yang terbentang luas
Sunday, February 21, 2021
jarak
yang terbentang luas
Tuesday, February 16, 2021
yang tergenang, yang terkenang
tiap pagi menjelang
ketika badan lelah
dan cahaya menyeruak
Thursday, January 28, 2021
Jean Paul- Sartre
Saturday,
11 July, 1959: 2:07 a.m.
I
am awake and alone at 2 a.m.
There
must be a God. There cannot be a God.
I
will start a blog. **
Sunday,
12 July, 1959: 9:55 a.m.
An
angry crow mocked me this morning. I couldn’t finish my croissant, and fled the
café in despair.
The
crow descended on the croissant, squawking fiercely. Perhaps this was its plan.
Perhaps
there is no plan. **
Thursday,
16 July, 1959: 7:45 p.m.
When
S. returned this afternoon I asked her where she had been, and she said she had
been in the street.
“Perhaps,”
I said, “that explains why you look ‘rue’-ful.”
Her
blank stare only reinforced for me the futility of existence. **
Friday,
17 July, 1959: 12:20 p.m.
When
S. came through my study just now I asked her to wait a moment.
“Rueful,”
I told her. “Because ‘rue’ is the French word for street.”
“What?”
she said.
“From
yesterday,” I said.
“Oh,”
she said. “Yeah. Right.”
“And
you said you had been in the street.”
“I
got it,” she said.
“It
was a pun,” I said.
“Got
it,” she said. “Puns aren’t your thing, are they?”
“They
fill me with dread,” I admitted, for it is true.
“I
gotta go,” S. said. “Hey, from now on? Maybe not so much for you with the
jokes. It’ll be like an hour for lunch, I gotta thaw the poulet.”
Existence
is a vessel that can never be filled. **
Sunday,
19 July, 1959: 8:15 a.m.
Let
others have their so-called “day of rest”! I shall continue to strive, to
think, for in work alone is Man’s purpose. This is what the bourgeoisie seem
never to grasp. Especially that lout M. Picard from No. 11. Every day is a “day
of rest” for that tête de mouton. How I wish he did not have his
Citroën up on blocks in the front yard! Appearances are without meaning, but
still, it does not look nice. **
Wednesday,
22 July, 1959: 10:50 a.m.
This
morning over breakfast S. asked me why I looked so glum.
“Because,”
I said, “everything that exists is born for no reason, carries on living
through weakness, and dies by accident.”
“Jesus,”
S. said. “Aren’t you ever off the clock?” **
Monday,
27 July, 1959: 4:10 a.m.
Lunch
with Merleau-Ponty this afternoon in Saint-Germain-des-Prés. I was disturbed to
hear that he has started a photoblog, and skeptical when he told me that
although all its images are identical—a lonely kitten staring bleakly into
space as rain falls pitilessly from an empty sky—he averages sixteen thousand
page views per day. When I asked to see his referrer logs, he muttered
evasively about having an appointment with an S.E.O. specialist and scurried
away.
So
this is hell. **
Monday,
3 August, 1959: 11:10 a.m.
I
was awakened this morning by the sound of an insistent knocking at my door. It
was a man in a brown suit. He seemed to be in a hurry, as if Death itself were pursuing
him.
“One
always dies too soon—or too late,” I told him. “And yet one’s whole life is
complete at that moment, with a line drawn neatly under it, ready for the
summing up. You are—your life, and nothing else.”
“Okay,”
he said. “But I’m just the UPS guy.”
“Oh,”
I said. “I— Oh.”
“Sign
here,” he said.
“I
thought you were a harbinger of Death,” I told him.
“I
get that a lot,” he said, peering down at the place on the clipboard where I
had signed. “Spell your last name?”
VIDEO FROM THE NEW YORKER
Hollywood’s Buffoon Speaks Out
“S-A-R-T-R-E,”
I said.
“Have
a nice day,” he said.
A nice day. How
utterly banal. **
Tuesday,
4 August, 1959: 3: 30 p.m.
A
year ago, in a moment of weakness, I allowed my American literary
representative to sell one of my books to a cinema producer for what was
described as “a bold exploration of contemporary issues.” Yesterday I received
a packet of publicity materials for a film titled “Johnny Sart: PD Squad.” The
subtitle, or “tag line,” was “No badge. No gun. No exit.” A series of
transatlantic telephone calls followed. Apparently I am unable to have my name
removed from this abomination, but I will receive what is called a
“co-producer” credit.
