Sunday, July 28, 2019

Kado Ulang Tahun Untuk Tahun Yang Tak Lagi Diulang

deru laju waktu
menghantam kesadaran
yang tak lagi mampu mengingat

menangisi
entah apa yang tak lagi diingat

ingatan samar samar
berkabut dan hilang jadi abu

sendiri dan sepi
dengan kepala yang ramai
riuh gemerlap nada-nada major
menghibur yang hilang

masih kuingat mata dan wajahmu
jauh pada tahun tahun yang telah berlalu

istirahatlah dalam tenang
damailah dalam gelisah
aku selalu berdoa

yang terbaik
yang bisa dunia berikan

yang terbaik
yang bisa kau dapatkan

selamat ulang tahun
untuk tahun yang
tidak akan lagi diulang

Bandung, 27 Juli 2019

Thursday, July 25, 2019

Selamat Pagi, 25 Juli.

Pagi ini diawali dengan terbangun jam dua pagi.  Berlama lama menatap layar dan mendengarkan spotify.  Hari ini hari yang spesial.  Beberapa milestone ditandai dengan tanda di kalender, sebuah review baru bisa dilakukan setelah yang berat terlewati, waktu sudah bisa diukur dengan satuan tanggal.  
Beberapa waktu terlewati dengan begitu berat, beberapa di antaranya terlalui dengan mudah.  Beberapa dengan derai derai airmata yang ditahan, terisak diam-diam dalam lampu kamar yang gelap, beberapa kebahagiaan dibagi via videocall dengan sahabat jauh dan bercerita dengan histeris dan menyenangkan, beberapa dirayakan dengan nonton, ngopi dan live music cafe bersama radler lemon kesukaan.  

Tanda.  Kita butuh tanda, indikator yang terukur, garis yang bisa kita ukur, sudah sejauh mana kita berjalan, menjadi lebih berbeda- mungkin lebih baik- atau mungkin lebih berbahagia.  

Pagi ini jadwalku ke Jatinangor, mengejar pertemuan untuk menyelesaikan apa apa yang aku mulai.  Mencoba menikmati dan menjalani prosesnya dengan pasrah dan khidmat.  Sebagai orang yang tak pernah jadi juara pertama, atau pergi ke sekolah terkompetitif, dan tak terlalu ambisius jadi yang pertama, melanjutkan gelar adalah salah satu hal aneh yang rupanya aku sukai.  Tidak pernah ingin jadi yang terpintar, karena beberapa kelas memang membosankan dan tidak pernah suka jadi yang banyak bicara di depan dan mencari cari perhatian.  Aku pikir melanjutkan sekolah menjadi jalur pelarianku untuk malah melihat kembali diriku sendiri.  Siapakah diriku jika tidak terukur dari ukuran orang lain? Siapakah diriku jika takdir dipesankan dan hidup seperti orang kebanyakan? Siapakah diriku jika tidak punya kesadaran untuk merasakan kewarasan dan perasaan-perasaan ganjil yang kadang berseliweran.

Tanggal 25 Juli adalah hari yang spesial, menandai hal hal yang akan terus aku ingat, tahun ini dan tahun tahun sebelumnya. Ingatan adalah hal yang spesial, sesuatu yang masih bisa kita rasakan kembali jika kita masih ingin mengingat-ingatnya.  Bagaimana suatu hal bisa kita rasakan berulang-ulang padahal hal itu sudah tidak lagi terjadi?- Itulah keajaiban ingatan dari kenangan yang terus hidup.  Beberapa manis dan pahit, beberapa hanya ingatan samar dan perasaan-perasaan yang aneh.  Beberapa membuat manis tersenyum, beberapa pahit dan membuat hati patah.  Tapi akan selalu jadi spesial, karena dalam hidup yang terus berpacu dan berlari, ada hal hal yang membuat kita henti sejenak, mengingat-ingat, perasaan apa saja yang sudah kita lalui.  

Sebagai sebuah batas, pengalaman berharga, cerita-cerita lama, persepsi untuk menjalani sebuah hari yang baru.  Apalah artinya kita tanpa ingatan terdahulu? Apalah artinya kita tanpa pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan masa lalu?

Selamat pagi, 25 Juli.  Selamat Berulang. Selamat menemukan diri yang baru di hari yang baru.
Selamat dan terimakasih pula, sudah sampai pada hari ini. 

Bandung, 25 Juli 2019

Tuesday, July 23, 2019

dengan tetapi

aku mencintaimu dengan segala
segala upaya mencari cara untuk selalu ada
sekedar singgah atau mampir saja
aku hanya ingin berlama lama

kau mencintaku dengan tetapi
harus menang dalam tiap percik api
tak pernah kalah dalam alegori

kau mencintaku dengan tetapi,
kau akan selalu jadi nomor satu
dan yang terakhir mengadu
tersisaku yang tersedu

kau mencintaku dengan tetapi
tetapi jadi punyamu saja
tidak boleh kemana mana
hanya denganmu berlama lama

kau mencintaiku dengan tetapi
prasyarat panjang yang tak mampu kuhapal
tersebut entah sekenamu saja

aku mencintaimu dengan segala, 
dan kau dengan tetapi
terlalu banyak ingin, untuk kusanggupi

aku mencintaimu dengan segala
sedang kau hanya sanggup mencinta, dengan tetapi

Bandung, 23 Juli 2019

Wednesday, July 17, 2019

Buku Buku Bulan Juli

Dunia Yang Berlari : Dromologi, Implosi, Fantasmagoria - Yasraf Amir Piliang
Revolusi Industri Keempat - Klaus Schwab
Thought Vibration - William Atkinson
Misa Arwah - Dea Anugrah

Akhir-akhir ini rasanya terlalu banyak membaca ebook berbahasa inggris, selesai membaca, rasanya sedikit tidak puas karena rasa-rasanya yang tersisa hanya ingatan-ingatan di kepala, yang mungkin besok sudah lupa, di lemari buku digital, selesai membaca juga langsung lenyap-dihapus karena tidak sabar ingin mendownload yang lain lain dan mengosongkan memori.  Membaca buku secepat menjentikkan jari, membaca dengan skimming- melintas kata-kata dengan terburu-buru dan ingin cepat sampai ke inti yang dimau.  Membaca buku secara fisik, terlepas keterbatasan topik topik yang ingin didalami rasanya ada suatu checking point berisi buku buku yang menumpuk dan sedikit rasa tidak bersalah karena sudah membaca beberapa hal mengisi waktu.  

Salah satu buku yang menarik yang sedang dibaca adalah Dunia Yang Berlari, awalnya aku heran mengapa buku yang seperti novel ini terletak di deretan buku buku sos-pol-filsafat, setelah melihat satu buku yang tidak tertutup plastik aku sedikit terpukau dengan bahasa-bahasanya, buku yang awalnya berjudul Dunia Yang Berlari : Mencari Tuhan Digital ini nyeleneh sekali. hha.  Futuristik, menggambarkan keadaan dunia, menjelaskan beberapa istilah-istilah asing di telinga tapi menarik untuk dibaca.  Baudrillard, Derrida, adalah tokoh dengan ide-ide yang menarik untukku, karena pemikirannya tentang memaknai kehidupan-filsafat, yang memberikan arti yang berbeda dari pemaknaan realitas. 'Bahasa Filsafat' dan istilah-istilahnya memang berat, mereka seperti punya alam imajinasi sendiri untuk menerjemahkan kegelisahan-kegelisahan dengan tingkat kedalaman tertentu ,dengan metafora-istilah istilah mereka sendiri, hiper-realitas, dekonstruksi, kehampaan filosofis, dromologi, postmodernisme, semuanya merupakan konsep-konsep pemaknaan ulang atas kejadiaan hari-hari yang sebenarnya biasa saja, yang ternyata ketika disentuh kedalamannya, memiliki arti yang mungkin benar, atau sama sekali berbeda dari yang kita pahami.  Mungkin memang, kehidupan seperti bawang yang memiliki layer-layer ke dalam- yang ketika kita mengupasnya, bentuknya tetap sama tapi juga berbeda, meskipun ketika kita selesai mengupasi semuanya, jangan jangan yang tersisa hanya kekosongan- sebuah lorong kehampaan yang panjang tapi tetap pula tidak memiliki apa-apa.

