Monday, September 9, 2019

tentang jawaban

kadang jawaban datang tapi kau sudah terlalu lama lupa pertanyaannya.

kadang jawaban datang tapi kau sedang menginginkan terlalu banyak pertanyaan.

kadang jawaban datang tapi kau tak tau pertanyaannya.

kadang jawaban datang tapi kau sedang tak ingin mengganti pertanyaan.

kadang datang jawaban pada pertanyaan yang keliru, tapi kau tak akan pernah tau.

kadang datang pertanyaan yang keliru, tapi kau menukar pertanyaannya.

kadang datang jawaban, dalam contekan, tapi kau sedang tak ingin curang.

kadang jawaban datang, tapi kau menginginkan yang memberikanmu pertanyaan.

kadang jawaban datang, tapi sudah tidak ada yang bertanya pagi ini.

Kemayoran, 8 September 2019

Tuesday, September 3, 2019

Favorite Indonesian Movie Week

Sebagai penikmat dan penonton film awam yang menonton film untuk terhibur dan lebih suka nonton film crime-mystery-action, minggu ini sedang ada dua film indonesia yang lagi banyak diulas, Gundala dan Twivortiare.  Untuk Gundala, jadi lebih nontonin tentang Joko Anwar, meskipun ga nonton film-filmnya Jokan yang dulu, karena gak suka horor.  Film superhero yang terakhir ditonton adalah film spiderman yang gak terlalu aku suka karena lebih banyak mengangkat tentang citna-cintaan remaja.  Gundala ini menjadi pelipur lara nontonin film ini, sepertinya film terakhir yang aku suka dalam genre action itu Anna, Tomb Raider, Salt, Ocean Eleven film film dengan karakter cewe cewe pinter, semacam agen rahasia (yang bekerja dengan pemerintah) dan jago berantem yang diselingi dengan memecahkan kasus adalah alur film yang aku "gue banget" lah. Haha.  


Beberapa hal yang aku sukai dari film ini yaitu setting suasana, kehidupan Gundala yang cukup digambarkan dengan asik (personal references- dari yang suka nontonin daily vlog kamar-kamar kos kecil tapi lucu) sebagai kehidupan kelas pekerja dengan pekerjaannya sebagai sekuriti pabrik koran. Dan dari twitternya bang Jokan, memang ternyata setting kos Sancaka adalah kosnya Jokan jaman dulu.



Beberapa detail yang aku suka di sebuah film, yaitu bagaimana dia menjalani hari sepulang kerja, detail detail kamar ketika hujan dan petir.  Kemudian, film dibangun dengan menggambarkan Sancaka kecil yang ditinggal ayah dan ibunya, bagaimana ia bisa bertahan dengan menemui Awang, yang karakternya aku suka karena film ini menggambarkan Awang sosok yang cuek cuek tapi peduli dengan ketidakadilan yang ia lihat ditambah dengan jokes jokes yang aku suka dalam percakapan Sancaka-Awang.



Sebagai penggemar bela diri, cukup memuaskan melihat Awang, mungkin karena dia memang atlet bela diri dan anak dari Cecep Ruhiyan, jadi gerakan-gerakannya memang believable dan menarik.  Walaupun masih ingin melihat lebih dalam scene-scene berantem.

Selanjutnya kehidupan Sancaka besar sebagai sekuriti pabrik mulai terusik ketika pada saat itu keadaan kota sedang kacau dan terjadi kerusuhan di berbagai tempat, yang mengantarkan ia bertemu dengan Wulan, tetangganya yang juga aktivis (?) atau pedagang pasar (?) yang membela pedagang pasar dari preman-preman yang mengganggu mereka. 

Kemudian konflik berjalan dengan menggambarkan anggota dewan yang terusik dengan adanya Pengkor, yaitu 'rakyat' yang sering mengusik mereka, seorang pengusaha yang juga memiliki panti asuhan yang menampung anak anak, dimana kemudian digambarkan pada masa kecilnya adalah orang yang sangat kejam dan mampu mengorganisir anak-anak di panti asuhan untuk setia kepadanya, disini kemudian anak-anak tersebut tersebar di seluruh dunia dan difasilitasi untuk unggul dalam berbagai bidang seperti model, chef, pengukir kayu (?) dan beberapa profesi lainnya tetapi juga diajarkan untuk menguasai bela diri, anak-anak ini juga setia kepadanya dan dapat dimanfaatkan untuk membantu Pengkor.



Villain di film ini digambarkan bernuansa politik dengan ideologi Pengkor yang juga sadar telah terjadi kekacauan dimana ada anti-trust antara rakyat dan wakil rakyat, kemudian statement Pengkor yang sadar bahwa 'rakyat memang harus dibuat bodoh' dan tidak tahu apa-apa untuk tetap bisa mengontrol mereka. I think this scene quite potray the chaos that happened.  

Menariknya, beberapa villain dan patriot lain juga muncul sebentar sebagai teaser untuk film selanjutnya sehingga klimaks film ini seperti akan ada dan tersebar kembali di film-film selanjutnya.  

