Tuesday, January 29, 2019

Yang Terbit, Yang Terbenam


Yang terbenam kali ini, harus merekah dan bangkit, untuk dirinya sendiri.  Yang telah mati kali ini, harus bangun dan beranjak, perjalanan masih akan diteruskan.  Demi yang nanti, akan terbit, untuk nanti, yang akan terbenam.  Semuanya akan tiba, pada waktunya.  Tidak akan lagi ditunggu, tidak akan lagi menunggu.  Semua ada masanya, semua ada waktunya.

Monday, January 28, 2019

Dan Matahari Pun Terbenam


Kadang angan-angan seperti busur panah yang melesat jauh, melampaui kekhawatiran-kekhawatiran.  Segala resah lebur bersama deru angin dan bau kebebasan di langit yang luas.  Segala kemungkinan secara ajaib berhamburan, meledak di semesta.  Jangan-jangan segala ketidakberuntungan dan resah hanya cara semesta menguji, sanggupkah bertahan sedikit lagi. Cahaya akan menyeruak, sekalipun malam datang dan segala gundah dan gelisah akan damai pula.  Sanggupkah kita menenangkan badai dan menunggu semuanya berlalu? Mampukah kita bersabar, sedikit lagi, menghadapi cobaan-cobaan kehidupan dan tersenyum tegar, sadar bahwa segelap apapun, cahaya akan menyeruak, merembes ke celah-celah kalbu, dan seperti harapan harapan yang akan bertunas kemanapun cahaya pergi, bahagiapun ternyata, bisa tumbuh dari gelap, bisa muncul dari tempat, yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.  Bertahanlah sedikit lagi, menunggu matahari, pagi akan datang dan esok, semuanya akan mulai bercahaya kembali. :)

Friday, January 25, 2019

Cerita Tentang Matahari


Ah, bagaimana caranya menceritakan matahari yang pernah datang, tidak disadari sampai akhirnya gelap datang, dan yang tersisa hanya senja untuk mengenang kenangan kenangan?

Hidup dan kesibukan kemudian datang bertubi-tubi, menenggelamkan dalam pikiran pikiran, aku menunggu dan ingin kau, datang lagi menyelamatkan.

Tapi masa telah berlalu, besok, matahari yang datang tidak lagi sama.  Menunggu, adalah bagian dari mencintai.  Besok, mungkin kau akan kutunggu lagi, sampai rasanya habis, sampai cintanya selesai. Sampai selesai, aku berjanji akan mencintaimu sampai selesai.

Wednesday, January 23, 2019

Yang Tersisa Dari Perjalanan


Ada yang membekas di ingatan pada tiap perjalanan yang mengesankan, kesempatan melihat orang-orang yang berbeda, tertawa dengan orang-orang yang berbeda, di tempat yang berbeda, terkadang menyisakan pertanyaan kepada diri sendiri, bagaimana jika kita adalah orang yang berbeda.  Yang kurang, yang terbatas, yang sulit.  Bagaimana jika kita lahir pada waktu dan tempat yang berbeda.  Sungguh pemikiran yang membuat suatu kesadaran, kita hampir tidak punya pilihan tentang bagaimana cara dilahirkan dan menjalani kehidupan.  Entahlah.  Catatan ini akan aku bagi saja, dan aku, melanjutkan perjalanan.

Bagaimanakah Cara Memesan Takdir?

Lembar lembar dibalik, mempertanyakan tentang yang telah dituliskan, dan hal hal yang masih mungkin diubah.  Pertanyaan-pertanyaan datang dan jadi hantu di malam malam yang panjang dan sepi. Sungguh, sulit juga menjadi manusia. Berada di simpang ingin dan hasrat masih ingin terus maju berusaha, tetapi juga enggan dan menetap di tempat yang nyaman saja.

Bagaimanakah cara memesan takdir? apakah dengan berdoa sepanjang waktu, sepanjang malam, atau dengan banting tulang meminta dan merampas yang di depan mata.  Atau pula mencari orang dalam yang bisa dengan cepat mengabulkan keinginan.

Lantas, bagaimana jika setelah terwujud, takdir tak datang sesuai pesanan?

Wednesday, January 16, 2019

Antara Pekerjaan dan Yang Harus Dilakukan



Sebagai orang yang tidak punya ambisi yang terlalu dan tidak punya bayangan mau jadi apa ke depan, bekerja bagiku adalah melakukan sesuatu, bertahan hidup dengan menyanggupi dan mengerjakan hal hal yang tidak ingin kita lakukan tapi bisa kita lakukan.