"...keseluruhan hidup kita berlalu dalam wahana perjalanan hidup yang dipacu cepat, yang kita sendiri tak lagi menyadarinya..."

-Paul Virilio : The Aecthetics of Disappearance

Monday, July 8, 2019

once again?

my heart is torn apart
everytime your imagery
touch my fingers

i wish i was there
i wish we could go back
to my happiest moment
when im with you

im still here, watching the sky falls
when you already move on
and be the happiest person on earth

sometimes i wish
i could settle for less
and force the feelings

but i dont want to feel numb
and cant be the lovers
i dont want to stop in pause
when i still not ready
or am i never ready

i just waiting a chance
to feel alive again
once more

or nothing,
nothing at all.

-for my 7 July 2019

Wednesday, June 12, 2019

Pontianak dan Tujuh Dosa Mematikan.



#1
Selamat Pagi, Matahari

matahari malu malu muncul dan masih memukau
dan aku, memulai hari kembali dengan nyali yang ciut
sejauh apa aku bisa berjalan, tanpamu?

perjalanan ku mulai dari awal lagi
setelah kalah bertarung tadi malam
bertekuk lutut di hadapmu
tergenang dan tenggelam

tak ada jaminan
air mata tak lagi berderai
menangisi kolam kolam kosong tak berisi

aku ingin bangun dan membangun mimpi
besok, aku mungkin tidak akan kalah lagi

...



#2
Berlayar

sauhku menjauh, dayungku rapuh
angin tidak lagi punya kita
dan cuaca sedang buruk rupa

aku ingin menangisi perpisahan kita
seperti jumpa yang membuatku sungguh berbahagia

pelautku matanya telah kosong
digerus duka dan luka

maaf katamu, tidak bisa lagi berlayar, denganku

tujuanku masih panjang
aku tak ingin pulang

tapi perahu sudah menepi
aku harus berhenti

dermaga kali ini
ada rasa pula yang kulabuh

...


#3
Pukul Dua Pagi

percakapan dimulai sejak dua pagi
kau bercerita tentang semua
hal hal yang kau keluh dan resah

percakapan setelah dua pagi, katamu
adalah kata kata yang paling jujur
karena otak telah lelah berbahasa
dan hati yang merangkai kata kata

kita bercakap setiap hari, 
setiap waktu
tapi pada pukul dua pagi
suatu waktu nanti

mungkin aku akan menceritakan
kata kata yang jujur
jauh terkunci di dalam hati

...


#4
Nasi Goreng Favoritmu

kepada kau yang suka membuatku bingung
dan perdebatan konyol setiap 
tentang harus pergi kemana dan makan apa

tentang tempat yang itu itu saja
dan selera makan kita yang berbeda

kita butuh variasi! katamu
mari pergi ke tempat yang berbeda
setiap hari

mari bercerita tentang hal hal yang berbeda setiap hari
mari membaca buku yang berbeda setiap hari

tapi tiap kali kita bertengkar
perut mulai lapar
hati mulai tidak lagi sabar

aku akan kembali mengajakmu,
ke tempat nasi goreng favoritmu
makan yang itu itu lagi
maaf yang itu itu lagi

kau yang aku mau, 
lagi dan lagi

...



#5
Hari Ini Aku Ingin Berhenti

pada suatu siang yang cerah
tanpa mendung yang sendu dan hujan yang terlalu

kau bilang padaku kau ingin berhenti
mundur mencintai

mungkin aku yang berubah dan 
kau tidak salah, katamu

kenapa?
tanyaku

hari ini aku ingin berhenti

entah
mungkin tidak lagi kembali

mengapa hari ini cerah,
aku tidak tahu,
mungkin hari ini memang hari yang tepat
untuk berpisah

...


#6
Hal Hal Romantis

bagaimana aku tahu
matamu telah melekat
sejak pertama kali melihat

rahasia sejak lama, katamu

hal hal kecil yang romantis
seperti matamu yang berbinar
tiap kali aku tatap

hal hal kecil yang romantis
seperti waktu yang lama
di sepeda motor tua
bisa kau rasa, degupku
di peluk tanganmu

percakapan percakapan yang aneh
katamu, kau sengaja menulis apa saja
bahkan hal konyol tak masuk akal

yang kemudian membuatmu menyesal
agar bisa lebih lama
menungguku 'typing' : menulis!

dan kau akan tersenyum malu
tiap kali melihat namaku

kau instagram story pertamaku! 
aku senang saja melihatmu
apa lagi ketika kau rayu
membaca isi kepalaku

aku bisa memaafkan semua salahmu
kau sempurna di mataku, katanya

kau dan hal hal romantis
yang kau sudah tahu semua

yang tidak pernah kau tahu,
sebuah rahasia

buatku, aku tak lagi punya rasa

...


#7
Sepasang Menua

aku ingin bersandar di pelukmu
ketika senja dan dunia akan jadi itu itu saja
menggenggam hangat tanganmu dan pulang

aku ingin perayaan sederhana
merayakan nyala api yang hangat
yang menyala tiap kali kau dekap

aku ingin tak punya banyak pinta
hanya berjalan bersisian
dalam tangis, dalam lara

aku ingin menikmati senja
menjadi tua dan tak lagi ingin apa apa,
hanya pelukmu saja

...

Tuesday, June 11, 2019

Malam Takbir dan Meriam Karbit di Kote Pontianak

Ada salah satu hal yan unik di Kota Pontianak setiap malam takbiran menyambut lebaran, yaitu warga tepian sungai kapuas bersahut-sahutan menyalakan meriam karbit.  Salah satu tradisi dan sejarah ketika Kote Pontianak ditemukan, konon katenye meriam karbit digunakan ketike Raje Pertame Pontianak, Syarif Abdurrahman Alkadrie sampai di kote ini dengan menyusuri sungai kapuas, kemudian ingin membuka lahan dan mengusir hantu kuntilanak yang berdiam disini. Hingga akhirnya pasukan beliau berhasil hingga mendirikan Keraton Pontianak dan kemudian, Kote Pontianak.  Sebagai orang yang besar di Pontianak, aku tak pernah pergi ke festival ini karena macet dan ramai, tapi setelah tinggal di luar kota, barulah keinginan untuk tau dan menyaksikan acara-acara ini muncul. 

Setiap kota memiliki cerita, tradisi dan budayanya masing-masing.  Kekhasan yang menjadikannya berbeda, kekurangan dan keunggulan yang membuatnya menjadi pertimbangan dalam menyusun dan merancang suatu kebijakan untuk sebuah kota.  Ternyata tidak bisa diterapkan di semua daerah, karena ada karakteristik yang melekat, di kondisi wilayah, karakter masyarakat, hingga cara mereka berkomunikasi dan merespons kebijakan. 

Hal-hal menarik yang baru aku sadari ketika mengambil kuliah lagi tentang Kebijakan Pembangunan Daerah.  Memang, proses belajar harusnya tidak boleh berhenti, baik di sekolah maupun di kehidupan, untuk menggali hal hal yang dulu kita lewatkan, untuk makin membuka cakrawala berpikir, bukan untuk makin menggurui, tapi untuk makin memahami dan mengerti, dengan perbedaan, dengan keluasan dinamika dan masih begitu banyaknya, hal hal yang tidak akan pernah kita ketahui.

