Sunday, January 30, 2022

semua orang bisa marah

tapi, marah yang tepat dan efektif- adakah marah yang tepat dan efektif? seringkali suatu situasi yang challenging membuat kita menjadi loss. lalai memperhitungkan sebab akibat, konteks, situasi kemudian meledakkan emosi ke orang dan tempat yang kurang tepat sehingga situasi ke depan jadi semakin tidak menguntungkan buat kita, atau mungkin terlalu banyak damage yang dibuat untuk marah yang sesaat.

tidak bisa dipungkiri- sebagai manusia dengan karakter yang bermacam-macam, ada yang marahnya dengan diam, ada yang marahnya banting pintu, ada yang marahnya dilampiaskan ke orang sekitar. banyak bentuk amarah dan frustasi yang dialami oleh masing-masing orang dengan cara yang berbeda beda. 

butuh skill, empati, emotional intelligence juga untuk menahan diri, dan marah yang tepat- yaitu marah sebagai bentuk komunikasi, sebagai bentuk sikap dan nilai yang dianut, sebagai sinyal kepada orang lain bahwa kita tidak nyaman dan keberatan untuk diperlakukan dengan tidak tidak sesuai nilai kita- entah orang itu sadar atau tidak. 

butuh perjalanan berkali kali, salah yang berkali kali, ke-jera-an atas situasi tertentu, untuk akhirnya bisa mengambil ilmu dari pengalaman: meditasi, yoga, kebiasaan untuk mengambil napas dan mengambil jarak dari masalah, juga bisa menjadi pilihan. ada juga sebuah artikel dari klikdokter.com yang cukup menarik yang bisa jadi tips dalam mengendalikan emosi. 

yang pertama adalah berhitung, tarik napas yang dalam dan lambat, berolahraga agar emosi stabil, relaksasi otot, mencari kata atau frasa yang menenangkan, mendengarkan musik, mencoba sesuatu yang berbeda- untuk refresh pikiran dari masalah, menenangkan diri, berhenti sejenak dari aktivitas, dan tuliskan kekhawatiran anda - mengidentifikasinya, menganalisis, observe. 

ada juga sebuah buku yang aku baca menyarankan untuk menulis jurnal untuk menumpahkan perasaan, mengidentifikasi perasaan, emosi emosi yang ada di dalam diri untuk bisa lebih mudah kita kenali dan pada akhirnya, mempersiapkan langkah-langkah jika hal yang merugikan terjadi. 

karena pada akhirnya, tentu kita tidak ingin melakukan sesuatu dengan harga yang terlalu mahal- cukup membayar dengan harga sepantasnya saja. sebuah latihan yang tidak akan habis habis, masalah yang tak akan selesai-selesai- selama manusia hidup, selama masih ada di dunia. kita akan selalu menemukan hal hal dengan pola yang sama- hanya bungkus yang berbeda beda.  

30/01/2022

picture from here

Friday, January 28, 2022

tempat kerja yang ideal.

mungkin, tempat kerja yang benar-benar ideal itu tidak pernah ada. di pekerjaanku, sangatlah besar kemungkinan untuk terus menerus pindah dari satu tupoksi ke tupoksi lainnya entah itu mutasi, promosi atau rotasi.  beberapa posisi strategis membutuhkan kemampuan negosiasi, maupun politik yang mumpuni.  tentu bukan politik praktis- tapi sebenarnya politik- seni untuk mencapai apa yang menjadi tujuan kita/organisasi.

skill harus terus diupgrade untuk dapat menyesuaikan dan memenuhi kebutuhan pekerjaan, sambil mencari cari dimana hal yang bisa dilakukan dengan menyenangkan. terkadang, lingkungan kerja juga sangat mempengaruhi mood untuk menikmati pekerjaan yang dilakukan.  beberapa juga butuh usaha lebih untuk mampu membuat diri sendiri nyaman di tengah lingkungan yang mungkin membuat tidak nyaman. tapi seorang senior pernah bilang 'nanti juga ketemu celahnya'. manusia memang makhluk pandai yang mampu beradaptasi-kalau mampu dan mau.

