Tuesday, July 31, 2018

Development As Freedom #bookhighligt

Title : Development As Freedom
Author : Amartya Sen
Year : 1999
Publisher : Alfred A. Knopf, Inc
Distributed by : Random House, Inc., New York

Development as freddom, argued as a process of expanding the real freedoms that people enjoy, contrasts with narrower view, such as identifying development with the growth of gross national product, or with the rise in personal incomes, industrialization, technological advance, or social modernization. Even its matters, its also depend on other determinants, such as social and economic arrangements, as well as political and civil rights. Freedom is also the central to the process of development for two distinct reasons: 1) The evaluative reason; assessment of progress has to be done primarily in terms of whatever the freedoms that people have are enhanced. 2) The effectiveness reason: Achievement of development is thoroughly dependent on the free agency of people. 

A question from Maitreyee from Sanskrit text Brihadaranyaka Upanishad that asked “How far would wealth go to help them get what they want?”. Turn out, the issue is not the ability to love forever, but the capability to live really long (without being cut off in one’s prime) and to have a good life while alive (rather than a life of misery and unfreedom)-things that would be strongly valued and desired. The gap between an exclusive concentration on economic wealth and a broader focus on the lives we can lead is a major issue in conceptualizing development. 

Noted by Aristotle “wealth is evidently not the good we are seeking; for it is merely useful and for the sake of something else”. It is as important to recognize the crucial role of wealth in determining living conditions and the quality of life as it is to understand the qualified and contingent nature of this relationship. 

It should be clear from the preceding discussion that the view of freedom tha is being taken here involves both the processes that allow freedom of actions and decisions, and the actual opportunities that people have, given their personal and social circumstances.

Having greater freedom to do things one has reason to value is significant in itself for the person’s overall freedom and important in fostering the people’s opportunity to have valuable outcomes. Greater freedom enhances the ability of people to help themselves and also to influence the world, and these matters are central to the process of development. The concern here relates to what we may call the ‘agency aspect’ of the individual. (agency-acting on someone else’s behalf, principal).

The real conflict is actually between : 1) The basic value that people must be allowed to decide freely what traditions they wish or not wish to follow, and 2) The insistence that established traditions be followed, or alternatively, people must obey the decisions by religious or secular authorities who enforce traditions-real or imagined.

Bandung, 31 Juli 2018

Monday, July 30, 2018

Bagaimana Cara Melukis Perasaan? #journalofthoughts

Akhir-akhir ini, rasanya aku sudah tidak lagi menjadi diriku sendiri. Setidaknya, diriku yang aku kenal. Entah kenapa, rasanya terlalu banyak yang berubah.  Ternyata, memiliki waktu yang banyak dengan diri sendiri membuat kita lebih mengenal diri kita sendiri.  Sebelumnya, mungkin aku terlalu terjebak dengan waktu waktu yang panjang dan kesibukan serta kesenangan mencari kesibukan itu sendiri sehingga akhirnya aku tidak benar-benar mendengarkan diriku sendiri.

Masih ada beberapa hal yang dipikirkan ketika malam sudah larut dan mata masih belum bisa terpejam.  Perasaan takut, menghadapi masa depan, perasaan tertinggal langkah dengan orang lain.  Ketakutan akan bagaimana orang lain akan salah memahami kita.  Dunia tiba tiba menjadi begitu menakutkan dan membuat resah.

Kemudian malam berganti dan pagi datang.  Dengan pikiran yang segar dan baru, yang sekiranya mampu menghadapi apapun yang hari tawarkan.

Terkadang perasaan hanya apa apa yang kita tangkap dari ruang kosong.  Perasaan yang datang, yang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, tekadang terlalu hebat menghantam hingga terasa seperti gelombang-gelombang kesedihan.  Satu kebaikan yang kita rasakan, yang membuat kita bangun di pagi hari dan tersenyum, bahwa rupanya setelah kesedihan-kesedihan, hidup juga menawarkan kebahagiaan kebahagiaan kecil yang bisa kita tertawakan.