Existence
is an imperfection. **
Thursday,
20 August, 1959: 2:10 p.m.
If
Man exists, God cannot exist, because God’s omniscience would reduce Man to an
object. And if Man is merely an object, why then must I pay the onerous fees
levied on overdue balances by M. Pelletier at the patisserie? At least this was
the argument I raised this morning with M. Pelletier. He seemed unconvinced and
produced his huge loutish son Gilles from the back, ominously brandishing a
large pastry roller. The pastry roller existed, I can tell you that. **
Friday,
2 October, 1959: 5:55 a.m.
My
sleep continues to be troubled by odd dreams. Last night I dreamt that I was a
beetle, clinging to the slick surface of a water-soaked log as it careened down
a rain-swollen stream toward a waterfall. A figure appeared on the horizon, and
as the log drew closer I could see that it was Camus. He held out a hand and I
desperately reached for it with my tiny feeler. Just as the log drew abreast of
Camus he suddenly withdrew his hand, swooped it through his hair, and sneered
“Too slow,” adding superfluously, “Psych.”
It
is my belief that the log symbolizes the precariousness of Existence, while the
tiny feeler represents Man’s essential powerlessness. And Camus represents
Camus, that fatuous ninny. **
Tuesday,
10 November, 1959: 12:05 a.m.
It
has been over a month since I have updated my blog. I am seized with an urge to
apologize. But to whom, and to what end? If one truly creates for one’s self,
why then am I so disturbed to find that my unique visitors have dwindled away
practically to nothing, with a bounce rate approaching ninety-five per cent?
These twin impulses—toward reckless self-regard and the approbation of
others—neatly negate one another. This is the essential paradox of our time.
I
will start a podcast.
https://www.newyorker.com/humor/daily-shouts/le-blog-de-jean-paul-sartre
Sunday, January 3, 2021
New Resolution for New Year #50booksof2021
Seperti biasa, awal tahun 2021 ini juga semangat buat ngelist dan review bacaan, walaupun biasanya juga terlewat, tapi seenggaknya, we should start somewhere, ya gak? Hehe. Seorang teman pernah bertanya padaku bagaimana caranya suka membaca buku. Kalau aku, memulai membaca ketika aku sedang sepi sendiri gak tau mau ngapain, terus kalau baca buku, jadinya punya 'dunia' yang lain yang bisa membuat aku teralihkan dari kegabutan. haha. Sebuah solusi sementara, tapi kalau untuk terus berlanjut, aku kira semuanya selalu dimulai dari rasa keingintahuan. Rasa penasaran, ketidaktahuan kita tentang sesuatu. Sesuatu yang terlewat, hal kecil yang luput dari analisis dan perspektif sendiri, hal itu yang ingin aku temukan dalam buku buku yang kubaca.
Seperti ketika aku membaca suatu ide, kemudian setuju dengannya. Hal yang menyenangkan dari sebuah buku, ketika kita menemukan suara diri kita sendiri dan kita jadi merasa tak lagi sendirian. Kadang kita melalui hari hari dengan biasa saja, terlewatkan begitu saja. Tapi dari kacamata dan ide ide yang disampaikan dan dijabarkan dalam sebuah buku, kadang kita jadi bisa lebih memahami bagaimana sesuatu terjadi. Atau sesederhana menemukan sesuatu yang menginspirasi atau menunjukkan kita hal hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya.
Sebenarnya gak mau pasang target karena ntar kerasa terbebani kalau lagi sibuk tapi kadang juga lumayan ambi pengen nyatet dan dokumentasiin semua yang ditulis karena kadang kalau bacanya gitu gitu aja suka terlupakan kalau ada hal yang menarik di buku. Kalau ditulis ulang, di blog ataupun dicatat di jurnal, waktu yang dihabiskan dengan membaca buku kan jadi berasa lebih bermanfaat karena memperkaya 'ide' dan gagasan nya melekat dibanding kelewat begitu aja. Walaupun, sebenernya gak bermanfaat juga gak papa karena i also enjoy it for killing time. Tapi sebagai anak administrasi, nyusun target idealnya ada Smart (Specific, Measurable, Achievable dan Relevant) jadi dalam #50booksof2021 ini targetnya adalah 50 buku, sekitar 4-5 buku dalam sebulan. Sebenarnya achievable kalau orientasinya cuma judul, soalnya kalau beberapa buku yang kalau aku udah gak semangat baca pasti langsung aku skip atau aku lewatkan sampai seenggaknya ke bagian akhir untuk bisa coba menebak nebak isi sebelumnya.
