Wednesday, October 30, 2019

A Day With Bapak

One day dad asked me to accompany him to a new place, he said he want to see a light house. 
So here we go! 




lighthouse

its near the shore
guiding the one who lost
to find a way
keeping a little road

to home
where our heart stays

please be the one 
who always be there
no matter how hard
wave and storm comes

through the darkest times
through the hard times

a father figure will always be
a daughter's first love
even love sometimes be 
so hard to see

times make it all tested
rain and dark
home always keep the light

to nurture you
to let you grow
through the hard times
through the difficult situation

home will always be
two warm person who always
accept and love you
for whatever you do

they will feels sad and touched 
when life gives you a hard times
feeling your feeling
seeing what you see

please always coming home
when the lighthouse
lead the way
so we dont lost
so we dont lose

...
Pontianak, 28 Oktober 2019






Wednesday, October 23, 2019

hal hal yang tidak mungkin aku tolak



untuk sore

pada hari hari dimana gerimis selalu datang
tepat pukul tiga sore hari
saat kita berjanji bertemu
sepulang kerja dan kegiatan sehari hari

di coffeeshop dekat rumah
berbincang dan berbagi tawa
tolong katakan kau tidak lagi jatuh cinta
agar aku bisa sedikit demi sedikit lupa

beranjak dan tak ingin bertemu
pada percakapan yang tidak habis habis
dan minuman yang tidak pernah selesai kau teguk
pada air yang tak pernah memuaskan dahagaku

kembali lah datang esok pagi
saat sepi terlalu riuh dan ramai membuat senyap telingaku
karna pada saat kau hadir datang meredam, semua duka lara padam,
dan kau, tidak lagi mungkin aku tolak.

...

hal hal yang terlalu

percakapan pertama setelah berapa waktu berlalu
mudah saja kau berkata kata
tentang rasa yang kau pendam lama

sialan
ini hanya tentang kita berdua
sedikit saja yang kopi ini kuminum
sedikit saja yang kan kukenang

sebelum aku pergi dan akan kulupakan
minggu depan aku berjanji katanya
kau tidak akan lagi kukenang
takkan lagi kusimpan simpan

aku akan memulai yang baru
dan semoga takkan lagi ingat kamu

pergilah kataku
cintamu sudah terlalu
artinya sudah tak perlu
mengulang ulang ragu

minggu depan,
kau akan kukenang
sebagai orang yang terlambat datang

...

andai saja

bagimu hanya petualangan
yang menantang
seperti degup jantung
yang takut ketahuan

bagiku ini masa depan
tentang hubungan yang menyenangkan
dan hal yang tidak ingin aku hancurkan
hanya untuk hal hal yang tak lekang

tapi bagaimana jika saja
kita bisa bertahan,
sebentar saja
menguji,
apa yang ada

bisakah kau
menolak hal hal
yang kau inginkan
yang kau idamkan

sejak lama
sejak pertama kalinya

kita berjumpa.
dan kau tersenyum
.
andai saja
aku bertemu kau
lebih dulu

andai kau tau
degupku berhenti
tenggelam
pada matamu

sejak pertama
sejak kali pertama
...

kemungkinan kemungkinan

balaslah rasaku nanti
ketika kau senggang,
ketika kau sempat
cintaku sabar dan tak terburu buru

ia sedang bijak dan tak apa menunggu
karna sudah ratusan purnama
ia tidak mendapat cinta sepertimu

tunggulah rasaku nanti
ketika kita bertemu
pada ratusan kiriman kata kata dariku
yang entah kau baca atau kau skip saja

tapi aku tak apa
dirimu pantas ditunggu
cintamu layak membuatku terjaga
lebih baik daripada malam malam
ketika kau tiada

kembalilah ketika kau sempat
ketika kau akhirnya yakin ingin aku

dan aku akan melakukan semua cara
memutar otak dan mencari jalan keluar

tentang bagaimana akhirnya kita akan menang
melawan kemungkinan kemungkinan

...
pontianak, 23 oktober 2019

Thursday, October 17, 2019

cara cara untuk tidak jatuh cinta #11

Baru gelas keempat dan wajahnya mulai kemerahan dan tersipu,

"kamu jangan minum banyak-banyak" katanya

aku tertawa

"yang merah kan, mukamu"

ia tergelak, kemudian memegang tanganku.  Kami ke bagian tengah taman yang terhampar langit luas.  Udara sedikit dingin dan menusuk, tapi kami masih sedikit berkeringat karena minuman tadi.

Ia berbaring menatap langit, kemudian aku menyandarkan kepalaku di perutnya.

"aku kira aku telah menemukan orang yang menjadi soulmateku!" tiba tiba dia membuka percakapan.  Aku kembali tertawa hingga sakit perut.