Film yang cukup memuaskan di bulan Agustus-September ini, sudah lama rasanya tidak se-excited ini dengan film film Indonesia, karena tahun ini setelah melihat beberapa trailer aku hanya tertarik  menunggu film-film model Charlie's Angel dan The Laundromat (Netflix) -selain beberapa film streaming yang kalau senggang pasti aku tonton juga. 

Film selanjutnya yang baru kemarin aku tonton adalah Twivortiare.  Film yang dibintangi Raihanuun dan Reza Rahardian yang diangkat dari novel Ika Natassa.  Dulu, metropop nya Ika Natassa adalah genre novel yang aku suka yang menggambarkan cewe cewe kantoran cantik dan pinter yang tentu saja~ dibikin galau sama cowok dan cinta cintaanya.  Hampir males nonton film ini karena nonton film Ika Natasaa sebelumnya sama mantan dan dibikin galau, rasa-rasanya hidup sekarang sudah settle dan ga butuh gegalauan lagi apalagi di big screen karena anaknya emang gampang baper. Wk. Tapi akhirnya pas jam kosong butuh inspirasi ya udahlah nonton aja penasaran.

Bagian yang paling aku suka di film ini adalah bagaimana mereka menggambarkan perkelahian-perkelahiannya Alexandra dan Beno.  Hal hal kecil yang memang dalam hubungan bikin gondok, padahal kalau lagi gak bucin dan berakal sehat, hal itu gak akan jadi masalah.   Tapi memang, kalau sedang dalam hubungan, penuh dengan hal hal konyol gak bisa dijelasin dengan logika yang bener (loh kok jadi curhat wkwk).  Film ini juga bisa menggambarkan patah hati, dan ketakutan untuk memulai kembali dengan orang yang sama dengan sangat natural menurutku, masih masuk akal-lah, apa yang menjadi ketakutan mereka dan hal hal yang memang harus ada dan dijaga dalam hubungan jangka panjang.  Sebagai orang yang memiliki pengalaman hubungan yang hampir sama- minus ending bahagia seperti di film ini (hhh) film ini oke banget untuk membawa kenangan-kenangan yang mirip, yang aku pikir beberapa orang kebanyakan juga memiliki hubungan yang seperti ini.  Typical perkelahian-perkelahian pasangan pada umumnya.  Film yang natural, kecuali tentu di ending yang gak masuk akal karena mereka nikah dua kali dan balikan lagi (ga terima) wkwk.  Tapi filmnya menyenangkan, dan gak bikin ngantuk (pernah trauma karena ngantuk banget di bioskop tapi sayang mau pulang). haha.


Score: (biar ala-ala fav reviewer, cinecrib)
Gundala 8/10
Twivortiare 7/10

Friday, August 16, 2019

Keresahan Keresahan Kota #fromcampus

Senin nanti saya akan mempresentasikan seminar rancangan penelitian Strategi Pengembangan dan Implementasi Smart City Pemerintah Kota Pontianak.  Setelah menyiapkan bahan presentasi dan mencoba mengingat-ingat beberapa hal rasanya ingin menyegarkan pikiran dengan menulis sesuatu. 

Tentang bagaimana menariknya sebuah kota, berjuang untuk menjadi relevan dan bersaing secara global (?) dengan beberapa indikator yang ditetapkan dari mana saja.  Tidak ada yang salah dengan standar-standar yang dengan brilian ditetapkan secara internasional maupun nasional. Tetapi tentu, akar-akar sosial budaya begitu hidup dan bergerak dinamis diantara rimba aturan-aturan serta teori teori yang dicoba.  Semuanya tentu punya tujuan yang lebih besar: meningkatkan kualitas kehidupan.  

Karena, siapa lagi yang akan mencintai kotanya selain warganya sendiri? meskipun tentu, akan ada dualitas dan keresahan, masalah-masalah yang akan selalu muncul silih berganti.  Karena yang paling mencintai, pastinya akan lebih rentan dan mudah terlukai.  Begitu pula warga yang hidup di kota ini.  

Di kota itu, aku lahir dan menikmati masa-masa penuh kenangan, karena apalagi yang bisa menyatukan selain 'sejarah' dan 'akar'.  Selalu merasa seperti 'rumah', yang selalu membuat ingin pulang ketika lelah berkelana.  Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada kembali ke akar, ke tempat semuanya bermula, di tempat dimana jalan jalan yang dilalui memiliki kenangan lebih banyak daripada yang bisa kita ingat.

Dalam salah satu teori smart city, adalah penting untuk menciptakan visi, dengan keterlibatan publik.  Kolaborasi, dimana semua aspek, semua elemen harus hadir, dan merasa penting, merasa perduli dan dapat berpartisipasi aktif untuk membangun kota.  Tentu jauh dari kata mudah, menyatukan beragam kepentingan, beragam loophole maupun bias.  Tapi setidaknya dalam visi, kita bisa meraba kemana arah pembangunan suatu kota, yang berjuang di tengah gempuran informasi arus digital, persaingan global dan kompetisi-kompetisi yang mematikan.