Hidup masih misteri dan tanda tanya besar yang belum bisa aku pecahkan, tapi karena satu dan lain hal, ia mengajarkanku untuk terus bangun, menghirup nafas, merapikan tempat tidur, dan berdiri, mempersiapkan diri untuk terpaan badai badai yang akan datang.

Mungkin kau akan jatuh dan terhantam hingga malam, namun kau esok pagi, kau tidak akan punya pilihan lain selain bangun, dan kembali menghadapi kenyataan-kenyataan.

Bandung, 30 Juli 2018

Monday, July 23, 2018

Selamat Datang di Rusunawa Cingised #selasarimaji






Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menghabiskan waktu.  Ada yang berpergian,  naik gunung, menonton konser, film, membaca buku, -atau melanjutkan kuliah S2 di kota yang asing tanpa orang yang dikenal. 

Kali ini, saya memutuskan untuk mencoba menjadi volunteer di Selasar Imaji, yaitu salah satu program dari Turun Tangan Bandung, memfasilitasi masyarakat Rusunawa Cingised untuk mengembangkan kemampuan literasi yang aplikatif dengan cara berkegiatan aktif bersama seperti berbahasa, berkerajinan, berkesenian, berkebun dan hidup sehat.  

Menurut saya, ini adalah program yang unik, sebelumnya, saya terlibat di komunitas 1000 Guru Kalbar, dimana program utamanya adalah pergi ke desa-desa di pedalaman yang sulit terjangkau, dan tampak memerlukan bantuan, kemudian memberikan donasi dan mengajar selama sekitar dua hari.  Dan sekarang, melihat anak-anak masyarakat perkotaan yang dianggap mempunyai masalah di sekitarnya.

Rusunawa Cingised sendiri, menurut informasi yang baru saya ketahui, adalah rusunawa (rumah susun sewa) yang disewakan oleh Pemerintah Kota Bandung terhadap warga kurang mampu, dimana di rusunawa ini belum dikenakan biaya sewa, hanya membayar listrik dan air. 

Sebelumnya, saya melihat potret warga kurang mampu/sekolah yang tidak memiliki fasilitas di pedalaman, yang nampak secara fisik, dari bangunan maupun kondisi warga sekitar, namun disini, terlihat bangunan tinggi yang nampak menjulang dari jauh, memiliki 5 twin blok, di gerbang masuk nampak pos security dan security yang menjaga, masjid yang besar, puskesmas, taman, air mancur di daerah blok, lapangan sepakbola dan basket.  

Kesan pertama yang saya lihat adalah, tidak seperti saya membayangkan potret kemiskinan- di pedalaman pedesaan dengan bangunan yang ambruk dan tidak ada fasilitas sama sekali, namun mungkin di beberapa spot yang saya lihat, sangat bersih, warganya selalu bergotong royong dan saling membantu, saling kenal dan lebih mudah didekati.  Di rusunawa ini, meskipun dari jauh nampak bagus dan lengkap, namun ketika masuk ke dalam, terdapat beberapa spot yang nampak tidak terawat padahal merupakan ruang bersama.

Ingatan saya kembali ke tempat-tempat di pedalaman yang saya kunjungi, ah andai saja pembangunan bisa merata dan warga kurang mampu di pedesaan juga bisa difasilitasi seperti ini, namun kemudian terlintas pertanyaan.  Apakah program rusunawa ini sudah tepat? apakah cocok dengan budaya masyarakat lokal? apakah warga yang kurang mampu ditempatkan disini akan lebih terbantu-hingga akhirnya dapat memberdayakan dirinya sendiri-kemudian mencari penghidupan sendiri? Berapakah persentase mereka yang mampu memberdayakan dirinya sendiri kemudian tidak tergantung dengan pemerintah? Katakanlah-mungkin di desa mereka masih bisa makan dengan memanfaatkan hasil hutan, tapi di masyarakat di bawah garis kemiskinan perkotaan, apakah yang bisa dilakukan, selain, tentunya-mengemis? masih tersisakah budaya gotong royong dan saling membantu apabila mereka dipindahkan di lingkungan seperti ini?  Atau pemerintah hanya menyediakan tempat dan fasilitas saja, untuk terus selamanya bergantung dan mengharapkan bantuan?

