Wednesday, May 27, 2020

Satu Kali Lagi?

bagaimana bisa kutemukan tawa
dalam remeh temeh cerita konyol
sengaja sedikit menghibur luka di dadaku

bagaimana bisa aku membenci
jika bara api di hatiku tak pernah padam
ketika kau hadir di pelupuk mataku

untuk semua semua yang senang datang terlambat
kau datang terlalu cepat membakar bara
padahal belum dingin cuaca lara

aku ingin datang menghibur ketika kau tak lagi luka
ingin datang sekedar pembalasan untuk permainan yang akan datang
tau bahwa kau takkan pernah terkalahkan

aku selalu ingin jadi yang paling pemberani
berani mati mempertahankan luka-luka
tapi apa daya belum sempat kukatakan kata kata
genderang telah selesai dinyalakan
masing-masing pertikaian telah pulang

aku tak pernah ingin menyerah tapi telah kalah
aku tak pernah ingin benar benar menang
hanya ingin melihat api bahagia
menyala kembali di binar biru matamu

Bdg, 27 may 2020

Saturday, May 23, 2020

Tidak Ada Pontianak Hari Ini

Sudah seminggu terakhir ini, semenjak pandemi. Kayaknya udah ngerasa kebanyakan berpikir, kepala penuh, tapi kegiatan jarang, mungkin jadinya sesekali pusing (apa karna jadwal tidur yang memang tak pernah teratur).  Beberapa hari yang lalu kemudian berusaha membatasi waktu melihat layar, karena beberapa bulan ke belakang kayaknya nonstop mantengin apapun itu yang ada di layar, padahal, tidak terlalu mengerjakan sesuatu yang produktif juga. Huu~

Pandemi ini mengajarkan banyak hal, salah satunya tentang memaknai sesuatu, hubungan dengan orang, sentuhan, cara-cara mengatasi kesepian dan kesendirian. Plus, lebaran ini gak bisa pulang sama sekali karena penerbangan ditutup, tiba-tiba jadi akrab dengan teman-teman di kosan karena akhirnya punya waktu buat ngobrol banyak, sebelumnya cuma hai hai halo saja karena lumayan jarang ada di kos.  Teman-teman bertemu via chat, dm instagram sampai yang akhir-akhir ini kutemukan paling seru, ngobrol di voice chat game pubg mobile. haha.  

Esensi ngobrol ngalur ngidul sambil menghabiskan waktu, mungkin itu yang paling menarik.  Karena semenjak pandemi ini, hal itu sudah jarang lagi dilakukan. Kenapa ngobrol ngalur ngidul itu menarik ya, bagiku itu seperti terapi.  Kayaknya, awalnya kita tidak tahu ada apa aja sih yang mengganggu di kepala, kemudian waktu senggang, tektokan ngobrol, kita jadi muter otak mau ngomongin apa hingga keluar deh, apa apa yang mengganggu di kepala. Sebagai orang yang ngaku gak introvert tapi kupikir aku orang yang sedikit menutup diri, haha. Menemukan orang yang 'klik' itu untung-untungan, orang yang bisa buat tergantung dan bisa jadi 'safety net' kapanpun kita butuh untuk mengeluarkan uneg-uneg. Kadang juga mesti 'tau diri' dan paham bagaimana cara 'keeping the spark' atau bahkan hubungan yang sama sekali tak membuat berpikir.  Seperti hubunganku dengan blog ini, yang sudah ditulis bertahun-tahun, 'jaring pengaman' yang selalu ada, kapanpun aku ingin monolog, ngomong sendiri di kepala.  

Kadang ada harinya insecure parah sampai khawatir dibaca orang lain, karena pernah, dibaca orang lain, kemudian orang yang baca (yang gak terlalu kenal) lalu ngobrol seolah-olah udah mengenal betul. Padahal kan, apa yang ditulis bisa dibilang 'sisi alter ego' yang lain, bisa saja ketemu langsung dan sama sekali berbeda. Karena menurutku selalu ada separuh kebenaran yang terkandung dari segala sesuatu.