Fireworks


  
Sungai Kapuas, Juni 2019

Sunday, May 26, 2019

Lightening Struck


Pikiran adalah sesuatu yang selalu memunculkan hal hal yang menakjubkan.  Sekalipun diam dan tak beranjak di tempat, kadang pikiran adalah salah satu hal yang bisa membuat kita mengembara tanpa perlu pergi kemana-mana.

Di masa-masa yang berat dalam hidup, kadang saya suka memejamkan mata, kemudian berimajinasi.  Sebuah tempat yang tenang, damai, rumput yang hijau dimana saya berbaring, menengadah ke langit, melupakan duka dan khawatir khawatir yang tidak perlu.  Tidak ada siapa-siapa, hanya saya sendiri.  Jauh dari bising dan hiruk pikuk kesibukan serta keinginan keinginan semu.  Hanya hal hal yang sederhana.  

Kemudian selintas saya mengingatnya, orang-orang yang membuat saya tersenyum, yang telah melakukan hal hal yang luar biasa, orang-orang yang ada untuk hanya sekedar 'ada', orang-orang yang hadir sebagai penyembuh 'luka' dengan suara tawanya, orang-orang yang berusaha lebih, memperhatikan saya lebih, dan menjaga saya dalam hidup.  Untuk ada sebagai yang hanya lalu lalang, menemani kala senggang, atau memang sengaja datang untuk mengobrak-abrik perasaan dan menyakiti, sekalipun mungkin tidak bermaksud.  

Mungkin, kita memang tidak pernah benar-benar ditinggal sendirian.

Saturday, May 25, 2019

Gunung Raung Tak Akan Kulupa~ #16daysdiarytrip

*
[ Selasa, 16 April 2019 -  Kamis, 2 Mei 2019 / 16 days trip]
[Bandung- Sidoarjo - Banyuwangi - Gunung Raung - Bali - Nusa Penida - Bandung - Jogja - Bandung]

Berawal dari sebuah kiriman video sederhana sekitar tahun 2013, setelah kuliah dan baru bekerja di sebuah instansi, seorang teman kampusku, Stu, mengirimiku sebuah link video tentang orang Malaysia yang mendokumentasikan perjalanannya untuk naik Gunung Raung.  

Kala itu, Stu memang sedang dalam fase patah hati- yang akhirnya gadis yang membuatnya patah hati kala itu kini menjadi istrinya <3 dan entah kenapa setelah patah hatinya itu ia punya keinginan untuk mendaki gunung, Bukit Jamur Bengkayang dan Bukit Niut Sanggau, adalah bukit pertama yang kami daki bersama beberapa teman kampus kami selepas wisuda.  

Bertahun-tahun setelahnya, di bulan Maret 2019 Stu kembali mengajakku untuk naik Gunung Raung, saat itu aku hanya menanggapi ajakannya dengan biasa-biasa saja.  Ia memang sudah beberapa kali naik gunung, seperti Semeru dan Rinjani setelah Niut.  Mengajakku kala itu tapi aku sedang bekerja di posisi yang membuatku tidak enak untuk meminta ijin dalam waktu yang lama sehingga aku tidak pergi.  Kali ini, kupikir aku memiliki waktu, walau memang tidak pernah terlalu antusias untuk naik gunung dan bersusah-susah.

Setelah itu, tentu saja aku mulai mencari informasi mengenai Gunung yang terletak di Banyuwangi ini, aku memang tidak terlalu tertarik dengan gunung, kupikir aku hanya mengenal Semeru, Rinjani. Setelah menonton beberapa vlog, membaca blog dan informasi di internet.  Nyaliku mulai ciut, nampaknya gunung ini adalah gunung yang membutuhkan skill karena harus menggunakan tali temali dan- merupakan gunung yang ekstrem, kedua setelah Cartenz.  Terlebih, nama-namanya begitu mengerikan, di jalur lain, memiliki pos yaitu pondok mayit, sebelum puncak, ada yang namanya Jembatan Sirotol Mustaqim.

Sialan, umpatku waktu itu.  Sebenarnya aku tidak punya nyali untuk hal-hal seperti itu.  Tapi kemudian aku diundang ke grup whatsapp dan ada beberapa orang lagi yang akan mengikuti perjalanan ini.  Dan, sebagai salah satu teman yang selalu bisa mempengaruhiku untuk beberapa hal dalam hidup, Stu memang selalu berhasil meracuniku dan memotivasiku untuk mengikuti perjalanan ini. Dimulai dengan lari pagi yang beberapa kali kulakukan untuk mempersiapkan fisik.

Karena aku senang menonton film, maka aku mencari film-film yang berbau naik gunung, biar memotivasi, kemudian di Home-Searchku, aku menemukan film Solo, film yang sangat menginspirasi dan membuatku bersemangat.  Film ini menceritakan tentang Alex Honnold, seorang introvert yang senang melakukan free solo climbing di El Capitan, Yosemite National Park.  Highlight yang menarik buatku sebenarnya bukan perihal climbingnya, tapi bagaimana dokumenter ini menggali karakter Alex, hal-hal apa yang dipikirkannya dalam perjalanannya menaklukkan El Capitan, pikiran-pikiran negatif, terliar dan keegoisannya untuk melakukannya sendiri dan hubungannya dengan orang lain.  Aku pikir, semangatku untuk mendaki, sebagian besar terpengaruh dengan semangat Alex di film ini.  Sebagai orang yang introvert dan menikmati perjalanan sebagai suatu tantangan terhadap diri sendiri, menaklukkan diri sendiri.  Aku pun akhirnya membulatkan niat untuk pergi.

Untungnya, saat itu UTS ku sudah selesai dan aku pikir aku akan mengambil ijin untuk jumat dan sabtu untuk tidak mengikuti perkuliahan awal. 

Bandung, tanggal 16 April, aku menggunakan Kereta Api dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Sidoarjo dan akan sampai keesokan paginya.  Stu dan temanku yang lain; Christian, Ko Ahin dan Bang Fer dari Sintang-Pontianak ke Bandara Juanda, Surabaya akan menghampiriku pada tanggal 17 April di stasiun pada jam 11 untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Banyuwangi.  Aku sudah sampai di stasiun paginya, kemudian berjalan-jalan di sekitar stasiun, yaitu ke kawasan bekas lumpur lapindo dan dua candi yang berada tidak jauh dari stasiun dengan menggunakan ojek.

Stasiun Sidoarjo

Monumen Lapindo

Kawasan Lapindo

Candi di Sekitar Stasiun Sidoarjo

Setelah agak siang aku kembali ke stasiun, menunggu teman-teman untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Banyuwangi, hingga sampai sekitar jam 9an, kemudian makan, menunggu hujan dan mengantri ojek menuju Camp Bu Suto.  Ternyata ketika sampai di stasiun Banyuwangi, sudah ramai pendaki-pendaki Raung yang menuju Camp sehingga ojek yang mangkal sekitar 7-10 orang harus bergantian mengantar kami, mereka juga sudah bekerja sama dengan penyelenggara trip dan kenal dengan guide yang kami sebutkan, sedangkan untuk ketersediaan ojek online masih belum dapat digunakan di daerah tersebut.

Malamnya hujan deras, dengan berbekal jas hujan ala kadarnya ternyata masih tembus dan membuat basah.  Kami pun bermalam di Camp Bu Suto yang rupanya sangat penuh, hingga ke teras dijejali orang-orang yang tidur sehingga tidak tersisa celah kosong, untungnya Stu berinisiatif menggunakan jasa private untuk berlima sehingga kami bisa tidur terpisah dengan yang lain di ruang tersendiri walaupun tetap melantai. 