Tapi selalu ada yang tumbuh, mulai berjuang di antara bayangan yang gelap, yang dilanda badai hebat akan mampu keluar pula sebagai nelayan yang mampu bertahan di arus yang hebat pula.

Jangankan demi kota yang dipenuhi beragam tujuan dan orang-orang yang memiliki banyak background dan kepentingan-kepentingan.  Bahkan di suatu komunitas pun, yang tidak mengutamakan profit, hanya niat baik untuk membantu saja kadang masih ada perpecahan tentang ideologi maupun keinginan keinginan banyak kepala.  Padahal semua kadang memiliki tujuan yang mulia, yang baik-baik. 

Tentu bukan pekerjaan mudah untuk dapat melakukan kolaborasi lintas generasi, lintas bidang bahkan lintas kepentingan, tetapi tentu, untuk semua niat baik, membangun kota, ada harga yang harus 'dibayar' untuk duduk bersama, meredam ego, dan melihat jauh ke depan.  Apa lagi yang bisa kita lakukan untuk kota kelahiran, kota tempat tinggal, atau kota yang sedang menjadi 'rumah' kita saat ini.  Karena, siapa lagi yang akan lebih peduli?

Saturday, August 10, 2019

dijual: -

apa lagi kata kata
yang mampu melukiskan badai
terjangan yang menggerus semua yang ada di depan,
tanpa ampun, tanpa pertimbangan.

bagaimana pula cara
menggambarkan gelombang
menderu, menggelisahkan, terus datang.
hingga akhirnya ia tenang.

berdamai pada laut
lari berlabuh di dermaga

tenang, tanpa riak dan gejolak
pula mati rasa

sudah saatnya bersiasat
mengobrolkan kata sepakat
bagaimana cara menjual jiwa
yang resah dan gelisah

katanya nyalinya tak pernah ciut
pantang menyerah kalah
pada luka, pada keadaan

kita semua menjaja
katanya

kadang demi cinta
kadang demi fana

Bandung, 10 Agustus 2019

Thursday, August 8, 2019

waktu untuk bersedih

kesedihan seperti tamu
yang mengetuk pintu pintu
untuk hati yang selalu tahu

hari ini
saatnya bersedih
duka dan berkabung

dalam gelombang gelombang
kesedihan yang sedang menghantam

aku ingin berbahagia
bisik anak kecil
yang lama
tak dikunjunginya

hari ini masih waktunya berduka
suatu saat nanti

mungkin kan berganti bahagia.

Tuesday, August 6, 2019

bertahan sebentar, sedikit lagi

malam yang hening
dan pagi yang sepi
mencari cari arti
dari yang sia sia

bertahan sebentar
sedikit lagi

makna datang
jadi pelajaran
mendewasakan
hati yang tabah

hidup yang panjang
keluh berkesudahan

semuanya akan berlalu
tangis demi tangis
bahagia demi bahagia

badai akan menghantam
ombak akhirnya pecah
terhantam karang
hingga air tenang

keluh kesah tumpah
akhirnya kan damai
dalam pelukmu yang tenang

tapi jika tidak,
bertahanlah sebentar
sedikit lagi

aku akan datang
pada malam
yang tidak pernah kau harapkan

bandung, agustus 2019

Monday, August 5, 2019

Membaca Agustus


Non-Fiction
1. Everybody Lies : Big Data dan Apa yang Diungkapkan Internet tentang Siapa Kita Sesungguhnya - Seth Stephens-Davidowitz
2. The Guide Book of SWOT : Mengelola dan Memanfaatkan Kekuatan, Kesempatan, Ancaman dan Kelemahan secara Efektif dan Efisien- Fajar Nur'aini DF
3. Balanced Scorecars : Model Pengukuran Kinerja Organisasi dengan Empat Perspektif - Suci R.M Koesomowidjojo
4. Personal SWOT Analysis : Peluang di Balik Setiap Kesulitan - Freddy Rangkuti

Fiction
5. Cantik Itu Luka - Eka Kurniawan
6. Pablo Neruda - 100 Soneta Cinta
7. Cara-Cara Tidak Kreatif untuk Mencintai - Theoresia Rumthe & Wesley Johannes

Yang Ada, Di Depan Mata

Kembalilah ketika kau butuh rumah singgah, kata kata yang lembut dan indah, atau sekedar jokes tidak lucu.  Tapi aku tau kau ada disitu, memberikan usaha yang bisa menenangkan yang sedang tidak tenang, memadamkan yang sedang bergejolak.  Tidak jarang kau gagal, memberikan semangat, tapi setidaknya, kau selalu mampu membuatku tersenyum.  Melupakan hal hal yang membuatku lupa untuk menikmati kehidupan, bertahan sebentar, aku ada untukmu, kau ada untukku.

Teringat petuah yang diberikan dalam masa sulit, kata kata ajaib orang tua pada diriku yang masih kecil yang menggema di kepala, ayat ayat yang diucap berkali kali, tiap hela nafas hanyalah meminta keajaiban, untuk hidup dan menikmatinya sedikit lebih lama lagi, sedikit bertahan lebih kuat lagi.  