Berusaha tidak terlalu berada di antara mengeluh akan pekerjaan, membuat kekacauan dan menjadi membosankan termakan pekerjaan yang tidak menantang.  Kadang-kadang, di antara orang-orang yang mengeluhkan pekerjaan yang menghabiskan banyak waktu aku kembali mempertanyakan, siapa yang sebenarnya diselamatkan dalam kesibukan-kesibukan pekerjaan? 

Sebelum, Selamanya

yang menanti, aku 
yang kau kunjungi, dia

dulu kau pernah berkata
kata kata yang indah 
untuk sebuah masa depan kecil
dan berbahagia

dulu aku pernah bermimpi
masa depan yang terang
dan tiada sepi lagi

mungkin hujan dan lagu adalah 
mesin waktu

memutarkan kenangan-kenangan
hingga hujan semakin deras
menangisi kehilangan dan kepergian

setelah membuat tangis
semesta akan menenangkan
rangkul dan peluklah kenangan
kemudian leburlah dalam waktu

suka dan duka mungkin suatu kali
akan datang lagi beriringan.

Saat Hujan


yang jatuh hujan,
yang cecer rindu

hei, apa kabarmu
ingin aku bisikkan kepada bulir hujan yang jatuh
hei, aku rindu


Sunday, January 13, 2019

Luka Luka

the worst type of pain is not expressed in tears, or in fears.

its the pain so deep we go silent on it.

@poemsporn_

Masih

Masih tidak punya hati, untuk lembut dan memaksa diri memahami.
Masih tidak punya hati, tidak ingin jatuh sendiri.
Masih tidak punya hati, untuk tega terhadap kerelaan sendiri.
Masih tidak punya hati, tidak ingin merasa sendiri.

Kau dan hal hal yang tidak dimengerti

Apa rasanya benar-benar tidak tahu apa isi kepala seseorang, atau aku hanya tidak ingin melihat? mengapa semuanya rasanya begitu janggal dan tidak nyaman.  Mengapa aku masih tidak bisa mengerti? 

Di ambang batas aku tidak tahu harus bagaimana, racun yang sudah terlalu dalam masuk ke urat nadi.  Aku, hanya pengecut yang selalu meminta lagi.

Bagaimana cara menghentikan perasaan? Kuharap semudah menekan tombol- begitu pula dengan keberanian yang sedikit-sedikit aku kumpulkan.  Untuk bisa melanjutkan perjalanan.

Bagaimana caranya mengerti hal hal yang tidak dimengerti? Bagaimana caranya mengakhiri perasaan yang lama lama tersimpan di hati? Sudah cukup dewasakah untuk mengerti dan jujur mengungkapkan isi hati?
.
.
.
Now Playing : Kunto Aji - Rehat

Saturday, January 12, 2019

Ketidakberuntungan

Bagaimanakah caranya menghitung keberuntungan? hanya kebetulan? atau peruntungan dari probabilitas kegagalan yang panjang?atau rasa tak imbang dari semesta yang lebih sayang?

Bagaimanakah caranya mengukur keberuntungan? apakah dengan membandingkannya dengan kemalangan-kemalangan?

Maka mungkin cuma perspektif, yang bisa menempatkan letak hingga kemana saja, atas, bawah hingga melayang.  Lantas jika hidup adalah perspektif yang tanpa ruang, bagaimana kita merasakan keberuntungan?

Apakah dari penyeimbang, nasib teman di lingkungan kebanyakan, statistik kemungkinan dan kecenderungan pengalaman.  Jangan jangan keberuntungan bukanlah takdir, tapi tata letak dan tempat yang tepat.

Mampukah bersyukur dari apa-apa yang menyalahi aturan, menolak yang sepantaran, tapi diam-diam rupanya mampu genap membahagiakan?

Recently List:
Music : Jason Ranti - Variasi Pink
Movie : Encounter
Book : Assymetry - Lisa Halliday 

Friday, January 11, 2019

Bandersnatch

Kadang, rasanya ingin bertanya-tanya, meskipun tidak tahu kepada siapa, apakah kita benar-benar memiliki pilihan dalam hidup? Sebelum menonton bandersnatch, aku ingat pernah menonton sebuah film yang sungguh berkesan, tentang seseorang yang memiliki kemampuan untuk menjelajah waktu, time traveler.  Dia bisa mengulang-ulang waktu, mencoba berbagai kemungkinan hingga akhirnya dia bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan, meskipun kalau tidak salah akhirnya itu tidak berhasil juga.  