Melihat penyebab kemiskinan itu sendiri, bisa dilihat pula dari 3 perspektif (Sherraden), yaitu 1) Konservatif, dengan landasan teoritis mengenai masyarakat, adanya budaya kemiskinan, ketertinggalan yang membuat apatis, malas dan tidak ada ambisi, 2) Liberal, dengan landasan teoritis individu, disebabkan oleh distorsi pasar terhadap akses ke makanan, perumahan, pakaian dan pendidikan yang layak, dan 3) Strukturalis, dengan landasan teoritis struktur, disebabkan oleh ketimpangan struktur ekonomi/politik dan ketidakadilan sosial.  

Sebab itu, bisa dikatakan bahwa program rusunawa ini, menggunakan perspektif liberal, yang menggunakan strategi penyaluran pendapatan dan akses ke berbagai public services yang layak bagi orang sasaran.  Yang kemudian akan dilanjutkan dengan pertanyaan, sudah tepat atau efektifkah? Tentu, mengevaluasi kebijakan pemerintah tidak dapat dilakukan terlalu dini. Namun, hal ini juga adalah salah satu langkah yang telah dilakukan, upaya dengan alokasi anggaran yang sangat besar yang diharapkan tidak hanya program tanpa fasilitasi lanjutan, monitoring, follow up, evaluasi serta rencana-rencana ke depan.

Kegiatan community development ini, menurut saya juga adalah semangat yang harus terus dihidupkan, agar anak-anak muda/warga sipil terlibat pula secara aktif dalam pembangunan, khususnya di lingkungan sekitar, untuk berkontribusi menemukan, memetakan masalah apa yang sedang terjadi, dan mencari solusinya bersama dari perspektif yang berbeda dari pemerintah maupun public sector, sebagai langkah untuk bahu-membahu dalam pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan sosial ataupun dalam spektrum kecil, -menjadi orang yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.

Bandung, 23 Juli 2018.
... 

Groucho Marx, 2016. "Politics is the art of looking for trouble, finding it, misdiagnosing it, and then misapplying the wrong remedies".

World Bank, 2004. "Poverty is hunger. Poverty is lack of shelter.  Poverty is being sick and not being able to see a doctor.  Poverty is not having a job, is fear for the future, living one day at a time.  Poverty is losing a child to illness brought about by unclean water.  Poverty is powerlessness, lack of representation and freedom".

Wednesday, July 11, 2018

Handbook Analisis Kebijakan Publik : Teori, Politik dan Metode. #BookHighlight


Diterjemahkan dari karya Frank Fischer, Gerald J. Miller, Mara S. Sidney
Handbook of Public Policy Analysis: Theory, Politics and Methods.
Penerjemah : Imam Baihaqie
Penerbit: Nusa Media, Bandung, 2015 
Halaman 1-148 (7 Bab) dari 904 Halaman

Ilmu Kebijakan di Persimpangan Jalan
Ilmu kebijakan berada di persimpangan karena terlepas dari metode penyelidikan yang canggih, analisis kebijakan tetap jauh dari pusat-pusat kekuasaan di mana keputusan kebijakan dibuat, nilai-nilai kekuatan analisis dan logika berjalan menurut kebutuhan politik. Dalam perkembangannya, ilmu kebijakan dibentuk sebagai problem-oriented, menangani isu-isu dan mengajukan rekomendasi sekaligus secara terbuka menolak studi fenomena (Lasswell, 1956) pendekatan kebijakan juga dianggap belum mengembangkan dasar teoritis yang menyeluruh. Ilmu kebijakan juga multi disiplin dalam pendekatan intelektual dan praktisnya. Pendekatan ilmu kebijakan juga sengaja normative atau berorientasi nilai, menyangkut etos demokrasi dan martabat manusia karena pemahaman bahwa tidak ada masalah sosial/pendekatan metodogis yang bebas nilai. Perkembangan ilmu kebijakan ini menurut deLeon (1988) juga terkait akan masalah politik tertentu yaitu Perang Dunia Kedua, Perang Terhadap Kemiskinan (1960), Perang Vietnam, Skandal Watergate (1972) dan Krisis Energi (1970-an).
            Tantangan ke depan, juga berdasar dari ketegangan dialektis antara pengetahuan dan politik, sehingga ketegangan tersebut akan memiliki potensi untuk berkembang, mengubah bentuknya, serta tidak memiliki pola yang pasti karena perubahan peristiwa-peristiwa politik dan tantangan intelektual, sehingga tidak akan mendapatkan keberhasilan murni atau bahkan pengetahuan yang luas, sehingga dapat sampai pada tataran: memahami bagaimana dan mengapa dunia telah berubah.  Sehingga yang perlu dipegang adalah konseptual dan metodologis yang tepat untuk memahami kebutuhan kontemporer dan menawarkan kebijaksanaan dan rekomendasi yang tepat untuk berkembangnya ilmu kebijakan.