kadang pula aku merasa tidak mau mendeklarasikan tempat kerja yang ideal yang aku inginkan. karena begitu banyak variabel yang mempengaruhinya- lengkap dengan kekurangan, terselit juga kadang kelebihan yang membuat bersyukur.  mungkin memang harus lebih jago mencari celah celah syukur di tengah kemalangan sekalipun. 

sekaligus ingin memiliki moodbooster yang stabil dan mumpuni, support system yang semoga bisa always available buat safety net kalau kalau the world fall to pieces.  dinamika akan selalu ada, masalah.  kenyamanan, yang kadang juga jadi hambatan untuk kita bergerak, dan jadi panas dingin sampai sampai keluarlah kemampuan- versi kepepet, yang ternyata, setelah badai yang kita lalui setengah mati, ada harta karun yang berharga untuk menambah value kita sendiri.

pada akhirnya, tidak ada tempat yang benar-benar sempurna, rekan kerja yang sempurna, teman yang sempurna.  tapi di tengah tengah kefanaan, dan rutinitas yang semoga jadi tidak membosankan. semoga kita selalu belajar- dan menjadi lebih baik dari sebelumnya- dengan value diri yang terus bertambah, serta cita rasa seni-untuk mampu menikmati segala naik turunnya.

amin.

pic from here

Friday, January 21, 2022

untuk yang kesekiankalinya

Mungkin sudah umurnya capek menebak nebak, berpikir terlalu banyak. Mungkin sudah umurnya berhenti punya ekspektasi- begitulah pikiran pikiran yang datang setiap udah stuck sama satu problem yang itu-itu lagi. Loh, katanya hidup itu penuh dinamika dan perubahan adalah pasti. Kenapa yang datang masalah itu-itu lagi.  Apakah artinya udah gagal mengatasi masalah.  Atau masalah itu udah terlalu nyaman jadi kita tidak pernah benar-benar berani menghadapinya. Apakah kita adalah pengecut, atau pecundang. Membiarkan masalah itu sudah terpetakan- sudah diceritakan ke orang-orang yang membebani hati, tapi masih saja tetap tinggal.

Entah bodoh, keras kepala atau terlalu lemah. Kupikir hidup memang diantaranya. Siapa yang bisa benar-benar menjamin arti kebahagiaan bagi masing-masing orang?  Alasan berbahagia juga berubah dari waktu ke waktu. Tak akan pernah ada ilmu pasti- hanya teori.

Jadi untuk kesekiankalinya, menjalani hidup dengan semampunya, sedukanya- menangis sampai keluar air mata, tersedu, kemudian menghapusnya, menelepon teman, menceritakan apa-apa, kemudian tertawa, menertawakan situasi yang menyedihkan itu.  Kurasa, hidupku telah cukup, dengan segala tawa, dengan segala duka.

21/01/2022

Sunday, January 9, 2022

My Kind of Books For 2022

 3rd page of 2022

Sunday, January 9th 2022

My interest just shifting, right now I'm into visual design- the simpler things that can amused me. At least for this first month of the year. Kinda focused my intention on graphic design again, to government's communication through documentation and publication.  How to sharpens my words, how to communicate the message to civilians.  Because sometimes, there is a loophole that would hit us backward.  I learnt it the hard way in my new job.  That as a government's side, you could be transparent, but you cannot assume that all the netizen or people would understand your points.  You dont need to tell all the stories because sometimes people just capture it the way they like it. Thats why the message, the visual, the point we share for the publication must be on point, or at least, minimize the risk while hoping people would get our good intentions. 

I think that is the biggest problem we faced in this era.  The society 5.0 that would benefit, or trapped us into the logical fallacy.  The power of mass, the power of people who could stirred the content to all possible directions, and with the fast connection and access from our phone, we could trapped, too.