Kemudian dia mencoba lagi mengulang-ulang waktu, untuk bisa memperbaiki kesalahan yang dia perbuat, untuk bisa membahagiakan orang yang dia sayangi. Tetapi kemudian hal itu malah mengantarkannya kepada pilihan-pilihan yang lain.  Hingga akhirnya ia sadar dan berhenti memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dia buat, berusaha menjalani kehidupan pada saat ini dengan sebaik-baiknya.  Menjadi manusia.

Dalam malam-malam ketika aku sulit tidur, semua kesalahan dan alpa yang dibuat, seakan menjadi hantu, dalam andai-andai.  Andai saja aku bisa melakukan hal yang lebih baik, andai saja aku tidak kehilangan.  Andai saja semuanya masih bisa diperbaiki.

Pertanyaan-pertanyaan yang masih tertinggal, yang masih belum ditanyakan, yang sudah terlewat waktu.  Harapan-harapan kecil bahwa akan ada kesempatan kedua, bahwa kita bisa memperbaiki yang sudah tiada.

Beberapa orang hadir, dan memberikan warna, kemudian selepas mereka pergi, rasanya hidup berhenti berwarna, tinggal abu-abu.  Rasanya masih belum rela melepas, dan sungguh percaya setiap orang yang hadir tidak akan menetap sepanjang yang kita ingat. Semuanya akan pergi, berganti, dan bahkan kita pada akhirnya akan ditinggal sendiri.  

Bermimpi bahwa ini hanya kisah fiksi dimana pemeran utama pada akhirnya akan kembali bersama.  Lupa kalau ini nyata, kita hanya manusia, yang sebenarnya akhirnya tidak akan memiliki arti apa-apa.  Akan mati, terlupa, dan sia-sia.  Lupa bahwa bisa saja hasil akhir mengkhianati proses, bahwa apa yang diupayakan mungkin akan menyengsarakan, lupa bahwa yang benar-benar kita cintai sepenuh hati, bisa saja tidak balas mencintai sama seperti yang kita rasa.

Terkadang kita bisa lupa, dan butuh ditampar berkali-kali dengan realita, biar berjejak. Biar ingat. Kalau bumi tidak berporos pada diri sendiri saja. Agar belajar mengalah dan menyerah, menundukkan ego dan berdamai, dengan kekalahan sendiri, dengan takdir sendiri, dengan luka sendiri.

Tidak apa-apa, tidak apa-apa.
Kalah juga tidak apa-apa.
.
.
.
Now Playing : Kotak - Pelan - Pelan Saja
Watching : Bandersnatch - Black Mirror s05e01

Thursday, January 10, 2019

Sepi

Kembali lagi membaca buku-buku, menyibukkan diri, baru hari kesepuluh, masih 3 minggu ke depan aku akan mulai bingung, akan melakukan apa lagi.  Beberapa to do list sudah disusun, tapi rasanya, masih saja ada yang kosong. 

Begitukah rasanya pernah begitu penuh hingga ketika ada bagian yang hilang, rasanya waktu demi waktu hanya habis begitu saja?  Kemauan masih sedikit kurang untuk melakukan hal-hal yang lebih baik, lebih sibuk. Bertanya-tanya apakah ada orang lain yang merasa sesepi ini, bukan, bukan tidak memiliki orang lain dalam hidup, hanya saja... Sepi.

Umur belum lagi berabad-abad tetapi pikiran sudah malas bergerak, evaluasi dalam 10 hari di tahun 2019 ini membuatku gamang.  Kapal memang sudah seharusnya berlayar, tidak terombang-ambing dan menyerah kalah pada gelombang lautan, bukan?

Rasa sepi hari ini adalah tanda peringatan bahwa sudah saatnya mengisi kekosongan dengan peluh, dengan berjuang, agar nanti sepi tidak lagi begitu terasa.  Biar lubang yang menganga bisa ditambal dan tak lagi menganga.  Biar nanti waktu melaju dan sauh bisa kusimpan, agar tidak alpa, rehat selesai sudah.