Apa yang membuatmu bahagia, apa yang membuatku bahagia, apa lagi yang lebih penting? Pertama tama, selamatkanlah dirimu sendiri dari dirimu sendiri.  

"tenang, semuanya akan lewat, jalani pelan pelan, sedikit demi sedikit untuk hari ini.
sekencangnya badai pasti akan berlalu, atau kau akan hilang untuk tidak merasakan badainya lagi"
katanya tertawa. 

aku tertawa.

denganmu, tenang.  hanya tenang.

Bandung, 5 Agustus 2019

Friday, August 2, 2019

August's Woman Sketch #procreate





Just learn to using procreate and draw some woman i see at pinterest, i think drawing woman is one of my fav things, cause woman can make themselves more attractive and appealing with their accessories, make-up, fashion, that they can learn and make some effort to upgrade themselves.  Make some inspiration for me too.

Tuesday, July 30, 2019

yang tiada abadi

ada ranting yang berderik patah
setiap daun menguning gugur

menghilang terbuai angin
tenggelam dalam senja yang merekah

ada yang berduka setiap kali
jiwa dalam ingatan mati

apa lagi, kata kata yang mampu
menggambarkan kehilangan

mati
dan
tidak akan 
pernah 
terlihat 
lagi

senyumanmu terpatri abadi
menjadi duka yang lebam dan membiru

aku tidak akan melihatmu lagi
aku tidak akan mendengar tawamu lagi
aku tidak akan mengusap air matamu lagi

seperti apa wajah tuamu, b?

di kota ini,
aku terkadang mengingatmu
apa jadinya jika kau masih ada disini?

kadang aku membayangkan
kau telah hidup dalam tubuh orang lain
menjadi tua dan menyebalkan
di kota-kota yang tak kukenal

kadang dalam keramaian
aku tertegun
betapa beberapa orang
mengingatkanku tentangmu

tapi mereka tidak pernah sama
tidak akan sama lagi

kadang pula aku berandai andai
semuanya hanya kebohongan terbesar abad ini
kau hanya melarikan diri,
pergi ke tempat lain

memulai hidup yang baru
dengan orang lain

tapi hidupmu telah berhenti
di ingatanku

abadilah dalam kenangan
biarkanku membeku 
dalam kehilangan 
dan istirahat yang panjang

-b

Bandung, 30 Juli 2019

Buku Buku Bulan Juli #2


Manajemen Strategi - Sedarmayanti
SWOT Balances Scorecard - Freddy Rangkuti
Medan Kreativitas: Memahami Dunia Gagasan - Yasraf Amir Piliang

"Kita menghasilkan sesuatu yang baru
hanya dalam kondisi kita mengulang-ulang"

-Giles Deleuze

Monday, July 29, 2019

kopi dan lain lain

mungkin awalnya
karena adrenalin,
atau kafein

yang merasuk
dan merusak saraf-saraf
alam bawah sadar
atau entah apa namanya itu

tepat pukul sembilan malam
janjian dari siang

kita nikmati perjalanan singkat
yang khusuk dan khidmat

kopi pahit, susu kental manis
dan rokok marlboro favoritmu
menemani percakapan hangat
di malam dingin yang menusuk

percakapan yang tidak habis habis
bertahun tahun
di sudut warung kopi yang sama

apakah kau ingat bagaimana cara
pertama kali kita jatuh cinta?

pada kata-kata
pada ide-ide brilian
dan gagasan cemerlang
yang tidak ada yang paham

kopi dan percakapan-percakapan,
sumpah mati, ini bukan perselingkuhan.

Bandung, 29 Juli 2019

Class Of Lies

Guru itu menulis sesuatu di depan kelas, kemudian menghadap murid muridnya,

“Jika seseorang bilang kepada kalian, ‘Mari bawa ke pengadilan’, menurut kalian apa maksudnya? Karena kita warga negara bijaksana dari negara konstitusional, sebaiknya jangan pakai kekerasan dan penghinaan, biarkan hukum menyelesaikannya? Mustahil-“ ia mendengus, murid muridnya tertawa.

“Di Korea, maksud saya, di seluruh negara di dunia, ‘mari bawa ke pengadilan’ , berarti ‘aku akan memberimu masalah besar’-itulah maksudnya” muridnya tertawa.

Ia kemudian menatap sepatu limited edition milik seorang siswa di pojok belakang yang sedang sibuk mengetikkan sesuatu di layar handphonenya.

Ia tertegun sejenak.

Lantas ia kembali berjalan sambil melanjutkan, 

“Hal itu akan adil jika ia memang bersalah, 
tapi terkadang, kita dipaksa membayar sesuatu yang tidak kita lakukan”

Ia kemudian mengambil ponsel yang sedang dimainkan siswanya.

Siswa itu kemudian tampak gusar, “Kenapa bapak mengambilnya?”

“Ini akan menjadi tugas kalian”

Ia kemudian berbicara di hadapan kelas,

“Jelaskan alasanku harus mengembalikan ponsel ini kepadanya, memakai hukum”

Siswa itu tampak gusar, berdiri dan menghampirinya.

“Bapak ini kenapa?”

Ia menepuk pundak siswa itu.