Rencanya si at least cover, judul dan penulis mau ditulisin ke blog ini, selain pengen capai target menulis sekitar 500 kata sehari sebagai latihan buat menulis buku nantinya. Sebenarnya pengen nulis sebuah buku novel dari draft tulisan lama, tapi juga pengen banget nulis buku dari tesis, kebijakan pembangunan daerah atau terkait administrasi publik di Pontianak, hasil dari kuliah magister kemaren yang pengennya dimanfaatkan hasil penelitiannya jadi sebuah buku yang bisa buat referensi dan bermanfaat di Kota Pontianak sebagai bacaan sehari-hari, bukan cuma sebagai arsip tesis. Baru angan-angan yang terlintas di pikiran sih, belum diupayakan maksimal, tapi yah, begitulah kira-kira khayalannya, kita lihat bakal dijalankan atau enggak, entah dalam waktu dekat, waktu panjang atau gak jadi jadi seperti keinginan-keinginan lainnya. Haha.
Buku pertama di 2021 adalah 100 tricks to appear smart in meetings dari Sarah Cooper. Tipe buku sarkas-konyol-tapi bener juga ini adalah trik trik biar terlihat 'pinter' di rapat, berisi ilustrasi dan tips buat ikut rapat dan presentasi kemudian sedikit 'menonjol' dari yang lain siapa tau bisa dinotice dan dibilang 'pinter'. Haha. Buku yang sangat iya banget alias kadang gak sadar juga aku lakukan kalau emang lagi ikut di rapat yang menarik atau approach ke orang atau presentasi di kelas magister dulu, kadang-kadang emang suka ngerasa 'sok pinter' juga sih, ga tahu tahu banget tapi ya udah hajar aja biar keliatan 'dalem' dan 'beda' padahal mungkin lebihnya di kreatif-nya aja. :)) Menarik dan konyol, buku ringan yang bisa dibaca jadi humor, atau beneran dipraktekin. Haha. Enjoyable, fun to read, cute illustrator, sarcasm but have some truth.
mimpi
Kau masih berada di pelupuk mataku,
menggenggam tanganku dengan hangat.
Senyum yang selalu aku ingat.
Anak kecil dalam diriku tertawa polos, berbahagia.
Aku kini memandangnya muram dari sudut jendela,
mengasihani diri sendiri,
yang tidak tahu nanti segala ingatan kebahagiaan ini,
adalah lara yang paling akan sering membuat air mata menetes.
Kapankah kau akan berbahagia kembali?
dengan polos dan tanpa kesedihan
yang kini selalu menunggumu
saat matahari sudah hilang
dan kau ditinggalkan.
...
2/1/2021
Saturday, January 2, 2021
2021
2020 jadi tahun yang mixed up, dari hal hal yang menyenangkan, jalan jalan jauh sampai pindahan, dari akhirnya menyelesaikan tesis hingga memulai lagi dari awal. Dari galau setengah mati, jatuh cinta sampai galau ldr lagi. Haha. Tentu yang paling bersejarah adalah pandemi covid-19 yang mengubah tatanan hidup, kegiatan sehari-hari, mengubah 'trend' dan lifestyle, dengan aturan-aturan baru. Tantangan yang ada plus -minus, seperti hal hal lain dalam hidup, namun lebih naik level sedikit.
Akhir tahun 2020 kuhabiskan dengan sendirian di rumah, malas keluar, dan memilih untuk berkutat dengan laptop, dengar lagu, baca buku dan main games. Kegiatan yang semenjak pandemi ini semakin intens aku lakukan - sebelumnya mungkin lebih banyak nongkrong-nongkrong di cafe ataupun jalan-jalan traveling.
