu sering juga masuk bengkel dan susah distarter. hahaha.

Akhirnya tak berapa lama sesudahnya tentu kami jadian. Aku lupa bagaimana detailnya cara dia menyatakan cinta, tapi. itu lewat sms…

Sempat terbersit di pikiranku untuk menolak orang yang menyatakan cinta lewat sms, mungkin dia tidak berani untuk berbicara langsung denganku. Beberapa momen bersamanya juga masih canggung dan aneh, menurutku. Tapi karena saat itu aku sedang tidak dekat dengan siapa-siapa lagi aku menerimanya. Saat itu aku sedang merasa sangat kesepian karena kehilangan orang yang sering bersamaku, mantanku yang sebelumnya.

Di benakku langsung terlintas kata ‘pelarian’. Menerimanya padahal saat itu hatiku tidak merasakan apa-apa sama sekali, hanya lawan bicara, teman makan dan menjemputku sepulang asrama. Saat itu dia cuma sebagai ‘orang yang baik’ dan ‘teman’.

Aku sadar aku tidak pernah benar-benar menjadi pacarnya, tidak pernah benar-benar menjadi orang yang menginginkannya seperti aku menginginkan pacar-pacarku yang lain. Tidak pernah memikirkan benar-benar bagaimana cara membuatnya senang dan apa yang diinginkannya.

Pada saat dia berulang tahun, aku memberi hadiah hanya karena dia memintanya.

Aku benar-benar dingin saat itu, karena memang tidak merasa terlalu cocok dengannya, aku juga tidak terlalu menyukainya dan meladeninya sekenanya. Aku tidak pernah benar-benar menyimak apa yang dikatakan, saat itu, pikiranku masih terisi dengan sosok mantanku sebelumnya.

Hingga suatu saat dia menjemputku di asrama dan mengajakku makan, aku hanya mengiyakan, dan tiba-tiba dia mengajakku ke restoran dimana aku dulu sangat sering kesana dengan mantanku. 
“Makan di tempat lain aja”
“Loh, kenapa emangnya?”
“Gapapa, di tempat lain ajaaa”
“Disini ajalah, apa dulu alasannya gak mau kesini?” tanyanya penasaran.

Aku diam. Dan selanjutnya dia duduk dan makan. Pada saat itu rasanya aku ingin pergi, tapi mengingat dia yang menjemputku maka aku urungkan niat.

Kemudian dia memilih tempat, sama seperti tempat yang dulu aku sering makan, dengan orang lain. Entah kenapa sepanjang kami makan yang aku ingat cuma mantanku itu, caranya tertawa dan melemparkan bercandaan tentang hal hal konyol, kepalanya yang plontos dan botak. Memori-memori itu terus berputar di kepalaku.

Saat itu, begitu pulang, sampai ke rumah.

Aku langsung mengiriminya pesan. 

Memutuskannya.
picture from here