“Jangan memakai fisik, kita bawa ini ke pengadilan” ujarnya tenang.

Seseorang murid kemudian menimpali,

“KUHP Pasal 329... -Seseorang yang mencuri benda milik orang lain, harus dihukum penjara selama kurang lebih enam tahun atau denda maksimal 10.000 dolar"  

Ia menoleh,

"Tapi ini bentuk hukuman berdasarkan aturan sekolah"

"Aturan sekolah adalah aturan internal yang dibuat sekolah. Jadi, tidak sah jika tidak bersentuhan dengan KUHP. Hukuman terberat yang bisa bapak lakukan hanya penalti poin"

"Jawabanmu salah... Meski tidak semuanya. Jika jawabanmu begitu, akan bapak beri 50 poin.  Karena bapak tidak berniat memiliki ponsel ini maka tidak bisa dianggap pencurian. Selain itu, ponsel ini akan dikembalikan setelah kelas.  Apa itu tetap dianggap kejahatan?"

Siswa itu kemudian menatap teman temannya dengan ragu.

Kemudian, siswa yang duduk di tengah, tidak tahan untuk berbicara..

“UU pasal 37 bab 2, Seseorang dilarang mencampuri urusan orang lain, itu adalah hak dasarnya, tapi hal itu dibatasi oleh hukum.  Uu pendidikan dasar dan menengah bab 18.4 menyatakan guru harus melindungi hak siswa yang diakui oleh hukum.  Menurut UU hak siswa di Seoul, seorang guru tidak boleh menggeledah atau menyita barang pribadi siswa kecuali mendesak atas alasan keamanan. Namun, menurut UU Fundamental Pendidikan Bab 12, karena ada aturan sekolah dan siswa wajib menaatinya, bapak harusnya bisa memintanya untuk mematikan dan menyimpannya”.

"Sempurna. Benar sekali
Kamu dapat seratus poin"

Ia mengembalikan ponsel itu,

“Kini, kalian mengerti alasan harus fokus di kelas bapak, bukan?”
Jika tidak mengerti hukum, kalian bisa diperlakukan tidak adil"

Di meja paling depan, siswa yang menjadi korban bullying itu kemudian menatapnya.

Tentu saja, kalian memiliki pengacara bintang kali ini, kenapa kalian harus mempelajari hukum? Sederhana saja, sebagai pedoman bagi kalian agar tahu ketika ada yang akan terkena masalah. Seperti yang kalian tahu, tidak ada uji coba dalam hidup, guna memastikan kalian tidak diperlakukan semena mena, mari berkenalan lebih dekat dengan hal bernama ‘hukum’ bersama bapak mulai sekarang, oke?

Kelas pun berakhir.

...
Di atas adalah cuplikan adegan Class Of Lies, drama korea tentang seorang pengacara yang menangani kasus bunuh diri seorang siswi yang kemudian banyak menemukan kejanggalan dalam kasusnya, kemudian tiba-tiba dicabut ijin pengacaranya karena dijebak oleh bosnya.  Ia pun menjadi termotivasi untuk mengetahui apa yang salah dalam kasus ini dengan berpura pura menjadi guru hukum dan bahasa jerman di sekolah tersebut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dibantu dengan temannya, ia pun mulai menyelidiki siswa-siswi sekolah bergengsi tersebut yang rupanya memiliki banyak hal-hal menarik berbeda dari sekolah biasa.

Picture from here

Premis typical drama korea, adegan yang menarik, untukku.  Sebuah cerita yang bisa aku tonton, adalah cerita yang memiliki alur dan motivasi yang jelas, di drama korea, terkadang hal- dan adegan tersebut menjelaskan alur dan karakter, yang walaupun kadang tampak terlalu berlebihan- tapi memang begitulah drama. Multiplier efek yang dibutuhkan yang diperkuat dengan dialog, dan penggambaran tentang sesuatu, bagaimana cara membuat orang yang tidak suka dan tidak tahu tentang hukum jadi tertarik menonton drama ini? karena sepertinya ini adalah drama yang berkaitan dengan hukum, politik, dan kriminal.  Maka dalam penggambaran dialog dan adegan semua hal harus dapat membuat orang related-merasa terhubung, dan dapat dengan mudah membayangkan hal hal yang bisa saja terjadi di kehidupan sehari-hari.  Tentu dengan gloryfying-dan highlight entertainment ala tvdrama.  Episode awal tampak menjanjikan, meski sampai saat ini baru tayang sampai episode 4- semoga saja tidak seperti beberapa drama yang akan membosankan dan rada gak jelas di tengah dan akhir.

Class Of Lies- Episode 3

Sunday, July 28, 2019

Kado Ulang Tahun Untuk Tahun Yang Tak Lagi Diulang

deru laju waktu
menghantam kesadaran
yang tak lagi mampu mengingat

menangisi
entah apa yang tak lagi diingat

ingatan samar samar
berkabut dan hilang jadi abu

sendiri dan sepi
dengan kepala yang ramai
riuh gemerlap nada-nada major
menghibur yang hilang

masih kuingat mata dan wajahmu
jauh pada tahun tahun yang telah berlalu

istirahatlah dalam tenang
damailah dalam gelisah
aku selalu berdoa

yang terbaik
yang bisa dunia berikan

yang terbaik
yang bisa kau dapatkan

selamat ulang tahun
untuk tahun yang
tidak akan lagi diulang

Bandung, 27 Juli 2019

Thursday, July 25, 2019

Selamat Pagi, 25 Juli.