"aku selalu mendengar ini setiap kali tidak melihatmu dari beberapa waktu yang lama" ujarku.

"aku sudah bosan mendengar keyakinanmu, aku akan kembali menunggu cerita patah hatimu yang aneh aneh dengan wanita wanita ajaib itu lagi" lanjutku.

"Hahhaa. Iya iya, aku tau, aku hanya terlalu hopeless.  Aku mengatakannya agar aku bisa mendengar diriku meyakinkan diriku sendiri" katanya.

"Bagaimana denganmu, sudah jatuh cinta lagi?" lanjutnya.

"Sudah, yah, baru dekat.  Ada seseorang yang mengungkapkan perasaannya kepadaku, aku pikir, tidak ada salahnya untuk membolehkannya masuk, aku selalu heran dan terpukau dengan lelaki yang bisa sabar menghadapiku" ujarku sambil tertawa.

"Hahhaa. Kau tidak pernah berubah. Terlalu praktis.  Dasar tidak punya perasaan" katanya.  
Walaupun aku tidak melihat wajahnya, aku tau dia tergelak dan menggeleng.

"Bukan begitu, aku hanya, ingin menikmati saja apa yang ada di depan mata, masa lalu telah lewat, dan masa depan terlalu jauh, aku hanya ingin berbahagia dengan apa yang ada" ujarku membela diri.

"Kau tau, menurutku kita harus mencari pasangan setidaknya memiliki dua hal"

"apa?"

"Yang pertama, ia harus bisa kita ajak bicara, boleh saja ia tidak terlalu cerdas, tetapi kalian harus bisa berbicara dengan satu sama lain setidaknya tidak putus selama berhari hari dan masih tidak kehabisan bahan pembicaraan"

"lalu?"

"Yang kedua, ia harus sexually attractive, gak perlu dari mata orang lain, cukup dari apa yang kau lihat, ia harus mampu membuatmu tertarik"

"ya ya, teori yang bagus"

"karena pada akhirnya nanti jika kita tua dan tidak lagi bisa apa-apa, tentu yang tersisa hanya percakapan-percakapan tentang hal remeh temeh. Haha. Bagaimana, Diara, sudah ketemu orang dengan dua kualifikasi di atas?" 

"haha. belum, i think its still one or another"

ia mengacak acak rambutku.

"aku punya pertanyaan"

"ya?"

"apakah kau pernah punya perasaan kepadaku?"

jantungku terasa berhenti, sebentar.
aku pura pura tidak mendengarnya.

"yang kau tanyakan kepadaku waktu liburan terakhir kita cuma main main kan? 
kamu mau jadiin aku bahan bercandaan kan"

mendengar ia mengucapkannya tiba tiba membuat dadaku sesak. 
aku masih pura pura tidak dengar dan menatap langit, tapi tidak ada apa-apa disana. 

ia membetulkan posisi duduknya dan melihat wajahku.

aku memalingkan muka.

setelah hening yang terlampau lama. aku rasa aku tidak tahan lagi.

"aku serius"

kini, gantian ia yang tidak bisa berkata-kata.

Hening sudah cukup lama dan aku rasa aku sempat tertidur sebentar bersandar padanya karena pengaruh minuman itu, kemudian aku terbangun.  Ia masih menatap langit.

Aku memegang gelasku, kemudian ia beranjak dan menuangkan minuman itu lagi.

"kau tau, aku punya teori tentang gelas!" aku melihat situasinya kembali normal dan ia memperlihatkan wajah isengnya lagi.

"oke, aku mendengarkan" ujarku sambil menyeruput minuman itu sekali lagi.

"jadi, sebenarnya dalam hidup kita memerlukan gelas, untuk menikmati minuman kesayangan kita berdua ini" ujarnya sambil mengangkat botol itu tinggi tinggi.

aku tertawa.

"nah, gelas ada bermacam-macam, kadang-kadang untuk pamer, dan estetika, terutama kau" ia menggodaku;

"pasti memilih gelas kaca yang berkilau, cantik, lucu, instagrammable untuk kau post di instastory-mu itu" katanya dengan muka iseng.

"Tentu! kita punya pilihan untuk memilih yang kita suka dong" ujarku membela diri.  "aku suka, hal hal visual"

ia melanjutkan,

"tapi tentu, kau tau, gelas kaca itu gelas yang rentan! mudah pecah! pada akhirnya kau akan membeli gelas plastik.  Kau tau kau aman, meminum apa saja bahkan ketika kau pusing setengah mati, harganya juga murah! kau bisa beli beberapa.  Kau tidak perlu takut pula menjatuhkannya sesuka hati.  Kau akan percaya kepadanya, percaya bahwa ia tahan banting, selalu ada, meskipun kau tidak terlalu menyukai tampilannya.  Tapi kau tau ia bisa diandalkan!"

aku tergelak, ia memang juara kalau membuat analogi yang aneh-aneh.