Pengalaman yang unik juga, kali ini bakal menghabiskan waktu di kos, ketika tahun lalu, dan tahun tahun sebelumnya, selalu dihabiskan bersama keluarga.  Ada seorang teman yang mengomentari pasti sedih, dan lain-lain.  Kukira, perasaanku (sampai saat ini) ya, biasa saja.  Karena tau tak lama lagi, setelah menyelesaikan pendidikan ini, aku akan pulang kembali ke Pontianak. 

Kupikir, aku memang tak pernah menganggap sesuatu yang seremonial itu sebagai 'esensi', cuma cangkang, bagiku yang terpenting adalah keluarga yang selalu ada dan menjaga, teman-teman yang bisa diandalkan saat dibutuhkan, hal hal kecil di kehidupan yang bisa menghibur dan pikiran sendiri yang bisa menjaga dirinya sendiri agar tetap 'waras' dan berpikir, kemudian menemukan hal-hal yang bisa disyukuri. Kehidupan memang fana, tiap hari hal hal berubah, waktu juga terlewat dan dilewatkan, kita memang harus siap dengan apa-apa yang berubah, walaupun memang sudah nalurinya untuk membandingkan, comparison is the thief of joy, they said. Semoga saja bisa tetap waras tergempur, bertahan dalam badai, dan selalu menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, kemudian terus berjalan, melanjutkan hari-hari.

Bandung, 23 Mei 2020


kemudian-

'aku akan selalu ada' katanya.  Berapa kali sudah aku pernah diucapkan hal hal semacam itu, tapi tidak bisa juga.  Kita memang tidak dirancang untuk esok.  Cukup hari ini.  Hal hal kecil di hari ini yang akan diingat sesekali untuk masa depan, atau untuk kenangan.  Atau mungkin yang mudah dilupakan. Entahlah, ku tak pernah janjikan hari esok, apalagi tahun tahun nanti.  Kata-katamu untuk selalu lari menghampirimu tiap kali aku butuh adalah jaminan, yang cukup membuatku senang, untuk hari ini.  Aku ingin memilikimu hari ini saja.

Semakin dewasa, kita semakin sulit jatuh cinta. Memikirkan hal hal semacam agama, kota yang berbeda, pekerjaan, tingkah laku, kebiasaan, prinsip-prinsip.  Meski kadang, kupikir itu semua cuma alasan.  Alasan untuk berhenti, di atara alasan-alasan yang lain.  Seperti alasan bahwa kita akan sulit, untuk bertemu, untuk terus saling menemukan, untuk terus saling bertahan.

Apa alasanmu kali ini? untuk berhenti dan menyerah, atau berlanjut satu hari lagi. Membahagiakanmu satu hari lagi.  Sebelum menyudahinya, sebelum ada yang larut dan terluka.  Siapakah yang paling rugi dalam mencinta? -adalah yang berhitung, adalah yang takut kehilangan, adalah yang menyerah.

Apalagi yang dapat dikenang dalam cinta selain kata-kata, pertemuan, tindakan manis, dan hasil  hasil pemikiran, perdebatan. Janji janji masa depan, hal hal yang tak lagi dapat dipegang, hal hal kecil nan ajaib tak kasat mata yang menggerakkan keinginan, untuk maju lagi selangkah, untuk memberanikan diri selangkah demi selangkah.  

Apalah kita tanpa keyakinan, tanpa janji di hari esok, untuk kembali bertemu, untuk berjuang dan mempertahankan. Kepada yang manis yang telah terkecup, yang tertinggal tanpa pernah selesai, untuk sekejap hadir, memberikan keyakinan, keteguhan hati untuk terus maju, untuk merasa pernah- berharga dan dicintai.  