Pagi ini diawali dengan terbangun jam dua pagi.  Berlama lama menatap layar dan mendengarkan spotify.  Hari ini hari yang spesial.  Beberapa milestone ditandai dengan tanda di kalender, sebuah review baru bisa dilakukan setelah yang berat terlewati, waktu sudah bisa diukur dengan satuan tanggal.  
Beberapa waktu terlewati dengan begitu berat, beberapa di antaranya terlalui dengan mudah.  Beberapa dengan derai derai airmata yang ditahan, terisak diam-diam dalam lampu kamar yang gelap, beberapa kebahagiaan dibagi via videocall dengan sahabat jauh dan bercerita dengan histeris dan menyenangkan, beberapa dirayakan dengan nonton, ngopi dan live music cafe bersama radler lemon kesukaan.  

Tanda.  Kita butuh tanda, indikator yang terukur, garis yang bisa kita ukur, sudah sejauh mana kita berjalan, menjadi lebih berbeda- mungkin lebih baik- atau mungkin lebih berbahagia.  

Pagi ini jadwalku ke Jatinangor, mengejar pertemuan untuk menyelesaikan apa apa yang aku mulai.  Mencoba menikmati dan menjalani prosesnya dengan pasrah dan khidmat.  Sebagai orang yang tak pernah jadi juara pertama, atau pergi ke sekolah terkompetitif, dan tak terlalu ambisius jadi yang pertama, melanjutkan gelar adalah salah satu hal aneh yang rupanya aku sukai.  Tidak pernah ingin jadi yang terpintar, karena beberapa kelas memang membosankan dan tidak pernah suka jadi yang banyak bicara di depan dan mencari cari perhatian.  Aku pikir melanjutkan sekolah menjadi jalur pelarianku untuk malah melihat kembali diriku sendiri.  Siapakah diriku jika tidak terukur dari ukuran orang lain? Siapakah diriku jika takdir dipesankan dan hidup seperti orang kebanyakan? Siapakah diriku jika tidak punya kesadaran untuk merasakan kewarasan dan perasaan-perasaan ganjil yang kadang berseliweran.

Tanggal 25 Juli adalah hari yang spesial, menandai hal hal yang akan terus aku ingat, tahun ini dan tahun tahun sebelumnya. Ingatan adalah hal yang spesial, sesuatu yang masih bisa kita rasakan kembali jika kita masih ingin mengingat-ingatnya.  Bagaimana suatu hal bisa kita rasakan berulang-ulang padahal hal itu sudah tidak lagi terjadi?- Itulah keajaiban ingatan dari kenangan yang terus hidup.  Beberapa manis dan pahit, beberapa hanya ingatan samar dan perasaan-perasaan yang aneh.  Beberapa membuat manis tersenyum, beberapa pahit dan membuat hati patah.  Tapi akan selalu jadi spesial, karena dalam hidup yang terus berpacu dan berlari, ada hal hal yang membuat kita henti sejenak, mengingat-ingat, perasaan apa saja yang sudah kita lalui.  

Sebagai sebuah batas, pengalaman berharga, cerita-cerita lama, persepsi untuk menjalani sebuah hari yang baru.  Apalah artinya kita tanpa ingatan terdahulu? Apalah artinya kita tanpa pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan masa lalu?

Selamat pagi, 25 Juli.  Selamat Berulang. Selamat menemukan diri yang baru di hari yang baru.
Selamat dan terimakasih pula, sudah sampai pada hari ini. 

Bandung, 25 Juli 2019

Tuesday, July 23, 2019

dengan tetapi

aku mencintaimu dengan segala
segala upaya mencari cara untuk selalu ada
sekedar singgah atau mampir saja
aku hanya ingin berlama lama

kau mencintaku dengan tetapi
harus menang dalam tiap percik api
tak pernah kalah dalam alegori

kau mencintaku dengan tetapi,
kau akan selalu jadi nomor satu
dan yang terakhir mengadu
tersisaku yang tersedu

kau mencintaku dengan tetapi
tetapi jadi punyamu saja
tidak boleh kemana mana
hanya denganmu berlama lama

kau mencintaiku dengan tetapi
prasyarat panjang yang tak mampu kuhapal
tersebut entah sekenamu saja

aku mencintaimu dengan segala, 
dan kau dengan tetapi
terlalu banyak ingin, untuk kusanggupi

aku mencintaimu dengan segala
sedang kau hanya sanggup mencinta, dengan tetapi

Bandung, 23 Juli 2019

Wednesday, July 17, 2019

Buku Buku Bulan Juli

Dunia Yang Berlari : Dromologi, Implosi, Fantasmagoria - Yasraf Amir Piliang
Revolusi Industri Keempat - Klaus Schwab
Thought Vibration - William Atkinson
Misa Arwah - Dea Anugrah