Keesokan paginya setelah malamnya hampir tidur pagi karena dengkur nyaring Koh Ahin, Bang Ferry dan bunyi geretan gigi nya Stu saat tidur kukira aku hanya tertidur sekitar 2-3 jam.  Kami pun bersiap-siap menuju Pos 1, dengan diantar ojek lagi.

Christian and Stu
@ Camp Bu Suto

Perjalanan kami pun dimulai, dari hasil baca-baca di internet, memang track cukup panjang dari pos pos awal, namun kukira tidak terlalu menghabiskan tenaga karena pos pos awal tantangannya hanya berjalan kaki dengan tingkat kemiringan yang tidak terlalu curam.  Target kami untuk hari itu adalah untuk bermalam di Camp 7 dengan ditunggu 2 tenda dan 7 botol air di atas.  Aku pikir saat itu di hari pertama fisikku masih cukup baik hingga menjelang sore hari, beberapa kali berhenti untuk beristirahat ketika jalan mulai tegak lurus, beberapa juga menggunakan tali untuk bergantung dan naik.  Baru terasa benar-benar membutuhkan tracking pole untuk menahan berat badan, tapi kupikir untuk jalan-jalan yang curam hanya dibutuhkan satu tracking pole di kanan karena tangan kiri digunakan untuk berpegang di tanah maupun tali.

Pada saat pendakian malam hari, udara dingin mulai menusuk dan membuat gigil, aku juga tidak sanggup untuk berhenti dan beristirahat terlalu lama karena pasti akan menggigil, dengan terus melanjutkan perjalanan, udara dingin menjadi tidak terlalu terasa karena bercampur dengan keringat dan panas tubuh yang terus keluar.  

Sekitar jam 9 malam, kami pun sampai di Camp 7.  Bermalam sebentar, kemudian beberapa rombongan berangkat subuh untuk Summit Attack, sedangkan kami memilih untuk giliran terakhir karena masih ingin memulihkan tenaga dan bersantai sebentar.  Kemudian setelah sarapan, kami pun mulai melanjutkan perjalanan.  Terdapat beberapa hambatan yang tidak terlalu selain pendakian yang mulai tinggi dan langkah kaki yang harus lebih panjang, merayap di tanah tegak lurus.  Setelah akhirnya sampai di Camp 9 kami mulai memasang helm dan tali di badan untuk bersiap summit attack.

Setelah Camp 9, kupikir track semakin pendek tapi rupanya disinilah tantangan baru dimulai, dengan berjalan melintasi tebing dan angin yang kencang, pada bukit-bukit batu yang membuat gemetar karena kanan-kiri tidak nampak daratan, berdiri di atas awan dengan jarak ke bawah yang hampir tidak terlihat mata karena terlampau jauh.  Bahkan guide memberikan saran apabila terpeleset baiknya jatuhkan diri ke kanan, karena minimal setidaknya masih bisa ditolong oleh tim sar dan patah tulang, sedangkan apabila jatuh ke kiri tidak akan dapat tertolong lagi.

Kalau kata-kata itu aku dengar dalam keadaan normal mungkin aku akan bergidik dan mundur saja. Haha.  Tapi saat itu keadaan sudah kepalang tanggung, mau pulang dan mundur juga sudah terlalu jauh.  Tentu saja, rasanya kala itu aku mematikan otak- dan kekhawatiran-kekhawatiran untuk memaksa diri melangkah kecil, satu demi satu.  Menginjak batu batu terjal satu demi satu, dengan tangan berkeringat berpegangan pada apa saja yang nampak meyakinkan agar bisa memantapkan langkah ke entah apa yang ada di depan.

Menuju summit, setelah Puncak Bendera, kami menuju Puncak Sejati.  Dengan melewati jembatan Sirotol Mustaqim, bukit bebatuan dengan jalan setapak berbatu dan angin yang menusuk, Pak Guide mulai menyadari aku terlalu tidak yakin melangkah, karena saat itu aku benar-benar ngeri terpeleset dan mati :) jadi beliau berinisiatif memberiku tali untuk aku berpegangan padanya.  Aku benar-benar tidak percaya diri menginjakkan kaki di batu-batu kecil, dan mudah terpeleset, kupikir keseimbanganku sudah tidak terlalu bagus karena kakiku terasa sangat lelah menopang badanku ini :)) Dengan mengikuti tali Guide, aku berjalan mantap mengikuti langkah beliau, temanku Stu pun menjadi sedikit lebih lega melihatku berjalan melintasi tebing karena aku lihat dia begitu mengkhawatirkan keselamatan yang lain pula karena katanya, dia lah yang bertanggung jawab karena telah mengajak kami semua kesini. Hahaha. 



Akhirnya setelah mengesampingkan logikaku kalau melintasi jalur itu rasanya tidak masuk akal untuk dilalui manusia, aku memutuskan untuk melihat ke bawah saja dan menikmati setapak demi setapak kecil dan menikmati pemandangannya.  Mendokumentasikan perjalanan dan mengeluarkan handphone pun rasanya sudah malas karena tangan sudah berkeringat dan rasanya aku hanya ingin menikmati kesulitan perjalanan ini dan sampai dengan selamat, kemudian menikmati waktu dengan aku dan kengerianku sendiri kala itu. haha.

Akhirnya, Puncak Sejati, Gunung pertamaku.

Bang Fer, Aku, Ko Ahin, Stu dan Christian


My Very First Stratovolcano

Juga ada cerita menarik hampir mati alias near death experience temanku saat turun dari Puncak Raung, Christian. Saat itu kami harus melewati tebing dengan menggunakan tali dengan teknik rapling (kalau aku tidak salah).  Jadi dengan tangan kiri di atas memegang tali dan kanan di tali bawah untuk tumpuan badan, dengan satu guide pemegang tali di atas, kami menuruni dan pergi ke sisian tebing dengan resiko jatuh ke bawah, kami bisa melihat berkilo jauh jatuhnya.  Entah kenapa saat itu, tali yang ia pegang terlepas, karena tangan kanan bawahnya tidak menumpu dan menahan tali, ia hampir terjun bebas meluncur ke bawah, untungnya beberapa meter setelah katanya ia merasa begitu tenang pada saat terjun bebas itu, kesadaran dengan cepat menyadarkannya untuk berpegang dengan tali tanpa teknik awal.  

Guide yang di atas hampir panik, kami saat itu tidak melihat langsung karena tebing berada di bawah dan kami agak jauh menunggu giliran dia untuk turun, tapi mendengar guide yang panik bercerita ke temannya.  Setelah melewati jalur itu aku mulai bergidik membayangkan keadaanya saat itu, dan membayangkan apa yang terjadi kalau dia jatuh :') Saat itu kami menemuinya dan ia terlihat sedikit shock dan menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan diri :))

Almost losing you, mate. LOL.

Setelah turun, kami kembali menuju Camp 7 untuk bermalam dan turun keesokan paginya.  Kupikir perjalanan turun akan mudah, terlihat dari beberapa porter dan guide yang aku lihat hampir berlari menuruni jalan. Haha.  Ternyata untuk meloncat-loncat seperti itu dengan kaki yang sudah diforsir beberapa hari dan dengan jangka waktu yang lama dan intens membuat kaki lumayan pegal dan lemes sehingga ketika turun sangat terbantu dengan tracking pole, aku merasa seperti nenek-nenek jompo yang dibantu tongkat untuk selangkah demi selangkah menuruni tanjakan-tanjakan Raung.