Untuk kemudian memberi arti bagi diri sendiri- bahwa pernah layak, bahwa pernah bisa dan kemungkinan-kemungkinan itu pernah ada. Untuk kemudian berani mengakhiri, menyelesaikan perkara dengan sebaik-baiknya, keinginan untuk menuntaskan keluh dan memperjuangkan bahagia- untuk masing-masing, untuk memberikan penutupan, memberikan salam perpisahan. Untuk yang sesaat yang pernah hadir, memberi arti, dan setidaknya telah memiliki keberanian untuk pernah memulai. Segelas air yang tak pernah kosong, tapi tak pernah pula kepenuhan. Terimakasih untuk jadi preferensi, dasar pemikiran dan bahan-bahan pembelajaran, mengisi kenangan-kenangan, tapi kita harus terus melanjutkan perjalanan. Sampai selesai.  

Sunday, May 17, 2020

Selamat Hari Buku Nasional! ~dari yang suka buku dengan tulus dan apa adanya

Seorang teman dekat pernah bercanda beberapa hari yang lalu, "jangan posting-posting stori tentang buku terus lah, nanti dapet cowoknya susah, gak usah keliatan terlalu pinter.  Lagian, orang pinter juga ga pernah pamer-pamer kan dia pinter haha".  Untung yang ngomong temen yang udah tau lah becandanya gimana, kalau orang yang gak dekat ngomong gini sudah pasti tak omelin atau langsung diblock karena aku adalah orang yang sebenarnya malas basa basi berdebat buat orang-orang yang enggak terlalu sefrekuensi. haha.  

Tapi celetukan doi jadi bikin mikir, apa iya image baca buku adalah yang pinter jadi bikin orang takut. Sungguhlah berlebihan. Padahal tidak semua buku juga menandakan orang yang berpikir (dengan benar sesuai dengan kaidah dan teori).  Buku cuma jembatan, cermin dan refleksi dari apa apa yang ingin kita ketahui.  Atau sekedar, bersenang-senang.

Dari dulu, buku selalu aku anggap sebagai teman.  Teman gabut, teman buat 'tenggelam' dalam 'dunia' yang lain, dunia yang berisi pemikiran-pemikiran orang lain, karya fiksi, maupun imajiner.  Sebagai makhluk sosial yang berkomunikasi dengan orang lain. Aku mungkin termasuk orang dengan suasana hati yang cepat berubah jika tidak bertemu dengan orang yang se'frekuensi', juga mungkin karena aku adalah orang yang suka damai dan cenderung menghindari 'konflik perdebatan langsung', kecuali dengan orang-orang dekat saja.  Aku merasa tidak semua orang benar-benar memahami kita, dan tidak seharusnya juga meletakkan seluruh suasana hati kepada respon orang lain. Karena itu, buku selalu menjadi teman yang bisa diandalkan, teman yang bisa mengajakku berpikir dan fokus satu per satu, teman yang tidak langsung 'nyamber' dan mungkin tiba-tiba hilang saat dibutuhkan. Buku menjadi tempatku memperbaiki suasana hati yang sering gak karuan.  Apalagi ketika pandemi seperti sekarang, buku dan film jadi tempat rekreasi buat rileks dan mengajak jalan-jalan pikiran.  Memberikan inspirasi baru, memberikan mimpi-mimpi baru.

Sayangnya, karena sudah mau pulang ke Pontianak, kita batasi dulu ya beli buku fisik- sekarang beralih ke ebook karena capek angkut-angkut barang sendiri ke cargo!! haha.

Selamat hari buku nasional! Terimakasih buat kehadiran buku-buku bagus yang selalu menginspirasi, dan buku buku yang selalu bisa menenangkan sekaligus menyibukkan ketika kepala lagi penuh dengan pikiran-pikiran yang tidak jelas.  Untuk selalu ada di saat sepi dan sulit, dan bingung, dan galau dan senggang.  Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, yang kemudian selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Pahlawan93, 17 Mei 2020.