Wisdom

Just because a thing

- entertains you
- taste good to you
- feels good to you
- invites you in
- looks good to you

-- doesnt mean its good for you.
walk in higher discernment, wisdom, 
and purpose this year.

-Lalah Delia @bossbabe.inc


entah ingin kemana

*now playing : Danilla


Sebagai seseorang yang berlogika, rasanya janggal bila menjawab: tidak tahu.  Entah karena malas berpikir atau tengah stuck, kembali terbentur tembok yang janggal. Waktu seakan tersedot, tenggelam hingga menyisakan dua jurang waktu: bersama atau merindu.  Waktu yang lain, terasa hanya seperti basa-basi yang basi. Membosankan dan tidak menarik. 

Dengannya, semua waktu adalah tidak ada, karena terasa yang kugenggam hanya udara hampa, tidak ada dan tidak bisa kemana-mana.  Lantas, bagaimana lagi caraku keluar dan bernafas lega?

Kadang aku berandai-andai, andai saja semuanya lebih mudah, tapi tidak, aku tidak akan pernah suka yang mudah, aku tidak akan menginginkan yang lebih mudah.  Selain yang ini, jika bukan yang ini.

Haruskah kuhabiskan waktu sia sia dan dengan yang tiada?
Untuk dekapmu aku rela, tersungkur dan kehilangan kepercayaan diri.  Kehilangan diriku sendiri untuk mencoba, merasakan debar karena sungguh mahal untukku bertaruh.  Demi debar yang sebentar dan berada sedikit lebih dekat.  Aku adalah penjudi, dan denganmu, aku rela merugi. Karena apalah artinya seribu orang yang mencintai, bila aku belum mencoba peruntungan untuk bersamamu?  Kuserahkan hati berjudi, lumat dalam pertempuran yang belum bisa aku menangkan, aku, selalu senang untuk terus berada dalam pertandingan.

Kamis, 10 Januari 2019

Saturday, January 5, 2019

Runtuh

"Runtuh" adalah kata yang tepat untuk menggambarkan rasanya. Siapa kira hati bisa mengecoh pikiran yang masih senang menipu dirinya bahwa semuanya masih baik-baik saja? Ternyata aku baru tau, bahwa ingatan dan refleks otak merespon kehadiran seseorang, sepaket dengan memori yang tersimpan lebih cepat dari kemampuannya mencerna dan menyaring kepedihan-kepedihan yang tersisa.  Hari ini airmata jatuh, bahkan sebelum otak mampu berpikir.

Perjalanan pulang dengan motor, sendirian, bersisian dengan seorang teman tidak kuduga adalah saat ternyata bentengku runtuh juga. Bulir yang menetes satu persatu, bahkan sebelum otakku mengingat dan menggambarkan, hatiku bahkan belum merasakan apa-apa.  Airmata ternyata pertanda, benteng pertahanan terakhir, yang kemudian meremas jantungku pelan-pelan. 

Bahkan kali ini, otakku sedang tidak kurasakan berpikir, hanya perasaan yang menyesakkan dada.  
Ternyata selain jatuh cinta, patah hati juga bisa datang tanpa diduga.

Hari ini airmata tumpah ruah dan berpesta, ah rasanya sudah lama sekali aku tidak membiarkannya sedikit bersenang-senang, diriku, kali ini kurasakan berada jauh mengawasinya jatuh dan menderu.  Tidak apa-apa, akan kuberikan kau waktu, untuk berduka, untuk membuang racun dan sisa lara yang masih tersimpan.

Deru motor masih melaju, aku kemudian sampai ke rumah.  Berniat menyelesaikan pertikaian antara hati dan otak dengan baik-baik, mengajaknya bicara.  Kusandarkan raga yang kemudian tiba-tiba terasa lelah.  Sengaja kuputarkan playlist Danilla, mana tau bisa jadi membuatnya tenang atau malah marah-marah.  Belum selesai ia menyanyikan satu penggal lirik "Dari Sebuah Mimpi Buruk".  Tiba-tiba airmata sudah kering, hati sudah mati rasa.  Ajaib.  Bagaimana perasaan itu bisa hilang, bahkan sebelum aku merangkul dan memeluknya agar bisa kupahami dan kupelajari.  Mana tau hal ini terjadi lagi.

Sial, apakah seperti jatuh cinta, patah hati pun bisa datang tiba-tiba dan membuat airmata lari meninggalkan semua yang telah bertahun-tahun memeluknya.