Anyway, nowadays I googling my interest and find the greatest book (judged by its cover and it quotes first) and then just read it at my laptop.  I find my self cant stop looking and surfing around in the internet even when I tired from works.  I think I must push my self more to write, because i read something, i experience something in my life, every day, and I think its kinda waste if i miss the moment.  Before this I just read poetry that I think the best way possible to capturing my day.  But nowadays I just lose the sparks, lose the worlds, and maybe I should try to story telling, sometimes the analogy in poetry exhaust me.  

But then I read this book, and it gives me tingling that I dont experience long ago. I remember how the first poetry that just enlight me, like gives me water on my thirst minds, beautiful and moved me in some way. 

And this is the book :  The Strength in Our Scars By Bianca Sparacino.



The simple thing- the clear head.  Recently there is so much going on in my head, to crowded and then I dont know what to do anymore. Thats when I start to see some distractions: to see more insteresting book that have a good visual.  Just a random googling and my eyes highlighted the simple yet so enchanting book: 


Work Hard & Be Nice To People - Anthony Burrill.

At first I think its kinda cliche book about self development that get lost at graphic design theme, but then I read the book and kinda finish it quickly, its really good visual, and unique. Simple yet moved me too.  This book taught me that sometimes the message is already clear but people like to complicate things. 

Sebuah Cita Cita #2022

02 of 2022


Aku pikir, sejak kecil aku tak pernah benar-benar punya cita-cita. Gambaran hidup, motivasi, atau apalah itu namanya. Beberapa hal di masa kecil yang masih aku ingat, waktu itu aku pernah diminta menulis tentang cita-cita kemudian aku mengintip sepupuku yang punya cita-cita menjadi dokter.  Jadi, aku mencontohnya saja, sekarang dia benar-benar jadi dokter dan menikah dengan seorang dokter juga. 

Beberapa gambaran dan keinginanku dalam hidup kupikir adalah hasil dari hal yang tiba tiba terhampar di depanku, dan aku inginkan.  Kuingat selepas SMA aku bingung ingin jadi apa, mengikuti tes saja dan mengisi tujuan asal-asalan, diantaranya aku ingat, adalah kedokteran dan teknik informatika.  Aku tak lolos di kedokteran, dan lulus di teknik informatika. Kemudian orang tuaku menawarkan untuk mengikuti tes beasiswa dan mengiming-imingi memberi hadiah uang apabila aku lolos.  Semenjak saat itu aku jadi punya sedikit dorongan, untuk mendapatkan hadiah- kuliah beasiswa agar meringankan beban orang tua dan menjadi mandiri.  

Dalam dunia perkuliahan, aku juga tak pernah benar-benar berambisi belajar atau mengejar sesuatu.  Di SMA aku ingat nilai nilaiku sangat jeblok, karena aku benar-benar tidak tertarik, pikiranku hanya main, bersantai, dan pergi bersama teman-temanku.  Kuliah juga kurang lebih kupikir- hanya saja ada beberapa dosen yang sepertinya memberikan kuliah yang berkesan dan memotivasiku, walaupun kukira hasilnya biasa saja.  Di kampus mungkin pencapaian tertinggiku adalah mendapatkan nilai toefl tertinggi seangkatan. Sisanya, aku medioker dan lebih senang bersantai dan pergi ke luar.

Begitu juga di dunia kerja setelahnya, tidak ada yang benar-benar menarik, aku hanya menunggu weekend, tapi di perjalanan, aku juga mengerjakan beberapa hal yang mungkin jadi menarik minatku.  Setelahnya, aku pikir, mungkin aku jadi mendapatkan sedikit gambaran tentang apa yang aku lakukan.  Tapi masih blur, waktu berlalu, pekerjaan kemudian jadi menjemukan dan membosankan. Aku kemudian melanjutkan kuliah magister.  