"oke, aku terima teorimu, jadi, pada akhirnya, meskipun kau menyukai gelas gelas kaca, kau tau kau akan mengandalkan gelas plastik yang tak terlalu indah itu untuk dirimu?"

"iya, aku akan memilih gelas plastik" katanya sambil menerawang.

"oke, aku hargai pilihanmu, tapi kau tau, aku akan memilih gelas kaca, karena aku menyukai tantangan, menurutku hidup cukup singkat, dan kita tidak akan pernah benar-benar bisa berbahagia seutuhnya, dan selama-lamanya, aku akan bertahan dan menjaga gelas kaca, walaupun ia rentan, walaupun ia mudah pecah, walaupun aku butuh ekstra hati-hati"

"tapi kemudian kau akhirnya tidak akan pernah benar-benar menikmati minumannya, Diara. Kau lupa, kau membeli gelas itu karena kau sedang haus dan ingin minum" ujarnya lirih meracau.

Aku tertegun dan memandang wajahnya yang tampak muram.

Entah kenapa tiap kali memandangnya, aku selalu merasakan kesedihan, seperti di balik tawa dan keisengannya, ia selalu menyimpan kesedihan yang ia tutup rapat-rapat.  Atau entah perasaanku saja.

Aku melihat jam. 

"Kau sudah harus bersiap, penerbanganmu sebentar lagi"

aku beranjak, kemudian berkemas.

Ia mengambil tasnya, dan membereskan barang-barang.  

"aku pergi dulu, kau siap-siap sana" ujarku.

"oke, hati hati pulangnya"

kemudian aku pergi.

...

Jalanan sudah gelap ketika satu pesan masuk.

"Terimakasih, Diara.  Sampai bertemu lagi"

Aku hanya mengetik oke. Dan meletakkan handphone.

...

Andai kau tahu, buatku, kau selalu jadi gelas-gelas kaca itu, Ksatria.
dan aku, tidak pernah perduli apa yang aku minum.

...

Pontianak, 17 Oktober 2019
#timetravelerseries

Tuesday, October 8, 2019

Kunjungan Sore #timecapsule10

"jadi, kamu sebenarnya mencari yang seperti apa?"

"seperti kamu, aku mau yang sama persis seperti kamu"

ia tertawa tergelak, mengusap-usap kepalanya yang tidak gatal.

"kamu tau kita tidak akan mungkin, Diara"

"iya aku tau, aku hanya ingin mendengar kau mengucapkannya berulang-ulang sampai aku bisa"

Ksatria menghela nafas panjang.  Bingung bagaimana lagi caranya menyakinkan gadis keras kepala yang berada di hadapannya ini.

"Tidak ada yang memahami aku seperti kamu, Ksatria"

"Itu sudah pasti Diara, aku telah mengenalmu terlalu lama, kau telah mencintaiku terlalu lama hingga kekurangan-kekuranganku sudah terlalu biasa kau terima, kemudian kau jadi buta, dan tuli" Ksatria tergelak, Diara bersungut.

"tidak ada yang bisa aku cintai lagi, setelahmu Ksatria..."

"bohong, buktinya, kau telah punya orang lain"

"tetap saja, tak sama sepertimu, aku... tidak punya rasa sepertiku padamu, padanya"

Ksatria menatap Diara dengan tatapan yang ganjil, seperti kabut rasa bersalah yang sudah tidak mampu lagi ia hapus di matanya.

Kemudian ia menatap Diara dengan lembut.

"maafkan aku, Diara.  Tapi kau harus belajar, kau harus terus belajar, untuk berbahagia, untuk mencari bahagia, dengan orang lain, dengan hal hal lain, dengan apa apa yang terjadi di hidupmu sendiri"

"tapi kenapa, Ksatria, kenapa? Sejak bertahun tahun yang lalu, aku selalu menanyakanmu kenapa, tapi kau tak pernah menjawabnya dengan benar"

"kau hanya tidak pernah mendengar dengan benar, Diara.  Semuanya telah ada di depan matamu, kau hanya tak pernah mau melihat"

bulir air mata tiba tiba jatuh dari mata coklat Diara yang telah dari tadi berkaca-kaca.

"ini sudah akhirnya kah, Ksatria?"