Akhirnya setelah selangkah demi selangkah pelanku sambil menikmati perjalanan. Haha. Kami sampai di Pos 1 sekitar jam 10an tiba di Camp Bu Suto.  Kami pun memutuskan untuk keluar dari camp dan menginap di hotel Raung View untuk beristirahat dan curhat-curhat tipis. Hahaha.

Bersantai sejenak di Raung View Hotel

Setelah bersantai, bangun siang, ngopi, mandi, packing barang ulang, kami pun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya, yaitu Bali.  Bermodalkan internet, kami pun mencari cara bagaimana untuk menuju Bali dengan nyaman, terdapat beberapa pilihan seperti naik bis ataupun sewa mobil.  Kami akhirnya berangkat dengan menggunakan mobil sekitar jam 3 sore dari Banyuwangi untuk memulai perjalanan selanjutnya menuju Bali.  

-

Tuesday, April 16, 2019

Dijual : Sebotol Kenangan #funfiction

Aku ingin menceritakan semuanya tentangmu. Supaya aku bisa mengingat semuanya tanpa terkecuali, dengan detail yang suka berseliweran di kepalaku ketika aku sedang sepi dan sendirian.  Terkadang bercampur pula dengan mimpi yang menyisakan keringat dingin yang membuat aku bangun dan mencari lagu-lagu yang pernah kita putar berdua : Turis-Lyla, ah lagu yang fun menurutku, menceritakan tentang seseorang yang cuma singgah sebentar dan membuat hati patah, saat pertama kali bertemu denganmu, entah kenapa aku sudah punya firasat kau akan pergi, dulu firasatku bilang kau akan pergi ke kota lain dan melupakanku. Tanpa diduga, akhirnya aku-lah yang pergi ke kota lain-berharap akan lebih mudah melupakanmu disana. Lagu kedua itu lagu Surat Cinta Untuk Starla- Virgoun. Lagu yang pertamanya kuanggap norak dan terlalu klise, tapi karena setiap hari kau putar di mobilmu, aku tiba-tiba saja menyukainya.  Dan lagu yang ketiga : Akad-Payung Teduh, lagu yang berkesan untukku sendiri karena di akhir-akhir masa perpisahan itu, aku senang mendengarnya dan saat itu sendang musim hujan, aku senang mengenangnya di parkiran dimana aku sering bertemu denganmu, kemudian melihat kota dari lantai atas, dan mengingat-ingat masa-masa yang pernah begitu membuatku hampir saja yakin akan sesuatu yang mustahil. 

Aku ingin mengigat semuanya-semua detailnya.  
Biar aku bisa mengumpulkan kemudian melupakan semuanya.

Celakanya sudah seharian ini aku mengingat-ingat bagaimana caranya kita pertama kali bertemu.  Bagaimana aku bisa mengingat semuanya jika aku melupakan yang paling penting, yang pertama?

Aku mencoba beberapa cara yang aku temukan di sebuah artikel dengan sumber yang tidak terlalu terpercaya, tapi yang paling populer, mungkin bisa berhasil.

Aku duduk di sofa, menghidupkan lilin aroma therapy berbau ocean dengan gambar pantai di kemasannya dan mulai membayangkan wajahmu, rasa hangat tanganmu, rambutmu yang selalu berdiri tidak perduli sudah banyak pomade yang selalu kau pakai sebelum kita pergi. Kemudian potongan rambutmu yang selalu sama karena kau kesulitan merubah gaya rambut, aneh katamu. 

Bau aroma therapy-nya mulai tercium hmm, bagaimana aku bisa mengingatmu dengan bau pantai? sedangkan kau tidak pernah suka pantai, tidak suka kopi, tidak suka jalan-jalan, tidak suka nonton film barat-hanya film komedi-komedi indonesia yang membuatku cringey, kalau tidak salah judul filmya Warkop Reborn. Ah iya, aku ingat film pertama yang kita tonton, aku kira saat itu, sepulangnya aku memperpanjang perjalan kita sampai akhirnya kita jadian. Film The Mechanic- Jason Statham.  Kukira kala itu kau tidak terlalu menyimak filmnya.  Kupikir kau lebih suka film Indonesia. 

Aku masih ingat bagaimana kita menghabiskan malam-malam dengan berjalan-jalan keliling kota, mendengarkan lagu kesukaanku, mampir di coffeeshop kesukaanku, menulis jurnal harian dari buku yang kau belikan karena aku bisa meyakinkanmu untuk menulis di jurnal yang berisi perasaan-perasaan yang kita rasakan.  Aku berhasil pula meyakinkanmu mengikuti sebuah pernikahan pura-pura dengan cincin emas plastik pura-pura yang membuatku senang setengah mati waktu itu.  Sampai aku ingat, mantanku menghubungiku kembali tapi aku benar-benar sudah tidak ada rasa lagi untuknya, aku masih ingat hatiku penuh dengan pikiran tentang bagaimana hari itu berjalan dengan sangat... menyenangkan?

Aku masih ingat pula bagaimana kau mengajakku mengajar di sekolah terpencil, bermain dengan anak-anak, menghabiskan waktu untuk mengobrol di sepanjang perjalanan, atau hanya membiarkan aku pura-pura tertidur di sampingmu, hanya karena aku sedang terlalu senang dan ingin menikmati waktu-waktu bersamamu. Aku masih ingat semua omelanmu, semua hal yang tidak kau suka tentang aku.

Terkadang, jika aku melihat jeans robek di etalase toko, aku pasti selalu mengingatmu, yang sangat tidak senang ketika aku memakainya, seperti pula sendal coklat atau sepatu hak tinggi coklat, atau bahkan jaket jeans levi's yang kau belikan waktu itu.  Kukira, aku masih ingat semua yang pernah kau berikan padaku. Tentang hal hal yang aku berikan? aku hampir tidak ingat, tapi mungkin sebuah gitar, sebuket bunga, yang sebenarnya aku senang melihatnya dan kubeli untuk diriku sendiri, tapi kemudian aku belikan pula untukmu, sebuah jurnal, beberapa kolase foto, sebuah hammock orange yang ketinggalan? ah, lantas apa lagi. Entah aku sudah tidak ingat atau mungkin memang tidak ada lagi. 

Lantas bagaimana? Bagaimana cara kita bertemu pertama kali? Apakah itu ketika aku melihatmu di kelas, tak sengaja bersinggungan dengan sikumu yang lantas dengan cepat kau tarik? atau ketika aku harus buru-buru keluar untuk menemui mantanku lalu kau membantuku untuk mengeluarkan mobilku di parkiran yang padat? atau ketika kita ingin nonton dengan teman-teman yang lain lantas yang tersisa hanya kita berdua? atau ketika kau memberiku pesan untuk sebuah kegiatan sosial, yang lantas aku sengaja mencari-cari topik percakapan dari hal hal yang konyol? atau ketika kita tidak sengaja berboncengan selama delapan jam menyusuri hutan dan mulai menceritakan tentang mantan-mantan dan kegagalan-kegagalan hubungan kita?

Entahlah, aku sungguh tidak ingat bagaimana caranya kita bertemu.  Mungkin aku sudah lupa.  Mungkin semuanya cuma kenangan kabur yang bahkan mungkin tidak pernah terjadi. Khayalanku saja.  Mungkin memang sebaiknya kita anggap saja semuanya tidak pernah terjadi.

"Sudah semuanya?"
"Sudah Pak"
"Kamu yakin? Sekali kamu menjualnya, kamu tidak akan dapat memintanya kembali"
"Yakin Pak"
"Oke, ini yang kamu dapatkan.  Sebuah botol baru, kosong, kamu bisa mengisinya lagi"

Hari ini, aku pulang membawa sebuah botol yang kosong, 
tapi jika kuperhatikan lekat-lekat, 
cahaya berpendar, seperti pelangi. 

