Monday, September 26, 2022

Perjalanan Cari Makan #pontianakfood

 

Nasi Goreng Teriyaki Pedas @Narkopika Pontianak

Marugame Udon

Katsu @Kimukatsu

Soto Daging Oseng @Rumah Soto

Ayam Bakar Kak Tima

Bubur Daging Pelabuhan

Semenjak dewasa *cieh dan punya uang sendiri. Makan siang/malam atau cari makan mungkin jadi salah satu ritual yang menyenangkan sekaligus bikin pusing.  Kadang muter-muter gak jelas sampai tau mau makan apa, atau malah akhirnya jadi ya udah ke tempat yang udah sering aja.  Kadang juga coba eksplor tempat baru, walau kadang juga jadi kecewa karena gak sesuai dengan apa yang dibayangkan.  Kalau cari tempat makan sendiri, harus mikirin juga tempatnya yang nyaman, biasanya agak pricey, tempat yang agak lebih luas, biar makannya bisa berasa lebih privat sambil sedikit bengong.  Kadang kalau lagi muter muter selalu mikirin dan bayangin pengen apa. Tiba-tiba di otak terlintas aja gitu pengen ini, terus pergi deh. 

Itu kalau lagi cari makan sendiri, belum lagi drama kalau makan sama temen. Kadang kesel nggak kesel sama jawaban 'terserah', yang bikin menduga duga walau kadang salah, ditawarin tapi mau yang lain. Haha. Penuh drama. Kadang bete gak mau ikut temen, kadang juga jadi nemu tempat makan favorit baru karena terpaksa.  Perjalanan cari makan memang selalu jadi pengalaman tersendiri. Muter muter sampe capek sampe ketemu tempat yang sesuai mood, atau bolak balik cek tempat makan karena penuh kalau lagi rush hour kayak malam minggu, atau jam makan siang. Beberapa tempat ada yang enak, tapi belinya gak pakai antri dan pegawainya kurang ngeh sama siapa yang dateng duluan jadi bikin bete duluan, ada tempat yang enak tapi terlalu mahal jadi rasanya sayang kalau sering, ada tempat yang enak tapi karena minyaknya rada item berasa guilty makan disitu, ada yang rasanya enak tapi entah kenapa tiap pulang makan disitu beberapa kali sakit perut. Haha. 

Perkara nemuin tempat makan mungkin cocok-cocokan, kadang cocok, tapi mungkin lagi pengen makan yang lain, kadang tempatnya nyaman, tapi suka ketemu pegawai yang ngeselin. Yah, mungkin kayak jodoh juga. Siapa yang pernah benar benar tau? 

Thursday, September 15, 2022

i want to die but i want to eat tteokpokki #bookreview

   

Perasaan-perasaan ganjil sering berseliweran di kepala. Hati yang kacau balau. Kejadian kejadian yang terjadi saat ini, situasi yang tak sesuai dengan harapan. Kadang membuat perasaan jadi blues, entah sementara, entah datang beberapa waktu. Faktor eksternal, yang memicu perasaan itu datang, juga kadang memberi andil yang membuat perasaan itu betah dan berlarut-larut. Kemudian ketika ada sesuatu yang baik terjadi, ternyata kekosongan itu bukan hanya mampir. Tapi datang dan telah berlarut. Tiap hari akan datang alasan baru, mungkin. Percuma menyalahkan siapa dan apa. 

Mungkin di buku ini, percakapan antara penulis dan psikiaternya, membuatku merasa tak sendiri lagi dengan perasaan yang ganjil itu.  Ada sedikit kelegaan sekaligus kekhawatiran.  Perasaan itu tak akan pernah benar benar pergi. Aku tau ia akan datang lagi suatu saat nanti. Kadang pula ia jadi pecut, agar aku bekerja lebih keras, mengobati diriku sendiri.

Buku ini termasuk self-development: mengetahui dan mengenali diri sendiri. Untuk meyakinkan diri sendiri sekali lagi? bukan menyerah kan, yang kau inginkan? cobalah sekali lagi. mungkin suatu saat dari ribuan usaha yang kau lakukan untuk sembuh, akan ada satu yang mengantarkanmu pada suatu keberhasilan yang manis.  Dan hiduplah, hiduplah untuk hal kecil, nantikanlah hal manis sederhana, di ujung hidupmu. Setidaknya, kau akan mengenang, kalau kau pernah berjuang begitu rupa. Bahwa meskipun mungkin di ujung hari kau akan mati dan tak jadi apa-apa. Kau telah bertempur dengan upaya terbaikmu.  Dan tak ada lagi yang kau sesali.

Semoga kita bisa terus bertahan, satu hari lagi, satu nafas lagi.

15/09/2022

Tuesday, September 13, 2022

My Unfamiliar Family (2022) #reviewdrakor


My unfamiliar family

Kayaknya udah agak jarang nonton drama korea yang slice of life, apalagi tentang keluarga.  Beberapa filmnya Han Ye Ri sebelumnya , khususnya Hello My Twenties, emang jadi salah satu drama korea yang aku suka soalnya ceritanya gak terlalu banyak drama yang heboh banget, cuma masalah hidup hari hari aja. Yang mungkin, bisa jadi agak membosankan gitu, tapi aku suka karena plotnya lambat dan dinikmati aja gitu, nonton hidup orang lain yang sebenernya hari hari berjalan lambat dan biasa saja menghadapi konflik-konfliknya.
 

Di drakor ini, sedikit banyak mengeksplor tentang bagaimana, orang biasa, dengan perspektif anggota keluarga, menghadapi masalah. Apakah kau akan merahasiakannya, agar tak membebani pikiran keluargamu, atau kau akan menceritakan semuanya? Sejauh apa batasan dalam keluarga? Dan ada line yang diulang dua tiga kali dalam drama ini, "memangnya dalam usia segini (30an) kita masih membutuhkan keluarga?"

Keluarga di korea kelihatannya dingin dan menyimpan banyak rahasia dalam drama ini, ego seorang ayah yang menafkahi keluarganya, ingin bertanggung jawab terhadap semua beban. Dengan caranya masing-masing, mereka melindungi dan menyayangi keluarganya.  Mungkin dengan perhatian setiap saat, mungkin bukan dengan pelukan hangat, tapi dengan caranya masing-masing.   Tumbuh dengan luka sebagai seorang individu, dengan kenangan-kenangan yang menyakitkan dan membahagiakan sedari kecil. Tidak mungkin tak pernah terluka, atau tak mungkin sepenuhnya berbahagia. Tapi kemudian, bagaimanakah cara melanjutkan hidup setelah semuanya berlalu dan terlewati.  Bagaimanakah tetap berjalan dengan luka-luka, tetap menanggungnya, atau mungkin melampiaskan amarah dan kekesalan, atau tangisan tangisan maaf. Dimana pada akhirnya, beberapa akan melanjutkan hidup seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa saja. Berharap waktu, akan menyembuhkan, atau mungkin, membuatnya jadi borok yang membusuk hingga akhirnya, harus ada sesuatu yang dilakukan, untuk berubah, membuat suatu keputusan untuk semua. 


*8/10