Apakah yang akan dibawa tahun yang baru ini, entahlah. Apakah kita benar-benar bisa memilih sesuatu atau menunggu segalanya dihamparkan dan dihadapkan ke hadapan kita? Aku juga tidak pernah benar benar yakin - dan tahu.
Tapi tentu, untuk menghabiskan waktu - menunggu arah angin berubah, manusia wajib berusaha sebaik mungkin, seterhormat mungkin untuk berjuang, memperjuangkan keinginan-keinginan duniawinya.
Target mungkin disusun tinggi sedikit, tentu lebih tinggi dari kemarin, supaya lebih terasa 'tertantang' dan 'ngeri'nya untuk lebih berandai-andai dan 'tertampar' sedikit untuk tidak terbangun dari tidur di pagi hari dan merasa hidup begitu-begitu saja.
Harus ada yang berubah, setidaknya mimpi yang semakin jelas dan rinci, beserta milestone-nya. Karena pada akhirnya, bukan apa apa yang tercapai dan garis akhir, tapi tetes peluh di tiap prosesnya, yang menempa kita menjadi seseorang yang bisa mengambil pelajaran dari apa-apa yang menimpa kita dengan keras. Semoga semuanya bisa menjadikan kita lebih kuat, bukan lebih putus asa.
Aku sadar, lebih mudah untuk berputus asa, jalan pintas yang bikin bisa termenung dan menangisi apa apa yang terjadi. Kesadaran yang menampar, realita yang menginjak-injak 'pride' diri sendiri. Tapi waktu berlalu, dan berlarut-larut dalam keputusasaan juga akan membuat bosan- Semoga kita bisa bangkit lagi, dalam tiap jatuh yang menyesakkan dada.
Tidak ada yang banyak kuharapkan dari 2021- aku sudah sedikit berhenti berharap, hanya target-target realitas yang harus dilakukan setiap hari, tujuan tujuan realistis yang mungkin masih bisa diusahakan dengan tindakan tindakan kecil. Sisanya, adalah mimpi-mimpi yang kusimpan di kepala.
Ada doa untuk 2021, yang disemogakan, yang diharapkan, tapi juga bersiap apabila akhirnya ia tidak memberikan apa-apa. Kupikir manusia tidak wajib sukses, hanya wajib berusaha semampu dan sekuat-kuatnya.
Pontianak, 2 Januari 2021
Thursday, December 31, 2020
Another Round (2020) #moviereview

Sunday, December 27, 2020
di hari minggu
Wednesday, December 23, 2020
yang telah hati hati
pernah kucintai kau sebelumnya
dengan dalam, tanpa sengaja
tanpa diketahui.
dalam waktu yang berlalu
kemudian kau pergi begitu saja
meninggalkanku berserakan
pada patah hatiku yang pertama
hari ini kau datang
dengan tawa seperti biasa
dengan kekonyolan yang biasa
masih sama saja
seperti bertahun tahun yang lalu
aku bukan lagi orang yang sama
seperti dahulu
tak tahu bagaimana caranya
jatuh bebas tanpa siaga
hari ini aku sudah tumbuh
jadi orang yang lebih kuat
yang lebih sadar
yang telah berkali kali patah hati
hadirmu mengingatkanku kembali
bagaimana rasanya jatuh cinta
pada kali pertama
dengan pedih, dengan polosnya,
tanpa berpikir
kupikir aku sedikit rindu
dengan diriku yang dulu
lugu belum tau apa apa
selain menjatuhkan diri
dirimu di hadapku,
melihatmu sama seperti dahulu
dengan hal hal yang selalu membuatku
jatuh cinta tanpa hati hati
hari ini kutemui dirimu
kutunggu
tapi tak lagi
kuberikan diriku.
