Wednesday, March 13, 2024

Refleksi dan peregangan

Hidup kadang memaksa kita mengikuti alur dan arusnya dengan laju dan tempo yang kadang sulit untuk diikuti. Kemudian, di tengah jalan rasanya kelelahan, sedang kita merasa selalu tertinggal. Lalu dengan terpaksa, kita berhenti sejenak, dan sadar kalau ternyata tidak apa apa juga tertinggal. Akan selalu ada kereta yang lewat, dan akan selalu ada kesibukan yang akan menyibukkan kita. 

Tenggelamlah kita dalam perputaran mana  yang duluan, ayam atau telur? dan apakah penting, untuk gali lobang- tutup lobang, sedang kita tak begitu tau lobang mana yang menggemakan kekosongan dalam hidup kita.

Untuk memahami suatu substansi, kita akan selalu kembali lagi kepada awal mula, patient zero, alat ukur subjektif- yaitu diri sendiri. Karena pada akhirnya, diri sendiri lah yang akan memberikan nilai, yang akan mengukurnya dari definisi yang pernah kita dapatkan, pemahaman yang pernah mencerahkan kita, pengalaman-pengalaman bias dari diri sendiri, begitu pula dengan sentimen dari diri sendiri yang kepalang judgemental serta paket lengkap dengan pembenarannya. Karena, kita tak lahir dari ruang kosong dan hampa udara, kita adalah paket beserta sejarah yang tak kita pilih, dengan keputusan keputusan terdahulu yang mungkin telah terlalu keras kepala tak akan mau kita ubah dan kita yakini dengan sungguh. Karena, apalah artinya keputusan tanpa alasan, rumah tanpa fondasi- keteguhan tanpa keputusan keputusan yang telah kita buat sebelumnya menkonstruksi pikiran sadar dan bawah sadar kita? 

Begitu pula dengan melakukan refleksi- atau biar tambah rileks- suatu peregangan. Definisi yang harfiah pada- kembali ke pengaturan awal, karena sejauh yang kita tau, ingatan kita mengakar pada titik nol ingatan yang bisa kita callback, pemahaman yang sudah bisa dipahami ketika kita telah sampai pada titik yang telah lewat, bukan pada saat kejadian, agar bisa mengambil gambaran yang lebih besar- kemudian memberikan makna, pada pengalaman-pengalaman serta keputusan yang kita ambil yang mungkin kita kira pada saat itu adalah keputusan yang paling masuk akal- dengan keterbatasan informasi yang kita miliki. 

Setiap hari adalah pertanyaan baru, dari informasi yang dikumpulkan dari pertanyaan sebelumnya, pertanyaannya bertambah sulit, seiring bertambahnya ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. Definisi kita pun semakin kaya- dari yang tadinya bingung apakah bisa mendapatkan pekerjaan atau tidak, jadi bingung bagaimanakah cara bertahan dari suatu pekerjaan, kemudian jadi bingung bagaimakah cara menambah pendapatan, kemudian bingung lagi bagaimana caranya mendapatkan jodoh, merekonstruksi romantisme buat diri sendiri, bagaimana cara bisa bermanfaat dan berdampak bagi lingkungan, bagaimana cara bisa menulis lebih banyak, membaca lebih banyak, bertemu orang lebih banyak. Dari titik nol, kita bertambah banyak dan bertambah kreatif dalam menginginkan sesuatu terkait dengan semakin bertambahnya informasi yang kita dapatkan. Pertanyaan yang membuat kita terbentur juga mengantarkan kita pada pertanyaan pertanyaan yang lebih substansif- yang bahkan membuatnya jadi terlihat lebih sederhana dan to do point- mau ngapain aja sih sekarang?

Circular loop itu tak akan habis habis dan kehilangan makna kalau kita tak memberikan jeda dan waktu untuk menyerap maknanya, seperti fungsi dari gratitude journal- metode sederhana yang acapkali dianjurkan oleh orang-orang dengan anxiety. Untuk menarik napas, lebih mindful dengan apa yang kita syukuri, bukan apa yang sedang kita kejar kejar. Kemudian mata pun jadi lebih sensitif, mencari, apa sih yang disyukuri hari ini. Dengan pelan, kita kembali mengeja kebahagiaan. Ternyata, mendapatkannya sungguh bisa diupayakan dari hal kecil, dari diri sendiri, sekreatif bernapas dengan tenang dan menuliskan pikiran pikiran liar yang bikin tak tenang di tulisan ini.

1/30

No comments:

Post a Comment