Di Bandung, kupikir aku mulai dari skripsiku, di S1 untuk meraba-raba dimana aku memiliki ketertarikan untuk meneliti hal yang aku familiar dan mungkin bisa mengembangkan dan menghasilkan sesuatu.  

Setelahnya hidup bergulir dan aku hanya mengikuti jalan.  Kemudian aku dipromosikan, tapi kupikir kita juga tidak akan pernah benar-benar tahu diletakkan atau pindah dimana.  Not in our control.  Tapi kemudian aku menemukan situasi kerja yang cukup menyenangkan dari yang sebelumnya dimana mungkin aku bisa mengembangkan minatku.  Kadang aku sangat obsessed mendapatkan sesuatu hanya karena aku takut jadi bosan, aku takut stagnan dan jadi boring, kemudian tak punya cukup kesibukan dan kepentingan untuk melakukan sesuatu.  

Aku ingat waktu kuliah aku pernah berdoa- untuk jadi sibuk. Karena aku sangat benci apabila jadwalku kosong- walaupun aku juga kadang benar-benar ingin me time di weekend. tapi aku sangat excited jika sibuk dan memiliki sesuatu untuk dikejar, sesuatu untuk dimiliki, sesuatu untuk diperjuangkan.

Tak pernah punya cita-cita yang muluk-muluk mungkin kadang karena aku takut- aku takut kurang bersantai, takut gagal, takut menjadi kecewa atapun mengecewakan diriku sendiri. Tapi kupikir sekarang aku sudah memiliki, sesuatu untuk diperjuangkan, sebuah cita-cita, yang tertulis lengkap di jurnal.  Tapi kadang kupikir itu juga membuatku jadi kurang menikmati hidup- karena kadang, tujuan hidupku bersenang-senang, menikmatinya sambil mendapatkan mimpi-mimpiku.

Mimpi adalah hal yang menyenangkan, yang membuat kita terbangun di pagi hari dan bergerak untuk sesuatu. Untuk tidak kembali tidur.  Mimpi yang membuat kita jadi melakukan yang terbaik di setiap hal hal yang kita lakukan karena aku tau mimpiku adalah hal yang jauh di depan dan sulit, serta butuh banyak hal, banyak keberuntungan untuk mendapatkannya.  Dan jelas aku takkan mendapatkannya jika aku hanya bersantai.  Ternyata inilah rasanya memperjuangkan sesuatu- untuk diriku sendiri. 

9/1/2022

Sunday, January 2, 2022

Hi, 2022

 


2021 mungkin jadi tahun yang sangat berkesan. pulang kembali dari hidupku di Bandung, menyelesaikan s2, meraba-raba entah kemana lagi hidup akan membawaku sambil bersiap siap. patah hati sampai beneran terpaksa dan belajar buat mencintai diri sendiri lagi. berulang-ulang. ternyata memang harus belajar banyak hal lagi, memulai banyak hal baru lagi, mencoba dan membuat kesalahan kesalahan lagi. tapi juga menikmati dan berani untuk jatuh cinta lagi, mengorbankan sesuatu lagi. cause is that why life worth living for?

2022 tidak akan terlalu banyak ekspektasi, hanya menjalani apa apa yang ada sebaik-baiknya. berusaha jadi orang yang lebih baik, lebih bijak, lebih hati-hati karena sekarang lebih mengenal diri sendiri lagi. sambil senang-senang menikmati hidup, mencoba coba, menjalani takdir dan hidup yang dihamparkan ke depan. terus menerus menggali diri sendiri dan explore hal hal yang membuat hati berdebar dan more alive. terus menerus belajar, mencari inspirasi dan motivasi dengan membangun diri sendiri.

meski takut dan insecure, tapi masih banyak goals dan keinginan, nyala untuk hidup dan harapan untuk hari ke depan, untuk bangun dan mulai lagi setiap pagi. menjadi orang lebih baik, membuat hari yang lebih baik, belajar dari pelajaran pelajaran kemarin, dan mencoba coba. semoga.

Minggu, 2/01/2021