Promosi Orientasi Kebijakan: Laswell dalam Konteks
Prinsip kunci penyelidikan yaitu kita harus, sebagai bagian dari penelitian kita, membuka diri kita pada diri kira sendiri (Atkins dan Lasswell, 1924,7). Pemikiran refleksif ke dalam diri dan konteks mempunyai kedudukan utama dalam orientasi kebijakan Lasswell. Lasswell juga mengambil teknik psikoanalisis, fantasi bebas yang diperlukan untuk mengatasi penipuan diri, bahwa logika tidak hanya memadai bagi penyelidikan rasional, tapi ia sendiri adalah kendala, oleh karena itu kendala logika harus dilepaskan untuk mendapatkan pemahaman batin tentang apa yang jelas, pikiran juga adalah istrumen yang cocok untuk melakukan uji realitas, dan mengasah dua pisau antara pisau logika dan pisau fantasi bebas. 
Menurut Lasswell, seorang intelektual harus mempelajari syarat-syarat bertahan hidup dalam arena kekuasaan, yaitu ketika mereka terjebak dalam jaring kepentingan, sehingga harus mengembangkan identitas professional yang akan menawarkan proteksi kelembagaan terhadap irasionalitas yang ditimbulkan oleh kekuasaan politik, juga pentingnya mengembangkan komunitas peneliti. Bahwa kita tidak lagi mempunyai kisah tentang orientasi kebijakan professional tunggal yang terletak pada lembaga lembaga mapan sekaligus secara pradoks bekerja untuk secara kritis mencerahkan diri mereka sendiri dan masyarakat.  Sebaliknya, kita mempunyai kisah tentang pluralitas orientasi kebijakan yang tidak hanya didasarkan pada lembaga-lembaga yang telah mapan tapi juga publik masyarakat sipil.