Runtuh.
Aku mengakui, hari ini aku runtuh.  Bahkan belum genap hari kelima di tahun dan pakaian yang baru ini.  Tapi aku akan belajar, aku akan bertumbuh.  Tidak apa-apa, aku tidak akan menyerah.  Aku akan kembali lagi nanti.  Semoga, kali nanti.  Jika kita bertemu lagi tanpa rencana, aku harap tidak lagi turun hujan yang terlalu deras, atau minimal, aku akan sudah lebih siap dengan payung dan jas hujan.  Agar aku bisa melewati badainya dengan aman, dan menunggunya berlalu, pasti berlalu.

Hari ini perjuanganku sampai disini, sampai bertemu lagi esok hari.

Jum'at, 4 Januari 2018

Tuesday, January 1, 2019

Selamat Datang, 2019

Jika bisa kugambarkan, 2018 adalah roller coaster, beberapa hal terjadi dan berubah, tahun dimana mulai beranjak keluar, mendapatkan kesempatan yang sudah aku tuliskan di setiap jurnal semenjak SMA : Kuliah S2 dengan beasiswa.  Entah mengapa aku dulu selalu punya mimpi untuk kuliah di luar, awalnya cita-citanya ke luar negeri, tapi sewaktu nyampai di Bandung malah rasanya beruntung bisa kuliah cuma di waktu weekend, punya banyak waktu luang, tidak terlalu banyak tugas dan lebih bisa menikmati membaca dan belajar banyak hal sambil santai-santai, haha.

Sebenarnya dari dulu aku ini bukanlah orang yang pintar-pintar amat, beberapa kali masuk ranking 10 besar pas SD-SMP, tidak pernah jadi yang terbaik, apalagi sewaktu SMA gak pernah absen remidial. Gak terbayangkan juga perjalanan bisa alhamdulillah melewati sarjana dengan full scholarship, langsung kerja pula meski awalnya kontrak-hingga tetap sekarang.  Gak pernah nyangka juga bisa suka sama bidang ilmu sosial, khususnya pemerintahan, yang awalnya apatis, ga mau tau dan peduli tapi makin kesini semakin sering ketemu referensi-referensi yang kece sampai akhirnya penasaran dan selalu memperhatikan kalau ada apa-apa yang terkait dengan proses sosial-politik-pemerintahan. 

Entahlah, hidup memang ajaib, terus melaju dengan cara tidak terduga. Bukan pula hanya dengan hal hal yang lebih menantang (?) atau menyenangkan, tetapi ada juga beberapa hal yang menjadi pusaran kesedihan di 2018. Dari yang so desperate hingga bergejolak sampai akhirnya tenang kembali.  Dari yang awalnya sedikit tertekan dengan omongan-omongan orang lain, kepikiran, sampai akhirnya sekarang mulai coba membuka mata, kalau setiap orang punya ceritanya masing-masing.  Setiap orang punya suka dan dukanya masing-masing. Dimanapun fase saat ini, percuma membandingkannya dengan orang lain.

2018 mengajarkanku banyak hal, tentang bagaimana bisa lebih tenang, lebih santai, lebih pelan, lebih menikmati waktu-waktu kosong.  Tapi yang menurutku paling utama: aku tidak terlalu takut untuk sendiri lagi.  Sedikit mengenali diri sendiri: ternyata untuk jadi nyaman aku tidak perlu mengikuti cara orang lain.  Sadar kalau sebenarnya senang sendirian, tidak terlalu nyaman dengan banyak orang dalam waktu yang terlalu lama, sedikit nyaman untuk tidak terlalu dekat, senang dengan beberapa variasi dan tidak suka diatur-atur dan 'terlalu dalam' tentang satu hal.

2019 mau mulai belajar untuk tidak terlalu tertekan untuk banyak hal, lebih menikmati dan mensyukuri apa saja yang ditawarkan hidup sambil tak lupa berharap bisa terus menerus mencintai apa yang sedang dikerjakan sekarang, semuanya. Berharap juga tidak lagi terlalu mendengarkan omongan-omongan negatif orang lain dan bisa lebih yakin sama diri sendiri.  Semoga bisa lebih  bisa mencintai lagi keluarga, makin menikmati pekerjaan, kuliah, teman-temannya, rejekinya, semuanya.  Dan semoga akan bisa siap dengan apa-apa yang akan ada di depan.  Hello, 2019. I'm ready!


Pontianak, 1 Januari 2019