Akhir-akhir ini rasanya terlalu banyak membaca ebook berbahasa inggris, selesai membaca, rasanya sedikit tidak puas karena rasa-rasanya yang tersisa hanya ingatan-ingatan di kepala, yang mungkin besok sudah lupa, di lemari buku digital, selesai membaca juga langsung lenyap-dihapus karena tidak sabar ingin mendownload yang lain lain dan mengosongkan memori.  Membaca buku secepat menjentikkan jari, membaca dengan skimming- melintas kata-kata dengan terburu-buru dan ingin cepat sampai ke inti yang dimau.  Membaca buku secara fisik, terlepas keterbatasan topik topik yang ingin didalami rasanya ada suatu checking point berisi buku buku yang menumpuk dan sedikit rasa tidak bersalah karena sudah membaca beberapa hal mengisi waktu.  

Salah satu buku yang menarik yang sedang dibaca adalah Dunia Yang Berlari, awalnya aku heran mengapa buku yang seperti novel ini terletak di deretan buku buku sos-pol-filsafat, setelah melihat satu buku yang tidak tertutup plastik aku sedikit terpukau dengan bahasa-bahasanya, buku yang awalnya berjudul Dunia Yang Berlari : Mencari Tuhan Digital ini nyeleneh sekali. hha.  Futuristik, menggambarkan keadaan dunia, menjelaskan beberapa istilah-istilah asing di telinga tapi menarik untuk dibaca.  Baudrillard, Derrida, adalah tokoh dengan ide-ide yang menarik untukku, karena pemikirannya tentang memaknai kehidupan-filsafat, yang memberikan arti yang berbeda dari pemaknaan realitas. 'Bahasa Filsafat' dan istilah-istilahnya memang berat, mereka seperti punya alam imajinasi sendiri untuk menerjemahkan kegelisahan-kegelisahan dengan tingkat kedalaman tertentu ,dengan metafora-istilah istilah mereka sendiri, hiper-realitas, dekonstruksi, kehampaan filosofis, dromologi, postmodernisme, semuanya merupakan konsep-konsep pemaknaan ulang atas kejadiaan hari-hari yang sebenarnya biasa saja, yang ternyata ketika disentuh kedalamannya, memiliki arti yang mungkin benar, atau sama sekali berbeda dari yang kita pahami.  Mungkin memang, kehidupan seperti bawang yang memiliki layer-layer ke dalam- yang ketika kita mengupasnya, bentuknya tetap sama tapi juga berbeda, meskipun ketika kita selesai mengupasi semuanya, jangan jangan yang tersisa hanya kekosongan- sebuah lorong kehampaan yang panjang tapi tetap pula tidak memiliki apa-apa.

"...keseluruhan hidup kita berlalu dalam wahana perjalanan hidup yang dipacu cepat, yang kita sendiri tak lagi menyadarinya..."

-Paul Virilio : The Aecthetics of Disappearance

Monday, July 8, 2019

once again?

my heart is torn apart
everytime your imagery
touch my fingers

i wish i was there
i wish we could go back
to my happiest moment
when im with you

im still here, watching the sky falls
when you already move on
and be the happiest person on earth

sometimes i wish
i could settle for less
and force the feelings

but i dont want to feel numb
and cant be the lovers
i dont want to stop in pause
when i still not ready
or am i never ready

i just waiting a chance
to feel alive again
once more

or nothing,
nothing at all.

-for my 7 July 2019

Wednesday, June 12, 2019

Pontianak dan Tujuh Dosa Mematikan.



#1
Selamat Pagi, Matahari

matahari malu malu muncul dan masih memukau
dan aku, memulai hari kembali dengan nyali yang ciut
sejauh apa aku bisa berjalan, tanpamu?

perjalanan ku mulai dari awal lagi
setelah kalah bertarung tadi malam
bertekuk lutut di hadapmu
tergenang dan tenggelam

tak ada jaminan
air mata tak lagi berderai
menangisi kolam kolam kosong tak berisi

aku ingin bangun dan membangun mimpi
besok, aku mungkin tidak akan kalah lagi

...



#2
Berlayar

sauhku menjauh, dayungku rapuh
angin tidak lagi punya kita
dan cuaca sedang buruk rupa

aku ingin menangisi perpisahan kita
seperti jumpa yang membuatku sungguh berbahagia

pelautku matanya telah kosong
digerus duka dan luka

maaf katamu, tidak bisa lagi berlayar, denganku

tujuanku masih panjang
aku tak ingin pulang

tapi perahu sudah menepi
aku harus berhenti

dermaga kali ini
ada rasa pula yang kulabuh

...


#3
Pukul Dua Pagi

percakapan dimulai sejak dua pagi
kau bercerita tentang semua
hal hal yang kau keluh dan resah

percakapan setelah dua pagi, katamu
adalah kata kata yang paling jujur
karena otak telah lelah berbahasa
dan hati yang merangkai kata kata

kita bercakap setiap hari, 
setiap waktu
tapi pada pukul dua pagi
suatu waktu nanti

mungkin aku akan menceritakan
kata kata yang jujur
jauh terkunci di dalam hati

...