Kebijakan Publik, Ilmu Sosial dan Negara: Sebuah Perspektif Sejarah
            Penelitian sosial juga berkembang kepada gagasan bahwa pengetahuan yang baik mempunyai hubungan yang harmonis dengan kegunaannya.  Sehingga pemanfaatan pengetahuan adalah salah satu bidang yang berkembang dan gerakan refleksif dari banyak ilmu sosial menjadi sumber dalam pengalaman ini.  Neoliberalisme sebagai ideologi ekonomi umum bahkan menghidupkan kembali ideologi ekonomi umum dan doktrin pengaturan diri-sosial dimana tidak ada tempat atau kebutuhan akan bukti empiris yang rinci tentang situasi sosial. Bahwa pemahaman neoliberalisme antara negara dan ekonomi dalam hubungan yang ekonomis, dengan pemahaman postmodernis mengenai masyarakat dan kebudayaan, bahwa ilmu sosial menjadi kerangka dasar untuk memikirkan hubungan antara pasar dan hierarki, memungkinkan pluralitas, keragaman dan kompleksitas. Dan memiliki keterbatasan untuk mengendalikan situasi sosial-politik karena manusia bertindak dengan cara yang tidak dapat diketahui. Model proses kebijakan, menurut Lasswell (1956) memiliki tujuh tahap yaitu kecerdasan, promosi, rumusan, penerapan, penghentian dan penilaian.
            Pembuatan kebijakan mengandaikan pengenalah masalah kebijakan, yaitu mensyaratkan masalah sosial telah didefinisikan dan perlunya intervensi negara telah dinyatakan dan masalah telah dimasukkan dalam agenda untuk pertimbangan serius aksi publik. Bertemunya sejumlah faktor dan variabel yang saling berkaitan menentukan apakah isu kebijakan menjadi topik utama dalam agenda kebijakan.  Faktor-faktor ini mencakup kondisi material lingkungan kebijakan (seperti tingkat perkembangan ekonomi), dan aliran siklus gagasan dan ideologi, yang penting dalam mengevaluasi kebijakan dan menghubungkannya dengan solusi (usulan kebijakan).  Dalam konteks itu, lingkaran kepentingan antara aktor-aktor yang terkait, kapasitas lembaga yang bertanggung jawab untuk bertindak secara efektif, dan siklus persepsi masalah publik serta solusi yang terkait dengan berbagai masalah adalah sangat penting.  Selanjutnya, untuk proses ideal implementasi kebijakan, mencakup unsur-unsur spesifikasi rincian program, alokasi sumber daya dan keputusan.  Tahap evaluasi, kemudian menjadi penting untuk menilai suatu kebijakan menurut tujuan dan dampak yang diinginkan dalam membentuk titik awal serta berfokus pada hasil yang diharapkan dan konsekuensi yang tidak diinginkan dari kebijakan.
            Kerangka siklus kebijakan tidak hanya menawarkan tolak ukur bagi evaluasi kegagalan atau keberhasilan, tetapi juga menawarkan perspektif untuk menilai kualitas demokratis proses ini.  Pertanyaan penelitian juga adalah salah satu yang paling penting untuk kemudian berlanjut menjadi apakah dan mengapa kebijakan menyimpang dari desain awal, dan aktor mana yang paling penting dalam mendefinisikan masalah kebijakan atau secara resmi mengadopsi kebijakan tertentu.
           
Penetapan Agenda dalam Kebijakan Publik
Menurut Schattscheineder, 1960, definisi alternatif adalah alat paling ampuh dari kekuasaan, bahwa definisi isu, masalah, dan solusi alternatif sangat penting karena menentukan isu, masalah dan solusi mana yang akan mendapatkan perhatian dari masyarakat dan pengambil keputusan, yang akan mendapatkan perhatian yang lebih luas.  Semua bentuk organisasi politik mempunyai bias dalam mendukung ekploitasi jenis konflik dan menekankan jenis lain karena organisasi adalah mobilisasi bias.  Beberapa isu disusun ke dalam politik, sementara yang lain dikeluarkan. 
Ada beberapa cara di mana kelompok dapat menjalankan strategi untuk mendapatkan perhatian pada isu, sehingga mendapatkan isu pada agenda.  Cara pertama bagi kelompok kepentingan yang kurang diuntungkan untuk mempengaruhi pembuatan kebijakan berkaitan dengan metaphor arus perubahan agenda dimana ‘jendela kesempatan’ untuk perubahan terbuka ketika dua arus atau lebih (arus politik, masalah atau kebijakan) digabungkan.  Kedua, perubahan dalam persepsi kita terhadap masalah juga akan mempengaruhi terbukanya ‘jendela kesempatan’ bagi perubahan kebijakan. Juga pentingnya membuat koalisi advokasi, yaitu koalisi dari kelompok tertentu yang bersatu berdasarkan beberapa keyakinan bersama tentang isu atau masalah tertentu dimana hal ini akan bekerja untuk mengalahkan kekuatan kepentingan dominan, juga menghasilkan perhatian yang lebih besar dari pembuat kebijakan dan akses yang lebih besar pada proses pembuatan kebijakan, sehingga membentuk kekuatan tandingan melawan elit yang lebih kuat.