December 23th 2020
Monday, December 21, 2020
waktu yang tepat
dimanakah waktu yang tepat
terselit di antara rutin rutin
dan keinginan untuk berbaring
melupakan yang lain lain
sekedar menikmati hari
kapankah waktu yang tepat
di antara tanda tanya
dan kemungkinan kemungkinan
dalam hati yang tak terutarakan
kapankah waktu yang tepat
untuk tinggal sebentar
atau pergi dengan cepat
bagaimana menemukan waktu
di antara alasan alasan
dan kenyamanan
untuk terus bertemu
satu kali lagi
sedikit lebih lama lagi
kemudian waktu terlalu lama berlalu
dan apa apa yang ingin ditinggalkan
sudah terlalu berat
benar benar adakah waktu yang tepat
waktu yang dicari cari
dalam alasan yang telah lama menunggu
kapankah waktu yang tepat
aku kah yang menunggu
atau kah akan menemukan?
sebuah waktu yang sempurna
waktu yang tepat
untuk pergi
untuk tinggal
untuk berpisah
sebuah waktu yang tepat
yang akan ditemukan,
atau takkan ditemukan
dalam alasan alasan
yang tiap hari kita cari cari
untuk tinggal
sedikit lebih lama lagi
di waktu yang tepat
kita akan menemukan,
kita akan meninggalkan.
diantaranya,
kita tinggal berdoa dan berharap
untuk dapat terus cukup kuat
menjalani semuanya.
Minggu, 20 December 2020
Thursday, December 17, 2020
Cinta Sudah Tidak Ada Lagi Malam Ini
aku jatuh pada hal hal yang kecil
caramu menyayangiku
memperlakukanku seperti hal yang paling berharga di dunia
memikirkan tentang apa yang kusukai
menenangkan hatiku
tapi hari berlalu terlalu cepat
cinta begitu saja terlewat
kau tinggalkan aku dengan
hatimu yang tak lagi hangat
aku tak lagi jatuh
dan hal hal kecil jadi kerikil
membutakan mata
memadamkan semua rasa
di meja, kopi telah jadi dingin
dan tak lagi enak
rumah tak lagi menenangkan
hanya kekhawatiran
bisakah bertahan
teriakan demi teriakan
tak lagi bisa mendengarkan kata demi kata
nasi telah jadi basi
tidak ada lagi makan malam
di bawah bintang bintang
tempat kita bercerita
telah jadi tempat yang paling kosong
dan senyap di seluruh dunia
kemanakah perginya cinta
yang menghangatkan malam malam dingin
memuaikah ia di udara
atau mata jadi tiba tiba buta
pergilah saat makanan masih hangat
dan malam belum terlalu gelap
agar ada sisa sisa harap yang ditinggalkan
berharap cinta datang mengetuk pintu
sekali lagi.
aku harap ia akan datang sekali lagi.
sementara itu,
tak ada lagi gunanya disini.
apa apa yang membebaskan
mungkin esok ia akan memenjarakan
tak kan betah lama tertawan
ketika tak ada lagi hal hal kecil
yang bisa dipertahankan
cinta sudah tidak ada lagi malam ini
tak tau lagi besok
mungkin ia akan datang lagi
mungin juga ia telah mati,
tak ingin lagi mengunjungi
atau telah terkubur sendiri
tapi besok pagi ketika fajar tinggi
dan bunga bunga mekar
akan kuusahakan sekali lagi
mencari yang mau menetap,
tinggal di hati di waktu yang lama sekali
Thu, 17 December 2020
Tuesday, November 24, 2020
di hari libur
aku mencintaimu di kala libur
kala ku bosan dan menganggur
bertanya tanya tentang artinya terhibur
tak ingin serius kemudian takabur
yang tak pernah kurasakan sebelum sebelumnya
aneh dan membuatku menduga duga
sekaligus terlalu ringan langkahku
menjalaninya
aku senang bertanya tanya
tapi kali ini, aku tak lagi berani bertanya
aku tidak berani lagi membayangkan
besok ketika kita berpisah
dan meredam redam sakit yang pilu
atau besok mungkin sudah hilang rasa
dan kita laju berlari di jalan yang berbeda
hari ini ingin kunikmati setiap pertengkaran
dan hal hal yang baik
yang datang darimu
di hari libur ketika ku tak lagi menganggur
akan kuingat terus mengunjungimu
di ruang kepalaku
memberi cinta terus subur
entah sampai kapan
mungkin ketika tak ada lagi libur
dan yang tersisa hanya
hari hari yang panjang dan melelahkan
Pontianak, 24 November 2020.