Kemudian tiba-tiba dadaku terasa sesak.
Rasanya ada yang hilang.
Tapi aku tidak bisa lagi mengingatnya.

Bandung.
Selasa, 16 April 2019

Thursday, April 4, 2019

LAST MIDTERM OF THE YEAR

Bandung, 4 April 2019
03.16 pm

Menuju semester terakhir.  Ah, aku akan tidak merindukan-sekaligus merindukan ini, belajar, membaca, bertemu orang-orang dengan tujuan yang sama, berdiskusi, menyimak pemikiran-pemikiran, bertanya, berdebat.  Aku kira hal-hal itulah yang mahal dari sebuah perkuliahan, memaksa dan mendorong diri untuk belajar, mengerjakan tugas-tugas.  Kalau kata papaku dulu ketika memasukkan ke klub bulutangkis, kita membayar mahal-mahal seorang pelatih karena sebenarnya tidak mampu mengerjakan dan menyuruh diri kita sendiri untuk latihan, meskipun rutinitas latihan yang dilakukan sudah dihapal luar kepala, tetapi latihan perlu untuk memaksa orang memaksa diri kita untuk terus melakukannya.  Ironi tapi ya, begitulah manusia (aku juga) dan kemalasan-kemalasannya. haha.

Meskipun menyukai pengetahuan, tetapi mengerjakan tugas tugas dan (terpaksa) menulis topik topik yang secara pribadi tidak membuat kita tertarik adalah hal yang cukup berat, terlebih perasaan tidak puas terhadap tugas-tugas yang dikerjakan, kemandekan pikiran, semangat ingin membuat sesuatu yang spektakuler, imajinatif dan terobosan tentu akan selalu terbentur akan realitas, daya dukung, pengetahuan empiris dan riset-riset ilmiah dengan segala keterbatasannya.  Tentu kita juga tidak mau membuat sesuatu yang sangat judgemental dan penuh asumsi-asumsi kosong tak berlandas.

Hal lain yang menarik adalah tentu, bertemu orang-orang, subjek penelitian, mempelajari bagaimana perilaku mereka, cara berpikir, dan tentu garis besarnya: masalah yang mereka hadapi di kehidupan mereka serta dengan analitik (sok tahu) mencoba memberikan solusi, rekomendasi, alternatif skenario yang idealnya, bisa membuka mata dan dilakukan oleh subjek demi kepentingannya sendiri. Mencoba berempati dan memposisikan diri menjadi (orang) yang diteliti.  Meskipun kadang muara akhir dari penelitian penelitian adalah : sosialisasi, edukasi dan hal hal semacam itu.  Kurasa manusia sebagai garis besar penelitian sosial akan terus berkutat pada kompleksitas manusia dengan macam macam kepentingan dan latar belakangnya, karena itulah sumber pengetahuan mengenai manusia tidak akan ada habisnya.  Dinamis, multidisplin, kompleks namun juga saling mempengaruhi satu sama lain.

Hingga pada akhirnya, pada minggu UTS ini, yang berarti sisa kuliah tinggal 9 minggu lagi sebelum UAS dan menyusun tesis. Hatiku hanya harap harap cemas semoga tambah rajin dan beruntung (?) melalui semuanya dengan lancar dan bisa menikmatinya pelan-pelan sebelum kembali rutinitas kantor.  Yeay.

Friday, March 8, 2019

Applied Research Method #bookreview


Buku Bab I Applied Research Methods in Public and Nonprofit Organizations

Author : Mitchell Brown and Kathleen Hale

Proses Penelitian
Proses Penelitian adalah hasil dari kombinasi ide yang baik dan pertanyaan mengenai teori dan praktek, sistematis dan pengumpulan data yang layak dan analisa, serta komunikasi mengenai hasil dengan langkah-langkah yang terdiri dari:
1.      Membentuk ide dan pertanyaan penelitian
2.      Pengembangan Teori dan Hipotesis
3.      Melakukan konstruksi desain penelitian sebagai perencanaan pengelolaan data dan analisis
4.      Implementasi desain penelitian melalui pengumpulan data
5.      Menganalisis data
6.      Membentuk kesimpulan dan memaparkan penelitian
Pada akhirnya semuanya adalah tentang bagaimana mengoperasionalkan, mengukur dan mengumpulkan data, terutama data yang relevan dimana dapat terbagi menjadi data primer dan data sekunder, kemudian kita menganalisis dan memandingkan hasil dari hipotesis yang telah kita ambil di awal. Dimana hasil yang diperoleh antara lain mengenai teori yang kita uji coba atau sesuai dengan teori yang kita bangun.  Teknik yang dilakukan untuk menganalisis data tergantung dari data yang dikumpulkan.  Tahap akhir dari proses melibatkan hasil interprestasi data lewat analisis dan bagaimana cara kita menyampaikan mengenai hal tersebut agar dapat lebih memahami permasalahan tersebut, meningkatkan kebijakan dan program yang akan dilakukan dan melengkapi teori.

Konteks Penelitian Terapan
Adapun terdapat perbedaan antara penelitian terapan dan penelitian dasar. Dalam penelitian dasar memiliki tujuan untuk menyempurnakan pengetahuan dan melihat hubungan antara konstruksi teori dan variabel yang terkait, sedangkan penelitian terapan memiliki tujuan untuk memahami dan memecahkan masalah yang nyata, seperti mengenai bagaimana merancang program baru atau memodifikasi program yang sedang berjalan.
Terdapat pula enam kerangka umum dalam proses penelitian, pertama, memperhatikan analisis empiris, yaitu yang berbasis analisis dari bukti mengenai bagaimana hal tersebut sebenarnya, atau bukti nyata, kedua, bahwa pengetahuan itu falsifiabilitas, yaitu dapat dibuktikan salah atau tidaknya, ketiga, hipotesis harus berdasarkan dari pengamatan sistematis dan pengumpulan data, keempat, seluruh proses penelitian dan penemuan dapat dijelaskan/dikomunikasikan, kelima, penelitian harus bersifat umum/generl dan keenam, penelitian dapat dijelaskan secara sederhana dan terus terang atau ringkas.

Administrasi Publik, Kajian Nonprofit dan Bidang Lainnya
            Administrasi publik, lebih memperhatikan desain dan penyampaian mengenai keputusan kebijakan publik dalam lingkup publik, dimana mencakup pula administrasi dan kebijakan pada lokal, negara, nasional atau level antar bangsa.  Melalui buku ini pula, didefinisikan pelayanan publik yang mencakup instansi publik, organisasi nonprofit dan bidang lainnya, karena sebenarnya pemerintah dan organisasi nonprofit tidak dapat dipisahkan dalam memenuhi kebutuhan publik. 
            Pertanyaan yang muncul adalah seputar desain kebijakan, implementasi dan evaluasi yang juga terkait dengan subbidang kebijakan publik dan analisis kebijakan.  Kebijakan publik fokus kepada faktor politik dan ekonomi yang membentuk formulasi kebijakan, pembuatan keputusan publik dan analisis tahap pembentukan kebijakan publik.  Sehubungan dengan itu, subbidang analisis kebijakan fokus terhadap analisis sistematis dari alokasi sumber daya dan evaluasi output dan outcome.  Keduanya mempertimbangkan menekankan pada penerapan pemecahan masalah dan analsisnya.
Literasi Informasi
            Literasi informasi adalah memahami jenis informasi apa yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan dan memecahkan masalah.  Selain itu termasuk pula bagaimana menemukan informasi, mengetahui kualitas informasi, mampu membaca dan memahami informasi dan memahami konteks informasi.  Hal tersebut merupakan aspek yang penting dalam memahami dunia kontemporer pada saat ini, dimana perubahan teknologi membuat informasi dapat dengan mudah diakses oleh hampir semua orang, tetapi juga memiliki kelemahan yaitu tidak semua orang memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk membedakan kebenaran informasi yang tersedia sehingga harusnya dapat dilihat dari otoritas pihak lain untuk menganalisis dan menafsirkan informasi.
Dimana menurut universitas dan perguruan tinggi, terdapat lima standar untuk menentukan kemampuan literasi yaitu :
1.      Memahami sifat dan kuantitas informasi yang dibutuhkan untuk tugas yang berbeda;
2.      Akses yang efektif dan efisien;
3.      Mampu mengevaluasi informasi dan menggabungkannya untuk memperluas pengetahuan;
4.      Mampu menggunakan informasi untuk menyelesaikan tugas tertentu, dan;
5.    Menggunakan informasi secara etis dengan pemahaman yang menyeluruh mengenai implikasi dari informasi tersebut.