Perumusan Kebijakan: Desain dan Alat
Perumusan kebijakan mencakup identifikasi dan/atau penyusunan seperangkat alternatif kebijakan untuk mengatasi masalah dan mempersempit kumpulan solusi tersebut untuk dipersiapkan dalam keputusan kebijakan final.  Mengambil pertanyaan; apa rencana untuk mengatasi masalah?, apa tujuan dan prioritasnya? Apa pilihan yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut, apa kelebihan dan kekurangan dari setiap pilihan?apa faktor luar, positif atau negatif, yang terkait dengan setiap alternatif? (Cochran dan Malone, 1996).
Analisis konteks tertentu juga dapat menghasilkan prediksi yang luar tentang desain kebijakan yang akan muncul darinya.  Tetapi karena desain mempunyai begitu banyak ‘working parts’ (tujuan, definisi masalah, kelompok sasaran, alat, agen dan lain-lain) membuat hal tersebut menjadi sulit dilakukan, juga diperumit oleh dimensi manusia pembuatan kebijakan.

Implementasi Kebijakan Publik
Studi implementasi terbagi menjadi tiga generasi penelitian implentasi (Goggin dkk, 1990),yang pertama yaitu meningkatkan kesadaran akan isu dalam komunitas ilmiah yang lebih luas dan masyarakat umum, yang kedua yaitu pengajuan berbagai macam kerangka teori dan hipotesis, juga pemahaman akan pelaksanaan secara hierarkis tujuan kebijakan yang didefinisikan oleh pusat. Yang ketiga yaitu implementasi yang menjembatani kesenjangan antara pendekatan atas-bawah dan bawah-atas (hierarkis) dengan menggabungkan wawasan pemikiran dari kedua kubu menjadi model teoritis mereka.  Sementara itu Goodin dan Klingemann, 1996 memiliki tiga kelemahan, yaitu kurangnya kumulasi, yaitu bentrok antara pemikiran atas-bawah dan bawah-atas, kurangnya pemahaman akan faktor-faktor variabel penjelas, mana yang lebih penting serta bagaimana latar belakangnya, dan penelitian implementasi yang ditandai oleh ontologi dan epistemologi, yang sama-sama positivis yang sebagian besar mengabaikan peran, wacana, simbol dan pola budaya.

Bandung, 11 Juli 2018

Saturday, July 7, 2018

When Its Getting Cold #FanFiction

2.47 a.m

Udara di Bandung kali ini mencapai suhu terendah, 16 derajat, lowest point. Yeah, right, like what i feel right now. I can say and tell you all, this is the lowest point of my life too. Lowest or the most confuse? I cant tell.
  
Bagi beberapa orang, titik terendah mungkin ketika mereka mendapatkan masalah yang besar atau apa aku tidak tahu.  Tapi bagiku, titik terendahku adalah, momen ini, momen sekarang.
Aku harap aku bisa jelaskan, bagaimana rasanya? Bingung?

Tapi aku bahkan tidak sanggup mengutarakan perasaan apa itu, kehilangan? rindu? masih bisa berbicara dan bertemu seseorang tetapi orang itu telah benar benar berbeda? seperti kau ingin mengucapkan perpisahan dan melupakan, tapi kau masih tidak bisa.

Karena orang itu masih ada di hidupmu, kau masih bertemu dengannya, tapi dia sudah benar benar berubah.  Dia masih membuatmu tertarik, tapi dengan cara yang benar benar berbeda, mata yang sudah tidak seperti dulu melihatmu.
Bagiku, itu lebih buruk dari kehilangan.  Itu seperti... terlupakan, terpinggirkan pelan pelan hingga akhirnya semuanya akan menghilang.

Mungkin semuanya adalah salahku yang dari awal terlalu banyak berharap dan menanamkan keinginan keinginan, untuk terus berada lama, menarik narik memori, tapi tentang hal yang aku pelajari, momen terbaik tidak akan pernah datang lagi.

But he said, everything gonna be okay.
I just need to hold on.
So I will stay here, 
waiting for miracle that i know never gonna happen to my ordinary life.
I dont know.