Luxurious By Bio Beauty Lab #review
Tuesday, November 10, 2020
Scarlett Whitening Review
Tuesday, October 27, 2020
Sabar Ini Ujian (2020) Movie Review
Thursday, October 8, 2020
ThoughtCatalogs: Angry State #octoberjournal
Pernah nggak sih, kepikiran tentang kata kata orang lain yang ditujukan ke kita sampai akhirnya jadi ngerasa 'dhegg', emosi dan timbul keinginan untuk menyakiti orang yang ngomong, merendahkan atau bahkan ingin 'menyerang' balik dengan kata kata yang kita anggap 'sederajat' untuk melukai.
Ngobrolin ini dengan D,kemudian kita jadi berdiskusi, dia lalu bercerita tentang bulllying dan hubungan toxicnya. Dia bilang kita punya kontrol apakah ngebolehin kata kata orang lain menyakiti hati kita. Karena kadang, dunia tuh simply gak adil aja. Orang lain punya kesempatan besar untuk menyakiti kita, dengan kata kata, dengan perbuatan. Sedangkan gak selamanya kita punya 'power' buat ngelawan balik. Dan 'tenaga' buat melawan habis habisan.
Dia bercerita tentang bullying yang dialami saat masih kecil, gimana dia melalui trauma dan pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga kekerasan di sekolah. Aku bertanya padanya bagaimana caranya melalui itu semua, dia menjawab bahwa dengan insting survival aja. Karena either keganggu hingga sampe akhirnya ada yang bunuh diri gara-gara itu, atau bisa keluar ngelewatin itu semua dengan mental yang lebih kuat dan sebuah pelajaran, modal buat hadapi masalah di depan.
Dia kemudian bercerita panjang lebar kalau mostly orang emang ya, kayak itu aja. Gak berubah. Karena kadang orang punya perspektif, cara yang berbeda. Kita punya pilihan untuk tidak menggunakannya dan tidak terpengaruh. Tidak pula membiarkan orang yang menunjukkan 'dominance' dan seperti memiliki 'hak' untuk kita jadi merampas kemerdekaan kita buat berbahagia. Karena tentu kerugian ada di pihak kita jika memikirkan hal itu berlarut larut, mengganggu kenyamanan hidup kita yang, padahal tadinya seneng dan baik baik aja.
Kadang, di masa dewasa hidup sudah berjalan dengan nyaman dan menyenangkan, sudah punya kapasitas buat menyenangkan diri sendiri kemudian terbentur, lupa kalau sebenarnya mental kita sudah digodok dari jauh jauh hari buat sebenernya survive dengan itu. Tapi karna zona nyaman membuat kita tersentak dan lupa buat aware dan memperhatikan mode 'siaga' yang siap dengan apapun hal buruk yang terjadi ke depan. Karena kita cenderung ingin 'nyaman santai damai' sedang untuk terus 'damai' kita bakal diuji terus untuk terasah menemukan damai kita sendiri apapun keadaan yang dihadapkan.
Karena sejatinya hidup pun penuh huru hara di luar diri yang akan datang satu per satu buat 'ngetes' sejauh apa kapasitas dan sebanyak apa pelajaran yang sudah kita ambil dari masalah sebelumnya, sudah lulus dan naik tingkat atau gagal stuck di tempat.
Kadang juga aku berpikir buat jalanin semuanya dengan biasa-biasa saja. Tenang. Tapi kalo kata Tsun Zu, tidak ada ketenangan yang diperoleh dari tidak berperang. We prepare for war to have some peace. Haha. Pada akhirnya, semua itu tidak bisa dielakkan.
Memang, berdialog dengan teman, dengan orang lain itu kadang sungguh mencerahkan, mengasah kemampuan untuk jadi lawan bicara yang siap segala medan memutar otak untuk mendapatkan hal baru atau perspektif yang menarik, yang pada akhirnya, akan menyenangkan jika sebuah pembicaraan dapat membuat kita bersemangat menjalani hari hari setelahnya. Atau jika percakapannya menjadi klise dan menjemukan, jadi sebuah tanda buat kita untuk mengetahui apa apa yang tak kita sukai dan lebih mengejar hal hal yang membuat kita lebih tertarik saja.