"ini bisa juga awal untukmu, jika kau mau mencoba, jika kau mau berbahagia kembali. Ingatlah semua, sesekali, kau boleh pula menangis, mengenang aku, mengenang kamu, mengenang semua hal yang indah-indah itu.  Tapi itu semua hanya masa lalu Diara, di masa depanmu sudah tidak lagi ada aku.  Aku hanya hidup di masa-masa itu, di pikiranmu.  Aku akan selalu ada, dengan cinta dan kasih sayang dan memori berbahagia, aku siap menunggu, tiap kali kau butuh oase dan tempat untuk bercerita tentang apa apa yang terjadi.  Tapi kau juga harus bisa mengerti, kau pantas untuk hal hal yang baik, kau pantas untuk berbahagia dan dibahagiakan.  Aku akan tetap disini, di kenanganmu, terus hidup dan akan selalu punya ruang di ingatanmu.  Kapanpun kau ingin, kapanpun kau mau"

Diara menyeka air matanya. Meletakkan buket bunga warna biru, warna kesukaan Ksatria. 

Aku akan kembali lagi, Ksatria, aku berjanji.

Aku akan mencoba berbahagia.

Perlahan ia meninggalkan pusara itu. Berharap suatu saat ia akan punya keberanian yang lebih, untuk menerima, untuk merelakan lelaki itu pergi.  Berharap suatu saat ia datang ke tempat ini, dan hanya ada senyuman, hanya senyuman, bukan mata yang sembab mengadukan semuanya, seperti dulu. 

Seperti dulu.


#timetraveler
Pontianak, 8 Oktober 2019

ps : yang ke #9

Saturday, October 5, 2019

Pesan Pukul Tiga Pagi

pukul tiga pagi adalah waktu,
ketika setiap orang telah lelah berkata-kata.
dan kalimat tidak lagi punya makna untuk menerjemahkan apa-apa.
kau telah pada puncaknya lelah, berpura-pura.

pukul tiga pagi adalah batas-batas kesadaran,
mengekang pikiran untuk tak lagi menuruti kata hati yang meronta,
ingin jujur dan memberitahumu sebuah rahasia.

"andai saja kau, yang disini bersamaku"

sebuah pesan singkat yang kau terima,
yang masuk hanya untuk kau tutup,
yang hadir untuk kau absen dan ingin jadi lupa.

sebuah pesan singkat yang punya seluruh makna
sekaligus tidak berarti apa-apa.

pukul tiga pagi setelah kau baca berkali-kali.
menyeka sisa-sisa rasa.
kau menutup pesan itu.

dan mencoba melanjutkan hidup
kuharap bisa, melanjutkan hidup.

...
Pontianak, 5 Oktober 2019

Cara Untuk Tenang.

Terkadang aku harap aku bisa melihat kegaduhan yang terjadi di kepalaku dan menertawakannya habis-habisan.  Atau seperti mendengar cerita orang lain, kemudian memberikan saran. Begitu mudah dan gampang melihat jalan keluar jika saja aku jadi orang lain.  

Aku membayangkan orang lain yang akan disini, menggantikan peran yang aku coba mainkan dengan begitu putus asa, kemudian menampar diriku sendiri, 'apa yang sebenarnya coba kau lakukan?"

Aku pernah begitu naif mengharapkan waktu pada akhirnya akan memberikan jawaban dan ketenangan, begitu pula berharap kata maaf dan penutup akan mengantarkanku pada gerbang kedamaian, dan menyelesaikan urusan-urusan.

Hingga akhirnya semua pilihan telah aku lakukan, tetapi masih saja, ia bercanda dan menertawakan.  Betapa waktu pada akhirnya tidak mengubah apa-apa dan siapa-siapa. 

Apa yang kau lakukan untuk tenang? Menenangkan kegaduhan yang nyaring berteriak, memulihkan kesadaran yang bising dan mengantarkanmu untuk gamang pada malam-malam dimana semuanya sudah tidak lagi terjadi.

Apa yang akan kau korbankan untuk kedamaian dan ketenangan yang akan mengisi seluruh rongga di jiwamu yang kosong melompong itu?  Sejauh mana kau akan mempertaruhkan riuh untuk tenang dalam pikiranmu itu?

Pada akhirnya, akan datang kompromi tentang bagaimana mematikan rasa. Untuk tidak lagi merasakan semuanya.  Mematikan apa-apa yang harusnya kau peka.  Menulikan telinga untuk apa-apa yang dibisikkan kepadamu.  Berjalan lurus, berlari kencang hingga tidak ada lagi terdengar apa-apa, dan tak lagi terlihat apa-apa.  Hanya dunia yang kabur dan jalur lurus tempatmu nyaman berlari.  Berharap suatu saat kau tidak akan lagi diusik, dan tenang hanya akan datang sebagai keniscayaan, dari semua yang berlari, dari semua yang telah punya arti, kemudian tidak lagi.

Pontianak, 4 Oktober 2019