Bdg, 7/7/2018

Thursday, July 5, 2018

Apa yang kita dapatkan dari waktu yang telah lama berlalu? #journal

Jam tiga pagi, masih tersadar, membaca buku-buku kuliah diselingi dengan menonton, dengar lagu.  Jadi merasakan nostalgia semenjak dulu, jaman-jaman masih sma, begitu excited internet dipasang, ga tidur semalaman, begitu juga dengan waktu bisa beli nitendo, ps1 yang dulu gara-gara menang lomba. Kemudian semalaman main game, sampe pura-pura tutup pintu kamar, matiin lampu, matiin suara game biar gak ketauan lagi main. Walaupun merasa bersalah juga, karena gak punya self control dan pergi ke sekolah besoknya ngantuk bukan main.  Toh, sebenernya gak pernah ngerasa rugi juga dan ngelakuin hal itu berulang ulang.

Terjaga di jam segini membuat memori-memori masa kecil, ingatan-ingatan tentang apa saja yang dulu dipikirkan jam segini, membuatku tersenyum. Waktu telah berlalu begitu lama, dan aku masih saja merasa menjadi orang yang sama, orang yang sebenarnya tidak terlalu senang berada di luar, menghabiskan sebagian besar waktu membaca, kalau dulu komik-komik fantasi, browsing foto-foto deviantart, membaca artikel-artikel tentang spy, nonton. Yang sebenarnya canggung bergaul, yang lebih sering gak tau mau ngapain kalau ketemu orang baru, yang ngerasa insecure, gak nyaman dekat dengan orang lain, yang selalu ngerasa inferior, gak pede, takut gak diterima orang lain, takut kalau udah ngeluarin kata kata yang salah dan buat orang jadi berpikir jelek, kemudian semalaman bakal gak tidur, inget orang tua, inget apa aja yang udah dilakuin seharian kemudian sedih sendiri karena dulu nakal banget, karena orang tua udah baik banget, tapi sekolahnya main main terus dan gak pernah ranking di sekolah, gak pernah juara kelas lagi waktu sma, takut ga lulus, takut gak masuk kuliah, dan malem-malem, pas lampu kamar udah mati semua ketakutan itu datang dan makin menjadi jadi sampe akhirnya capek sendiri, buka tirai jendela, liatin langit malam dan akhirnya kecapekan sendiri karena banyak berpikir macam macam.

Kukira karina yang sekarang, di 27 tahun hidupnya, masih tidak terlalu jauh berbeda.  Masih saja terjaga jika ada kesempatan, tenggelam dalam pikiran-pikiran dan ketakutan-ketakutan sendiri akan bagaimana jika masa depan gagal, meskipun akan lebih baik bila masa depan itu tidak datang. Masih saja keras kepala, tapi suka insecure sendiri.  Bedanya hanya, mungkin sekarang semuanya sudah disimpan rapat-rapat, disembunyikan di dalam kepura puraan bahwa semuanya mungkin sudah berjalan baik baik saja.  Menaati semua buku motivasi dan pesan pesan tentang bagaimana cara memberanikan diri lagi, untuk terus jalan saja, ke depan, sambil sesekali melihat ke belakang.

Hingga akhirnya muncul pertanyaan, sudah seberapa banyakkah yang kita dapatkan dari waktu yang telah berlalu? apakah kita akhirnya akan sampai pada jawaban dan mampu menjawab jawaban kita sendiri? apakah waktu sudah cukup untuk dijadikan sebuah pelajaran? pelajaran untuk apa? apakah masa depan ada atau tidak akan lagi ada?

Hehe. Pagi sudah makin dekat, jawaban-jawaban memang mungkin belum terjawab, masih belum lelah berlari lari pada jari di ketikan dan pikiran sendiri, belum waktunya istirahat. 

Akankah kita masih ada dalam jawaban jawaban yang nanti akhirnya akan kita dapat?
Apakah semua pertanyaan sudah tepat? atau jangan jangan dari awal kita telah gagal melihat?

Bandung. Kamis, 5 Juli 2018