Idea, kadang memang hal yang sangat menarik. Bisa membuat kita mengatur perspektif kita dalam memandang suatu hal. Hal yang berbeda, variasi situasi yang memecut kita untuk mengeksplor hal hal baru. Stimulan dan efek kejut, yang membuat kesadaran kita yang tadinya 'tertidur' jadi bangun dan melakukan hal hal dengan 'tujuan' yang dikenali.
Kadang juga mesti pandai pandai menjaga 'mental state' alias kewarasan dengan cara mengambil jarak dengan masalah, tenang dan meminta proses, waktu untuk kembali berpikir rasional, lebih panjang, memikirkan konsekuensi dan skenario yang mungkin saja muncul. Kupikir emosi bisa jadi cepat terpantik karena kita terkejut dan kaget dengan situasi dan hanya butuh waktu beradaptasi.
Sedang, akan muncul penyesalan jika emosi begitu saja terhambur keluar kalau tidak dikontrol, hanya kesenangan dan kepuasan sesaat. Kemudian kadang muncul pula justifikasi, untuk membuat orang lain jera. Tapi terlalu banyak energi yang dibuang dan dihabiskan. Jadi kadang mesti dihitung dan dikira2, sampai batas mana emosi mesti dikeluarkan, bukankah racun dalam tubuh juga mesti dikeluarkan biar tidak terlanjur menyakiti organ organ. Sekali sekali memang harus berak. Jangan tidak tapi juga jangan terlalu sering dengan memperhatikan apa apa saja yang kita telan. Beberapa hal memang tak dapat lagi dielakkan.
Tuesday, September 29, 2020
september yang ingin kukenang #tuesdaypoetry
Saturday, September 26, 2020
New Serum Scarlett Whitening #sarturdayreview
So lately I just focused on trying some skincare, because in this pandemic era, i just stay in my apartment without going out too much. When in apartment, its just so relax that I will like to apply some body care things, perfume, etc to enjoying my work from home things. My window from 31st floor is kinda big too so Im worry about the daylight effect on my skin plus the airconditioner.
I used this serum is about two weeks already, cost 74.250 rupiah+ 11.500 for Jnt i search and bought it @scarlettofficialshop at shoppee . At first it smells not good so i search in the internet about the smells and they said its okay cause this product dont use fragrance. Lately I think inget used to the smells and just feels fine. This serum contains Pyhto Whitening, Niacinamide, Glutathione, Vitamin C and Lavender Water. Phyto whitening, can whitening, and brightening the skin, niacinamide, for black spot and pimples, glutathione, is an antioxidant that can neutralizes free radicals, boosts the immune system and detoxifies the body. So it can cause skin lightening.
After using the serum for almost two weeks i think my skin kinda lighter and good. It helps to hydrate my skin too. I think I will use this, and its kinda okay with an okay price to add to my skincare routine. I also love their body lotion too, smells good, think about repurchase (the bottle almost empty) or try the new variants.
Sunday, September 13, 2020
a life without wifi
So after i move, i get the place with a nice view without internet connection in it. Before this I just live in a perfect wifi. lol. But now I try to reduce the internet connection and do something else. After that I know where my internet quota was spent. As a person who cant go out like before because of this pandemic, mostly I spent my time in the apartment, listening to downloaded song from spotify, watch local channel, or going online from my phone.
I notice that my daily life just consuming internet, online contents. There was a time when I watch news all day and getting negative vibes and stressed because of the 'facts' or 'news'. Before this I just getting online from my laptop and pick the sources, consume the content that I know inspire me or give me more motivation.
Life is constantly changing. Sometimes I feel that I cant keep up. Or in between.
Now Im living my dream, being here, with people i like, getting inspiration from the top of the building, to make more. I think I already reach the limit of my top of basic needs and comfort. I know it will not last long cause I have the next phase that I should move in to my parent's house again and start all over with my career.
Still have no ide what the future brings, still have no idea about how my relationship gonna go to with our difference. But is it the point? to always be clueless and leave yourself wonder, what if tomorrow brings you more exciting day, what if tomorrow you still get the chance and finally we can made it. Who knows.
Writing this while sitting alone on beanbag at the balcony, viewing others people life from the upside. Life's good, i hope we can survive through it all.
Bandung, September 13th 2020













