Thursday, November 15, 2018

Kelas Selasar Imaji Hari Ini





Apa yang lebih menyenangkan selain menemukan inspirasi? Menemukan diri kita di masa kecil yang masih ingin belajar, tapi terbentur akan banyak hal, siapa yang masih ingat akan masa lalu, kebaikan-kebaikan orang tua, guru, orang-orang yang kita temui yang masih kita kenang dan membuat kita ingin melakukan sesuatu yang lebih baik, bekerja lebih keras, tidak mudah patah semangat ketika bertemu hal-hal kecil?

Minggu, 11 November 2018 kemarin aku mengajar kelas literasi mengenai public speaking tentang pantun, puisi dan pidato.  Dalam kelompokku ada seorang murid bernama Najib, yang katanya masih TK, di pembagian kertas kami mendapatkan naskah pidato untuk dia bacakan, tetapi dia masih belum lancar membaca, jadi aku menuliskan pantun untuknya, 

ada sisir monyet berkaca,
ada kuda mirip keledai
rajin menulis rajin membaca
biar jadi anak yang pandai

pantun yang pelan-pelan ia eja dan baca ke depan kelas ini ternyata berkesan kepadanya, ia ingin membaca lebih banyak lagi, kata kata yang lebih sulit, kemudian pada saat kelas membaca, aku menemukan ia kesulitan membaca teks yang panjang, belum begitu mengingat beberapa huruf.  Terkadang masih lupa dan tidak lancar.

"aku mau membaca" katanya.

kemudian pada saat kelas bubar ia masih menghampiriku dan membawakan buku cerita lain tentang gajah yang melihat bintang-bintang melalui teropong.  Ia ingin tahu ceritanya katanya.  

lantas ia bercerita ia bercita-cita jadi polisi, awalnya kukira karena dia mengenal anggota keluarganya yang bekerja sebagai polisi.  Ia lalu bercerita dulu kalau jalan dengan ayahnya ia suka melihat polisi di jalan yang menggunakan seragam, ia suka melihatnya katanya.  Ia tidak tahu ayahnya bekerja apa, berangkat di siang hari, sesekali ia pula membantu ibunya di rumah.  Makanan favoritnya cumi, katanya, dulu ia pernah makan cumi dan merasa makanan itu enak sekali.

Kadang-kadang dalam kelas seperti ini, rasanya apa yang diajarkan, lebih banyak kembali pada hal hal yang mengajari kita lebih keras.

Untuk tidak mengalah pada kesempatan, memanfaatkan nasib yang sudah terhampar di hadapan dengan sebaik-baiknya, berjuang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, seperti kata Pram di salah satu bukunya.

No comments:

Post a Comment