Kualitas Informasi dan Tipe-Tipe Sumber
Pada masa sekarang, hampir semua orang memiliki akses terhadap sumber informasi, namun untuk mengembangkan literasi informasi adalah memahami bagaimana mengidentifikasi informasi yang berkualitas.  Informasi yang berkualitas adalah informasi yang akurat secara faktual, berasal dari sumber yang kredibel melalui proses publik dan transparan, dan diproduksi menggunakan teknik yang ketat dan standar yang mematuhi etika yang sesuai standar.
 Salah satu pendekatan untuk memikirkan tentang kualitas berbagai sumber informasi adalah membagi mereka menjadi dua kelompok: ilmiah dan populer. Informasi berkualitas tertinggi di akademisi, atau pekerjaan berbasis universitas, adalah ditemukan dalam jurnal peer-review. Ulasan rekan berarti bahwa pekerjaan dievaluasi oleh para ahli anonim sebelum penerimaan untuk publikasi.  Selain dari universitas, surat kabar dan majalah juga dapat digunakan sebagai sumber informasi, meskipun sebagian besar jurnalis mematuhi standar jurnalistik, namun terdapat pula hierarki kualitas antara surat kabar dan majalah, sehingga yang menjadi pertimbangan adalah tingkat kepercayaan yang diberitakan pada outlet tertentu.  Selain itu terdapat pula publikasi dan informasi pemerintah yang dihasilkan oleh organisasi nonprofit, kelompok kepentingan dan lembaga think-tank (wadah pemikir) yang sulit pula untuk menilai kualitas informasinya, yang dapat menjadi pertimbangan adalah mempertimbangkan alasan atau motivasi yang mempengaruhi pembuatan informasi tersebut.

Menemukan Kualitas Informasi Yang Tinggi
Hari ini, pencarian informasi berkualitas tinggi kemungkinan besar akan dimulai dengan Internet dan daftar basis data yang dikurasi yang mengandung artikel-artikel ilmiah. Seperti Google Scholar, JSTOR, atau Penyimpanan Jurnal, yang menawarkan pencarian ribuan teks lengkap jurnal edisi terbaru dan edisi terakhir. Indeks Sitasi Ilmu Sosial adalah tersedia melalui layanan berlangganan ISI Web of Science. The Social Science Jaringan Penelitian menyediakan akses ke artikel akademik dalam ilmu sosial dan kemanusiaan; artikel diposting oleh penulis dan dapat diunduh dengan biaya tambahan melalui pelanggan institusional. Pencarian untuk undang-undang dan peraturan mungkin untuk fokus pada database hukum. LexisNexis dan Westlaw adalah dua langganan semacam itu jasa. Layanan ini dan lainnya menyediakan akses ke kasus federal dan negara bagian hukum, artikel tinjauan hukum, risalah, dan beasiswa hukum lainnya, serta berita artikel. Ensiklopedi yang diterbitkan oleh akademis atau penekanan serupa lainnya juga bisa memberikan rangkuman yang bermanfaat tentang keadaan umum lapangan pada suatu topik tertentu (untuk contoh, evaluasi program atau identifikasi pemilih). Ensiklopedia Publik Administrasi dan Kebijakan Publik (Berman 2007) adalah salah satu contoh tujuan umum, ensiklopedia peer-review yang menyediakan perkenalan panjang artikel tentang a berbagai macam tema dan subbidang.
Penting untuk dicatat bahwa tidak ada satu sumber informasi yang akan memenuhi semuanya penelitian kami perlu untuk pengembangan teoritis, pendekatan metodologis, atau data. Kami harus mengumpulkan banyak sumber informasi dan mensintesis teori, metode, sumber data, dan temuan. Yang penting adalah yang kita kumpulkan dan gunakan informasi akurat yang secara kolektif mencerminkan gambaran lengkap yang relevan masalah dan data, dan bahwa kita mengakui berbagai bias dan perspektif terkandung di dalamnya.

Nilai, Kepercayaan, dan Kepastian dalam Disiplin Terapan
Manusia, selalu menjadi dunia yang dipelajari melalui riset terapan, nilai-nilai dan keyakinan selalu dimasukkan ke dalam analisis dalam beberapa cara. Bidang administrasi publik, studi nonprofit, kebijakan publik, dan kebijakan analisis khususnya berkaitan dengan nilai dan keyakinan dari dua yang berbeda perspektif yang terkait dengan lembaga-lembaga Amerika. Satu perspektif adalah tercermin dalam proses keputusan dan hasil proses politik. Sebagai konsekuensinya, sebagian besar debat kebijakan tercermin dari dua perangkat persaingan yang luas nilai-nilai; nilai-nilai ini biasanya tercermin dalam posisi keduanya partai politik besar (meskipun itu tidak selalu terjadi). Mayoritas politik secara terus-menerus dikonfigurasikan melalui proses pemilihan yang konstan; hari ini pandangan mayoritas mungkin pandangan minoritas politik di masa depan.
Beberapa saat ini terlibat dalam mencari masalah dan masalah, dan beberapa akan terlibat di masa depan. Para juara, penantang, penonton, dan pendukung ini mencerminkan nilai dan keyakinan yang berbeda tentang bagaimana masalah publik didefinisikan dan tentang cara-cara untuk mengatasi kondisi tertentu; interaksi ini nilai dan keyakinan adalah aspek penting dari inovasi kebijakan publik (Hale 2011).

Teori Utama dan Teori Sekunder
      Dalam politik Amerika umumnya, para sarjana cenderung bekerja di salah satu dari dua "sekolah," tradisi, atau teori besar, yang disebut sebagai behaviorisme dan institusionalisme. Behavioralists mengajukan pertanyaan tentang politik perilaku dalam konteks Amerika — misalnya, "Apakah masalah pemungutan suara?" sedangkan institusionalis mengajukan pertanyaan tentang bagaimana institusi utama Amerika politik beroperasi dan mengajukan pertanyaan seperti “Peran apa yang dimainkan komite pembuatan undang-undang kongres?.”
Studi tentang pelayanan publik melibatkan kedua sekolah tersebut berpikir, dan penelitian terapan tentang pelayanan publik melihat pada kedua perilaku dan pengaturan kelembagaan. Dalam pelayanan publik, satu ketegangan sentral terletak di antaranya keinginan normatif untuk memisahkan praktik administrasi publik dari nilai-nilai jenis apa pun, termasuk pengaruh politik, dan keharusan konstitusional untuk rekonsiliasi kebijaksanaan administratif (birokrasi) dengan nilai publik yang dapat diubah.
Terkait, ulama organisasi nirlaba prihatin dengan teori amal, komunitas, dan ruang sipil. Tapi, sebagai ilmuwan sosial, kita cenderung menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk berkembang teori tingkat menengah yang menjelaskan fenomena tertentu. Di sisi lain, ruang publik secara umum, sarjana dan praktisi prihatin dengan kerja sama, kolaborasi, dan hubungan timbal balik serta kinerja dan akuntabilitas. Mengembangkan teori yang menjelaskan konsep-konsep ini dan lainnya untuk menghasilkan yang bermanfaat, dapat diuji hipotesa, atau tebakan terbaik kami tentang bagaimana dan mengapa fenomena ysng diselidiki beroperasi. Hipotesis ini kemudian dikembangkan untuk mendapatkan kemungkinan terbaik desain penelitian untuk mengumpulkan data untuk menguji pertanyaan penelitian.