#4
Nasi Goreng Favoritmu

kepada kau yang suka membuatku bingung
dan perdebatan konyol setiap 
tentang harus pergi kemana dan makan apa

tentang tempat yang itu itu saja
dan selera makan kita yang berbeda

kita butuh variasi! katamu
mari pergi ke tempat yang berbeda
setiap hari

mari bercerita tentang hal hal yang berbeda setiap hari
mari membaca buku yang berbeda setiap hari

tapi tiap kali kita bertengkar
perut mulai lapar
hati mulai tidak lagi sabar

aku akan kembali mengajakmu,
ke tempat nasi goreng favoritmu
makan yang itu itu lagi
maaf yang itu itu lagi

kau yang aku mau, 
lagi dan lagi

...



#5
Hari Ini Aku Ingin Berhenti

pada suatu siang yang cerah
tanpa mendung yang sendu dan hujan yang terlalu

kau bilang padaku kau ingin berhenti
mundur mencintai

mungkin aku yang berubah dan 
kau tidak salah, katamu

kenapa?
tanyaku

hari ini aku ingin berhenti

entah
mungkin tidak lagi kembali

mengapa hari ini cerah,
aku tidak tahu,
mungkin hari ini memang hari yang tepat
untuk berpisah

...


#6
Hal Hal Romantis

bagaimana aku tahu
matamu telah melekat
sejak pertama kali melihat

rahasia sejak lama, katamu

hal hal kecil yang romantis
seperti matamu yang berbinar
tiap kali aku tatap

hal hal kecil yang romantis
seperti waktu yang lama
di sepeda motor tua
bisa kau rasa, degupku
di peluk tanganmu

percakapan percakapan yang aneh
katamu, kau sengaja menulis apa saja
bahkan hal konyol tak masuk akal

yang kemudian membuatmu menyesal
agar bisa lebih lama
menungguku 'typing' : menulis!

dan kau akan tersenyum malu
tiap kali melihat namaku

kau instagram story pertamaku! 
aku senang saja melihatmu
apa lagi ketika kau rayu
membaca isi kepalaku

aku bisa memaafkan semua salahmu
kau sempurna di mataku, katanya

kau dan hal hal romantis
yang kau sudah tahu semua

yang tidak pernah kau tahu,
sebuah rahasia

buatku, aku tak lagi punya rasa

...


#7
Sepasang Menua

aku ingin bersandar di pelukmu
ketika senja dan dunia akan jadi itu itu saja
menggenggam hangat tanganmu dan pulang

aku ingin perayaan sederhana
merayakan nyala api yang hangat
yang menyala tiap kali kau dekap

aku ingin tak punya banyak pinta
hanya berjalan bersisian
dalam tangis, dalam lara

aku ingin menikmati senja
menjadi tua dan tak lagi ingin apa apa,
hanya pelukmu saja

...

Tuesday, June 11, 2019

Malam Takbir dan Meriam Karbit di Kote Pontianak

Ada salah satu hal yan unik di Kota Pontianak setiap malam takbiran menyambut lebaran, yaitu warga tepian sungai kapuas bersahut-sahutan menyalakan meriam karbit.  Salah satu tradisi dan sejarah ketika Kote Pontianak ditemukan, konon katenye meriam karbit digunakan ketike Raje Pertame Pontianak, Syarif Abdurrahman Alkadrie sampai di kote ini dengan menyusuri sungai kapuas, kemudian ingin membuka lahan dan mengusir hantu kuntilanak yang berdiam disini. Hingga akhirnya pasukan beliau berhasil hingga mendirikan Keraton Pontianak dan kemudian, Kote Pontianak.  Sebagai orang yang besar di Pontianak, aku tak pernah pergi ke festival ini karena macet dan ramai, tapi setelah tinggal di luar kota, barulah keinginan untuk tau dan menyaksikan acara-acara ini muncul. 

Setiap kota memiliki cerita, tradisi dan budayanya masing-masing.  Kekhasan yang menjadikannya berbeda, kekurangan dan keunggulan yang membuatnya menjadi pertimbangan dalam menyusun dan merancang suatu kebijakan untuk sebuah kota.  Ternyata tidak bisa diterapkan di semua daerah, karena ada karakteristik yang melekat, di kondisi wilayah, karakter masyarakat, hingga cara mereka berkomunikasi dan merespons kebijakan. 

Hal-hal menarik yang baru aku sadari ketika mengambil kuliah lagi tentang Kebijakan Pembangunan Daerah.  Memang, proses belajar harusnya tidak boleh berhenti, baik di sekolah maupun di kehidupan, untuk menggali hal hal yang dulu kita lewatkan, untuk makin membuka cakrawala berpikir, bukan untuk makin menggurui, tapi untuk makin memahami dan mengerti, dengan perbedaan, dengan keluasan dinamika dan masih begitu banyaknya, hal hal yang tidak akan pernah kita ketahui.

Fireworks


  
Sungai Kapuas, Juni 2019