Perbandingan Kasus
Setiap kasus adalah contoh khas dari riset terapan. Tiga dari studi itu diarahkan untuk menyelesaikan pertanyaan terapan tertentu, dan dua studi itu dimulai sebagai studi penelitian dasar yang menghasilkan temuan berguna untuk, dan digunakan oleh, praktisi. Meskipun materi pelajaran sangat bervariasi di seluruh kasus, kasusnya bersandar kuat pada metode campuran dan kombinasi induktif dan deduktif proses berpikir. Pendekatan gabungan ini sangat cocok untuk pertanyaan penelitian terapan.

Etika dan Pengkajian Kelembagaan
Seringkali ketika kita melakukan penelitian, kita melibatkan subyek manusia dalam satu cara atau yang lain. Ketika berhadapan dengan subyek manusia, ada dua kekhawatiran peneliti perlu memikirkan secara bersamaan. Yang pertama adalah apakah yang kita rencanakan etis pada tingkat dasar. Yang kedua melibatkan aturan-aturan institusional yang diatur oleh Institutional Review Board (IRB) tentang apakah dan bagaimana mendapatkan izin untuk melakukan penelitian kami.
Singkatnya, fokus pada etika dalam penelitian adalah tanggapan terhadap riset yang mengerikan dilakukan oleh para ilmuwan di berbagai titik dalam sejarah terakhir, terutama Nazi percobaan selama Perang Dunia II dan proyek-proyek seperti sifilis Tuskegee bereksperimen di Amerika. Kondisi tersebut akhirnya merefleksikan informed consent, yaitu pengetahuan peserta tentang tujuan dan harapan proyek penelitian di mana mereka diminta untuk berpartisipasi, dan partisipasi yang bebas dan bersedia dengan kesempatan untuk berhenti berpartisipasi di setiap titik untuk alasan apa pun.
Pemerintah AS memiliki pedoman yang jelas yang mengatur subjek manusia penelitian, berdasarkan tiga prinsip:Beneficence, yaitu — memaksimalkan hasil positif untuk kemanusiaan sambil meminimalkan membahayakan, menghormati subjek — termasuk perlindungan otonomi mereka dan, dalam beberapa kasus, anonimitas dan keadilan — memastikan bahwa penelitian tidak mengeksploitasi orang lain.

Perhatian Spesifik Pada Administrasi Publik dan Kajian Nonprofit
            Terdapat contoh kasus yang mempresentasikan pertimbangan etis tertentu yang umum untuk riset terapan, yaitu menilai kebutuhan di seluruh negara bagian dengan melakukan wawancara dengan wanita usia enam puluh lima tahun dan lebih tua, dalam menjadwalkan wawancara, terdapat pula kemungkinan kehadiran pewawancara akan mengganggu jadwal harian mereka sehingga menjadi penting kepada wanita tersebut untuk membaca dan mengisi formulir persetujuan untuk menjelaskan proyek dan haknya dalam wawancara.  Sehingga yang diwawancarai juga dapat memiliki pilihan untuk melakukan wawancara maupun tidak melakukan wawancara.

Evaluasi Program Nasional
Karena tujuan dari program nasional evaluasi adalah untuk menilai kapasitas organisasi yang bertentangan dengan pengalaman dan hasil dari korban kekerasan antarpribadi, yang menjadi perhatian etisminimal. Kami ingin memastikan bahwa organisasi akan dilindungi jika negatifinformasi keluar tentang struktur organisasi mereka, sumber daya, dan kapasitas, sehingga dalam pelaporan publik kami sepakat untuk menggambarkan karakteristik umum organisasi dan memberi mereka nama alternatif.
Tidak terkait dengan studi kapasitas, bagian lain dari evaluasi diidentifikasi praktek yang berpotensi tidak etis pada bagian dari salah satu penerima selama kursus pengumpulan data, dan tim evaluasi setuju untuk segera mengubah informasi ini ke Departemen Kehakiman, yang kemudian mengambil langkah yang tepat untuk memperbaiki situasi. Di sini kami menemukan pertanyaan etis: Jika bahaya bisa datang kepada peserta studi dari praktik organisasi, apa langkah yang benar untuk kami sebagai pengamat luar yang melakukan penelitian yang tampaknya netral dan bebas-nilai?
Melakukan kami mematuhi janji kerahasiaan kami untuk organisasi dalam penelitian, atau apakah kami melaporkan temuan kepada penyandang dana, mengidentifikasi organisasi? Jika kami melaporkan temuan kepada penyandang dana, apakah kita melakukannya segera atau setelah masa studi? Keputusan kami adalah bahwa keamanan peserta penelitian lebih penting daripada "integritas" kami sebagai peneliti, dan dengan demikian kami segera menginformasikan kepada penyandang dana dari temuan kami.

Pohon Keputusan
Merencanakan proyek riset terapan melibatkan banyak pertimbangan, seperti yang kita miliki mulai dibahas dalam bab ini. Keputusan berlimpah di setiap belokan di dalam desain, implementasi, dan analisis bahkan proyek yang paling sederhana sekalipun. Sebagai peneliti, kami
pada dasarnya memiliki kontrol penuh atas bagaimana penelitian dirancang, dijalankan, dan dianalisis. Variasi yang tak terbatas ini bisa luar biasa, namun pilihan yang kita buat adalah jantung penemuan. Kami telah menemukan bahwa mengajukan beberapa pertanyaan langsung dapat membantu mengatur pikiran dan upaya kami di seluruh perusahaan penelitian; kita menyajikan pertanyaan-pertanyaan ini dalam bentuk pohon keputusan di seluruh buku.

Pertimbangan Keputusan Penelitian
Proses IRB berfokus pada keputusan etis tentang pengumpulan dan perlindungan data hak-hak subyek manusia. Meskipun masing-masing lembaga memiliki persyaratan internal dan jadwal untuk ditinjau dan juga proses untuk mempertimbangkan penelitian yang dapat dibebaskan dari tinjauan. Sebaliknya, pada keputusan utama yang memandu apakah tinjauan IRB diperlukan dan apakah tinjauan itu kemungkinan besar akan menjadi tinjauan dewan penuh atau beberapa bentuk tinjauan yang dipercepat. Ulasan yang dipercepat dapat menjadi pilihan jika data terkait kegiatan organisasi dan program pemerintah.

Kesimpulan
Dalam bab ini memuat tentang gambaran umum proses penelitian dan konsep dari upaya penelitian yaitu kualitas penelitian, tahapan proses penelitian dan interatif, refleksif sifat proses yang melibatkan umpan balik dan revisi. Bahwa dalam penelitian juga harus mempertimbangkan etika dan peninjauan dari kelembagaan. Begitu pula mengenai konteks dasar dari riset terapan yang berdasarkan pertanyaan penelitian yang menjembatani banyak disiplin dan bidang studi yang fokus pada pelayanan publik dimana juga dianggap penting untuk memperhatikan nilai, keyakinan dan persepsi dalam mempelajari kondisi manusia untuk mengatasi masalah sosial yang ada.